SELAMAT DATANG DI BLOG PONDOK PESANTREN MULYA ABADI, JL. MAGELANG KM 8.5 SLEMAN YOGYAKARTA, SEMOGA BLOG INI BISA MENJADI SILATURAHMI KITA UNTUK SALING BERBAGI

Doa Meluluhkan Hati Seseorang

Ya Allah sungguh Engkau Maha Mulia Maha Besar. Sedangkan saya HambaMu yang sangat hina dina. Tiada upaya dan kekuatan kecuali karena Kau. Ya Allah, tundukkanlah

Doa Agar di Beri kerjaan Bisnis

Ya Allah, Raja segala Kerajaan, Tuhan memberikan Kerajaan pada yang Tuhan kehendaki, melepas Kerajaan dari yang Tuhan kehendaki, menjayakan orang yang Tuhan kehendaki, dan merendahkan orang yang Tuhan kehendaki

Sapaan Nabi Membuat Khowat Sungkan

Rasulullah SAW keluar dari tenda dan bersabda pada saya ‘hai Ayah Abdillah, apa yang mendorong kau duduk bersama mereka ?’

Hibah Menurut Bukhori

Hibah Menurut Bukhari Ibrahim Annakhai tergolong Tabiin yang sangar alim. Beliau murid Ibrhaim Attaimi, murid Amer bin Maimun, murid Abu Abdillah Al-Jadali, murid Khuzaimah sahabat Nabi SAW.

Masuk Surga Paling Awal

Rasulullah SAW bersabda, “Jibril AS telah datang untuk memegang tanganku untuk menunjukkan saya Pintu Gerbang Surga, yang akan dimasuki oleh umatku.”

2013/12/24

Kajian Surat Al-Baqarah 177 - 178




{لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَى حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ أُولَئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ () يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِصَاصُ فِي الْقَتْلَى الْحُرُّ بِالْحُرِّ وَالْعَبْدُ بِالْعَبْدِ وَالْأُنْثَى بِالْأُنْثَى فَمَنْ عُفِيَ لَهُ مِنْ أَخِيهِ شَيْءٌ فَاتِّبَاعٌ بِالْمَعْرُوفِ وَأَدَاءٌ إِلَيْهِ بِإِحْسَانٍ ذَلِكَ تَخْفِيفٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَرَحْمَةٌ فَمَنِ اعْتَدَى بَعْدَ ذَلِكَ فَلَهُ عَذَابٌ أَلِيمٌ ()} [البقرة: 177، 178].

Bukan kebaikan, jika kalian menghadapkan wajah kalian kearah timur atau barat. Tapi sungguh kebaikan adalah orang yang telah beriman pada:
1.     Allah,
2.     Hari akhir
3.     Para malaikat
4.     Kitab
5.     Para nabi
6.     Memberikan harta mengalahkan kecintaannnya pada:
·        Pemilik kerabat
·        Anak-anak Yatim
·        Orang-orang Miskin
·        Anak jalan
·        Orang-orang minta
·        Untuk para budak
·        Menegakkan shalat
·        Melunasi zakat
·        Menetapi janji ketika mereka berjanji
·        Bersabar di dalam bahaya dan madharat
·        (Bersabar) ketika bahaya.
Mereka kaum yang telah benar dan mereka kaum Takwa. [177].

Hai khusus kaum yang telah beriman! Qisos mengenai kaum terbunuh, diwajibkan atas kalian! Orang merdeka dengan orang merdeka, budak dengan budak, wanita dengan wanita. Barangsiapa sesuatu dari saudaranya telah diampuni untuknya, maka penagihan dengan baik, dan pelunasan padanya dengan bagus. Demikian itu Peringanan dan Rahmat dari Tuhan kalian. Barangsiapa melewati batas setelah itu, maka baginya siksa yang sangat pedih. [178].
Ayat ini mansukh oleh Surat Al-Maidah Ayat 45.

Ibnu Katsir berkata, “Adapun uraian tafsir Ayat ini, sungguh ketika perintah agar orang-orang iman menghadap Baitil-Maqdis, pertama kali, Allah menyuruh mereka agar menghadap Ka’bah. Sebagian kaum Ahli Kitab dan sebagaian kaum Muslimiin, merasa keberatan. Maka Allah Taala menurunkan Keterangan Hikmah dari Perintah tersebut. Inti dari penjelasan itu:
1.     Agar mereka taat Allah.
2.     Melaksanakan Perintah-PerintahNya.
3.     Mengadap Arah yang diperintahkan.
4.     Dan mengikuti SyariatNya.
Inilah kebaikan (Al-Birra), taqwa, dan iman yang sempurna. Menghadap ketimur atau kebarat bukanlah kebaikan, jika bukan Perintah dan Syariat Allah. Oleh karena itu Allah berfirman, “{لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ}.” Al-Ayah.
Sebagaimana telah berfirman tentang binatang qurban dan hadyu, “{لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ}.” [Qs Al-Hajj 37]. [1]



Ponpes Mulya Abadi Mulungan


وَأَمَّا الْكَلَامُ عَلَى تَفْسِيرِ هَذِهِ الْآيَةِ، فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى لَمَّا أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ أَوَّلًا بِالتَّوَجُّهِ إِلَى بَيْتِ الْمَقْدِسِ، ثُمَّ حوَّلهم إِلَى الْكَعْبَةِ، شَقَّ ذَلِكَ عَلَى نُفُوسِ طَائِفَةٍ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَبَعْضِ الْمُسْلِمِينَ، فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى بَيَانَ حِكْمَتِهِ فِي ذَلِكَ، وَهُوَ أَنَّ الْمُرَادَ إِنَّمَا هُوَ طَاعَةُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَامْتِثَالُ أَوَامِرِهِ، وَالتَّوَجُّهُ حَيْثُمَا وَجَّهَ، وَاتِّبَاعُ مَا شَرَعَ، فَهَذَا هُوَ الْبِرُّ وَالتَّقْوَى وَالْإِيمَانُ الْكَامِلُ، وَلَيْسَ فِي لُزُومِ التَّوَجُّهِ إِلَى جِهَةٍ مِنَ الْمَشْرِقِ إِلَى الْمَغْرِبِ بِرٌّ وَلَا طَاعَةٌ، إِنْ لَمْ يَكُنْ عَنْ أَمْرِ اللَّهِ وَشَرْعِهِ؛ وَلِهَذَا قَالَ: {لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ} الْآيَةَ، كَمَا قَالَ فِي الْأَضَاحِيِّ وَالْهَدَايَا: {لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ} [الْحَجِّ: 37] .

2013/12/23

Perang Badar Al-Kubra [15]



Rasulullah SAW perintah agar para sahabat mengumpulkan rampasan perang. Beberapa orang berselisih pendapat. Para pengumpul rampasan perang berkata, “Ini untuk kita.”
Beberapa orang yang telah lelah karena berperang menjawab, “Demi Allah! Kalau tidak karena serangan kami! Kalian tidak mungkin bisa mendapatkan rampasan yang kalin kumpulkan ini! Karena jasa kami melawan lawan!.”
Kaum Penjaga Rasulallah SAW bersumpah, “Hak kalian dengan kami, sama! Sebetulnya kami juga bisa mengambil rampasan! Tetapi kami menjaga Rasulillah SAW! Kami bertahan di belakng karena menjaga Rasulillah SAW!.”

Allah segera menurunkan Surat Al-Anfal, untuk menjelaskan bahwa ‘rampasan’ adalah hak Rasulillah SAW. Sehingga bisa dibagi dengan rata.

Rasulullah SAW mengutus agar Abdullah bin Zaid memberi kabar gembira pada kaum Muslimii di Dataran Tinggi Madinah. Dan mengutus agar Zaid bin Haritsah memberi kabar gembira pada kaum Muslimiin di Dataran Rendah Madinah.
Sesampai di tempat, Zaid terkejut, karen kaum yang akan diberi kabar gembira, sedang mengubur putri Rasulillah yang wafat, bernama Ruqayah, istri Utsman bin Affan RA.
Utsman tidak ikut berperang karena merawat istrinya yang sakit keras. Walau begitu nabi SAW memberi rampasan perang padanya, karena telah taat; merawat putri nabi SAW.

Di Madinah, Rasulillah SAW disambut dengan bahagia oleh kaum Muslimiin. Mereka mengucapkan selamat.
Dengan lantang, Salamah bin Salamah berkata, “Ternyata yang kami lawan hanya orang-orang tua berambut rontok! Lemah seperti binatang hadyu yang terikat! Leher mereka telah kami potong!.”
Nabi SAW tersenyum dan bersabda, “Mereka itu tokoh-tokoh Quraisy loh!.”

Nadhr bin Al-Hats dan Uqbah bin Abi Muaith, tergolong tawanan Perang Badar.
Nabi SAW perintah agar Ali membunuh Nadhr bin Al-Harits. Ali RA membunuh dia di desa Asshafra. Yang diperintah membunuh Uqbah, Ashim bin Tsabit.
Sebelum dibunuh, Uqbah berkilah, “Saya tidak mau dibunuh seperti kawan-kawan saya!.”
Dengan ketakutan dia berkata lagi, “Ya Muhammad! Siapa yang akan menanggung anak-anak?!.”
Nabi SAW menjawab, “Neraka!.”
Di kampung Irqidz Azzhabyah, dia dibunuh.
Tawanan penting lainnya, Suhail bin Amer. Ditawan oleh Malik bin Jusyum Al-Anshari. Ketika dia didatangkan pada nabi SAW, Umar berkata, “Ya Rasulallah! Gigiseri orang ini akan saya lepaskan! Agar tidak berkhotbah menyindir Baginda lagi! Untuk selamanya!.”
Rasulullah SAW bersabda, “Jangan! Suatu saat nanti dia akan menyampaikan khotbah yang membuat kau memuji dia!.”
Ternyata benar; ketika Rasulullah SAW wafat, dia menyampaikan khotbah memukau, hingga Umar memuji dia. [1]




In syaa Allah bersambung   

Ponpes Kutubussittah Mulya Abadi Mulungan Jogjakarta Indonesia

[1] الكامل في التاريخ (2/ 24)
«ثُمَّ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - أَمَرَ فَجُمِعَ مَا فِي الْعَسْكَرِ، فَاخْتَلَفَ الْمُسْلِمُونَ، فَقَالَ مَنْ جَمَعَهُ: هُوَ لَنَا. وَقَالَ الَّذِينَ كَانُوا يُقَاتِلُونَ الْعَدُوَّ: وَاللَّهِ لَوْلَا نَحْنُ مَا أَصَبْتُمُوهُ، نَحْنُ شَغَلْنَا الْقَوْمَ عَنْكُمْ حَتَّى أَصَبْتُمْ مَا أَصَبْتُمْ. وَقَالَ الَّذِينَ كَانُوا يَحْرُسُونَ رَسُولَ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - وَهُوَ فِي الْعَرِيشِ: وَاللَّهِ مَا أَنْتُمْ بِأَحَقَّ بِهِ مِنَّا، لَقَدْ رَأَيْنَا أَنْ نَأْخُذَ الْمَتَاعَ حِينَ لَمْ يَكُنْ لَهُ مَنْ يَمْنَعُهُ، وَلَكِنْ خِفْنَا كَرَّةَ الْعَدُوِّ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - فَقُمْنَا دُونَهُ. فَنَزَعَ اللَّهُ الْأَنْفَالَ مِنْ أَيْدِيهِمْ وَجَعَلَهَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - فَقَسَمَّهَا بَيْنَ الْمُسْلِمِينَ عَلَى سَوَاءٍ وَبَعَثَ رَسُولُ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - عَبْدَ اللَّهِ بْنَ رَوَاحَةَ بَشِيرًا إِلَى أَهْلِ الْعَالِيَةِ، وَزَيْدَ بْنَ حَارِثَةَ بَشِيرًا إِلَى أَهْلِ السَّافِلَةِ مِنَ الْمَدِينَةِ، فَوَصَلَ زِيدٌ وَقَدْ سَوَّوُا التُّرَابَ عَلَى رُقَيَّةَ بِنْتِ رَسُولِ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - وَكَانَتْ زَوْجَةَ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ، خَلَّفَهُ رَسُولُ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - عَلَيْهَا وَقَسَمَ لَهُ فَلَمَّا عَادَ رَسُولُ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - لَقِيَهُ النَّاسُ يُهَنِّئُونَهُ بِمَا فَتَحَ اللَّهُ عَلَيْهِ، «فَقَالَ سَلَمَةُ بْنُ سَلَامَةَ بْنِ وَقْشٍ الْأَنْصَارِيُّ: إِنْ لَقِينَا إِلَّا عَجَائِزَ صُلْعًا كَالْبُدْنِ الْمُعَقَّلَةِ، فَنَحَرْنَاهَا. فَتَبَسَّمَ رَسُولُ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - وَقَالَ: يَا ابْنَ أَخِي، أُولَئِكَ الْمَلَأُ مِنْ قُرَيْشٍ وَكَانَ فِي الْأَسْرَى النَّضْرُ بْنُ الْحَارِثِ، وَعُقْبَةُ بْنُ أَبِي مُعَيْطٍ، فَأَمَرَ عَلِيَّ بْنَ أَبِي طَالِبٍ بِقَتْلِ النَّضْرِ، فَقَتَلَهُ بِالصَّفْرَاءِ، وَأَمَرَ عَاصِمَ بْنَ ثَابِتٍ بِقَتْلِ عُقْبَةَ بْنِ أَبِي مُعَيْطٍ، فَلَمَّا أَرَادُوا قَتْلَهُ جَزِعَ مِنَ الْقَتْلِ وَقَالَ: مَا لِي أُسْوَةٌ بِهَؤُلَاءِ؟ يَعْنِي الْأَسْرَى، ثُمَّ قَالَ: يَا مُحَمَّدُ مَنْ لِلصِّبْيَةِ؟ قَالَ: النَّارُ، فَقَتَلَهُ بِعِرْقِ الظَّبْيَةِ صَبْرًا وَكَانَ فِي الْأَسْرَى سُهَيْلُ بْنُ عَمْرٍو، أَسَرَهُ مَالِكُ بْنُ الدُّخْشُمِ الْأَنْصَارِيُّ، فَلَمَّا أُتِيَ بِهِ النَّبِيُّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - قَالَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ: دَعْنِي أَنْزِعُ ثَنِيَّتَيْهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ، فَلَا يَقُومُ عَلَيْكَ خَطِيبًا أَبَدًا، وَكَانَ سُهَيْلٌ أَعْلَمَ الشَّفَةِ السُّفْلَى، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: دَعْهُ يَا عُمَرُ؛ فَسَيَقُومُ مَقَامًا تَحْمَدُهُ عَلَيْهِ، فَكَانَ مَقَامُهُ ذَلِكَ عِنْدَ مَوْتِ النَّبِيِّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ» - وَسَنَذْكُرُهُ عِنْدَ خَبَرِ الرِّدَّةِ - إِنْ شَاءَ اللَّهُ.

2013/12/22

Perang Badar Al-Kubra [14]



Seorang pria dari keluarga besar Ghifar berkata, “Ketika masih musyrik dulu, saya bersama anak paman saya dari jalur ayah, mendaki gunung. Menyaksikan jalannya Pertempuran Badar. Kami menonton sambil menunggu siapa yang akan menjadi pemenang. Untuk bergabung mengambil rampasan perang. Tiba-tibaada mendung bergeser ke atas kami. Ternyata ada ringkikan kuda dari dalam mendung. Bahkan ada suara orang berteriak ‘majulah Haizum!’.
Anak paman pingsan hingga meninggal dunia. Saya juga terkejut hingga hampir pingsan. Tetapi saya berpegangan erat.”


Abu Dawud Al-Mazini veteran Perang Badar, berkisah, “Sungguh saat itu, saya mengejar lelaki musyrik, untuk saya tebas dengan pedang. Ternyata kepalanya jatuh ke tanah, sebelum pedang saya menyentuh lehernya. Maka saya yakin bahwa yang membunuh bukan saya.”

Sahel bin Hunaif berkata, “Seorang kami mengayunkan pedang atas orang musyrik. Ternyata kepalanya jatuh ke tanah, sebelum pedang menyentuh lehernya.”

Setelah kaum Musyrikin pulang ke Makkah, yang tinggal di Badar, para tawanan dan yang sama tewas. Rasulullah SAW perintah agar mayat-mayat lawan dimasukkan ke dalam lobang. Semua mayat dimasukkan kesana, kecuali Umayah bin Khalaf. Tubuhnya membengkak hingga sulit dikeluarkan dari baju perang. Ketika dikeluarkan dengan paksa, anggota badannya sama lepas. Akhirnya hanya ditimbun tanah dan bebatuan.

Setelah semua mayat dimasukkan ke dalam lobang, Rasulullah SAW diam di situ, untuk bersabda, “Hai yang berada di dalam lobang! Sejelek-jelek keluarga pada nabi SAW adalah kalian! Kalian telah mendustakan saya; padahal kaum lain percaya pada saya!” Lalu menyeru, “Hai Utbah! Syaibah! Umayah bin Khalaf! Aba Jahl bin Hisyam! Bukankah kalian telah merasakan janji Tuhan kalian dengan hak? Saya juga telah menikmati janji Tuhan saya dengan hak!.”
Para sahabat bertanya, “Masyak Baginda bertanya pada kaum yang telah meninggal dunia?.”
Nabi SAW bersabda, “Yang lebih mendengar ucapan saya daripada mereka bukan kalian! Hanya sungguh mereka tidak mampu menjawab saya!.”

Nabi SAW terkejut saat melihat wajah Abi Hudzaifah bersedih. Lalu bertanya, “Apakah kau tersinggung karena ucapan saya pada ayahmu barusan?.”
Dia menjawab, “Demi Allah tidak! Ya Rasulallah SAW. Hanya memang saya berpikir; ayah saya memiliki akal dan kepandaian. Saya susah karena dia wafat dalam keadaan kafir.”
Nabi SAW berdoa baik untuk Abi Hudzaifah. [1]



Bersambung 

Ponpes Mulya Abadi Mulungan Sleman Jogjakarta

[1] الكامل في التاريخ (2/ 23)
فَلَمَّا هَزَمَ اللَّهُ الْمُشْرِكِينَ، وَقَتَلَ مِنْهُمْ مَنْ قَتَلَ، وَأَسَرَ مَنْ أَسَرَ، أَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - أَنْ تُطْرَحَ الْقَتْلَى فِي الْقَلِيبِ، فَطُرِحُوا فِيهِ إِلَّا أُمَيَّةُ بْنُ خَلَفٍ؛ فَإِنَّهُ انْتَفَخَ فِي دِرْعِهِ فَمَلَأَهَا، فَذَهَبُوا بِهِ لِيُخْرِجُوهُ فَتَقَطَّعَ، وَطَرَحُوا عَلَيْهِ مِنَ التُّرَابِ وَالْحِجَارَةِ مَا غَيَّبَهُ، وَلَمَّا أُلْقُوا فِي الْقَلِيبِ وَقَفَ عَلَيْهِمْ رَسُولُ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - وَقَالَ: «يَا أَهْلَ الْقَلِيبِ، بِئْسَ عَشِيرَةُ النَّبِيِّ كُنْتُمْ لِنَبِيِّكُمْ! كَذَّبْتُمُونِي وَصَدَّقَنِي النَّاسُ! ثُمَّ قَالَ: يَا عُتْبَةُ، يَا شَيْبَةُ، يَا أُمَيَّةُ بْنَ خَلَفٍ، يَا أَبَا جَهْلِ بْنَ هِشَامٍ - وَعَدَّدَ مَنْ كَانَ فِي الْقَلِيبِ - هَلْ وَجَدْتُمْ مَا وَعَدَكُمْ رَبُّكُمْ حَقًّا؟ فَإِنِّي وَجَدْتُ مَا وَعَدَنِي رَبِّي حَقًّا. فَقَالَ لَهُ أَصْحَابُهُ: أَتُكَلِّمُ قَوْمًا مَوْتَى؟ فَقَالَ: مَا أَنْتُمْ بِأَسْمَعَ لِمَا أَقُولُ مِنْهُمْ، وَلَكِنَّهُمْ لَا يَسْتَطِيعُونَ أَنْ يُجِيبُونِي» . «وَلَمَّا قَالَ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - لِأَهْلِ الْقَلِيبِ مَا قَالَ رَأَى فِي وَجْهِ أَبِي حُذَيْفَةَ بْنِ عُتْبَةَ الْكَرَاهِيَةَ وَقَدْ تَغَيَّرَ، فَقَالَ: لَعَلَّكَ قَدْ دَخْلَكَ مِنْ شَأْنِ أَبِيكَ شَيْءٌ؟ قَالَ: لَا وَاللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا شَكَكْتُ فِي أَبِي وَفِي مَصْرَعِهِ، وَلَكِنَّهُ كَانَ لَهُ عَقْلٌ وَحِلْمٌ وَفَضْلٌ، فَكُنْتُ أَرْجُو لَهُ الْإِسْلَامَ، فَلَمَّا رَأَيْتُ مَا مَاتَ عَلَيْهِ مِنَ الْكُفْرِ أَحْزَنَنِي ذَلِكَ، فَدَعَا لَهُ رَسُولُ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - بِخَيْرٍ» .