SELAMAT DATANG DI BLOG PONDOK PESANTREN MULYA ABADI, JL. MAGELANG KM 8.5 SLEMAN YOGYAKARTA, SEMOGA BLOG INI BISA MENJADI SILATURAHMI KITA UNTUK SALING BERBAGI

Doa Meluluhkan Hati Seseorang

Ya Allah sungguh Engkau Maha Mulia Maha Besar. Sedangkan saya HambaMu yang sangat hina dina. Tiada upaya dan kekuatan kecuali karena Kau. Ya Allah, tundukkanlah

Doa Agar di Beri kerjaan Bisnis

Ya Allah, Raja segala Kerajaan, Tuhan memberikan Kerajaan pada yang Tuhan kehendaki, melepas Kerajaan dari yang Tuhan kehendaki, menjayakan orang yang Tuhan kehendaki, dan merendahkan orang yang Tuhan kehendaki

Sapaan Nabi Membuat Khowat Sungkan

Rasulullah SAW keluar dari tenda dan bersabda pada saya ‘hai Ayah Abdillah, apa yang mendorong kau duduk bersama mereka ?’

Hibah Menurut Bukhori

Hibah Menurut Bukhari Ibrahim Annakhai tergolong Tabiin yang sangar alim. Beliau murid Ibrhaim Attaimi, murid Amer bin Maimun, murid Abu Abdillah Al-Jadali, murid Khuzaimah sahabat Nabi SAW.

Masuk Surga Paling Awal

Rasulullah SAW bersabda, “Jibril AS telah datang untuk memegang tanganku untuk menunjukkan saya Pintu Gerbang Surga, yang akan dimasuki oleh umatku.”

Tampilkan postingan dengan label Tafsir Al-Qur'an. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tafsir Al-Qur'an. Tampilkan semua postingan

2012/07/31

BI 13 :Bedah Ibnu Katsir


وَاسْأَلْهُمْ عَنِ الْقَرْيَةِ الَّتِي كَانَتْ حَاضِرَةَ الْبَحْرِ إِذْ يَعْدُونَ فِي السَّبْتِ إِذْ تَأْتِيهِمْ حِيتَانُهُمْ يَوْمَ سَبْتِهِمْ شُرَّعًا وَيَوْمَ لَا يَسْبِتُونَ لَا تَأْتِيهِمْ كَذَلِكَ نَبْلُوهُمْ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ وَإِذْ قَالَتْ أُمَّةٌ مِنْهُمْ لِمَ تَعِظُونَ قَوْمًا اللَّهُ مُهْلِكُهُمْ أَوْ مُعَذِّبُهُمْ عَذَابًا شَدِيدًا قَالُوا مَعْذِرَةً إِلَى رَبِّكُمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ أَنْجَيْنَا الَّذِينَ يَنْهَوْنَ عَنِ السُّوءِ وَأَخَذْنَا الَّذِينَ ظَلَمُوا بِعَذَابٍ بَئِيسٍ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ فَلَمَّا عَتَوْا عَنْ مَا نُهُوا عَنْهُ قُلْنَا لَهُمْ كُونُوا قِرَدَةً خَاسِئِينَ].

Artinya:
Dan tanyakan pada mereka! Tentang '(penduduk) desa' yang konon berada di sisi lautan! Ketika itu mereka melakukan pelanggaran di hari Sabtu. Ketika itu ikan-ikan mereka, datang pada mereka di hari Sabtuan mereka, dengan mengapung. Namun di hari mereka tidak bersabtuan, (ikan-ikan) tidak datang pada mereka. Seperti itulah, Kami memberi Cobaan mereka, karena mereka telah Fasiq. 
Ketika itu, umat dari mereka berkata, “Kenapa kalian menasehati kaum yang akan dirusak atau akan diadzab dengan Adzab Berat oleh Allah?!.” 
Mereka menjawab, “Sebagai alasan pada Tuhan kalian, dan agar mereka bertaqwa.” 
Maka ketika telah melupakan yang diperingatkan pada mereka, orang-orang yang menolak 'dari kejelekan', Kami selamatkan. Siksa jelek menimpa orang-orang yang telah lalim, karena mereka telah fasiq. Ketika mereka telah melanggar dari yang telah dilarang, Kami berfirman pada mereka, “Jadilah kera-kera hina!.”

Desa kaum Yahudi yang membandel, tidak mau Sabtuan, bernama Ailah. Letaknya di antara Mesir dan Madinah. Dulunya diwajibakan berjumatan, namun mereka sama memilih Sabtuan. Setelah diperbolehkan meninggalkan jumatan untuk bersabtuan, ternyata mereka sama melanggar lagi. Kisah ini akan lebih jelas jika kita membedah Ibnu Katsir: تفسير ابن كثير - (ج 3 / ص 495)

قال عبد الرزاق: أخبرنا ابن جُرَيْج، حدثني رجل، عن عكرمة قال: جئت ابن عباس يوما وهو يبكي، وإذا المصحف في حجره، فأعظمت أن أدنو، ثم لم أزل على ذلك حتى تقدمت فجلست، فقلت: ما يبكيك يا أبا عباس، جعلني الله فداك؟ قال: فقال: هؤلاء الورقات. قال: وإذا هو في "سورة الأعراف"، قال: تعرف أيلة قلت: نعم. قال: فإنه كان بها حي من يهود سيقت الحيتان إليهم يوم السبت، ثم غاصت لا يقدرون عليها حتى يغوصوا بعد كد ومؤنة شديدة، كانت تأتيهم يوم السبت شرعا بيضًا سمانًا كأنها الماخض، تتبطح ظهورها لبطونها بأفنيتهم. فكانوا كذلك برهة من الدهر، ثم إن الشيطان أوحى إليهم فقال: إنما نهيتم عن أكلها يوم السبت، فخذوها فيه، وكلوها في غيره من الأيام. فقالت ذلك طائفة منهم، وقالت طائفة: بل نهيتم عن أكلها وأخذها وصيدها يوم السبت. فكانوا كذلك، حتى جاءت الجمعة المقبلة، فغدت طائفة بأنفسها وأبنائها ونسائها، واعتزلت طائفة ذات اليمين، وتنحت واعتزلت طائفة ذات اليسار وسكتت. وقال الأيمنون: ويلكم، الله، الله ننهاكم أن تتعرضوا لعقوبة الله. وقال الأيسرون: { لِمَ تَعِظُونَ قَوْمًا اللَّهُ مُهْلِكُهُمْ أَوْ مُعَذِّبُهُمْ عَذَابًا شَدِيدًا } ؟ قال الأيمنون: { مَعْذِرَةً إِلَى رَبِّكُمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ } إن ينتهوا فهو أحب إلينا ألا يصابوا ولا يهلكوا، وإن لم ينتهوا فمعذرة إلى ربكم. فمضوا على الخطيئة، وقال الأيمنون: فقد فعلتم، يا أعداء الله. والله لا نبايتكم الليلة في مدينتكم، والله ما نراكم تصبحون حتى يصبحكم الله بخسف أو قذف أو بعض ما عنده من العذاب. فلما أصبحوا ضربوا عليهم الباب ونادوا، فلم يجابوا، فوضعوا سلما، وأعلوا سور المدينة رجلا فالتفت إليهم فقال: أي عباد الله، قردة والله تعاوي لها أذناب. قال: ففتحوا فدخلوا عليهم، فعرفت القرود أنسابها من الإنس، ولا تعرف الإنس أنسابها من القردة، فجعلت القرود يأتيها نسيبها من الإنس فتشم ثيابه وتبكي، فتقول: ألم ننهكم عن كذا؟ فتقول برأسها، أي نعم. ثم قرأ ابن عباس: { فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ أَنْجَيْنَا الَّذِينَ يَنْهَوْنَ عَنِ السُّوءِ وَأَخَذْنَا الَّذِينَ ظَلَمُوا بِعَذَابٍ بَئِيسٍ } قال: فأرى الذين نهوا قد نجوا، ولا أرى الآخرين ذكروا، ونحن نرى أشياء ننكرها ولا نقول فيها؟. قال: قلت: جعلني الله فداك، ألا ترى أنهم قد كرهوا ما هم عليه، وخالفوهم وقالوا: { لِمَ تَعِظُونَ قَوْمًا اللَّهُ مُهْلِكُهُمْ } ؟ قال: فأمر لي فكسيت ثوبين غليظين وكذا روى مجاهد، عنه


Arti (selain isnad)nya:
Ikrimah berkata, “Suatu hari, saya datang pada Ibna Abbas RA, di saat beliau menangis. (Setelah yang) di pangkuannya (saya amati), ternyata Al-Mushchaf (Al-Qur’an). Saya takut mendekat beliau. Cukup lama saya diam, namun akhirnya saya mendekat dan duduk di sisi beliau, untuk bertanya ‘apa yang membuat tuan menangis? Wahai Ayah Abbas? Allah menjadikan saya sebagai Tebusan tuan?’.[1] 
Beliau menjawab ‘lembaran-lembaran kitab ini’.
Setelah saya tengok, ternyata halaman yang dibaca 'Surat Al-Araf (سورة الأعراف)'. Beliau bertanya ‘kau tahu kota Ailah?’. 
Saya menjawab ‘ya’. 
Beliau berkata ‘konon dulu di sana, ada penduduk Yahudi yang didatangi ikan-ikan (dari laut mereka), di hari Sabtu. Lalu ikan-ikan itu menyelam lagi, hingga mereka tidak mungkin bisa menangkap, keculi jika mau menyelam secepat-cepatnya, dan dengan tenaga kuat. Konon jika hari Sabtu, ikan-ikan putih besar, mirip seperti akan bertelor, sama datang dan mengapung. 
Ikan-ikan itu lalu terkapar. Punggungnya di bawah dan perutnya di atas, di halaman rumah mereka. Kejadian seperti itu berlangsung berkali-kali dalam waktu yang cukup lama’.
Lalu syaitan datang untuk memberi bisikan pada mereka ‘sungguh kalian ini dilarang memakan hanya di hari Sabtu saja. Tangkaplah ikan-ikan itu! Untuk dimakan di hari-hari yang lain!’. 
Dan bisikan syaitan tersebut, disampaikan oleh sebagian mereka pada yang lain. 
Sebagian mereka berkata ‘yang benar, kalian ini dilarang makan, menangkap, dan memburu ikan, di hari Sabtu!’.

Perselisihan berlangsung hingga hari Jumat berikutnya. Masyarakat yang menanggapi kaum yang berbuat pelanggaran ketika itu, berpecah menjadi dua golongan: Sebelah kanan dan sebelah kiri. 
Yang sebelah kiri sama diam, ketika menyaksikan orang-orang melakukan pelanggaran. 
Kaum sebelah kanan berkata ‘celaka kalian! Takutlah Allah! Takutlah Allah! Kami mencegah kalian melakukan pelanggaran, agar kalian tidak mendapatkan Siksaan Allah!’.
Kaum sebalah kiri justru berkata ‘kenapa kalian nasehat pada kaum yang akan dirusak atau disiksa oleh Allah dengan Siksaan Berat?’. 
Kaum sebelah kanan menjawab ‘untuk alasan di sisi Tuhan kalian besok, dan agar mereka bertaqwa. Kalau mereka berhenti melakukan pelanggaran, lebih kami senangi. Agar mereka tidak disiksa atau dirusak oleh Allah. Kalau mereka membandel, kita telah punya alasan di sisi Tuhan kalian’.

Namun mereka melakukan pelanggaran terus-menerus. 
Kaum sebelah kanan berkata ‘hai Musuh-Musuh Allah! Sungguh kalian telah membandel dalam pelanggaran! Demi Allah kami tidak sudi hidup bersama kalian, malam ini! Di kota ini! Demi Allah kami yakin bahwa kalian akan dibenamkan oleh Allah, besok pagi. Atau tertimpa adzab berupa Hujan Batu, atau Siksaan lain, dari Allah!’.
Ketika pagi hari, mereka datang untuk mengetuk pintu gerbang kota, namun tak ada jawaban dari dalam. Mereka meletakkan tangga dan menyuruh seorang lelaki agar memanjat, untuk menengok kaum yang di dalam. Di atas tangga, lelaki itu berteriak ‘hai Hamba-Hamba Allah! Demi Allah ada kera-kera berekor mbeker-mbeker!’.

Pintu gerbang berhasil dibuka; kaum yang telah menjadi kera itu mengenali keluarga yang berdatangan. Namun keluarga yang berdatangan tidak tahu kera-kera itu asalnya siapa. Kera-kera mendekati dengan mencium pakaian keluarga, sambil menangis. Keluarga sama berkata ‘bukankan kami telah melarang kalian melakukan pelanggaran?’. 
Kera-kera menganggukkan kepala, maksudnya mengiyakan.

Lalu Ibnu Abbas membaca:
فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ أَنْجَيْنَا الَّذِينَ يَنْهَوْنَ عَنِ السُّوءِ وَأَخَذْنَا الَّذِينَ ظَلَمُوا بِعَذَابٍ بَئِيسٍ.

Artinya:
Maka ketika mereka telah melupakan yang diperingatkan pada mereka, kaum yang menolak dari kejelekan, Kami selamatkan. Siksa yang jelek menimpa kaum yang telah lalim.


Ibnu Abbas RA berkata 'saya melihat dalam Ayat ini bahwa kaum yang melarang 'melakukan pelanggaran', telah selamat dari siksaan, hingga tidak dirubah menjadi kera. Namun saya di sini tidak tahu 'kaum selain mereka' disiksa nggak? Karena tidak disebutkan di sini. Di sini saya ingkar dan tidak bisa berkomentar’.
Saya berkata ‘Allah menjadikan saya sebagai Tebusan tuan. Apa tuan tidak berpikir bahwa mereka telah benci pelanggaran tersebut?’ Dan telah menyelisihi pelanggaran mereka? Dengan berkata ‘kenapa kalian nasehat pada kaum yang akan dirusak atau disiksa oleh Allah (dengan Siksaan Berat)?’. 
Sontak beliau perintah, agar saya diberi dua kain tebal, sebagai busana untuk saya.”


Mujahid juga meriwayatkan seperti ini dari Ikrimah.

Bersambung.



Ponpes Mulya Abadi Mulungan

[1] Bagi kaum Arab, mengatakan, “Allah menjadikan saya sebagai Tebusan tuan" Sebagai penghormatan.

BI 14 : Bedah Ibnu Katsir


BI 14 : Bedah Ibnu Katsir


وَاسْأَلْهُمْ عَنِ الْقَرْيَةِ الَّتِي كَانَتْ حَاضِرَةَ الْبَحْرِ إِذْ يَعْدُونَ فِي السَّبْتِ إِذْ تَأْتِيهِمْ حِيتَانُهُمْ يَوْمَ سَبْتِهِمْ شُرَّعًا وَيَوْمَ لَا يَسْبِتُونَ لَا تَأْتِيهِمْ كَذَلِكَ نَبْلُوهُمْ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ وَإِذْ قَالَتْ أُمَّةٌ مِنْهُمْ لِمَ تَعِظُونَ قَوْمًا اللَّهُ مُهْلِكُهُمْ أَوْ مُعَذِّبُهُمْ عَذَابًا شَدِيدًا قَالُوا مَعْذِرَةً إِلَى رَبِّكُمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ أَنْجَيْنَا الَّذِينَ يَنْهَوْنَ عَنِ السُّوءِ وَأَخَذْنَا الَّذِينَ ظَلَمُوا بِعَذَابٍ بَئِيسٍ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ فَلَمَّا عَتَوْا عَنْ مَا نُهُوا عَنْهُ قُلْنَا لَهُمْ كُونُوا قِرَدَةً خَاسِئِينَ].

Dan tanyakan pada mereka! Tentang (penduduk) desa yang konon berada di sisi lautan! Ketika itu mereka melakukan pelanggaran di hari Sabtu. Ketika itu ikan-ikan mereka datang pada mereka di hari Sabtuan mereka, dengan mengapung. Namun di hari mereka tidak bersabtuan; (ikan-ikan tersebut) tidak datang pada mereka. Seperti itulah Kami memberi Cobaan pada mereka, karena mereka telah fasiq. Ketika itu umat dari mereka berkata, “Kenapa kalian menasehati kaum yang akan dirusak atau akan diadzab dengan Adzab Berat oleh Allah?!.” 
Mereka menjawab, “Sebagai alasan pada Tuhan kalian, dan agar mereka (yang tidak bersabtuan) bertaqwa.” 
Maka ketika mereka telah melupakan yang diperingatkan pada mereka; orang-orang yang menahan dari kejelekan, Kami selamatkan; siksa yang jelek menimpa orang-orang yang telah lalim, karena mereka telah fasiq. Ketika mereka telah melanggar dari yang telah dilarang; Kami berfirman pada mereka, “Jadilah kera-kera hina!.”

Kaum Yahudi yang disiksa oleh Allah, hingga menjadi kera tersebut, hidup pada zaman Nabi Dawud AS. Tentang kisah tersebut, Ibnu Katsir meriwayatkan: تفسير ابن كثير - (ج 3 / ص 495)

وقال ابن جرير: حدثنا يونس، أخبرنا أشهب بن عبد العزيز، عن مالك، قال: زعم ابن رومان أن قوله تعالى: { تَأْتِيهِمْ حِيتَانُهُمْ يَوْمَ سَبْتِهِمْ شُرَّعًا وَيَوْمَ لا يَسْبِتُونَ لا تَأْتِيهِمْ } قال: كانت تأتيهم يوم السبت، فإذا كان المساء ذهبت، فلا يرى منها شيء إلى يوم السبت الآخر، فاتخذ -لذلك -رجل خيطًا ووتدًا، فربط حوتا منها في الماء يوم السبت، حتى إذا أمسوا ليلة الأحد، أخذه فاشتواه، فوجد الناس ريحه، فأتوه فسألوه عن ذلك، فجحدهم، فلم يزالوا به حتى قال لهم: "فإنه جلد حوت وجدناه". فلما كان السبت الآخر فعل مثل ذلك -ولا أدري لعله قال: ربط حوتين -فلما أمسى من ليلة الأحد أخذه فاشتواه، فوجدوا رائحة، فجاءوا فسألوه فقال لهم: لو شئتم صنعتم كما أصنع. فقالوا له: وما صنعت؟ فأخبرهم، ففعلوا مثل ما فعل، حتى كثر ذلك. وكانت لهم مدينة لها ربض يغلقونها عليهم، فأصابهم من المسخ ما أصابهم. فغدوا عليهم جيرانهم مما كانوا حولهم، يطلبون منهم ما يطلب الناس، فوجدوا المدينة مغلقة عليهم، فنادوا فلم يجيبوهم، فتسوروا عليهم، فإذا هم قردة، فجعل القرد يدنو يتمسح بمن كان يعرف قبل ذلك، ويدنو منه ويتمسح به وقد قدمنا في سورة "البقرة"  من الآثار في خبر هذه القرية ما فيه مقنع وكفاية، ولله الحمد والمنة.

Arti (selain isnad)nya:
Ibnu Ruman meyakini sungguh Firman Allah Taala (yang artinya), “Ikan-ikan mereka datang dengan mengapung untuk mereka, di hari Sabtuan mereka. Di hari mereka tidak Sabtuan, (ikan-ikan) tidak datang pada mereka.” Ikan-ikan datang pada mereka, hanya pada hari Sabtu. Jika hari telah sore, ikan-ikan sama pergi. Sampai hari Sabtu depan ikan-ikan tidak tampak. Karena itulah, seorang lelaki memasang tali-temali dan pasak. 
Di hari Sabtu, seekor ikan dikait dengan tali di dalam air. Hingga ketika hari telah sore, ikan itu diambil untuk dibakar.
Orang-orang yang mencium aroma ikan bakar, bertanya pada lelaki yang membakar ‘kenapa membakar ikan?’. 
Lelaki itu berbohong ‘saya tidak membakar!’. 
Tetapi mereka memaksa agar lelaki itu mengakui perbuatannya. 
Lelaki itu menipu mereka ‘saya hanya menemukan dan membakar kulit ikan’.
Di hari Sabtu berikutnya, lelaki itu menangkap ikan lagi.”

Malik tidak tahu, barangkali Ibnu Ruman dulu berkata, “Lelaki itu mengait dua ikan dengan tali. Ketika telah memasuki malam Ahad, lelaki itu mengambil untuk membakar ikan yang dikait dengan talinya. Mereka yang mencium aroma ikan bakar, datang untuk bertanya ‘kamu membakar ikan?!’ 
Dia menjawab ‘kalau kalian mau, lakukan seperti yang telah saya lakukan!’. 
Mereka bertanya ‘kau telah melakukan apa?’. 
Dia menjelaskan pada mereka mengenai yang telah dilakukan.

Mereka menirukan perbuatan dia, hingga akhirnya banyak orang yang menirukan perbuatan tersebut. Kota yang dihuni kaum yang melakukan pelanggaran tersebut, dikelilingi dinding berpintu gerbang. 
Pintu gerbang ditutup oleh mereka. 
Ternyata di dalam benteng tersebut, mereka berubah menjadi kera.
Para tetangga yang berada di sekeliling mereka, berdatangan untuk mencari kebutuhan hidup sebagaimana biasanya. Ternyata pintu gerbang sulit dibuka. Beberapa orang berteriak memanggil-manggil, namun tiada jawaban. Beberapa orang memanjat dinding; ternyata kaum yang di dalam benteng telah menjadi kera.
Kera datang mendekat dan mengusap orang datang yang dikenali. Dan mendekat untuk mengusap orang lain yang dikenali.”

Sungguh Atsar (Riwayat) mengenai desa ini, telah kami datangkan dengan penjelasan yang cukup gamblang. Segala Puji dan Anugerah hak Allah semata.   

Bersambung
Ponpes Mulya Abadi Mulungan.