SELAMAT DATANG DI BLOG PONDOK PESANTREN MULYA ABADI, JL. MAGELANG KM 8.5 SLEMAN YOGYAKARTA, SEMOGA BLOG INI BISA MENJADI SILATURAHMI KITA UNTUK SALING BERBAGI

Doa Meluluhkan Hati Seseorang

Ya Allah sungguh Engkau Maha Mulia Maha Besar. Sedangkan saya HambaMu yang sangat hina dina. Tiada upaya dan kekuatan kecuali karena Kau. Ya Allah, tundukkanlah

Doa Agar di Beri kerjaan Bisnis

Ya Allah, Raja segala Kerajaan, Tuhan memberikan Kerajaan pada yang Tuhan kehendaki, melepas Kerajaan dari yang Tuhan kehendaki, menjayakan orang yang Tuhan kehendaki, dan merendahkan orang yang Tuhan kehendaki

Sapaan Nabi Membuat Khowat Sungkan

Rasulullah SAW keluar dari tenda dan bersabda pada saya ‘hai Ayah Abdillah, apa yang mendorong kau duduk bersama mereka ?’

Hibah Menurut Bukhori

Hibah Menurut Bukhari Ibrahim Annakhai tergolong Tabiin yang sangar alim. Beliau murid Ibrhaim Attaimi, murid Amer bin Maimun, murid Abu Abdillah Al-Jadali, murid Khuzaimah sahabat Nabi SAW.

Masuk Surga Paling Awal

Rasulullah SAW bersabda, “Jibril AS telah datang untuk memegang tanganku untuk menunjukkan saya Pintu Gerbang Surga, yang akan dimasuki oleh umatku.”

2016/11/28

PS 162: Pembebasan Syam



Rabach datang untuk bersalaman dan mencium tangan Umar, lalu menyerahkan surat Abu Ubaidah RA.
Umar membaca di hadapan kaum Muslimiin. Setelah surat dibaca, suara hadirin menggemuruh. Mereka bertahlil, bertakbir, dan membaca shalawat untuk nabi SAW. 
Umar menerima1/5 rampasan perang kiriman dari Abu Ubaidah, lalu menulis surat balasan. Surat yang dititipkan pada Rabach itu, berisi perintah agar Abu Ubaidah segera pergi ke Anthakiyah.


Setelah surat diterima, Abu Ubaidah segera berangkat ke Anthakiyah

Di tempat berbeda, Yuqana dan Jabalah dikawal oleh pasukan berjumlah banyak menuju Anthakiyah, membawa putri Hirqla.
Seorang memacu kuda dengan kecepatan tinggi, menghadap Hirqla, melaporkan bahwa rombongan putrinya akan segera tiba, bersama Yuqana yang membawa 200 tawanan perang dari Arab. 

Hiraqla akan merayakan kedatangan putrinya dengan besar-besaran. Seluruh kerajaan dan kotanya dihias agar semarak. Para pedagang dipersilahkan menggelar dagangan. Hari itu semua rakyat bergembira, terutama kaum Fakir. Karena mendapatkan hadiah melimpah. Yang paling membuat mereka bahagia, menyaksikan Raja Hiraqla dan kemenakannya berbusana mewah gemerlapan, bersama para pasukan pengawal. 
Upacara agung itu disaksikan oleh lautan manusia, dengan mata terperangah. 
Kursi agung untuk Putri Zitunah telah dipersiapkan.
Di depan sang putri, kaum yang paling diperhatikan oleh Allah dan para malaikat, yakni para sahabat Rasulillah SAW yang tangan mereka diikat erat, dikerumuni oleh sejumlah bathriq, dicemooh dan diludahi.

Putri Zaitunah menjadi pusat perhatian, memasuki Istana Hiraqla. 
Para sahabat Rasulillah SAW yang diikat penjadi perhatian Tuhan Rohman. 
Jabalah dan Yuqana memasuki istana, diiringi oleh sejumlah pengawal. 
Para sahabat Rasulillah SAW disuruh berjalan dengan tangan terikat. 
Sejumlah orang kerajaan berteriak, “Bersujudlah ke lantai! Untuk menghormat Raja yang mulia!.” Namun para shahabat RA, mengabaikan perintah. Padahal semua pejabat tinggi kerajaan telah bersujud pada Hiraqla. 
Pimpinan pengawal Raja Hiraqla membentak, “Semuanya agar bersujud pada Raja! Sebagai penghormatan!.” 
Dhirar menjawab, “Kami diharamkan bersujud pada makhluq. Nabi kami SAW melarang demikian!.”

Al-Chakam bin Mazin (الحكم بن مازن) yang saat itu menjadi pelaku sejarah, berkisah:

“Ketika Dhirar dan teman-temannya dihadapkan, Hiraqla bertanya pada mereka tanpa penerjemah. Hiraqla sengaja membuat para bathriq dan para pengawalnya mendengarkan perkataannya. Pertanyaan Hiraqla berkisar Saat Nabi SAW Mulai Berjaya. Hiraqla pernah mengumpulkan parabathriq dan pasukan pengawal untuk menyatakan, “Inilah nabi utusan yang pernah diberitakan oleh Isa bin Maryam AS. Dialah sahabat waktu yang agamanya dipastiakan Berjaya, hingga memenuhi Timur dan Barat.” 
Waktu itu Hiraqla akan memberikan pajak pada nabi SAW. Namun dia justru akan dibunuh oleh para bathriq. Mereka reda setelah Hiraqla menjelaskan bahwa tujuannya hanya untuk perdamaian bagi semuanya.

Beberapa orang terkejut oleh pertanyaan Hiraqla, “Siapa yang akan menjawab petanyaan saya tentang ilmu?” pada Dhirar dan teman-temannya
Dhirar dan teman-temannya menunjuk, “Qais bin Ashim Al-Anshari (قيس بن عاصم الأنصاري) RA.”
Qais lelaki tua yang telah lama menjadi sahabat nabi SAW. Dia telah menyaksikan sejumlah Mukjizat, dan telah bergabung dalam sejumlah peperangan SAW. Dia berkata, “Silahkan Raja menanyakan apa saja.” 
Hiraqla bertanya, “Bagaimanakah Wahyu datang pada nabi kalian?.” 
Qais menjawab, “Dulu pernah ada lelaki Makkah bernama Al-Charits bin Hisyam (الحارث بن هشام) yang bertanya tentang ini. Dia bertanya ‘bagaimanakahWahyu datang pada baginda?’. 
Rasulullah SAW bersabda:
1.     ‘Terkadang Wahyu datang padaku menyerupai suara lonceng. Ini Wahyu lebih berat dari lainnya. Malaikat pergi namun saya sudah memahami Wahyu itu.
2.     Terkadang malaikat yang datang untuk memberi Wahyu, menjelama lelaki, untuk mengatakan yang saya pahami’.
Qais berkata‘sungguh beliau pernah mendapat Wahyu di musim hujan yang sangat dingin. Namun ketika malaikat pergi, pelipisnya bercucuran keringat’. Awal Wahyu yang diterima oleh Rasulillah SAW berupa mimpi kebenaran, ketika beliau tidur. Mimpi yang datang selalu berbentuk munculnya sinar subuh. Lalu beliau senang menyendiri di gua Hira (حِرَاء), untuk beribadah beberapa malam. Akhirnya malaikat datang pada beliau, untuk berkata ‘membacalah!’.
Beliau bersabda ‘saya sejak dulu tidak bisa membaca’. 
Malaikat memeluk erat padanya hingga beliau capek, lalu melepaskan dan berkata ‘membacalah!’. 
Beliau bersabda ‘saya sejak dulu tidak bisa membaca’. 
Malaikat memeluk erat padanya hingga beliau capek, lalu melepaskan dan berkata ‘membacalah!’. 
Beliau bersabda ‘saya sejak dulu tidak bisa membaca’.


PS 161: Pembebasan Syam









Dhirar menyerang
 dengan garang, didampingi oleh 100 pasukan. Serangannya menggila membuat musuh kuwalahan melawan, hingga Jabalah teheran-heran.
Jabalah perintah agar pasukannya memanah kuda Dhirar.
Kuda jatuh terkena beberapa anak-panah pada beberapa titik. Dhirar jatuh dan ditangkap oleh sejumlah pasukan Jabalah.
Serangan pasukan Dhirar dipatahkan dan mereka ditawan untuk dibawa ke Anthaqiyah.

Dalam perjalanan, Jabalah dan pasukanya bertemu Yuqana mengawal Zaitunah binti Hiraqla.
Safinah mantan budak Rasulillah SAW dan lainnya juga tertawan bersama Dhirar
Di malam  kelam itu, Safinah lepas dan kabur menuju Abu Ubaidah. Di tengah perjalanan, dia terkejut oleh singa jantan besar yang menghadang. Pada singa itu, dia berata, “Hai Ayah Charits, saya ini maula (mantan budak) Rasulillah SAW. Saya sedang begini dan akan begini.” 
Singa mendekati dia, sambil mengibas-ngibaskan ekor, lalu berhenti dan menundukkan kepala yang maksudnya ‘silahkan berjalan’. 
Safinah berjalan didampingi singa jantan, sampai kota yang penduduknya telah berdamai dengan kaum Muslimiin.
Singa pergi meninggalkan Safinah.

Kedatangan Safinah mengejutkan pasukan Muslimiin. Laporan Safinah bahwa Dhirar ditawan, setelah seratus kawannya ditawan, membuat mereka syok dan menangis sedih. Abu Ubaidah dan Khalid RA juga menangis pilu. Mereka berdua membaca, “Laa chaula walaa quwwata illaa bi Allah Al-Aliyyi Al-Azhiim.” [1]

Kaum Muslimiin terperangah dan bergetar oleh syair yang dibaca oleh Khaulah:

Tak adakah kaum yang menjelaskan ini berita
Akankah kami datang sendiri ke sana
Kalau saya tahu perjanana mereka akhir pejumpaan
Niscaya kami kemarin ikut dalam perjalanan
Hai si burung gagak! Bisakah kau memberi tahu tentang mereka?
Berhari-hari kami menunggu berita mereka
Semoga Allah melaknat penawan mereka
Yang bersamaku mengukir sejarah
Kini telah berubah
Jika mereka pulang kemari
Akan berjuang bersama lagi
Hatiku galau ketika mereka
Berkata Dhirar ditawan oleh lawan
Hari-hari selanjutnya kesedihan
Semangat hidupku hilang
Memikirkan orang-orang
Yang telah menempati ruang hatiku
Salamku
Untuk kalian tercinta
Yang jauh dari mata

Api kemarahan pasukan Muslimiin berkobar-kobar.
Mazruah binti Amluq Al-Chimyariyah (مزروعة بنت عملوق الحميرية) dan sejumlah wanita, mengerumuni Khaulah.

Putra Mazruah bernama Shabir bin Aus, juga ditawan bersama Dhirar. Melaui syair, Mazruah menangisi putranya:

Hai putraku! Kemarahanku pada mereka berkobar
Hingga tubuhku bergetar
Ini musibah besar
Yang hampir membuat aku terkapar
Kafilah yang kutanya mengenani kau diam
Kapankah dendamku redam
Tak ada yang menjelaskan mengenai kau
Air mataku berderai karena galau
Sejak kau pergi dari sisiku
Aku sedih air mataku tumpah
Karena memikirkan kau hai pahlawan
Asal kau hidup, saya sanggup membisu setahun lamanya
Namun jika kau telah tiada
Saya bingung harus bagaimana

Syair itu membuat tangisan para wanita makin keras.
Sontak mereka diam.



In syaa Allah bersambung



[1] لا حول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم.
[2] الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ [البقرة/156، 157]. Artinya: Kaum yang ketika musibah menimpa mereka, berkata, “Sungguh kita milik Allah dan sungguh kita akan kembali pada-Nya." Shalawat dan Rahmat dari Tuhan mereka, melimpah atas mereka. Dan mereka orang-orang yang mendapatkan petunjuk.

PS 160: Pembebasan Syam






Mereka bersiap-siap melakukan serangan. Ternyata pasukan yang akan diserbu meneriakkan, “Hidup Isa bin Maryam! Hidup Salib Agung! Siapa kalian?.” 
Yuqana menjawab, “Kalian juga siapa?.” 
Mereka menjawab, “Kami pasukan Raja Jabalah bin Aiham!.” 
Yuqana turun dari kuda untuk mengucapkan salam pada mereka.
Mereka juga mengucapkan salam pada Yuqana dan pasukanya.
Jabalah bertanya, “Kalian dari mana?.” 
Yuqana menjawab, “Dari Marasy membawa putri Raja Hiraqla. Kalian dari mana?.” 
Jabalah menjawab, “Dari Umaq (العُمَق) mencari bahan makan, namun di tengah perjalanan pulang, kami bertemu lebih 200 pasukan berkuda Arab. Pasukan kami berjumlah 2.000 kuwalahan menghadapi serangan mereka. Serangan kami yang menggila dipatahkan oleh mereka, bahkan beberapa pasukan kami berguguran. Beberapa orang mereka mampu membunuh dua atau tiga orang dari pasukan kami, tapi akhirnya kami bisa menawan mereka. Pimpinan mereka di belakang, kami kejar dan kudanya kami panah hingga tewas. Lalu dia kami tawan. Ternyata dia sahabat Muhammad SAW bernama Dhirar bin Al-Azwar. Dia dan pasukannya akan akami hadapkan pada Raja Hiraqla, agar ditanya.”
Agar dikira bahagia, Yuqana tersenyum dan berkata, “Demi benarnya agama ini! Kau telah beruntung, bisa menawan orang hebat dan pasukannya. Saya sendiri telah mendengar berita mengenai keberanian dan ketangkasan dia di dalam berperang, hingga banyak pahlawan kita yang gugur di tangannya.”
Yuqana dan Jabalah memimpin arak-arakan pasukan menuju Anthakiyah.


Negeri Izaz telah dianugrahkan oleh Allah pada pasukan Muslimiin. Malik menunjuk Said bin Amer Al-Ghanawi (سعيد بن عمرو الغنوي) agar memerintah negeri itu.
Malik dan Al-Fadhl diikuti arak-arakan pasukan Muslimiin, pulang menuju Chalab untuk menyerahkan rampasan perang pada Abu Ubaidah.
Abu Ubaidah berbahagia dan bersyukur atas kemenangan Muslimiin di negeri Izaz dan rampasan perang yang melimpah. Dia bertanya, “Dia pergi ke Anthakiyah untuk menjumpai dan memakar atas raja Romawi terbesar. Dia belum bisa menghadap kemari” pada Malik, tentang Yuqana. Dan dijawab dengan berbisik.
Abu Ubaidah berdoa, “Semoga Allah memberi Pertolongan, Kemenangan dan Ampunan.” 
Lalu menulis surat untuk Umar bin Al-Khatthab RA:
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Dari Abu Ubaidah Amir bin Al-jarrach pada Amirul-Mukminiin Umar bin Al-Khatthab RA
سلام عليك
Saya memuji pada Allah satu-satunya Tuhan yang harus disembah, dan mendoakan shalawat pada Nabi-Nya SAW, ammaa bakd:
Sungguh Allah Penebar Segala Anugrah, menuntun kami agar bersyukur. Benteng sesulit apapun di Syam, telah kami rebut karena Anugrah-Nya. Raja-raja Syam dipaksa oleh Allah agar tunduk pada kami. Dan tanah mereka diberikan pada kami. Bahkan oleh Allah, negeri Chalab juga telah diberikan pada kami. Negeri Izaz juga kami taklukkan berkat Pertolongan Allah. Raja Chalab bernama Yuqana telah masuk Islam dengan baik, bahkan telah mewajibkan diri, berjuang demi Muslimiin. Berkat perjuangan Yuqana, kaum Muslimiin merasakan manfaatnya; dan kaum Kafir menderita. Kini dia menemui Hiraqla untuk bermakar dengan keberania membahayakan, karena taat Allah dan Rasul-Nya. Saya menulis surat ini ketika sedang bersiap menuju Anthakiyah, untuk memberi pelajaran pada Raja Hiraqla. Kini benteng-benteng kerajaan di Syam telah kami renggut. Kami berharap semoga bisa segera menangkap Hiraqla, menduduki singgasana, dan mengambil harta kekayaannya. Sebagaimana Rasulullah SAW pernah menjanjikan pada kita. Berilah kami bekal doamu yang akan beranfaat besar, dan agar kaum Kafir segera rusak.”
والسلام عليك وعلى من معك عن المسلمين ورحمة الله وبركاته


Abu Ubaidah mengambil 1/5 dari rampasan perang, diserahkan pada Rabach bin Ghanim Al-Yasykari (رباح بن غانم اليشكري), yang diserahi membawa 200 pasukan berkuda.
Rabach dan pasukannya ditugaskan mengantar 1/5 dari rampasan perang pada Umar di Madinah. Di antara mereka yang terpenting: 
1.     Qatadah.
2.     Salamah bin Al-Akwa (سلمة بن الأكوع).
3.     Abdullah bin Basyar.
4.     Jabir bin Abdillah RA, dan lainnya. 
Abu Ubaidah juga menugaskan agar Dhirar bin Al-Azwar membawa 200 pasukan berkuda, untuk mengawal mereka.
Safinah mantan budak Rasulillah SAW berada di dalam pasukan Dhirar, bertugas menjadi mata-mata.
Dhirar membawa sejumlah lelaki taklukan agar menunjukkan jalan. 
Pasukan berjumlah 400 itu berarak-arak menyusuri jalan. Ketika waktu sahur, mereka memasuki hutan Dabiq. Para menunjuk jalan berteriak, “Hai! Awas! Kasihanilah kuda kalian yang berjalan terus!.”
Dhirar mengistirahatkan mereka semua, di situ. 
Di waktu sahur berikutnya mereka terkejut oleh datangnya Raja Jabalah dan pasukanya untuk menyerbu.
Dhirar dan 100 pasukannya bergegas menaiki dan memacu kuda. Pasukan berjumlah 100 lainnya belum sempat naik kuda, sudah diserbu. Perlawanan mereka dipatahkan oleh pasukan Jabalah yang terlalu banyak.
Pada 100 pasukannya, Dhirar berteriak, “Hai pemuda Arab! Musuh kalian telah menangkap saudara kalian ketika sedang istirahat! Ayo kita selamatkan! Nabi SAW bersabda ‘surga berada di bawah kilauan pedang-pedang’. Allah juga berfirman ‘kam min fiatin qaliilatin ghalabat fiatan katsiiratan biidznillaah. Wa Allahu maasshaabiriin’.” [1]

Di antara pasukan Dhirar, ada yang bernama Rabiah bin Mamar bin Abi Auf (ربيعة بن معمر بن أبي عوف) yang sangat pandai menguntai syair. Dia menjadi pusat perhatian karena syairnya yang indah. Dia membaca syair:

Surga Allah  seluas beberapa langit dikepung oleh derita
Surga tertinggi ditempati oleh Syuhada
Maka buatlah ridha!
Pada yang tahu barang ghaib maupun yang nyata
Jihad telah berdiri di atas kakinya
Bukankah kalian sebagai shabat nabi SAW ini zaman?
Kenapa pesimis meraih Pertolong Rohman?
Buatlah bahagia Ruh Al-Musthafa dengan [2]
Gigih melawan lawan
Jangan lari! Karena akan dimurkai oleh Tuhan
Ketahuilah ‘kemengangan akan diraih’ oleh yang mau berkorban
Yang berniat mencari kampung abadi pasti
Bertemu musuh sebanyak apapun 'tak peduli'
Benarkan niat kalian agar mendapatkan!
Rahmat dari Tuhan kalian?
Tepatkan sasaran agar mendapatkan yang kalian harapkan
Tusuklah leher mereka
Agar berpahala bidadari mempesona
Agar diberi perumahan istimewa
Tabahlah agar meraih kemenangan
Jangan mengasihani lawan
Karena ucapan mereka tipuan
Ulama mengenai mereka membaca
وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ

Syair itu membuat 100 pasukan Dhirar menjadi semangat, dan keberanian mereka berkobar.
Dhirar membaca syair pemacu semangat:




In syaa Allah bersambung

Mulungan Sleman Yogyakarta Indonesia Ponpes Kutubussittah Mulya Abadi



[1]  كَمْ مِنْ فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللَّهِ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ  [البقرة/249]. Artinya: Banyak golongan sangat sedikit telah mengalahkan golongan sangat banyak karena Idzin Allah. Dan Allah menyertai orang-orang Sabar.

[2] Al-Musthafa artinya benar-benar dipilih, maksudnya Nabi Muhammad SAW.