Waki bin Al-Jarrach (وَكيعُ بنُ الجَرّاحِ) berkata di dalam kitab tafsirnya, “Guru kami bernama Sufyan murid Maisarah bin Chabib Annahdi murid Al-Minhal Al-Asadi murid Said bin Jubair murid Ibnu Abbas bercerita pada kami tentang Firman ‘(أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ خَرَجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ وَهُمْ أُلُوفٌ حَذَرَ الْمَوْتِ/apakah kau belum mengerti pada orang-orang yang keluar dari kampung-kampung mereka yang (berjumlah) ribuan, karena takut mati?)’.
Dia berkata ‘jumlah mereka 4.000 orang, keluar (dari kampung-kampung) karena menjauhi penyakit thaun (الطَّاعُوْنُ)’. Mereka berkata ’kami akan datang pada tempat yang aman dari kematian’. Hingga ketika mereka sampai di suatu tempat, Allah berfirman ‘matilah!’ sontak mereka mati.
Seorang nabi yang lewat di tempat itu berdoa agar Tuhannya menghidupkan mereka. Allah pun menghidupkan mereka. Itulah yang dimaksud Firman-Nya azza wajalla {أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ خَرَجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ وَهُمْ أُلُوفٌ حَذَرَ الْمَوْتِ} الآية.
Lebih dari seorang alim berkata, “Sungguh mereka kaum yang tinggal di Baldah (بَلْدَةُ) pada zaman Bani Israil, menderita demam dan terserang wabah ganas di kota mereka. Mereka meninggalkan tanah kelahiran menuju suatu tempat untuk menghindari kematian. Mereka menempati dan memenuhi lembah yang luas.
Allah mengutus dua malaikat agar berteriak dari atas dan dari bawah lembah. Mereka berteriak serempak hingga semuanya mati bersama-sama; tak ada satu pun yang hidup. Mayat mereka berserakan memenuhi tempat yang sangat luas. Bangkai mayat-mayat itu ditutup dinding melingkar hingga akhirnya sama lepas termakan bakteri pengurai.
Ketika waktu telah bergulir, seorang nabi dari Bani Israil bernama Chizqil (حِزْقيل) lewat. Dia berdoa agar Allah menghidupkan mereka melalui perantaraan dia. Allah mengabulkan dan perintah agar dia berkata, “Hai tulang belulang yang telah keropos! Sungguh Allah perintah agar kalian bersatu lagi menjadi jasad lagi!” lalu diperintah agar berkata, “Hai tulang belulang! Allah perintah agar kalian berbusana daging otot dan kulit!” ternyata tulang-tulang itu mengikuti perintahnya.
Allah perintah agar dia menyeru, “Hai ruh-ruh! Allah perintah agar kalian kembali pada jasad yang pernah kalian tempati!,” pada tulang-tulang yang telah menjadi jasad itu. Jasad-jasad itu sama berdiri dalam keadaan hidup dan bisa melihat lagi. Allah menghidupkan lagi pada mereka yang telah meninggal lama. Mereka bertasbih, “SubhanaKa Allahumma Rabbanaa wabichamdiKa laa Ilaaha illaa Anta (سبحانك اللهم ربنا وبحمدك لا إله إلا أنت).”
Konon menghidupkan pada mereka merupakan ibarat dan petunjuk nyata bahwa di hari kiamat nanti jasad makhluq akan hidup lagi sebagai mereka. Oleh karena itu lalu Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah niscaya memiliki kefadholan atas manusia {إِنَّ اللَّهَ لَذُو فَضْلٍ عَلَى النَّاسِ},” maksudnya mengenai kenyataan bebentuk ayat-ayat dan hujah nyata dan dalil-dalil yang jelas sekali. Tetapi sungguh lebih banyaknya manusia tidak bersukur {وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يَشْكُرُونَ}. Maksudnya tidak mensukuri kenikmatan hidayah (agama) dan dunia yang dianugerahkan oleh Allah pada mereka.











