SELAMAT DATANG DI BLOG PONDOK PESANTREN MULYA ABADI, JL. MAGELANG KM 8.5 SLEMAN YOGYAKARTA, SEMOGA BLOG INI BISA MENJADI SILATURAHMI KITA UNTUK SALING BERBAGI

Doa Meluluhkan Hati Seseorang

Ya Allah sungguh Engkau Maha Mulia Maha Besar. Sedangkan saya HambaMu yang sangat hina dina. Tiada upaya dan kekuatan kecuali karena Kau. Ya Allah, tundukkanlah

Doa Agar di Beri kerjaan Bisnis

Ya Allah, Raja segala Kerajaan, Tuhan memberikan Kerajaan pada yang Tuhan kehendaki, melepas Kerajaan dari yang Tuhan kehendaki, menjayakan orang yang Tuhan kehendaki, dan merendahkan orang yang Tuhan kehendaki

Sapaan Nabi Membuat Khowat Sungkan

Rasulullah SAW keluar dari tenda dan bersabda pada saya ‘hai Ayah Abdillah, apa yang mendorong kau duduk bersama mereka ?’

Hibah Menurut Bukhori

Hibah Menurut Bukhari Ibrahim Annakhai tergolong Tabiin yang sangar alim. Beliau murid Ibrhaim Attaimi, murid Amer bin Maimun, murid Abu Abdillah Al-Jadali, murid Khuzaimah sahabat Nabi SAW.

Masuk Surga Paling Awal

Rasulullah SAW bersabda, “Jibril AS telah datang untuk memegang tanganku untuk menunjukkan saya Pintu Gerbang Surga, yang akan dimasuki oleh umatku.”

Tampilkan postingan dengan label Dakwah ke Negeri Aleppo (Chalab/حلب). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dakwah ke Negeri Aleppo (Chalab/حلب). Tampilkan semua postingan

2011/11/17

KW 149: Dakwah ke Negri Aleppo (Chalab/حلب)



 (Bagian ke-149 dari seri tulisan Khalid bin Walid)

Damis bertanya, “Di antara kalian ada yang berani memanjat untuk memasuki benteng ini?.” 
Mereka menjawab, “Bagaimana mungkin kami memanjat benteng tidak melalui tangga?.” 
Damis menjawab, “Tenang!” Lalu menyuruh tujuh orang kuat agar beraksi. Dia duduk jongkok lalu perintah seorang agar duduk di atas pundaknya, untuk diangkat dan disuruh melemparkan tali berkait ke atas benteng. Yang lain diperintah agar melemparkan tali pengait ke atas benteng mengikuti caranya.

Delapan orang telah berhasil mengaitkan tali untuk memanjat benteng. Yang pertama kali sampai keatas, diperintah agar tali-tali dipastikan kuat kaitannya. Dalam waktu cepat mereka berhasil menaiki benteng

Damis melihat penjaganya tidur pulas menyanding wadah arak. Penjaga itu diangkat untuk dilemparkan keluar benteng.
Di bawah benteng, penjaga itu dibunuh lalu ditutup rapat oleh pasukan Damis.
Dua penjaga tidur dalam keadaan mabuk didalam benteng, digorok lehernya lalu dilemparkan keluar benteng oleh Damis.

Pasukan Damis yang di bawah telah memanjat benteng.
Pada mereka, Damis perintah, “Kalian di sini saja!” lalu mendekati istana Raja Yuqana di pertengahan rumah mewah didalam benteng.
Istana dijaga ketat oleh para pasukan raja berjumlah banyak, sambil menikmati arak istimewa. Raja Yuqana berada di pertengahan mereka. Permadani yang diduduki oleh Yuqana berbahan sutra Dibaj dihias benang emas. Kalung yang dikenakan, bermata mutiara dan jauhari gemerlapan menawan. Dalam pertemuan agung itu, aroma parfum jenis Misik dan Bakhur semerbak mewangi. 

Damis berbalik untuk berkata pada pasukannya, “Ternyata yang berjaga banyak sekali. Jalan satu-satunya saya harus bersiasat. Jika fajar telah menyingsing kita harus serempak menyerang mereka dengan pedang, agar Allah menghinakan mereka melalui tangan kita. Kalau kita kesulitan mengalahkan mereka, dua orang yang saya perintah menghubungi yang  mulia Abu Ubaidah dan Khalid, in syaa Allah telah datang kemari membawa bala-bantuan.” 
Mereka menjawab, “Kami harus taat perintahmu. Jalan satu-satunya agar kita selamat, justru berjihad dengan gigih.” 
Damis perintah, “Kalian di sini! Saya akan melakukan sesuatu.”
Dengan gerak cepat, Damis mendatangi pintu gerbang benteng yang para penjaganya sedang tidur lelap.
Sebelum membuka pintu gerbang, Damis membunuh semua penjaga, lalu gerbang dibuka lebar. Gerbang satunya juga dibuka setelah semua penjaganya dibunuh. 
Pada pasukannya, Damis berkata, “Dua gerbang telah saya buka setelah semua, penjaganya saya bunuh. Tugas kita selanjutnya memerangi mereka yang masih hidup! Bersiaplah! In syaa Allah kita akan dibantu oleh pasukan yang sebentar lagi berdatangan.” 

Damis perintah seorang agar menghubungi dan memohon Khalid, agar mendatangkan pasukannya yang terkenal ganas.
Yang diperintah oleh Damis agar menjaga pintu gerbang lima lelaki. Sisanya diajak memasuki istana Yuqana. 
Damis berteriak keras sekali memanggil Yuqana.
Pasukan Yuqana berhamburan lari menuju pintu gerbang. Beberapa dari mereka berteriak, “Kurang ajar! Kita telah lengah!.” 

Yuqana berteriak memanggil para pengawalnya.
Damis dan pasukannya memekikkan takbir, “Allahu akbar!” dengan serempak. 
Pasukan Yuqana bingung karena mengira pasukan Muslimiin berjumlah banyak telah memasuki benteng. Peperangan berkecamuk dengan sengit; yang paling menggila serangannya, Damis yang panggilannya Abul-Haul. Meskipun telah menyandang 73 luka, dia tetap mengamuk dengan pedangnya.
Pasukan Damis yang gugur empat orang: 
1.   Aus bin Amir. 
2.   Abu Chamid bin Suraqah. 
3.   Fari bin Musayyab. 
4.   Fazarah Al-Aufi. 
Selain mereka mengamuk hingga menewaskan banyak lawan.

Serangan 5.000 pasukan Yuqana makin menggila hingga pasukan Damis yang gugur bertambah: 
1.   Mulaib bin Miqdam veteran Perang Hudaibiyah dan Tabuk. 
2.   Murarah bin Rabiah. 
3.   Hilal bin Umayah saudara Kaeb sahabat nabi SAW yang absen dalam perang Tabuk, hingga Allah menurunkan wahyu tentang Kaeb di dalam Al-Qur’an.

Pasukan Damis berjumlah 20 orang dilanda kesulitan maksimal, karena amukan 5.000 pasukan Yuqana menggila.


2011/11/16

KW 148: Dakwah ke Negeri Aleppo (Chalab/حلب)




 (Bagian ke-148 dari seri tulisan Khalid bin Walid)

Damis berkata, “Tanyalah dia! Kenapa terjun bebas dari atas benteng?.” 
Yang berkening bonyok menjawab, “Raja Yuqana murka pada penduduk Rabadh yang telah berdamai dengan kalian. Saya tergolong tokoh masyarakat yang dipaksa oleh raja, agar memasuki kerajaannya bersama sejumlah tokoh lainnya. Kami dipaksa menyerahkan harta kekayaan berjumlah sangat banyak. Ketika saudara kami sama disiksa, saya lari dan terjun dari atas. Ternyata di bawah, saya kau tangkap. Saya tergolong penduduk yang telah berdamai dengan kalian kaum Arab. Kalau kalian bukan kaum Arab silahkan menjelaskan apa tujuannya? Akan menarik pajak atau denda? Saya merasa beruntung bisa lolos dari siksaan di atas sana.” 
Damis memahami perkataan dia melaui lelaki Nashrani tawanan. 
Lelaki Nashrani diperintah, “Katakan padanya! 'Kami kaum Arab. Dia tidak perlu khawatir karena kami tidak akan menyerang dia’.” 
 
Setelah lelaki berkening bonyok tenang, di depan dia Damis membunuh para tawanan. 
Lelaki itu dilepas dari ikatannya. 
Damis mengeluarkan kulit kambing dari kantongnya, lalu menyelimutkan pada punggunya, sambil merangkak. Di malam yang gelap itu dia perintah pada pasukannya, “Dengan Nama Allah, mintalah pertolongan pada Allah! Bertawakkallah pada-Nya! Mari kita melaksanakan tugas! Semoga Allah menolong kita merebut kerajaan itu.” 
Pasukannya menjawab, “Ayo, semoga Allah memberi Barakah,” dan berdiri. 

Dua lelaki diperintah oleh Damis, agar meminta Abu Ubaidah mengerahkan pasukan ke kerajaan, ketika fajar menyingsing. Dua lelaki telah pergi untuk menghubungi Abu Ubaidah. 

Damis bersama pasukannya menembus gelap malam kelam dan dingin. 
Di malam sangat gelap itu, Damis bagai anjing, karena berjalan merangkak dan badannya tertutup kulit kambing. Jika ada orang mencurigakan; Damis berhenti bergaya seperti anjing sedang makan tulang. Pasukan Damis mengikuti di belakangnya dengan mengendap-endap pada bebatuan. 
Dari bawah benteng terdengar suara para penjaga dan kericuhan serius. Penjagaan bagain bawah sangat ketat. Damis dan pasukannya berkeliling dengan hati-hati, mencari tempat dekat benteng yang aman.
Para penjaga paling dekat benteng, telah tidur di belakang penghalang. 
Di dalam persembunyian, Damis berkata pada pasukannya, “Kalian tahu bahwa benteng ini tinggi sekali. Pantesan pasukan Muslimiin tidak mampu menerobos masuk, karena penjagaannya sangat ketat. Sebaiknya apa yang harus kita lakukan agar kita bisa memasuki benteng?.” 
Mereka menjawab, “Yang mulia telah mengangkat kau sebagai pemimpin kami. Dan kau memang lebih pemberani bahkan lebih ahli bersiasat. Apapun yang kau perintahkan, kami akan melakukan selama bertujuan demi baiknya Muslimiin. Kami takkan mundur meskipun harus mati oleh tebasan pedang. Kami lebih mementingkan Taat Allah, untuk kebaikan kaum Muslimiin.” 
Damis berdoa, “Semoga Allah membalas Perjuangan, memberi Kefadholan, dan memberi Kemenangan kita, untuk penaklukan lawan. Kalau tekat kalian telah bulat! Mari kita segera bergerak ke sana.” 
Damis berduapuluh-delapan, bergerak pelan-pelan menuju titik paling menguntungkan, sambil menunggu kaum Muslimiin lainnya yang telah dihubungi oleh dua orang, agar datang di waktu subuh.

Bersambung.

2011/11/13

KW 147: Dakwah ke Negri Aleppo (Chalab/حلب)


 (Bagian ke-147 dari seri tulisan Khalid bin Walid)

Damis memohon, “Bawalah pasukan mendekati kerajaan, untuk memancing pasukan lawan yang di dalamnya. Saya berharap Allah memberi Keberhasilan melalui siasat ini. Tiada Upaya dan Kekuatan kecuali karena Pertolongan Allah yang Maha Tinggi Maha Agung.”
Abu Ubaidah perintah agar pasukan Muslimiin mendekati kerajaan. 
Di bawah kerajaan, pasukan Muslimiin membaca takbir dan tahlil, dan menampakkan pedang yang mengkilap, lalu menantang perang. 
Pasukan musuh menengok dari atas dinding dengan perasaan takut. Mereka bermusyawarah mengenai jurus untuk mematahkan serangan kaum Muslimiin. 
“Sebaiknya segera kita lawan,” kata sebagian mereka. 
Ada yang membantah, “Yang benar justru kita bertahan di sini saja. Mereka tidak mungkin bisa kemari.” 
Tetapi kebanyakan mereka menghendaki berperang dari dalam benteng yang telah diberi tempat-tempat pengintaian.
Batu-batuan dan anak panah dari atas, menukik bertubi-tubi mulai siang hinggga malam. 
Damis memutar otaknya untuk melancarkan makar atas mereka. 
Telah 47 hari serangan Damis dipatahkan. Hari itu dia menghadap Abu Ubaidah untuk berkata, “Wahai Amir, segala usaha telah saya lakukan tetapi belum juga berhasil. Saya merencanakan sebuah siasat yang semoga Allah membimbing dan menolong.” Lalu Damis minta, “Perintahlah 30 pasukan agar taat pada saya.” 
Abu Ubaidah mengabulkan, “Ya.” 

Abu Ubaidah memilih 30 pasukan pemberani. 
Di hadapan mereka Abu Ubaidah berkata, “Kalian semuanya saya minta agar taat pada Damis ini. Semoga Allah menyayang kalian. Dia saya angkat sebagai pimpinan karena dia lebih mulia daripada kalian, serangan dia juga dahsyat. Jangan ada yang berkata ‘kenapa yang memimpin hanya seorang hamba sahaya? Demi Allah, kalau saya bukan pemimpin kalian, saya pasti telah mengikuti dia untuk merebut kemenangan.” 
Mereka berkata, “Semoga Allah berbuat baik pada kau. Kami tidak ragu-ragu mengenai kebijakan anda dan kesenioran anda. Sejak sebelum ini perkataan, anda lebih kami hargai. Ketaatan kami pada anda tak diragukan lagi. Kalau anda menunjuk orang kafir agar memimpin kami pun, pasti kami taati. Karena kami tahu tujuan anda pasti baik, untuk memperjuangkan agama. Kami memahami dan akan mentaati Allah, anda, dan orang yang anda tunjuk, agar memimpin kami.” 
Abu Ubaidah senang mendengar jawaban mereka. Dan berdoa, “Jazakumullahu khaira,” lalu berkata, “Ketahuilah bahwa saya yakin, kerajaan ini akan kita taklukkan berkat perjuangan Damis ini. Dia ahli bersiasat dan pandangannya cemerlang. Ikutilah perintahnya dan bertawakkallah pada Allah! Ingatlah bahwa Rasulullah SAW pernah mengangkat mantan hamba sahaya menjadi pemimpin atas sejumlah tokoh Muslimiin, untuk berperang’.”

Damis datang menghadap, disambut dengan pertanyaan, “Ya Damis, apa lagi yang kau inginkan?” Oleh Abu Ubaidah. 
Damis minta, “Sebaiknya anda segera memimpin serangan atas kerajaan. Saya yang mengatur di dalam persembunyian sejauh satu farsakh (فَرْسَخٌ).[1] Yang menghubungkan saya dan anda hanya sejumlah pasukan khusus, agar musuh tidak tahu bahwa ada kami. Para penghubung yang mendatangi kami tidak boleh membawa pedang. Bolehnya hanya membawa belati, dan harus berpencar melewati jalan yang berbeda. Allah lah yang kita harapkan menolong Segala Urusan kita.” 
Abu Ubaidah makin yakin bahwa Damis ahli bersiasat dan berpandangan cemerlang. 
Damis mendatangi pasukannya untuk berkta, “Hai pemuda Arab! Mari kita berjihad! Semoga Allah memberi Barakah kalian. Kita akan bersembunyi di dalam jurang, agar pasukan kerajaan tidak tahu di mana kita. Senjata yang harus kalian bawa pedang, perisai, belati.”  

Pasukan telah siap semuanya; Damis telah mengenakan busana perang dan membawa belati. Lalu mengajak mereka menjauhi pasukan induk, menuju gua di dalam gunung. 
Pasukan induk di bawah pimpinan Abu Ubaidah telah pergi menuju kerajaan untuk menyerang dari bawah.

Dari atas benteng, pasukan Chalab melihat arak-arakan pasukan Muslimiin di bawah. Mereka berteriak-teriak keras dari atas, menggemuruh. Sebagian mereka berkata pada raja mereka, “Yang mulia! Bukalah pintu gerbang agar kita bisa keluar dari belakang mereka! Untuk menawan atau membunuh seorang dari mereka.” 
Mereka menyerang pasukan Muslimiin dari atas benteng hingga waktu isyak. 

Damis bertanya, “Siapa yang berani datang kebawah kerajaan untuk melaporkan keadaan di sana? Tugas dia selain itu, menangkap mata-mata pasukan Chalab untuk kita paksa menjelaskan rahasia kerajaan ini?.” 
Semuanya diam tidak ada yang menjawab. Mereka terkejut oleh ucapan, “Ternyata kalian sama takut mati,” dari Damis. 

Damis keluar dari gua beberapa saat. Lalu masuk kegua membawa tawanan, dan perintah, “Hai para pemuda! Tahanlah dia jangan sampai lari! Dan paksalah! Agar menjelaskan rahasia yang kalian butuhkan!.” 
Lelaki tawanan itu diberondong pertanyaan, tetapi tidak faham dengan bahasa Arab. Damis perintah, “Jagalah dia!” lalu keluar lagi.

Damis masuk lagi kedalam gua, membawa tiga tawanan. 
Empat tawanan itu tidak ada yang bisa berbahasa Arab. Tangan mereka diikat erat di belakang. 
Damis keluar lagi hingga pertengahan malam. 
Mereka sangat mengkhawairkan keselamatan Damis. Sebagian mereka berkata, “Jangan-jangan dia ketahuan dan ditawan atau dibunuh oleh lawan?.” 

Perbincangan mengenai Damis makin serius, bahkan mereka hampir keluar untuk bergabung pada pasukan induk. Mereka terkejut ketika Damis datang membawa lelaki dari Chalab. Mereka marah dan hampir membunuh lelaki, yang disangka sebagai penyebab Damis terlambat pulang pada mereka. Mereka sama berkata, “Kami telah mengkhawatirkan keselamatanmu.” 
Damis mejawab, “Saya pergi lama karena saya pergi ke dekat kerajaan. Di dalam persembunyian, saya mendengar pembicaraan pasukan Chalab yang lalu-lalang di bawah. Saya amati di antara mereka tidak ada yang berbahasa Arab. Dalam persembunyian yang lama itu, saya berputus asa. Ketika saya hampir pulang, tiba-tiba ada suara mengejutkan. Setelah saya cari, ternyata ada lelaki yang jatuh dari atas benteng, dan inilah orangnya. Dia telah sengaja terjun bebas dari atas benteng." 

Mereka mendekati sambil memberondong pertanyaan, pada lelaki berkening bonyok, yang tidak memahami bahasa Arab. 
Damis berkata, “Saya yakin dia melarikan diri dari kaumnya. Sayang sekali kalian tidak memahami bahasa dia. Tunggu sebentar! Akan saya carikan orang yang bisa berbahasa Arab dan bahasa dia!.” 
Damis keluar lagi untuk menangkap lelaki bersurban setengkuk. Lelaki tawanan itu dibawa masuk dan ditanya, “Kau dari Madinah atau dari kerajaan itu?.” 
Damis bertanya, “Kau berasal dari Chalab atau Arab Nashrani?.” 
Dia menjawab, “Saya Nashrani Arab.” 
Mereka merayu, “Maukah kau menunjukkan rahasia mana? Jalan menuju benteng itu? Kalau mau kau kami lepas dan kami jamin selamat.” 
Dia menjawab, “Saya tidak tahu di mana jalan menuju benteng itu? Kalaupun saya tahu juga tak mungkin mau menjelaskan pada kalian, demi Al-Masih.” 
Dengan geregetan, Damis perintah pada tawanannya yang baru, “Tanyalah para tawanan ini ‘mereka penduduk pribumi bukan?’.” 
Setelah bertanya mereka yang ditawan, dia melaporkan, “Mereka semua pasukan yang berasal dari dalam benteng di atas sana.”


Bersambung.

[1] Satu farsakh (فرسخ): tiga mil/10.000 lengan/12.000 lengan. [القاموس المحيط - (ج 1 / ص 251)].