SELAMAT DATANG DI BLOG PONDOK PESANTREN MULYA ABADI, JL. MAGELANG KM 8.5 SLEMAN YOGYAKARTA, SEMOGA BLOG INI BISA MENJADI SILATURAHMI KITA UNTUK SALING BERBAGI

Doa Meluluhkan Hati Seseorang

Ya Allah sungguh Engkau Maha Mulia Maha Besar. Sedangkan saya HambaMu yang sangat hina dina. Tiada upaya dan kekuatan kecuali karena Kau. Ya Allah, tundukkanlah

Doa Agar di Beri kerjaan Bisnis

Ya Allah, Raja segala Kerajaan, Tuhan memberikan Kerajaan pada yang Tuhan kehendaki, melepas Kerajaan dari yang Tuhan kehendaki, menjayakan orang yang Tuhan kehendaki, dan merendahkan orang yang Tuhan kehendaki

Sapaan Nabi Membuat Khowat Sungkan

Rasulullah SAW keluar dari tenda dan bersabda pada saya ‘hai Ayah Abdillah, apa yang mendorong kau duduk bersama mereka ?’

Hibah Menurut Bukhori

Hibah Menurut Bukhari Ibrahim Annakhai tergolong Tabiin yang sangar alim. Beliau murid Ibrhaim Attaimi, murid Amer bin Maimun, murid Abu Abdillah Al-Jadali, murid Khuzaimah sahabat Nabi SAW.

Masuk Surga Paling Awal

Rasulullah SAW bersabda, “Jibril AS telah datang untuk memegang tanganku untuk menunjukkan saya Pintu Gerbang Surga, yang akan dimasuki oleh umatku.”

2017/02/11

Ashabul-Kahfi Menurut Ibnu Katsir



Image result for Ashabul Kahfi

{وَكَذَلِكَ أَعْثَرْنَا عَلَيْهِمْ لِيَعْلَمُوا أَنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَأَنَّ السَّاعَةَ لَا رَيْبَ فِيهَا إِذْ يَتَنَازَعُونَ بَيْنَهُمْ أَمْرَهُمْ فَقَالُوا ابْنُوا عَلَيْهِمْ بُنْيَانًا رَبُّهُمْ أَعْلَمُ بِهِمْ قَالَ الَّذِينَ غَلَبُوا عَلَى أَمْرِهِمْ لَنَتَّخِذَنَّ عَلَيْهِمْ مَسْجِدًا } [الكهف: 21]

Demikian itu, Kami singkapkan untuk mereka, agar mereka tahu bahwa Janji Allah dan Kiamat, tiada keraguan mengenai itu. Ketika itu, mereka berselisih antar mereka, mengenai perkara mereka. Hingga berkata, “Bangunlah bangunan atas mereka!.” Tuhan mereka lebih tahu mengenai mereka. Kaum yang mengalahkan urusan mereka, berkata, “Niscaya kami benar-benar akan membangun Masjid, atas mereka.”

Ibnu Katsir menulis :
Yang Maha Tinggi berfirman, “(وَكَذَلِكَ أَعْثَرْنَا عَلَيْهِمْ) maksudnya ‘demikian itu, Kami singkapkan (rahasia) mereka untuk manusia. (لِيَعْلَمُوا أَنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَأَنَّ السَّاعَةَ لَا رَيْبَ فِيهَا) Agar manusia tahu bahwa Janji Allah dan Kiamat, tiada keraguan mengenai itu.”
Tidak hanya seorang (Alim) Salaf yang menjelaskan, “Sungguh kaum di zaman itu, dilanda keraguan mengenai Hari Kebangkitan dan Kiamat.”
Ikrimah berkata, “Sungguh sebagian mereka berkata ‘(di hari Kiamat) yang dibangkitan hanya ruh, jasadnya tidak.”
Maka Allah menghidupkan Penghuni Gua (Ashabul-Kahfi), sebagai Hujjah, Dalil, dan Mukjizat Alami, mengenai itu.
Mereka menjelaskan, “Sungguh ketika hendak keluar menuju kota untuk membeli sesuatu, untuk makanan kawan-kawan, seorang mereka pangling (pada keadaan). Yang dia lewati bukan jalan besar. Hingga dia berhasil sampai kota.”
Mereka menjelaskan, “Kota itu bernama Diqsus. Dia menyangka tinggal di gua belum lama. Padahal penduduk sekitarnya telah berganti beberapa abad. Negeri dan penduduknya juga telah berubah. Semua umat telah berubah, sebagaimana ucapan penyair (tentang dia):
Adapun perkampungannya hampir sama
Dengan yang dilihat dengan matanya
Namun kaum lelaki kampung bukan lagi
Kaum yang telah dikenali
Semua yang dilihat di negeri tersebut, tidak seperti yang dikenal sebelumnya. Penduduk yang pernah dikenal dengan baik, atau yang pernah dilihat, semuanya telah tiada. Dia bingung, dan berkata dengan hatinya, ‘barang kali saya gila atau kerasukan Syaitan, atau bermimpi?’ Suara hatinya dijawab, ‘demi Allah, saya baik-baik saja. Saya baru kemarin sore di negeri ini, keadaannya tidak demikian’. Lalu berkata lagi ‘segera keluar dari sini, lebih baik, untukku’.
Lelaki penjual makanan didatangi, diberi uang, agar memberi imbalan makanan. Penjual terkejut, ketika melihat pembeli dan bentuk uangnya. Dia menyerahkan uang pada tetangga. Dan uang itu berpindah dari tangan ke tangan lainnya. Mereka berkata, ‘barangkali lelaki ini menemukan simpanan kekayaan’.
Mereka bertanya mengenai, ‘uang tersebut, asal uang tersebut, barangkai dia menemukan kekayaan’, dan ‘siapakah kau?’.
Dia menjawab, ‘saya termasuk penduduk ini kota. Saya masuk gua ini kemarin sore. Saat itu, yang berkuasa Raja Diqyanus’.
Maka mereka menganggap lelaki tersebut gila. Hingga membawa dia ke penguasa mereka. Untuk ditanya, ‘keadaan dan urusannya’.  
Dia sendiri bingung dengan kenyataan yang ada. Setelah dia menjelaskan semuanya, (penguasa setempat dan pendampingnya) berdiri bersama dia, menuju gua.
Pada mereka dia berkata, ‘biarkan saya, nanti saya akan kembali lagi pada anda semuanya. Saya akan memberi tahu dulu pada sahabat-sahabatku di dalam’.”
Ada yang menjelaskan, “Mereka tidak tahu bagaimana cara dia memasuki gua. Dan Allah menggelapkan berita Ashabul-Kahfi dari mereka.”
Ada yang menjawab, “Yang benar justru mereka telah berhasil masuk ke gua. Dan menyaksikan Ashabul-Kahfi. Bahkan raja memberi Salam dan berpelukan dengan mereka. Menurut berita ‘raja tersebut Muslim’, bernama Tidusis. Mereka bahagia karena bertemu dan berdialog dengan raja. Raja berpamitan dan memberi Salam pada mereka. Mereka kebali ke tempat, dan diwafatkan oleh Allah azza wajalla. Allah lebih Tahu. [1] 




[1] تفسير ابن كثير (5/ 146)
يَقُولُ تَعَالَى: {وَكَذَلِكَ أَعْثَرْنَا عَلَيْهِمْ} أَيْ: أَطْلَعْنَا عَلَيْهِمُ النَّاسَ {لِيَعْلَمُوا أَنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَأَنَّ السَّاعَةَ لَا رَيْبَ فِيهَا}
ذَكَرَ غَيْرُ وَاحِدٍ مِنَ السَّلَفِ أَنَّهُ كَانَ قَدْ حَصَلَ لِأَهْلِ ذَلِكَ الزَّمَانِ شَكٌّ فِي الْبَعْثِ وَفِي أَمْرِ الْقِيَامَةِ. وَقَالَ عِكْرِمَةُ: كَانَ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ قَدْ قَالُوا: تُبْعَثُ الْأَرْوَاحُ وَلَا تُبْعَثُ الْأَجْسَادُ. فَبَعَثَ اللَّهُ أَهْلَ الْكَهْفِ حُجَّةً (1) وَدَلَالَةً وَآيَةً عَلَى ذَلِكَ.
وَذَكَرُوا أَنَّهُ لَمَّا أَرَادَ أَحَدُهُمُ الْخُرُوجَ لِيَذْهَبَ إِلَى الْمَدِينَةِ، فِي شِرَاءِ شَيْءٍ لَهُمْ لِيَأْكُلُوهُ، تَنَكَّرَ وَخَرَجَ يَمْشِي فِي غَيْرِ الْجَادَّةِ، حَتَّى انْتَهَى إِلَى الْمَدِينَةِ، وَذَكَرُوا أَنَّ اسْمَهَا دِقْسُوسُ (2) وَهُوَ يَظُنُّ أَنَّهُ قَرِيبُ الْعَهْدِ بِهَا، وَكَانَ النَّاسُ قَدْ تَبَدَّلُوا قَرْنًا بَعْدَ قَرْنٍ، وَجِيلًا بَعْدَ جِيلٍ، وَأُمَّةً بَعْدَ أُمَّةٍ، وَتَغَيَّرَتِ الْبِلَادُ وَمَنْ عَلَيْهَا، كَمَا قَالَ الشَّاعِرُ:
أَمَّا الدّيارُ فَإنَّها كَديارهِم ... وَأرَى رجالَ الحَي غَيْرَ رجَاله ...
فَجَعَلَ لَا يَرَى شَيْئًا مِنْ مَعَالِمِ الْبَلَدِ الَّتِي يَعْرِفُهَا، وَلَا يَعْرِفُ أَحَدًا مِنْ أَهْلِهَا، لَا (3) خَوَاصِّهَا وَلَا عَوَامِّهَا، فَجَعَلَ يَتَحَيَّرُ فِي نَفْسِهِ وَيَقُولُ: لَعَلَّ بِي جُنُونًا أَوْ مَسًّا، أَوْ أَنَا حَالِمٌ، وَيَقُولُ: وَاللَّهِ مَا بِي شَيْءٌ (4) مِنْ ذَلِكَ، وَإِنَّ عَهْدِي بِهَذِهِ الْبَلْدَةِ عَشِيَّةَ أَمْسٍ عَلَى غَيْرِ هَذِهِ الصِّفَةِ. ثُمَّ قَالَ: إِنَّ تَعْجِيلَ الْخُرُوجِ مِنْ هَاهُنَا لَأَوْلَى لِي. ثُمَّ عَمَدَ إِلَى رَجُلٍ مِمَّنْ يَبِيعُ الطَّعَامَ، فَدَفَعَ إِلَيْهِ مَا مَعَهُ مِنَ النَّفَقَةِ، وَسَأَلَهُ أَنْ يَبِيعَهُ بِهَا طَعَامًا. فَلَمَّا رَآهَا ذَلِكَ الرَّجُلُ أَنْكَرَهَا وَأَنْكَرَ ضَرْبها، فَدَفَعَهَا إِلَى جَارِهِ، وَجَعَلُوا يَتَدَاوَلُونَهَا بَيْنَهُمْ وَيَقُولُونَ: لَعَلَّ هَذَا قَدْ وَجَدَ كَنْزًا. فَسَأَلُوهُ عَنْ أَمْرِهِ، وَمِنْ أَيْنَ لَهُ هَذِهِ النَّفَقَةُ؟ لَعَلَّهُ وَجَدَهَا مِنْ كَنْزٍ. وَمَنْ أَنْتَ؟ فَجَعَلَ يَقُولُ: أَنَا مِنْ أَهْلِ هَذِهِ الْمَدِينَةِ (5) وَعَهْدِي بِهَا عَشِيَّةَ أَمْسٍ وَفِيهَا دَقْيَانُوسُ. فَنَسَبُوهُ إِلَى الْجُنُونِ، فَحَمَلُوهُ إِلَى وَلِيِّ أَمْرِهِمْ، فَسَأَلَهُ عَنْ شَأْنِهِ وَعَنْ أَمْرِهِ حَتَّى أَخْبَرَهُمْ بِأَمْرِهِ، وَهُوَ مُتَحَيِّرٌ فِي حَالِهِ، وَمَا هُوَ فِيهِ. فَلَمَّا أَعْلَمَهُمْ بِذَلِكَ قَامُوا مَعَهُ إِلَى الْكَهْفِ: مُتَوَلّى الْبَلَدِ وَأَهْلُهَا، حَتَّى انْتَهَى بِهِمْ إِلَى الْكَهْفِ، فَقَالَ: دَعُونِي حَتَّى أَتَقَدَّمَكُمْ في الدخول لأعلم أصحابي، فَيُقَالُ: إِنَّهُمْ لَا يَدْرُونَ كَيْفَ ذَهَبَ فِيهِ، وَأَخْفَى اللَّهُ عَلَيْهِمْ خَبَرَهُ وَيُقَالُ: بَلْ دَخَلُوا عَلَيْهِمْ، وَرَأَوْهُمْ وَسَلَّمَ عَلَيْهِمُ الْمَلِكُ وَاعْتَنَقَهُمْ، وَكَانَ مُسْلِمًا فِيمَا قِيلَ، وَاسْمُهُ تِيدُوسِيسُ فَفَرِحُوا بِهِ وَآنَسُوهُ بِالْكَلَامِ، ثُمَّ وَدَّعُوهُ وَسَلَّمُوا عَلَيْهِ، وَعَادُوا إِلَى مَضَاجِعِهِمْ، وَتَوَفَّاهُمُ اللَّهُ، عَزَّ وَجَلَّ، فَاللَّهُ أَعْلَمُ.

2017/01/23

Lima Tokoh Yahudi Khaibar


Image result for Khaibar


أَفْضَى كُلّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا إلَى صَاحِبِهِ وَبَدَرَ مَرْحَبٌ مُحَمّدًا ، فَيَرْفَعُ السّيْفَ لِيَضْرِبَهُ فَاتّقَاهُ مُحَمّدٌ بِالدّرَقَةِ فَلَحِجَ سَيْفَهُ وَعَلَى مَرْحَبٍ دِرْعٌ مُشَمّرَةٌ فَيَضْرِبُ مُحَمّدٌ سَاقَيْ مَرْحَبٍ فَقَطَعَهُمَا . وَيُقَالُ لَمّا اتّقَى مُحَمّدٌ بِالدّرَقَةِ وَشَمّرَتْ الدّرْعُ عَنْ سَاقَيْ مَرْحَبٍ حِينَ رَفَعَ يَدَيْهِ بِالسّيْفِ فَطَأْطَأَ مُحَمّدٌ بِالسّيْفِ فَقَطَعَ رِجْلَيْهِ وَوَقَعَ مَرْحَبٌ ، فَقَالَ مَرْحَبٌ : أَجْهِزْ يَا مُحَمّدُ قَالَ مُحَمّدٌ ذُقْ الْمَوْتَ كَمَا ذَاقَهُ أَخِي مَحْمُودٌ وَجَاوَزَهُ وَمَرّ بِهِ عَلِيّ فَضَرَبَ عُنُقَهُ وَأَخَذَ سَلَبَهُ فَاخْتَصَمَا إلَى رَسُولِ اللّهِ صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ فِي سَلَبِهِ فَقَالَ مُحَمّدُ بْنُ مَسْلَمَةَ يَا رَسُولَ اللّهِ وَاَللّهِ مَا قَطَعْت رِجْلَيْهِ ثُمّ تَرَكْته إلّا لِيَذُوقَ مُرّ السّلَاحِ وَشِدّةِ الْمَوْتِ كَمَا ذَاقَ أَخِي ، مَكَثَ ثَلَاثًا يَمُوتُ وَمَا مَنَعَنِي مِنْ الْإِجْهَازِ عَلَيْهِ شَيْءٌ قَدْ كُنْت قَادِرًا بَعْدَ أَنْ قَطَعْت رِجْلَيْهِ أَنْ أَجْهَزَ عَلَيْهِ . فَقَالَ عَلِيّ عَلَيْهِ السّلَامُ صَدَقَ ضَرَبْت عُنُقَهُ بَعْدَ أَنْ قَطَعَ رِجْلَيْهِ . فَأَعْطَى رَسُولُ اللّهِ صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ مُحَمّدَ بْنَ مَسْلَمَةَ سَيْفَهُ وَدِرْعَهُ وَمِغْفَرَهُ وَبَيْضَتَهُ فَكَانَ عِنْدَ آلِ مُحَمّدِ بْنِ مَسْلَمَةَ سَيْفُهُ فِيهِ كِتَابٌ لَا يُدْرَى مَا هُوَ حَتّى قَرَأَهُ يَهُودِيّ مِنْ يَهُودِ تَيْمَاءَ فَإِذَا فِيهِ هَذَا سَيْفُ مَرْحَبْ مَنْ يَذُقْهُ يَعْطَبْ

Artinya : Yang satu mendekati lainnya. Namun Marchab mendahului menyerang Muhammad dengan pedang. Pedang Marchab tergigit perisai Muhammad yang ditangkiskan. Kain penutup betis Marchab tersingkap; Muhammad memukulkan pedang secepat-cepatnya ke arah bawah, hingga dua betis Marchab patah menyemburkan darah. Ada yang memberitakan ‘di saat Muhammad menangkis pedang dengan perisainya; kain Marchab tersingkap. Dua betisnya tampak di saat Marchab memukulkan pedang ke arah Muhammad yang menunduk sambil mengayunkan pedang sekuat tenaga, hingga mematahkan dua kakinya. Marchab roboh lalu berkata, “Bunuhlah saya! hai Muhammad” Muhammad menjawab, “Rasakan kematian, sebagaimana Machmud sudaraku merasakan.” Akhirnya Muhammad meninggalkan dia. Namun Ali yang menjumpanya, membunuh dan memotong leher, dan merampas lucutan Marchab. Akhirnya Ali RA dan Muhammad, minta pengadilan Rasulallah صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ. Muhammad berkata, “Ya Rasulallah, dia saya patahkan dua kakinya lalu kutinggalkan, agar merasakan pedihnya pedang dan beratnya sakarat, sebagaimana saudaraku telah merasakan. Dia telah saya biarkan sakarat tiga hari, meskipun sebetulnya saya mampu membunuh dia, setelah dua kakinya kupotong.” Ali عَلَيْهِ السّلَامُ berkata, “Dia benar, saya membunuh setelah dua kakinya dia patahkan.” Rasulallah صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ memberikan pedang, baju-perang, topi-perang dan rumbai-topi-perang Marchab, pada Muhammad. Pedang tersebut dirumat di keluarga Muhammad bin Maslamah. Ditulisi dengan huruf yang tak bisa dibaca. Namun akhirnya ada seorang Yahudi Taimak yang bisa membaca, “Ini pedang Marchab. Barang siapa tertebas, tewas.”

Peperangan tersebut sangat seru dan menegangkan. Kaum Yahudi bertahan mati-matian karena berada di kandang yang paling mereka andalkan. Muslimiin berjuang mati-matian karena yakin bahwa pasti akan menang. Banyak yang luka, banyak pula yang gugur. Banyak yang ketakutan, banyak pula yang justru keberaniannya melonjak dan berkobar. Banyak yang menangis, banyak pula yang puas setelah merobohkan dan membunuh musuh. Banyak darah tumpah, banyak pula yang rasa kasihan dan cintanya terhadap sesama teman dan saudara, justru menjadi sempurna. Saat itu telah banyak kaum Yahudi yang menjadi korban keganasan perang. Tinggal tokoh-tokoh besar mereka yang masih berperang dengan garang. Banyak yang melaporkan, “Setelah Muhammad membunuh Marchab, Usair lelaki Yahudi kuat pendek, datang menantang ‘siapa berani melawanku? dengan suara keras. Muhammad mendekat. Mereka berdua bergerak cepat, saling memukulkan pedang. Namun tak lama kemudian, Usair tewas oleh tusukan pedang Muhammad. Tak lama kemudin, Yasir datang untuk menyerang Muhammad. Dia termasuk orang mereka paling kejam. Sebelum itu, dia memburu Muslimiin dengan tombaknya.
Ketika Ali bergerak menghadapi; Az-Zubair berkata, “Saya bersumpah jangan kau biarkan dia lepas.”
Ali melaksanakan perintah Az-Zubair, yakni melawan Yasir.
Sabda Nabi SAW, “لِكُلّ نَبِيّ حَوَارِيّ وَحَوَارِيّ الزّبَيْرُ وَابْنُ عَمّتِي – Setiap Nabi AS, memilikiHawari (pembela setia), dan Hawari-ku Az-Zubair, anak bibiku,” disabdakan, setelah Az-Zubair membunuh Yasir yang tertahan oleh amukan Ali RA. Setelah Marchab dan Yasir, dua tokoh Yahudi tewas terbunuh, Nabi bersabda “Berbahagialah, Khaibar telah menjadi lebar dan urusannya lancar.”
Kebetulan Marchab yang tewas, artinya dilebarkan; Yasir yang tewas, artinyalancar. 
Lelaki Yahudi tinggi besar bernama Amir, muncul. Rasulullah صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ bertanya, “Apakah kira-kira tingginya ada limadzirak?.”
Satu dzirak: panjang mulai ujung jari tengah hingga ujung siku. Amir berbaju perang, menantang, “Siapa berani melawanku?,” sambil mengangkat-angkat pedangnya.
Beberapa orang menjauhi lelaki yang lihai berperang tersebut. Namun Ali justru mendekatinya. Berkali-kali pedang Ali memukul; namun dia tetap tegak berdiri. Akhirnya roboh karena dua betisnya patah menyemburkan darah, oleh pedang Ali. Sambaran pedang Ali beraksi, setelah dia roboh ke tanah, menghantarkan dia ke alam baka. Tak lama kemudian, pedangnya diambil oleh Ali. Dengan tewasnya tokoh-tokoh besar mereka:
1.     Charits.
2.     Marchab.
3.     Usair.
4.     Yasir.
5.     Dan Amir. Maka berakhirlah Perang Khaibar, karena mereka tokoh andalan kaum Yahudi.   

Ponpes Mulya Abadi Mulungan