SELAMAT DATANG DI BLOG PONDOK PESANTREN MULYA ABADI, JL. MAGELANG KM 8.5 SLEMAN YOGYAKARTA, SEMOGA BLOG INI BISA MENJADI SILATURAHMI KITA UNTUK SALING BERBAGI

Doa Meluluhkan Hati Seseorang

Ya Allah sungguh Engkau Maha Mulia Maha Besar. Sedangkan saya HambaMu yang sangat hina dina. Tiada upaya dan kekuatan kecuali karena Kau. Ya Allah, tundukkanlah

Doa Agar di Beri kerjaan Bisnis

Ya Allah, Raja segala Kerajaan, Tuhan memberikan Kerajaan pada yang Tuhan kehendaki, melepas Kerajaan dari yang Tuhan kehendaki, menjayakan orang yang Tuhan kehendaki, dan merendahkan orang yang Tuhan kehendaki

Sapaan Nabi Membuat Khowat Sungkan

Rasulullah SAW keluar dari tenda dan bersabda pada saya ‘hai Ayah Abdillah, apa yang mendorong kau duduk bersama mereka ?’

Hibah Menurut Bukhori

Hibah Menurut Bukhari Ibrahim Annakhai tergolong Tabiin yang sangar alim. Beliau murid Ibrhaim Attaimi, murid Amer bin Maimun, murid Abu Abdillah Al-Jadali, murid Khuzaimah sahabat Nabi SAW.

Masuk Surga Paling Awal

Rasulullah SAW bersabda, “Jibril AS telah datang untuk memegang tanganku untuk menunjukkan saya Pintu Gerbang Surga, yang akan dimasuki oleh umatku.”

2011/04/28

KW 28: Penguasa Kota Oman

(Bagian ke-28 dari seri tulisan Khalid bin Walid)
Dhirar bin Al-Azwar namanya sohor di kota Damaskus. Jika sang Wardan saja takut karena serangannya yang sangat ganas dan keberaniannya yang maksimal, apa lagi hanya tentara rendahan. Dialah yang telah meringkus Paulus yang namanya kondang di negri Romawi. Dia pula yang menusuk putra Wardan yang bernama Hamdan. Dia pula yang berani menembus lautan pasukan lawan untuk mengamuk. Tusukan anak panah berjumlah banyak tak dihiraukan melukai kulitnya. Bahkan justru hal itu memacu semangat untuk melawan dan mengobrak-abrik hingga setidaknya 40 pasukan lawan berguguran. Yang masih hidup kabur karena takut mati. Dhirar berlari pulang bergabung pada pasukan Muslimiin.

Dhirar melepas helm perang dan Zarod (bahasa Arab: anyaman dari besi pilihan untuk melindungi leher dikaitkan helm perang)nya. Dia berteriak:
Akulah Maut yang akan merenggut keluarga Ashfar[1]
Akulah Dhirar bin Al-Azwar
Akulah lawan kalian
Aku pembunuh Hamdan putra Wardan
Akulah balak[2] yang akan menundukkan kalian
dan siapa saja yang syirik pada Rahman

Subahanallah, begitu pasukan Romawi mendengar teriakannya, mundur kebelakang karena takut. Karena nama Dhirar telah kondang di kota Damaskus atau kota Najdin. Hampir semua orang di sana pernah membicarakan atau mendengar kehebatan Dhirar di medan pertempuran. Lelaki yang pernah dibawa oleh seratus pasukan berkuda untuk dihadapkan pada Raja Hiraqla inilah yang telah membuat penduduk kota Damasku dan Homs bergetar takut karena berkali-kali serangannya yang garang tak dapat dipatahkan oleh orang sehebat apapun.
Dhirar mengenakan jubah rangkap dari kulit gajah dan membawa perisai. Dia tampak gagah berani dan menakutkan. Ketika dia bergerak dengan kudanya menuju lautan pasukan Romawi; pasukan romawi lari kencang kebelakang bagai ombak yang menghempas kedaratan.
Wardan bertanya, “Siapa orang kampung yang datang kemari ini?.”
Mereka menjawab, “Tuan panglima, dialah orang berumur panjang yang biasanya kalau berperang telanjang dada. Kadang bersenjata panah, kadang tombak.”
Wardan terkejut dan nafasnya menjadi sesak ketika mendengar nama Dhirar disebut. Wardan berkata, “Dialah yang telah membunuh putraku bernama Hamdan. Saya ingin sekali di antara kalian ada yang membalaskan dendamku atas terbunuhnya putraku. Kalau berhasil akan kuberi apa saja yang dia minta.”
Seorang batriq penguasa Tiberia (طبرية) bergegas menghadap Wardan. Dia berkata, “Saya yang akan membalaskan dendam tuan.” Si batriq membelokkan kudanya untuk mendekati Dhirar. Dia menyerang Dhirar yang telah waspada sepenuhnya. Peperangan berlangsung lebih dari satu jam karena sama-sama unggul. Peperangan diakhiri dengan tusukan tombak Dhirar menembus ulu hati lalu keluar jauh dari dari tubuhnya. Dia kelojotan sakarat dan tewas.

Wardan berkata, “Kalau dia bisa menaklukkan Dhirar, saya jusrtu tak percaya, meskipun mataku melihat buktinya. Dia tak mungkin ditaklukkan oleh siapapun.” Walau begitu Wardan berjalan untuk berganti baju perang yang lebih alot. Lalu mengenakan pakain perang satu lagi, lalu mengenakan mahkota[3]. Dia mengendarai kuda Arab untuk menyerang Dhirar. Jalannya terhenti oleh seorang batriq bernama Ishthofan (اصطفان). Ishthofan adalah penguasa kota Oman (عمان). Lelaki yang telah tergila-gila kecantikan putri Wardan itu memberanikan diri berkata, “Tuan yang mulia, jika saya mampu membunuh dia yang hina, maukah tuan menikahkan saya dengan putri tuan?.”
Wardan mengundang pejabat-pejabat agar menyaksikan: “Saksikanlah!. Jika dia mampu membunuh Dhirar, akan saya nikahkan dengan putriku.”

Dengan penuh semangat Isthofan memacu kudanya kearah Dhirar.
Ishthofan tersenyum bahagia. Bagi dia tidak ada yang lebih indah daripada hidup bersanding wanita jelita putri Gubernur Wardan. Dia yakin sepenuhnya jika telah berhasil membunuh Dhirar, akan segera memandang bahkan menyanding putri tecantik sedunia, pikirnya. 

[1] Maksudnya pasukan Romawi.
[2] Bahasa Arab, artinya ujian.
[3] Mahkota itu pemberian ketika Raja Hiraqla mengangkat Wardan sebagai panglima perang agar mau memerangi Khalid dengan mati-matian. Pemberian lainnya saat itu adalah Salib emas yang empat sisinya dihiasi mutiara gemerlapan. 

2011/04/26

KW 27: Menerobos kepertengahan untuk Mengamuk

(Bagian ke-27 dari seri tulisan Khalid bin Walid)
Dua kubu bergerak lebih mendekat pada lawan. Ada seorang berpeci hitam yang muncul dari kumpulan lelaki perkasa pasukan Romawi. Setelah mendekat, dia menyeru dengan bahasa Arab: “Hai orang-orang Arab, mana kalian yang menjadi pimpinan agar datang kemari untuk berdialog. Saya jamin dia tak diserang oleh kaumku.”
Khalid segera muncul mendekati dia. Ternyata orang itu adalah Qiss, yang artinya seorang alim Nashrani. Dalam Al-Qur’an diistilahkan Qissiisiin[1] karena jamak. Dia berkata, “Kau pimpinan mereka?.”
Khalid menjawab, “Kata mereka begitu selama saya mengikuti Allah dan sunnah Rasul-Nya. Jika saya sudah tidak mengikuti Allah dan sunnah Rasul-Nya, saya harus diganti, karena sudah tidak berhak menjadi pemimpin yang ditaati.”
Dia berkata, “Inilah yang membuat kalian kemarin telah menaklukkan kami. Ketahuilah bahwa kau telah memasuki kota yang belum pernah dimasuki oleh seorang raja pun, karena terlalu kuat pertahanannya. Dulu pernah ada pasukan Persia yang masuk kota ini melancarkan serangan, namun akhirnya kalah total dan pulang dengan hina serta malu. Dulu kaum Tababi’ah juga pernah menyerang kami besar-besaran, namun akhirnya dikalahkan. Sementara kalian kemarin telah memenangkan peperangan dengan kami. Kemenangan yang telah kau raih mungkin hanya sampai di sini. Memang Panglimaperang kami bernama Wardan telah grogi dan takut kalian. Dia telah mengutusku agar menawarkan pada kalian: tiap tentara Arab akan diberi uang satu Dinar, dua pakaian dan satu surban. Khusus untuk kau seratus Dinar dan seratus Surban. Setelah itu segeralah pulang mumpung belum berhadapan dengan seluruh pasukan kami yang jumlahnya seperti semut. Kau jangan menganggap pasukan kami yang ini seperti pasukan yang telah kau kalahkan. Kali ini raja kami tidak tanggung-tanggung, para batriq dan Uskup senior yang diagung-agungkan kaum Nashrani diterjunkan untuk memotifasi pasukan.”
Khalid menjawab, “Demi Allah kami takkan kambali sebelum mendapatkan satu dari tiga kemungkinan: kalian memasuki agama kami, atau kalian membayar pajak pada kami, atau kita berperang. Kalau hanya jumlah kalian sangat banyak bagaikan semut bagi kami tak ada pengaruhnya, karena Allah telah menjanjikan kemenangan pada kami, melalui lisan Muhammad SAW. Janji itu juga ada di dalam kitab-Nya yang mulia. Adapun pimpinan kalian akan memberi tiap seorang dari kami satu Dinar dan surban dan dua pakaian, itu tidak menarik, karena sebentar lagi in syaa Allah semua pakaian kalian, kota kalian, surban kalian, akan kami miliki semuanya.”
Tokoh agama Nashrani itu menjabab, “Perkataanmu akan saya laporkan pada pimpinan kami.” Dia membelokkan kudanya untuk dipacu pulang kebarak. Dia melaporkan pada Wardan mengenai ucapan Khalid.
Wardan berkata, “Masyak dia menyangka kita hanya seperti orang-orang yang telah dia taklukkan?. Sungguh mereka itu terlalu percaya diri karena pernah mengalahkan kami. Tapi yang ini berbeda: Raja telah menurunkan para batriq senior. Diperkirakan jika kita telah bergerak serempak mereka akan tewas berguguran.”
Wardan menata barisan. Dia menunjuk pasukan pilihan agar berada di depannya untuk melindungi dirinya. Mereka berjalan kaki bersenjata lengkap.

Mu’adz bin Jabal berteriak, “Saudara semuanya, surga benar-benar telah diperindah untuk kalian, neraka telah dibuka untuk musuh kalian. Para malaikat telah berdatangan untuk menolong kalian. Para bidadari telah bersolek untuk menyambut kedatangan kalian. Berbahagialah dengan memasuki surga yang abadi itu,” lalu membaca: “Sungguh Allah telah membeli jiwa-jiwa dan harta-harta orang-orang iman dengan surga[2],” dia menambahkan: “Semoga Allah memberi barokah serangan kalian.”
Khalid berkata, “Sabar dulu hai Mu’adz, saya akan menyampaikan pesan dulu pada semuanya.”
Khalid berjalan dengan kudanya untuk mengecek dan membenahi barisan. Lalu berpesan, “Jumlah mereka berlipat ganda dari kita. Ulurlah peperangan ini hingga asar nanti, setelah itu baru kita serbu mereka. Ketika itulah kita akan mendapat kemenangan besar. Ayo bergerak kedepan, semoga Allah memberi kalian barokah!.”
Dua kubu kini lebih mendekat lagi. Pasukan Romawi meluncurkan anak panah dengan serempak. Beberapa Muslimiin berguguran dan luka. Khalid menahan agar pasukan Muslimiin jangan menyerang dulu.
Dhirar berkata, “Bagaimana mungkin kita hanya disuruh bertahan terus, padahal Allah yang Chaq telah menengok kita?. Demi Allah kalau kita begini terus musuh-musuh Allah akan menyangka kia takut mereka. Perintahlah kami agar menyerang bersamamu.”
Khalid berkata, “Kalau kau akan menyerang silahkan!.”
Dhirar keluar dari barisan dan berkata, “Demi Allah ini amalan yang paling kusenangi.”
Dhirar bergegas menaiki kuda membawa perisai rampasan dari Petrus saudara Paulus. Dia berjubah rangkap dua yang terbuat dari kulit gajah. Jubah mahal itu juga rampasan dari Petrus. Dengan begitu pasukan Romawi takkan tahu bahwa dia adalah Dhirar. Tali kendali kuda di tangannya. Taring tombaknya telah diperkuat. Dia memacu kuda agar berlari mendekati pasukan musuh. Dia diserang dengan panah banyak sekali, namu tak ada satupun yang dirasakan menyakitinya. Bahkan dia justru menerobos kepertengahan untuk mengamuk. Serangannya yang membabi-buta berlangsung kira-kira satu jam. Hasilnya menakjubakan, 20 pasukan berkuda dan 20 pasukan berjalan kaki berguguran.”
Anan bin Auf  An-Najbi (عنان بن عوف النجبي) menyampaikan berita berbeda: “Saat itu saya menghitung pasukan Romawi yang dibunuh oleh Dhirar, beberapa pasukan berjalan kaki dan tigapuluh pasukan berkuda.”   

[1] ذَلِكَ بِأَنَّ مِنْهُمْ قِسِّيسِينَ.
[2] {إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أنفسهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ} [التوبة: 111]

KW 26: Panglimaperang Terberani Sejagad

(Bagian ke-26 dari seri tulisan Khalid bin Walid)
Tidak berlebihan jika Khalid dikatakan Panglima Perang Terberani Sejagad pada tahun 12 Hijriyyah. Karena kerajaan terbesar sejagad saat itu adalah Kerajaan Romawi Timur yang dirajai oleh Hiraqla. Hiraqla bersumpah jika Wardan mampu menaklukkan pasukan Khalid akan dijadikan raja penggantinya. Hiraqla menurunkan 90.000 pasukan ini menunjukkan kalau dia grogi menghadapi kekuatan Khalid. Dan Khalid berani melawan ini menunjukkan keberaniannya maksimal. Sabda nabi, “Saifun min suyuufillah,” yang artinya dia termasuk di antara pedang-pedang Allah, sebetulnya adalah Firman Allah yang disampaikan melalui lisan Rasulillah SAW. Dengan kata lain: sabda tersebut adalah nubuwah. Artinya: ramalan yang menunjukkan peramalnya seorang nabi yang mendapatkan wahyu dari Allah.
Sebetulnya kemunculan Khalid sebagai Pedang Allah telah diramalkan pula oleh nabi sebelum Muhammad SAW. Buktinya ketika Khalid dan pasukannya memasuki kota Arakah, ada pejabat kehakiman Romawi yang sangat ketakutan. Setelah rakyat awam bertanya, dia menjawab, “Saya pernah membaca kitab Malchamah, (yang artinya peperangan akbar yang menghancurkan agama). Di sana diterangkan bahwa jika ada seorang panglima perang berwajah bopeng, berdada lebar, berjenggot lebat, berperisai yang ditulisi Manshuroh, benderanya berwarna anu. Berarti agama kita yang sudah tidak murni ini akan hancur oleh mereka.”
Tak lama setelah itu Khalid mengajak penduduk tersebut agar masuk Islam. Karena mereka menolak maka Khalid melancarkan serangan yang sangat ganas hingga mereka kalang-kabut dan takluk. Sejak itulah mereka menyadari bahwa Islam benar-benar agama ‘Isa yang sesungguhnya yang diteruskan Nabi Muhammad SAW yang harus diikuti manusia.
Bertahlil Bertakbir dan Membaca Sholawat
Dalam suasana yang menegangkan itu Khalid berkhutbah untuk para wanita Muslimah: “Hai putri-putri Amaliqoh sebagai generasi Tababi’ah, perjuangan kalian telah membuat Allah dan Muslimiin ridho. Kalian telah mengguratkan sejarah indah dalam perjuangan. Kini pintu-pintu surga telah terbuka untuk kalian. Dan pintu-pintu nereka telah ditutup untuk kalian, selanjutnya dibuka untuk musuh-musuh kalian. Ketahuilah bahwa saya akan mendampingi kalian. Jika saya nanti menyerang mereka, tugas kalian hanya membela diri. Jika ada seorang Islam berlari, pukullah dengan tongkat lalu tunjukkan anaknya padanya. Katakan padanya ‘kenapa kau nggak mau membela keluarga, harta, anak dan para wanita?’. Begitulah cara agar kalian diridhoi oleh Allah Ta’ala.”
Ucapan Afro’ bintu Ghoffar menarik perhatian pasukan: “Ya Pemimpin, demi Allah yang membuat kami berbahagia justru jika bisa mati berperang di depan kau. Kami benar-benar akan memukul wajah musuh meskipun kami harus mati. Demi Allah kami takkan gentar menghadapi semua pasukan Romawi.”
Khalid mensyukuri kesedian Muslimaat untuk berjihad: “Jazaakunna Allaahu khairon,” artinya: semoga Allah membalas kebaikan pada kalian. Khalid kembali mengecek barisan pasukan Muslimiin. Dia berlari gagah-berani dengan kudanya untuk memompa semangat juang mereka.
Kali ini Khalid berkhutbah dengan nada tinggi: “Hai Muslimiin semuanya, tolonglah Allah niscaya Allah menolong kalian!. Berperanglah di Jalan Allah!. mencarilah pahala di Jalan Allah!. jangan menyerang sebelum kuperintah!. Jika kalian meluncurkan anak panah agar serempak, karena anak panah yang banyak seperti hujan akan mengenai sasaran!. Ishbiruu wa shoobiruu wa roobithuu wattaqullooha la’allakum turchamuun[1]!. Ketahuilah bahwa kalian takkan lagi menjumpai pasukan yang sebanyak ini lagi. Di sinilah para pasukan pilihan, dan pejabat tinggi mereka berkumpul. Siapkan pedang, busur dan anak panah!.”
Khalid maju menuju pasukan Muslimiin bagian tengah (zaman dulu disebut qolb yang artinya jantung). Dia menemui sejumlah tokoh: Amer bin Al-Ash, Abdullah bin Umar, Qois bin Hubairoh, Rafi’ bin Umairah, Dzu kala’ Al-Chimyari, Robi’ah bin Amir dan yang sekelas mereka.

Wardan menyaksikan pasukan Muslimiin merayap mendekat menggunakan siku dan lutut. Wardan perintah pasukannya merayap mendekati Muslimiin. Jika dipandang dari titik sudut tertentu: sejauh mata memandang yang tampak hanya pasukan Wardan.
Dua kubu telah saling mendekat. Tak lama kemudian dua kubu saling meluncurkan anak panah. Bahkan lalu saling mendekat bangikit dan bertempur sengit. Salib dan bendera berjumlah sangat banyak dibawa oleh pasukan-depan-Romawi. Muslimiin bertahlil[2], bertakbir dan membaca sholawat untuk nabi. Peperangan berkobar bagai api yang tak terpadamkan. 

[1]{اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ} [آل عمران: 200]  
[2] Membaca Laa Ilaaha illaa Allah.

KW 25: Menikah di Dalam Perang Akbar

(Bagian ke-25 dari seri tulisan Khalid bin Walid)
Di Najdin ada lautan manusia bersenjata. Tenda-tenda didirikan berjajar banyak sekali. Suara mereka bagaikan hujan lebat mengguyur bumi. Pasukan Wardan yang berjumlah 90.000 itu berada di suatu sisi; kaum Muslimiin di sisi lain berjumlah jauh labih sedikit.
Ketika Wardan melihat para sahabat Rasulillah SAW telah berkumpul untuk saling membantu, segera mengumpulkan para pejabat tinggi kerajaan dan para batriq[1]. Wardan menyampaikan khutbah, “Hai keturunan Ashfar semuanya, ketahuilah bahwa Raja minta tolong agar kalian menghabisi kaum itu. Jika kali ini kita gagal, maka tak akan ada lagi kekuatan yang mampu menghabisi mereka untuk kita selamanya. Dan itu berarti kerajaan dan perempuan-perempuan kita mereka kuasai. Maka dalam peperangan akbar ini kalian agar bersabar. Seranglah mereka dengan kompak jangan bercerai-berai!. Setiap tiga orang bertugas menyerang seorang dari mereka. Berserahlah pada Salib yang kalian bawa agar menolong kalian!.”

Khalid berjalan di pertengahan para sahabatnya. Dia bertanya, “Hai Muslimiin, siapa mau membuat mereka grogi pada kita?.”
Dhirar menjawab, “Saya wahai pemimpin.”
Khalid berkata, “Kau jelas pasti berani, tetapi jika kau telah berhadapan dengan mereka jangan gegabah menyerang!. Jangan terlalu percaya diri namun kurang perhitungan!. Karena Allah sendiri telah berfirman ‘walaa tulquu biaidiikum ilattahlukah[2]!’.”
Dhirar segera mengendarai kudanya untuk mendekati lautan pasukan yang sangat membahayakan. Semakin dekat semakin tampak peralatan kaum Romawi. Tenda-tenda berderet banyak sekali. Helm-helm perang berkilauan tersentuh sinar matahari. Bendera-bendera berkibar-kibar seakan-akan berbahagia.

Wardan terkejut di saat mengamati pasukan Muslimiin: Dhirar berlari dengan kuda untuk mendekat. Wardan berkata pada sejumlah batriq: “Saya melihat seorang berkuda datang kemari. Saya yakin dia memata-matai kita. Siapa yang mau membawa dia kemari?.”
Para batriq perintah pada sejumlah laskar. Tigapuluh laskar bergerak cepat mengejar Dhirar dengan kuda. Dhirar memacu kudanya untuk menjauhi 30 orang itu. 30 orang itu mengejar dan menyangka Dhirar ketakutan, padahal sebetulnya hanya bersiasat agar mereka jauh dari pasukan induk yang melaut.
Ketika Dhirar telah memiliki kesempatan baik, segera membelokkan kudanya agar berbalik berlari menyongsong mereka. Dia memegang erat tombaknya untuk ditusukkan. Yang pertama kali ditusuk langsung terlempar dan menggelepar menyemburkan darah segar. Yang kedua juga begitu. Gerakannya cepat sekali bagaikan singa jantan yang kalap membuat mereka berguguran satu demi satu tapi cepat. Yang lain grogi karena banyak temannya yang telah tewas. Mereka kabur namun oleh Dhirar dikejar dan ditusuk satu demi satu dari belakang. 19 orang berguguran ketanah bersimbah darah; yang lain kabur ketakutan. Sebetulnya pengejaran Dhirar telah mendekati lautan pasukan Romawi, namun kuda mereka berlari lebih cepat.

Dhirar menuntun kuda-kuda dan mengambil sejumlah rampasan untuk dibawa pulang kebarak pengungsian. Dia menyerahkan kuda-kuda dan rampasannya pada Khalid dan melaporkan tragedi yang telah terjadi. Khalid menegur, “Bukankah telah saya pesan: jangan terlalu percaya diri untuk menyerang mereka?!.”
Dhirar menjawab, “Karena mereka mengejarku, dan saya malu jika Allah melihatku kabur dari mereka. Walau begitu jihadku tadi kulakukan dengan penuh ikhlas, dan saya yakin pasti Allah menongku menaklukkan mereka. Demi Allah kalau saya tidak takut kau tegur, mereka semua telah kuhabisi. Sadarilah bahwa sesungguhnya harta kekayaan yang dibawa oleh lautan pasukan Romawi itu telah dipersiapkan sebagai rampasan kita.”
Khalid menyadari bahwa Dhirar memang jago perang, jago berdiplomasi, dan handal dalam agama. Khalid membagi seluruh pasukan Muslimiin menjadi lima. Yang di bagian depan terdiri dari dua baris. Yang satu baris tempatkan di tengah (zaman dulu diistilahkan qolb yang artinya jantung). Saat itu yang memimpin pasukan tengah adalah Mu’adz bin Jabal. Yang memimpin pasukan depan sebelah kanan Abdur Rohman bin Abi Bakr[3]. Yang memimpin pasukan depan sebelah kiri Sa’id bin Amir. Pasukan sayap kiri dipimpin Syurachbil bin Chasanah (شرحبيل بن حسنة). Pasukan yang di belakang dipimpin Yazid bin Abi Sufyan. Zaman dulu pasukan belakang disebut saaqah yang artinya betis. Pasukan belakang terdiri dari 4.000 pasukan berkuda, bertugas menjaga para tawanan wanita, anak-anak perempuan, remaja dan harta rampasan.
Khalid menoleh kearah para Muslimaat: Afro’ bintu Ghoffar Al-Chimyariyyah (عفراء بنت غفار الحميرية), Ummu Aban bintu Utbah yang saat itu baru saja menikah. Daun hena yang mewarnai tangan dan parfum Athor yang melekat rambut sebagai pertanda bahwa Ummu Aban baru saja menikah dengan Aban bin Sa’id bin Al-Ash (ابان بن سعيد ابن العاص). Ada lagi Muslimah selain itu yang tak asing lagi yaitu Khaulah bintul Azwar, Mazru’ah bintu Amluq, Salamah bintu Zari’ dan lainnya yang sangat pemeberani.
Meskipun hati mereka berdebar-debar, namun bahagia karena justru meningkatkan kerajinan beristighfar dan bertawakkal pada Allah Al-Ghaffar[4]. Karena justru menyadari bahwa mati akan datang betepatan saat Allah telah menghendaki.

[1] Petinggi militer sangat pandai berperang yang membawahi setidaknya 5.000 pasukan.
[2] {وَلا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ}.
[3] عبد الرحمن بن أبي بكر الصديق.
[4] Artinya Maha pengampun.

2011/04/25

KW 24: Kobarkan Semangat Kalian

(Bagian ke-24 dari seri tulisan Khalid bin Walid)
Ucapan Sa’id bin Malik pengikut perang tersebut, yang dicatat oleh Al-Waqidi sejarawan Islam yang masyhur:
Ketika surat-surat Khalid telah sampai ketangan Syurachbil bin Chasanah (شرحبيل بن حسنة) yang dulu pernah bertugas menulis wahyu Rasulillah SAW, Yazid bin Abi Sufyan (يزيد بن أبي سفيان) dan Amer bin Al-Ash (عمرو بن العاص), segera dibaca. Para panglima itu segera bergerak cepat menggiring pasukannya masing-masing menuju Ajnadin untuk menolong pasukan Khalid yang telah bergabung dengan pasukan Abu Ubaidah.
Safinah mantan budak Rasulillah SAW berkata, “Saat itu saya bergabung sebagai pasukan yang dikomando Mu’adz bin Jabal. Kami sampai kota Ajnadin berarak-arak panjang sekali. Itu terjadi pada bulan Safar tahun 12 Hijriyyah[1]. Setelah kami bertemu pasukan Khalid dan Abu Ubaidah yang telah bergabung, kami mengucapkan salam dan bersalaman. Setelah kami menyaksikan pasukan Romawi; ternyata sangat banyak tak terhitung bagaikan lautan. Ketika kaum Romawi melihat kedatangan kami segera memamerkan perhiasan dan jumlah pasukan. Pasukan berkuda berbaris-baris panjang sekali. Pasukan berjalan kaki berbaris panjang dan lama sekali. Barisan yang banyak sekali itu berjumlah 60 barisan. Tiap barisan terdiri dari 1.000 pasukan berkuda. Sampai-sampai Ad-Dhohak bin Urwah (الضحاك بن عروة) yang pernah ikut Perang Persia berkata ‘demi Allah saya telah mengikuti penyerbuan Irak. Di sana saya menyaksikan pasukan Raja Kisra, ternyata jumlah pasukan Romawi jauh lebih banyak. Pedang kaum Romawi juga banyak sekali’.
Kami sengaja mencari tempat di dekat mereka.
Di pagi hari yang mendebarkan sejumlah pasukan Romawi mendekati kami. Semakin pasukan itu mendekat; kami semakin waspada. Khalid berlari dengan kudanya kedepan membelah kumpulan pasukan Muslimiin. Dia berkata, “Ketahuilah bahwa kalian takkan lagi melihat pasukan Romawi yang banyaknya seperti hari ini. Jika Allah menolong kalian membuat mereka porak-poranda, maka takkan ada lagi pasukan Romawi yang seperti itu untuk selamanya. Semangatlah dalam berjihad. Tolonglah agama kalian. Jangan sekali-kali kabur karena Allah akan menghukum kalian dengan neraka. Semua pasukan agar bersatu-padu. Jangan ragu-ragu jika menebaskan senjata!. Ingat!, jangan menyerang sebelum kuperintah!. Ada lagi, kobarkan semangat kalian!.”     

[1] Catatan Maktabatus Syamilah yang dari Futuchus Syam yang saya terjemahkan: فتوح الشام - (1 / 50)
وذلك في شهر صفر سنة 20 من الهجرة salah.
Yang benar catatan Maktabatus Syamilah yang dari Al-Bidayah wa An-Nihayah: البداية والنهاية - (6 / 376)
سنة ثنتي عشرة من الهجرة النبوية استهلت هذه السنة وجيوش الصديق وأمراؤه الذين بعثهم لقتال أهل الردة
Maksud saya yang benar tahun 12 Hijriyyah.