SELAMAT DATANG DI BLOG PONDOK PESANTREN MULYA ABADI, JL. MAGELANG KM 8.5 SLEMAN YOGYAKARTA, SEMOGA BLOG INI BISA MENJADI SILATURAHMI KITA UNTUK SALING BERBAGI

Doa Meluluhkan Hati Seseorang

Ya Allah sungguh Engkau Maha Mulia Maha Besar. Sedangkan saya HambaMu yang sangat hina dina. Tiada upaya dan kekuatan kecuali karena Kau. Ya Allah, tundukkanlah

Doa Agar di Beri kerjaan Bisnis

Ya Allah, Raja segala Kerajaan, Tuhan memberikan Kerajaan pada yang Tuhan kehendaki, melepas Kerajaan dari yang Tuhan kehendaki, menjayakan orang yang Tuhan kehendaki, dan merendahkan orang yang Tuhan kehendaki

Sapaan Nabi Membuat Khowat Sungkan

Rasulullah SAW keluar dari tenda dan bersabda pada saya ‘hai Ayah Abdillah, apa yang mendorong kau duduk bersama mereka ?’

Hibah Menurut Bukhori

Hibah Menurut Bukhari Ibrahim Annakhai tergolong Tabiin yang sangar alim. Beliau murid Ibrhaim Attaimi, murid Amer bin Maimun, murid Abu Abdillah Al-Jadali, murid Khuzaimah sahabat Nabi SAW.

Masuk Surga Paling Awal

Rasulullah SAW bersabda, “Jibril AS telah datang untuk memegang tanganku untuk menunjukkan saya Pintu Gerbang Surga, yang akan dimasuki oleh umatku.”

2016/12/21

PS 188: Pembebasan Syam


Image result for Bumi Dibagi Tiga


Amer menjawab, “Memang kita dari keturunan yang sama, dan agama kakek kita juga sama. Tapi kami kaum Arab dan kalian kaum Romawi.”
Filasthin berkata, “Ya Amer, kakek kita Adam AS, Nuh AS, Ibrahim AS, Ishu bin Ischaq. Ischaq saudara Ismail, putra Ibrahim AS. Perkelahian antar saudara tidaklah baik, sebaiknya kita justru saling menolong.”
Amer menjawab, “Memang ucapanmu benar, Ishu dan kami satu keturunan, kakek kami Nabi Isma’il AS. Namun ketika murka pada putranya bernama Cham (حام), Nabi Nuch AS pernah membagi bumi untuk tiga putranya. Nuch AS juga memberi tahu para putranya bahwa, keturunan Cham nantinya akan berperang hingga suatu zaman, untuk memperebutkan tanah. Dan tanah yang kalian tempati ini bukanlah milik kalian, tanah ini dulunya milik kaum Amaliqah (العَمالِقة). Karena Nuch AS membagi bumi menjadi tiga: untuk Sam, Cham, dan  Yafits (يافِثُ):

Namun menurut Allah ‘Sungguh bumi ini hakikinya milik Allah, akan diwariskan pada orang yang dikehendaki dari HambaNya. Dan buah kemenangan akan diperuntukkan secara khusus pada kaum Taqwa’. [1] Kami datang kemari untuk menarik milik kami yang kalian kuasai, berupa kota-kota dan sungai-sungai. Kami telah lama menderita di tanah gersang yang banyak duri dan bebatuannya.” 

Filasthin marah, wajahnya memerah. Dan berkata, “Pembagian wilayah telah berlangsung pada zaman dahulu. Jika kalian akan merebut wilayah ini, justru berarti kalian jahat. Kakek kami dulu tidak berniat mengusir kalian, tetapi kalian terusir karena peperangan besar.”
Amer membentak, “Ya raja! Kau sendiri yang berkata bahwa peperangan besar yang memaksa kami tersingkir karena kemenangan kalian. Sekarang kami yang hidup menderita dengan makanan sederhana, juga akan memerangi kalian yang makanannya lezat. Kami takkan berhenti memerangi, hingga kalian lepaskan negeri yang kalian tempati, untuk kami. Agar kalian menjadi bawahan kami, agar kami bisa berteduh di bawah pohon tinggi yang bercabang-cabang dan berbuah lebat. Kalau kalian bersikeras, pasukan kami pasukan yang lebih senang berperang mengalahkan senangnya kalian ingin hidup dalam kebahagiaan.”

Untaian kalimat itu, di telinga Filasthin bagaikan petir yang meledak bertubi-tubi. Kemarahannya yang memuncak membuat tubuhnya bergetar. Pasukan yang menunggu-nunggu jawaban, terperangah, setelah Filasthin memandang mereka dan berkata, “Sungguh orang Arab ini benar. Demi Gereja-Gereja dan yang dikurbankan. Demi Al-Masich dan Salib-salib. Kita takkan mampu melawan mereka.”
Filasthin dan pasukannya mengamati Amer berkata, “Ya bangsa Romawi! Sungguh Allah telah mendekatkan kalian pada yang kalian cari. Masuklah pada agama Islam! Karena agama Islam Pilihan Allah.”
Setelah diam, Filasthin berkata, “Ya Amer, kami takkan memisahi agama kami yang ditetapi oleh kakek-kakek kami.”
Amer menjawab, “Kalau begitu kau dan kaummu agar menyerahkan pajak pada kami, dengan hina.”
Filasthin berkata, “Saya takkan membayar pajak pada kalian, karena rakyat saya pasti tidak akan mau. Dulu ayah saya juga pernah akan menyerahkan pajak pada kaum Arab, tapi justru akan dibunuh oleh rakyat melalui perwakilan para bathriq.”
Amer berkata, “Yang pasti saya telah melaksanakan perintah mengajak Islam pada kalian. Jalan yang harus kita tempuh selanjutnya, bertempur. Allah telah tahu bahwa saya telah mengajak kalian pada Jalan Selamat, namun kalian sendiri yang membandel. Dulu kakek kalian bernama Ishu juga menentang ibunya, sehingga keluar dari rahim mendahului kakaknya bernama Nabi Ya’qub AS. Kalian mengatakan kita satu keturunan, padahal kami lepas dari kalian menuju Allah, karena kalian kufur pada Yang Maha Sayang. Kalian keturunan Ishu bin Ischaq AS, dan kami keturunan Isma’il bin Ibrahim AS. Allah telah mengangkat nabi kami SAW dari sebaik-baik nasab, sejak Nabi Adam AS. Allah telah menjadikan keturunan Isma’il sebaik-baik kaum yang berbahasa Arab. Sedangkan Ischaq AS menggunakan bahasa ayahnya. Lalu Allah menjadikan kaum Kinanah, Sebaik-baik kaum. Lalu Allah menjadikan kaum Quraisy sebagai kaum yang terbaik. Dari kaum Quraisy itu, yang paling baik keluarga Hasyim. Keluarga besar Hasyim yang paling pilihan, keturunan Abdul-Muthallib. Dari keluarga Muthallib itulah lahir nabi kami, bernama Muhammad SAW, yang diberi Wahyu sebagai Rasul, oleh Jibril AS. Jibril AS pernah berkata pada nabi SAW ‘saya telah mengelilingi bumi mulai timur hingga barat. Ternyata tak ada orang yang lebih utama daripada kau’.”

Aneh sekali; ketika Amer menjelaskan tentang Nabi Muhammad SAW, tubuh mereka melentur dan kelihatan takut, terutama Filasthin. Bahkan Filasthin berkata, “Kau betul, semua nabi pasti diutus dari keluarga yang terbaik dari kaumnya.” Lalu bertanya, “Hai Amer! Apa di antara pasukanmu ada yang berbicaranya mudah dipahami dan tangkas di dalam menjawab pertanyaan?.”
Amer menjawab, “Saya lebih senang membawa pasukan saya kemari untuk memaksa kau agar tunduk padaku.” Lalu bergerak cepat mendekat untuk mengendarai kudanya, yang segera membawa lari meninggalkan tempat. 


Ucapan, “Al-Hamdu lillah,” dari pasukan Muslimiin yang menunggu kedatangan Amer menggemuruh. Karena bersyukur atas kedatangan dan keselamatan p
impinan mereka. 
Malam itu mereka berkumpul untuk mendengarkan Amer bercerita tentang Pembicaraannya dengan Filasthin. 

Seusai mengimami shalat subuh, Amer menyiapkan pasukan untuk bertempur, melawan pasukan Romawi di bawah pimpinan Raja Filasthin. Tenda-tenda kaum Muslimiin kosong, karena penghuninya telah berkumpul dan berbaris di atas kuda.



Seri sebelumnya, klik di sini



[1] إِنَّ الْأَرْضَ لِلَّهِ يُورِثُهَا مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ [الأعراف/128].

2016/12/18

PS 187: Pembebasan Syam


Image result for ‫ملك فلسطين في القديمة‬‎


Karena telah hadir, Filasthin mendengar suara misterius itu. Dia makin terkejut karena jumlah pasukan Arab di matanya, kelihatan berlipat ganda. Dia bersumpah, “Demi agamaku, tadinya jumlah mereka hanya sekitar limaribu pasukan berkuda. Kenapa tiba-tiba berubah menjadi banyak sekali? Ini pasti karena Allah yang menurunkan para malaikat untuk membantu mereka. Ayahku Hiraqla telah tahu pasti mengenai Kehebatan Kaum Arab. Sehingga dia mengirimkan lautan pasukan untuk menggempur mereka di Yarmuk. Pasukan saya ini sangat sedikit, jika dibandingkan dengan pasukan yang dikirimkan di Yarmuk, di bawah pimpinan Mahan saat itu. Jumlah pasukan Mahan yang dari Romawi satujuta, enampuluh ribu. Saya menyesal kenapa telah mengutus pasukanku kemari. Saya akan bermakar atas mereka.”

Filasthin memanggil alim besarnya, yang bertempat tinggal di Qaisariyah. Kepadanya, Filasthin perintah, “Datang dan katakan pada kaum itu dengan sopan: ‘Sungguh putra raja minta, agar kalian mengirimkan utusan yang sopan tutur-katanya’.”
Alim besar itu mengendarai kuda putih berbusana sutra hitam, untuk mengemban tugas. Busana luarnya jemper dari bulu, tangannya membawa Salib gemerlapan dari jauhari. Kudanya berlari membawa dia mendekati pasukan Muslimiin. 
Orang itu berhenti untuk berteriak, “Hai kaum Arab! Saya diutus oleh Raja Filasthin putra Raja Hiraqla, untuk minta agar kalian mengirimkan utusan yang tutur-katanya fasih! Demi Allah, beliau ingin damai dengan kalian. Beliau faham benar dengan agama dan urusannya. Beliau tidak senang berperang, maka jangan menyerbu kami! Orang yang jahat akan kalah dan yang teraniaya akan mendapat pertolongan. Dulu Al-Masich (الْمَسِيح) pernah bersabda ‘jangan kalian perangi, kecuali orang yang menyerang kalian!’. Kabulkanlah permintaan raja kami.”
Amer berkata, “Hai semuanya! Kalian telah mendengar ucapan dia! Siapa yang ingin mencari Keridhoan Allah dan RasulNya! Segeralah mendatangi raja Romawi."

Bilal bin Chamamah
, muadzin Rasulillah SAW, berkulit hitam berperawakan tinggi, maju. [1] Dengan mata memerah, dia berkata keras, “Ya Amer! Saya yang akan datang ke sana!.” 
Amer menjawab, “Ya Bilal! Kau muadzin Rasulillah SAW. Selain itu, asalmu dari Chabasyi, bukan Arab.” 
Bilal berkata, “Demi kebenaran Rasulillah SAW, saya harus pergi kesana!.” [2] 
Amer terkejut dan berkata, “Kau telah bersumpah dengan yang sangat agung. Silahkan kesana dan mintalah pertolongan pada Allah! Jangan takut! Dan belalah Islam!.”
Bilal menjawab, “In syaa Allah, kau akan tahu bahwa saya mampu melakukan yang kau harapkan.” 
Bilal berperawakan tiggi berdada lebar, bergegas menuju Filasthin. Lelaki berwajah sangar menakutkan itu, bergamis model Syam dan bersurban. Tangan kanannya memanggul pedang, tangan kirinya memanggul perbekalan, dengan tongkat.

Dia keluar dari barisan pasukan, mengejutkan sang Alim Nashrani yang mengundang. Utusan Filasthin berbaju hitam itu berkata, “Kurang ajar! Yang kami harapkan di antara mereka, yang merdeka. Tetapi mereka justru mengutus seorang budak? Ini penghinaan atas kami.” Lalu membentak, “Hai budak! Kembalilah pada tuanmu! Untuk berkata ‘yang diminta oleh Raja Filasthin pimpinan kalian!.”
Bilal menjawab, “Hai orang alim, sayalah Bilal kekasih dan muadzin Rasulillah SAW. Saya mampu melaksanakan tugas ini dengan baik.” 
Lelaki berbaju  hitam itu perintah, “Kamu di sini dulu! Saya akan bertanya pada rajaku dulu, mengenai kamu yang akan menghadap.”

Alim Nashrani berbaju hitam itu
, mengendarai kuda, meninggalkan tempat, menuju Filasthin. Dia berkata, “Yang mulia, yang diutus agar datang kemari, seorang budak hitam. Ini berarti menghina pada kita.” 
Filasthin perintah pada lelaki, agar datang dan berkata pada Bilal, “Hai orang Hitam! Sampaikan pada majikanmu, raja berpesan, ‘kami takkan menerima kedatangmu. Yang kami terima hanya pimpinan kalian, atau yang mewakili’.”

Bilal memacu kuda untuk kembali memasuki barisan dengan marah
, karena tersinggung. Lalu melaporkan, “Yang akan diterima hanya kau atau wakil kau” pada Amer.
Pada Syurachbil, Amer berkata, “Saya yang akan datang kesana.” 
Syurachbil menjawab, “Kalau kau yang kesana lalu siapa yang memimpin kami?.” 
Amer menjawab, “Allah Maha Sayang pada Hamba-HambaNya. Dia Lebih Sayangnya para penyayang, terhadap MakhluqNya. Peganglah panji ini! Dan pimpinlah pasukan Muslimiin, sementara! Jika mereka berkhianat atas diriku, Allah yang akan mewakili saya mengurusi kalian.”
Syurachbil berhenti di tempat Amer, dan menerima panji.
Dengan berbaju perang dan bersurban kuning, Amer naik kuda
, untuk bersiap menuju Filasthin. Dengan ikat pinggang dan tombak di tangan, Amer kelihatan gagah. 

Dia ditertawakan oleh penerjemah Filasthin. Dia menegur, “Kenapa tertawa?.” 
Penerjemah menjawab, “Kau ini aneh, kenapa membawa pedang? Kami tidak akan berperang.” 
Dia berkata, “Memang orang Arab suka membawa pedang. Barangkali bertemu musuh, maka bisa untuk membela diri.”
Penerjemah menghentikan jalannya, “Berhenti dulu di sini!.” Lalu memacu kuda, meninggalkan Amer, untuk menghadap Filasthin. “Yang mulia, pimpinan pasukan Arab datang kemari membawa pedang.”
Filasthin perintah, “Suruhlah menghadap kemari!.”

Penerjemah memacu kuda meninggalkan tempat; Filasthin perintah agar pasukan disiapkan
, untuk menyambut kedatangan Amer. Sejumlah ulama Nashrani berbaris di kanan dan kiri Filasthin; sejumlah pengawal berbaris di depannya.

Oleh Filasthin, penerjemah diperintah, “Datang dan katakan padanya ‘raja telah siap menerima kehadiranmu!’.” 
Penerjemah memacu kuda untuk menjemput Amer yang akan menghadap. Beberapa mata, dari deretan panjang barisan pasukan Qaisairiyah, terbelalak, menyaksikan Amer didampingi penerjemah dengan berkuda. Hampir semua mata mengamati Amer berkuda, hingga depan tenda utama, yang di dalamnya ada Filasthin dan para pengawalnya.

Amer menambatkan kuda
, lalu sejumlah pengawal mengantarkan dia menghadap Filasthin. 
Filasthin mengucapkan, “Selamat datang KomandanLalu mempersilahkan duduk di kursi. 
Amer menolak, “Karpet Allah Lebih Suci daripada kursimu. Tanah adalah karpet alami pemberian Tuhan. Saya hanya akan menduduki tempat yang diijinkan oleh Tuhan.”
Amer duduk di tanah. Tombaknya diletakkan di depannya, dan pedangnya dipangku di atas paha kirinya. Ketika dia memandang; Filasthin bergetar dan bertanya, “Siapa namamu?.”


Seri sebelumnya, klik di sini



[1] Ibu Bilal bernama Chamamah, ayahnya bernama Rabach. Ibnul-Atsir menulis tentang itu: أسد الغابة - (ج 1 / ص 129)
قيل: هو بلال بن رباح المؤذن، وحمامة: أمه نسب إليها.
Artinya: Dikatkan, “Dialah Bilal bin Rabach Al-Muadzin; Chamamah adalah ibunya. Dia dinasabkan padanya.”

[2] Mungkin Bilal dan Amer, tidak tahu bahwa nabi SAW pernah melarang bersumpah dengan selain Nama Allah.

2016/12/17

PS 186: Pembebasan Syam




Image result for suara dari langit


Di hari yang mendebarkan itu, mereka berbahagia karena arak-arakan pasukan lawan berkuda yang berdatangan, hanya berjumlah 10.000 orang. Itu berarti tiap seorang hanya akan melawan dua orang. Tapi lalu terkejut, ketika mereka melihat lagi arak-arakan pasukan berkuda lainnya berjumlah 10.000 orang.
Pada pasukan Muslimiin, Amer berteriak, “Ketahuilah! Barangsiapa mengendaki Allah dan hari akhir, jangan gentar menghadapi musuh, meskipun berjumlah banyak! Apa ada amalan yang lebih diandalkan di sisi Allah, daripada berjihad memerangi kaum Kafir? Mereka akan diganjar surga yang di dalamnya banyak buah-buahan dan fasilitas? Allah berfirman :
Kalau belum kalian bunuh, mata-mata itu bisa menjelaskan pada kita ‘berapa jumlah arak-arakan pasukan yang datang kemari ini. Tapi Perkara Allah tak bisa dihindari.”
Amer mengumpulkan pasukan pilihan untuk berkata, “Saya berpandangan, sebaiknya kita minta bala bantuan pada Abu Ubaidah, untuk menghadapi pasukan yang sangat banyak ini.” Lalu berteriak, “Hai semuanya! Siapa yang sanggup datang pada Abu Ubaidah ! Untuk menjelaskan bahwa lawan yang berdatangan kemari terlalu banyak !? Kami berharap, beliau mengirimkan bala bantuan untuk kita. Ketika Yazid bin Abi Sufyan di negeri Qinasrin, juga dikirimi bala bantuan oleh beliau, saya berdoa semoga yang sanggup melaksanakan tugas menghadap Abu Ubaidah ini diberi pahala oleh Allah.”
Rabiah berkata, “Ya Amer, pastikan kami bertempur! Dan tawakallah pada Allah, yang telah menolong kita di beberapa medan perang! Dan yang akan menolong kita di sini, untuk mengahabisi mereka.” 
Pada Rabiah, Amer menjawab, “Demi Allah usulanmu tepat sekali!.” Lalu perintah agar pasukannya bersiap. Mereka menaiki kuda sambil meneriakkan tahlil dan takbir. 
Ledakan takbir membahana; seakan-akan gunung-gunung, pepohonan, perbukitan, dan perkotaan di kejauhan yang mengelilingi mereka, menirukan tahlil dan takbir mereka.

Amer dan pasukannya berdoa, “Ya Tuhan Pelindung kami! Sungguh kami mendengar gema tauhid. Engkaulah yang memperdengarkan kalimat tauhid, pada kami! Dan telah memperlihatkan wajah-wajah orang yang mengagungkan dan memuji Kau. Betapa indah, Untaian PujianMu. Anugrahkan pada kami, agar kami dapat mensyukuri AnugrahMu.”
Doa yang dipanjatkan dengan sepenuh hati itu, membuat pasukan Raja Filasthin terperangah. Sebetulnya ada keajaiban yang tidak diketahui oleh Filasthin dan pasukannya: binatang-binatang buas dan liar berdoa pada Tuhan mereka, sambil memanjatkan rasa sukur atas AnugrahNya yang melimpah. Bahkan alam pun berdoa, “Ya yang membuat semua binatang liar, ridho terhadap AnugrahMu. Keluarkanlah rizqi agar kami bisa makan untuk bekal kembali menghadap Tuhan, yang telah menopang kehidupan kami! Ya yang kalau belatung di dalam bumi berbaris-baris, pasti melihat. Kalau ada jatah rizqi di dalam bumi untuk seorang hamba, Engkaulah yang mendatangkan. Kami mendengar pekikan tahlil dan takbir dari orang-orang mentauhidkan Kau, di sini. Sebelum ini, kami belum pernah mendengar. Bahkan kami mendengar Ayat-Ayat yang belum pernah kami dengar. Maha Suci Engkau yang QodarNya takkan kami lupakan. Ya yang Kebaikan dan KefadholaNya tak terhingga.”

Seluruh pasukan terkejut oleh suara, “Banyak sekali makhluq di gunung-gunung dan di puncaknya, yang tunduk patuh kepada Allah. Bahkan di dasar dan di wajah bumi. Bahkan di dasar laut dan samudra!” bergema dari langit.
Suara bergema dari langit itu, membuat mereka bertambah khusuk di dalam berdoa. Sedangkan bagi Filasthin dan pasukanya, suara itu menjadi kejutan yang membingungkan. Bahkan mereka semakin takut ketika mendengar alam di sekeliling mereka memantulkan suara itu.  

Seri sebelumnya, klik di sini



[1] وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ فَرِحِينَ بِمَا آَتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَيَسْتَبْشِرُونَ بِالَّذِينَ لَمْ يَلْحَقُوا بِهِمْ مِنْ خَلْفِهِمْ أَلَّا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ [آل عمران/169، 170].