SELAMAT DATANG DI BLOG PONDOK PESANTREN MULYA ABADI, JL. MAGELANG KM 8.5 SLEMAN YOGYAKARTA, SEMOGA BLOG INI BISA MENJADI SILATURAHMI KITA UNTUK SALING BERBAGI

Doa Meluluhkan Hati Seseorang

Ya Allah sungguh Engkau Maha Mulia Maha Besar. Sedangkan saya HambaMu yang sangat hina dina. Tiada upaya dan kekuatan kecuali karena Kau. Ya Allah, tundukkanlah

Doa Agar di Beri kerjaan Bisnis

Ya Allah, Raja segala Kerajaan, Tuhan memberikan Kerajaan pada yang Tuhan kehendaki, melepas Kerajaan dari yang Tuhan kehendaki, menjayakan orang yang Tuhan kehendaki, dan merendahkan orang yang Tuhan kehendaki

Sapaan Nabi Membuat Khowat Sungkan

Rasulullah SAW keluar dari tenda dan bersabda pada saya ‘hai Ayah Abdillah, apa yang mendorong kau duduk bersama mereka ?’

Hibah Menurut Bukhori

Hibah Menurut Bukhari Ibrahim Annakhai tergolong Tabiin yang sangar alim. Beliau murid Ibrhaim Attaimi, murid Amer bin Maimun, murid Abu Abdillah Al-Jadali, murid Khuzaimah sahabat Nabi SAW.

Masuk Surga Paling Awal

Rasulullah SAW bersabda, “Jibril AS telah datang untuk memegang tanganku untuk menunjukkan saya Pintu Gerbang Surga, yang akan dimasuki oleh umatku.”

2015/01/30

PS 27: Pembebasan Syam




 
Ketika Wardan dan pasukannya lari kencang dengan kuda, menghindari serangan ganas pasukan Muslimiin di Wadil Hayah, ternyata jusrtu bertemu pasukan Khalid yang tak kalah ganas. 
Wardan dan pasukannya berlari lagi, menghindari serangan Khalid dan kaumnya. Barang-barang dan perbekalan ditinggalkan untuk mengurangi beban, agar bisa lari lebih cepat.
Kaum Muslimiin menjarahnya.

Khalid dan pasukannya mengejar. Namun Wardan dan pasukannya telah kabur jauh.
Khalid membawa pasukannya, berlari menyusuri jalan, hingga bertemu rombongan Rafi’, yang telah berhasil membunuh pasukan pembawa Dhirar, di Wadil Hayah.
Dengan bahagia, rombongan Khalid mengucapkan salam, dan menjumpai Dhirar, untuk memberi ucapan selamat.
Setelah menyanjung keberhasilan Rafi’, Khalid mengajak semua pasukan kembali ke Damaskus. Kebahagian kaum Muslimiin sangat lengkap dan sempurna.

Di hari yang indah itu Raja Hiraqla justru sangat susah. Dia mendapat laporan Wardan telah kalah’, bahkan kabur dari medan perang. Bahkan putra Wardan bernama Hamdan telah tewas. Kesusahan yang membalut hati Hiraqla itu, semakin lama semakin menekan perasaan. Hiraqla berputus asa, karena segala usaha untuk mengusir kaum Muslimiin telah dikerahkan, namun sia-sia. Terbayang dalam hatinya saat sahabat karibnya yang bertempat tinggal di Romawi mengirimi surat yang isinya ‘Nabi Terakhir sudah waktunya muncul. Terbayang dalam hatinya Batriq Kalus dan Pasukannya kabur menjauhi Khalid. Terbayang dalam hatinya ketika ‘menantunya kalang-kabut ketakutan; menghadapi pasukan Khalid. Terbayang dalam hatinya ketika Kalus dan Azazir Dipenggal kepalanya di Damaskus. Kesusahan yang bertumpuk-tumpuk itu membuat dia kesulitan tidur, dan tidak berselera makan. Dari wajahnya tak pernah lagi tersungging senyuman menawan yang membuat keluarga istana dan rakyat berbahagia.

Hari itu keyakinan Hiraqla bahwa kerajaannya akan segera berakhir semakin tebal dan kokoh. Itulah yang membuat dia semakin tak bergairah lagi. Walau begitu Hiraqla memberangkatkan lagi, pasukan berjumlah 90.000, untuk menyelamatkan kota Damaskus dari tangan Khalid. Derap kaki dan ringkikan kuda dari arak-arakan pasukan yang sangat panjang, membahana mengusir sepi.

Hiraqla menulis surat untuk Guberur Wardan:

“Amma ba’d, berita tentang ‘Kau dikalahkan oleh kaum yang tak punya perasaan dan berpakaian ala kadar telah sampai padaku. Begitu pula mengenai mereka membunuh putramu yang semoga disayang oleh Al-Masih. Kalau saya tidak mempertimbangkan kau pahlawan ahli berkuda yang tangguh, dan taktik perangmu sangat jitu, dan memang kodar pertolongan belum datang, niscaya kau telah saya murkai. Yang sudah terjadi biarlah berlalu. Saya telah mengutus 90.000 pasukan menuju kota Ajnadiin, agar kau pimpin. Sekarang juga berangkatlah untuk memimpin mereka! Untuk menyelamatkan kota dan rakyat Damaskus! Para prajurit yang berada di kota itu, perintahlah! Agar menghalang-halangi kaum Arab yang dari Palestin! Agar tidak bergabung dengan mereka yang di Damaskus! Tolonglah agamamu! Dan saya sebagai rajamu!.”

Raja Hiraqla menyetempel surat, lalu memberikan pada sekelompok orang, agar segera dikirimkan pada Gubernur Wardan. Rombongan orang berkuda berlari sangat cepat, membawa surat.

Wardan terkejut oleh datangnya pasukan berkuda, memberikan surat raja. Setelah membaca dan memahami isinya, wajahnya menjadi cerah karena bahagia.

Wardan bergegas menuju Ajnadiin dengan kudanya. Ternyata kaum Romawi berjumlah banyak sekali, telah berkumpul di sana. Semakin lama jumlah mereka semakin banyak. Mereka semua memberikan penghormatan, dan mengucapkan bela sungkawa pada Wardan, atas wafatnya putranya bernama Hamdan.
Wardan istirahat sejenak, lalu membacakan surat raja pada mereka. Semua menjawab, “Kami mendengar dan taat!.”

Mereka mempersiapkan serangan terganas atas kaum Muslimiin, yang telah membuat mereka marah.

PS 26: Pembebasan Syam




Khalid memanggil
, lalu berkata, “Rafi’! Setahu saya orang yang paling tahu beberapa daerah dan jalan-jalannya adalah kau! Kaulah yang telah berjasa menunjukkan jalan, hingga kami bisa datang di kota Arakah (أركة), melewati jalan yang sulit! Belum pernah ada pasukan yang mampu melewati jalan sejauh dan sesulit itu, sebelumnya. Menurutku, kau orang yang sangat cerdas. Ambillah pasukan seberapa jumlah yang kau sukai! Ajaklah mereka mencari di mana Dhirar sekarang! Semoga kau bisa menyusul mereka untuk melepaskan Dhirar! Jika kau berhasil melepaskan Dhirar! Kau dan kawan-kawanmu in syaa Allah pasti akan sangat gembira!.”
“Dengan senang hati tugas yang merupakan kehormatana ini akan saya laksanakan,” jawab Rafi’ bin Umairah (رافع بن عميرة).


Rafi’ memilih 100 prajurit Muslimiin yang kuat, diajak mengejar pasukan pembawa Dhirar menuju Homs (Himsh). Begitu rombongan Rafi’ hampir berangkat, Khaulah berbahagia. Di balik burkah, wajah Khaulah tersenyum berseri-seri, dan mengirup nafas panjang. Dia mengenakan pakaian perang dan mengambil pedang. Lalu naik kuda untuk menghadap Khalid.
“Wahai Pemimpin! Agar saya dapat menjadi pengikut Thohir Muthohhar yakni Muhammad SAW tuan besar manusia! Berilah saya idzin, untuk mengikuti mereka. Agar saya dapat menyaksikan perjuangan kaum itu,” kata Khaulah.
Pada Rafi’, Khalid berkata, “Kau sendiri telah tahu keberanian dan ketangkasan dia dalam berperang! Biarlah dia bergabung dengan pasukanmu!.”
Setelah menjawab, “Saya mendengar dan taat,” Rafi’ segera memberangkatkan pasukan. 
Dalam perjalanan yang lumayan jauh itu, Khaulah mengikuti di belakang dengan kudanya. Perjalanan berhenti di dekat kota Salimah. 
Rafi’ mengecek keadaan lokasi dan sekitarnya
, untuk mencari kepastian pasukan yang membawa Dhirar, telah melewati daerah itu atau belum.
“Berbahagialah! Mereka belum sampai sini,” kata Rafi’ pada kaumnya.
Rafi’ mengajak pasukannya bersembunyi di Wadil Hayah (Jurang Kehidupan). 

Di saat mereka bersembunyi dalam waktu lumayan lama, tiba-tiba ada debu beterbangan yang tampak dari jarak jauh
. Dan terdengar suara derap kaki kawanan kuda.
Rafi’ perintah, “Siapkan senjata! Dan amatilah pasukan berkuda yang akan segera lewat kemari!.”
Semua pasukan segera bersiap, untuk mengamati rombongan pasukan berkuda, yang akan segera melewati jalan di atas jurang itu. Semua telah siaga menunggu rombongan pembawa Dhirar yang mereka tunggu-tunggu. 
Ternyata benar yang mereka duga, sekelompok pasukan berkuda lewat membawa Dhirar. 
Dhirar berada di tengah-tengah barisan.

Rafi’ bertakbir keras
, setelah yakin bahwa lelaki yang dibawa pasukan berkuda itu, Dhirar.
Takbir Rafi’ dan pasukannya mengejutkan mereka. Apa lagi setelah Rafi’ dan pasukannya melancarkan serangan. Serangan kaum Muslimiin yang ganas itu, membuat mereka berhamburan lari, kecuali mereka yang tertebas pedang atau tertembus tombak. Dalam waktu sekitar satu jam, serangan membabi-buta itu mengakhiri hidup seratus pasukan pembawa Dhirar.
Dhirar selamat, dan barang-barang milik 100 mayat dirampas.

Yang mengejutkan pasukan Muslimiin, sekelompok pasukan berkuda yang muncul dari jauh, berjumlah banyak sekali. Tapi lalu mereka berlarian kabur, semakin-lama semakin jauh. Pasukan itu ternyata benar-benar tidak muncul lagi. Rafi’ perintah, “Ayo kita  kejar!.” 
Rafi’ dan pasukannya memacu kuda
, untuk mengejar pasukan yang telah berlari menjauh. Namun akhirnya Rafi’ menarik pasukannya menuju Wadil Hayah.

Entah siapa yang membocorkan berita pada Wardan bahwa, Khalid telah mengutus Rafi’ untuk memimpin 100 pasukan berkuda, agar menyelamatkan Dhirar.
Wardan mengkhotbahi pasukannya agar bersiap lagi, memerangi kaum Muslimiin, dengan harapan mendapat pahala mati syahid’, dan mendapat surga yang tinggi. Sebetulnya Wardan dan pasukannya, yang bergerak cepat untuk membantu 100 pasukan pembawa Dhirar, yang akan diserang oleh Rafi’ dan pasukannya. Tetapi lalu lari ketakutan, setelah tahu 100 teman-teman pembawa Dhirar, berguguran mati, di Wadil Hayah. 


PS 25: Pembebasan Syam






Sore itu, dua kubu telah menarik pasukan masing-masing, untuk diistirahatkan. Tapi tidak demikian dengan Khaulah. Dia bertanya pada hampir semua orang Islam, “Apa kau tahu di mana sudara laki-lakiku (Dhirar) berada?.” 
Sayang, tak seorang pun tahu. Ia sendiri tidak tahu, apakah Dhirar masih hidup atau sudah gugur. Tangisan yang sudah lama ditahan akhirnya meledak. “Hai putra Ibu! Di pegunungan manakah mereka menaruh kau? Kalau pun mereka telah membunuh kau! Saya ingin tahu dengan senjata apakah? Apa betul mereka telah membunuh kau dengan hasam (pedang sangat tajam)? Saudaraku! Kalau kau mau! Saya sanggup menggantikan kematianmu! Jika saya tahu di mana kau ditawan! Pasti telah saya selamatkan dengan segala usaha! Betulkah kau takkan melihat pohon Arok lagi untuk selamanya? Kau ditawan, membuat hatiku panas bagai dibakar dengan bara api yang takkan pernah padam! Apakah kau telah menyusul Ayah yang kini berada di hadirat nabi SAW di Surga? Jika betul begitu. Sampaikan salamku pada Baginda SAW!”

Untaian kalimat yang diucapkah oleh Khaulah dengan menangis
, membuat pasukan Islam terharu. Hati mereka bergetar. Sedikit demi sedikit, mereka ikut menangis, sampai akhirnya semuanya ikut menangis, termasuk Khalid. Rasa cinta mereka pada Dhirar, dendam kepada musuh, kasihan pada Khaulah, berkecamuk di dalam hati mereka.
Rasa lelah yang tadinya menyiksa seakan-akan sirna, terhapus oleh rasa kasihan dan iba pada Khaulah yang menangisi Dhirar dengan, pilu. Dhirar termasuk pimpinan yang mereka kagumi dan mereka cintai. Emosi dan dendam mereka benar-benar telah memuncak. Mereka ingin langsung melancarkan serangan terganas.
Namun tiba-tiba tampak dari kejauhan
, sekelompok pasukan Romawi berkendaraan kuda. Berarak-arak panjang sekali. Mereka muncul dari daerah Al-Uqban (العقبان). 
Khalid telah didekati oleh sejumlah tokoh, sebagai tanda serangan dahsyat akan dilancarkan. Kaum muslimiin bergerak cepat mengendarai kuda ke arah mereka. 

Mereka mencampakkan tombak dan pedang, sebagai tanda menyerah. Bahkan akhirnya mereka turun dari kuda lalu berjalan kaki, untuk menyatakan menyerah pada Khalid
    
Khalid perintah, “Amankan mereka! Bawa kemari!.” 
Mereka segera dibawa ke depan Khalid.
“Siapa kalian!,” tanya Khalid.
“Kami pasukan Tuan Wardan Gubernur Homs. Kami yakin tuan Wardan takkan mampu melawan Tuan. Oleh karena itu, kami menyerah dan memohon agar dijamin aman. Kami akan menyerahkan pajak pada kalian, setiap tahun. Terserah berapa jumlah yang kalian inginkan. Penduduk Homs (Chimsh) telah menyepakati yang barusan kami ucapkan,” jawab mereka.
Khalid menjawab, “Jika saya telah sampai ke kota kalian, damai dengan kalian in syaa Allah baru bisa diputuskan. Itu jika kalian serius minta damai. Di sini kami belum bisa memutuskan damai. Ikutlah pada kami.”
Mereka panik dengan jawaban Khalid.
Khalid bertanya, “Apa kalian tahu sahabat kami yang telah membunuh putra panglima perang kalian?”
“Apakah orangnya telanjang dada dan telah membunuh kawan-kawan kami melalui serangannya yang dahsyat? Kalau betul, berarti dia yang telah membuat panglima perang kami sangat bersedih karena kehilangan putranya,” jawab mereka.  
“Betul, itu yang kami tanyakan,” jawab Khalid.
“Dia telah ditawan oleh Tuan Wardan lalu dibawa ke Homs. Dia diarak oleh 100 orang berkuda. Selanjutnya akan dihadapkan Raja Hiraqla, untuk dimintai laporan mengenai yang telah dilakukan,” jawab mereka.
Pasukan Islam sedikit lega, karena mendapat kabar bahwa Dhirar masih hidup.

PS 24: Pembebasan Syam


Cerbung (Cerita Bersambung)





Setelah menyimak laporan Khaulah, Khalid berkata dengan lantang, “Kami akan menyerang mereka secara serempak! Untuk membebaskan saudara laki-lakimu!.” 
Ucapan Khalid membuat Khaulah terhibur, sekaligus membuat emosi pasukan Islam berkobar. Ingin mengalahkan kaum Romawi.

Amir bin Thufail
yang saat itu ikut bertempur, berkisah:

“Saat Khalid menyerang kaum Romawi, saya berada di kanan dia. Khaulah dan pasukan wanita justru di depan Khalid. Pasukan Islam menyerang dengan semangat. Hampir bisa dikatakan mereka bagaikan harimau dan singa yang mengamuk. Serangan Khaulah dan pasukannya membuat kaum Romawi ketakutan, hingga mereka berkata, Kalau sejak kemarin kaum Arab mengamuk seperti dia (Khaulah), pasti kita tak mampu melawan mereka’.
Khalid ikut mengamuk
. Kaum Romawi berlarian pontang-panting bagaikan sampah disapu oleh badai.

Pimpinan tertinggi mereka, Wardan, bingung
dan gusar. Dia mengingatkan pasukannya, berteriak, Jangan lari dari mereka! Kalau kalian bertahan terus, justru mereka yang akan ketakutan menghadapi kita. Bala bantuan dari Damaskus segera datang membantu kalian!’.
Khalid semakin garang. Ia melancarkan serangan ke kanan dan kiri hingga membuat pasukan Romawi kocar-kacir
. Yang lain berguguran dari kuda, tak berdaya. Mayat-mayat berserakan di mana-mana.