SELAMAT DATANG DI BLOG PONDOK PESANTREN MULYA ABADI, JL. MAGELANG KM 8.5 SLEMAN YOGYAKARTA, SEMOGA BLOG INI BISA MENJADI SILATURAHMI KITA UNTUK SALING BERBAGI

Doa Meluluhkan Hati Seseorang

Ya Allah sungguh Engkau Maha Mulia Maha Besar. Sedangkan saya HambaMu yang sangat hina dina. Tiada upaya dan kekuatan kecuali karena Kau. Ya Allah, tundukkanlah

Doa Agar di Beri kerjaan Bisnis

Ya Allah, Raja segala Kerajaan, Tuhan memberikan Kerajaan pada yang Tuhan kehendaki, melepas Kerajaan dari yang Tuhan kehendaki, menjayakan orang yang Tuhan kehendaki, dan merendahkan orang yang Tuhan kehendaki

Sapaan Nabi Membuat Khowat Sungkan

Rasulullah SAW keluar dari tenda dan bersabda pada saya ‘hai Ayah Abdillah, apa yang mendorong kau duduk bersama mereka ?’

Hibah Menurut Bukhori

Hibah Menurut Bukhari Ibrahim Annakhai tergolong Tabiin yang sangar alim. Beliau murid Ibrhaim Attaimi, murid Amer bin Maimun, murid Abu Abdillah Al-Jadali, murid Khuzaimah sahabat Nabi SAW.

Masuk Surga Paling Awal

Rasulullah SAW bersabda, “Jibril AS telah datang untuk memegang tanganku untuk menunjukkan saya Pintu Gerbang Surga, yang akan dimasuki oleh umatku.”

2015/03/28

Menggarapkan Tanah



بَابُ المُزَارَعَةِ بِالشَّطْرِ وَنَحْوِهِ

Abu Jafar berkata, “Tiada keluarga hijrah di Madinah, kecuali pasti ‘melakukan kerjasama’ dalam urusan tanaman, dengan imbalan 1/3 atau ¼.” [1]

1.     Ali RA.
4.     Keluarga Abu Bakr RA.
5.     Keluarga Umar RA.
6.     Keluarga Ali RA.
7.     Ibnu Sirin (murid Anas dan Abi Hurairah RA.”

Abdur Rohman bin Al-Aswad berkata, “Saya pernah melakukan kerjasama dalam urusan ‘tanaman’dengan Abdur Rohman bin Yazid, murid ayahnya, yang murid Aisyah RA).”

Umar RA pernah ‘bekerja sama’ dengan kaum. Perjanjian yang dilakukan ‘jika Umar yang memberi benih’, maka imbalannya ½ hasil. Jika mereka ‘yang memberi benih’, maka imbalan mereka sekian.

Al-Hasan Al-Bashri (tabik) berkata, “Tidak dosa, jika tanah seorang ‘digarap’ oleh dua orang. Biaya ditanggung bersama, hasil dibagi rata.” Azzuhri berpandangan ‘sama’ (dengan Al-Hasan).

Al-Hasan juga berkata, “Perintah ‘memetik kapas’ dengan imbalan ½, boleh.”

Sejumlah tabiin, Ibrahim, Ibnu Sirin, Atha, Al-Hakam, Azzuhri, dan Qatadah, berkata, “Tidak berdosa jika, memberi upah 1/3 atau ¼, untuk ‘tenunan kain’, (sisa), atau sekitar itu, untuk majikan).”

Mamar (murid Hammam, murid Abi Hurairah RA) berkata, “Tidak berdosa, menyuruh merumat binatang ternak, dengan imbalan 1/3 atau ¼. (Perjanjian berlaku) ‘hingga tempo’ yang ditentukan.” [2]







[1] Abu Jafar adalah Muhammad bin Ali bin Husain bin Ali bin Abi Tholib RA, cucu Rasulillah SAW. (فتح الباري لابن حجر (5/ 11)
عَنْ أَبِي جَعْفَرٍ هُوَ مُحَمَّدُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ الْحُسَيْنِ الْبَاقِرُ).
[2] صحيح البخاري (3/ 104)
وَقَالَ قَيْسُ بْنُ مُسْلِمٍ: عَنْ أَبِي جَعْفَرٍ، قَالَ: «مَا بِالْمَدِينَةِ أَهْلُ بَيْتِ هِجْرَةٍ إِلَّا يَزْرَعُونَ عَلَى الثُّلُثِ وَالرُّبُعِ» وَزَارَعَ عَلِيٌّ، وَسَعْدُ بْنُ مَالِكٍ، وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْعُودٍ وَعُمَرُ بْنُ عَبْدِ العَزِيزِ، وَالقَاسِمُ، وَعُرْوَةُ، وَآلُ أَبِي بَكْرٍ، وَآلُ عُمَرَ، وَآلُ عَلِيٍّ، وَابْنُ سِيرِينَ وَقَالَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ الأَسْوَدِ: «كُنْتُ أُشَارِكُ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ يَزِيدَ فِي الزَّرْعِ» وَعَامَلَ عُمَرُ، «النَّاسَ عَلَى إِنْ جَاءَ عُمَرُ بِالْبَذْرِ مِنْ عِنْدِهِ فَلَهُ الشَّطْرُ، وَإِنْ جَاءُوا بِالْبَذْرِ فَلَهُمْ كَذَا» وَقَالَ الحَسَنُ: «لاَ بَأْسَ أَنْ تَكُونَ الأَرْضُ لِأَحَدِهِمَا، فَيُنْفِقَانِ جَمِيعًا، فَمَا خَرَجَ فَهُوَ بَيْنَهُمَا» وَرَأَى ذَلِكَ الزُّهْرِيُّ وَقَالَ الحَسَنُ: «لاَ بَأْسَ أَنْ يُجْتَنَى القُطْنُ عَلَى النِّصْفِ» وَقَالَ إِبْرَاهِيمُ، وَابْنُ سِيرِينَ، وَعَطَاءٌ، وَالحَكَمُ، وَالزُّهْرِيُّ، وَقَتَادَةُ: «لاَ بَأْسَ أَنْ يُعْطِيَ الثَّوْبَ بِالثُّلُثِ أَوِ الرُّبُعِ» وَنَحْوِهِ وَقَالَ مَعْمَرٌ: «لاَ بَأْسَ أَنْ تَكُونَ المَاشِيَةُ عَلَى الثُّلُثِ، وَالرُّبُعِ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى»
__________

[تعليق مصطفى البغا]
 [ش (يجتنى) أي يقطف ويجمع. (يعطي الثوب) أي يعطي غزله للنساج لينسجه ويكون ثلثه أو غيره له ولمالك الغزل الباقي. (لابأس أن تكون الماشية. .) أي لابأس بأن يكري دابة لإنسان ينقل عليها طعاما أو غيره لمدة معينة على أن يكون المنقول بينهما حسب الاتفاق].

2015/03/27

Bismillahissalami ‘alaikum



Bismillahissalami ‘alaikum
Anak istri atau suami agar dicium
Tentunya setelah mandi dan harum
Semoga hari ini Anugrah Allah alaikum
Bahasa Arab untuk kalian ‘alaikum’
Yang sedang sedih karena
Merugi banyak, bisnisnya
Atau belum datang jodohnya
Semoga hari ini dan seterusnya
Allah menolong dan merahmati abada
Bagi kaum Arab, ‘abadi’ sering diistilahkan ‘abada’
Katakan ‘aamiiin, ya Robbanaa’.

Nasehat



Dalam kamus bahasa Arab 'Lisanul-Arab' dijelaskan, Ibnul-Atsir berkata, “Nasehat ialah untaian kalimat yang disampaikan, untuk ‘memperbaiki’ orang yang dinasehati. Yang dinasehati tidak mungkin bisa menerima, kecauli dengan ‘kalimat nasehat’ tersebut. Asal lafal nasehat’ dari ‘annushch’ yang artinya murni.

Beberapa makna nasehat:
1.     Nasehat untuk Allah’ ketika beribadah beriktikad benar, berniat ikhlas, dan semata-mata untuk Allah.
2.     Nasehat untuk Kitab Allah’ meyakini kebenarannya, dan mengamalkan isinya.
3.     Nasehat RasulNya SAW’ mempercayai kenabian dan risalah (ajaran)nya, melakukan perintahnya, dan menjauhi larangannya.
4.     Nasehat Aimmah (para imam)’ mentaati mereka untuk kebenaran dan bersabar, ketika mereka jaaruu (belok dari keadilan).
5.     Nasehat umumnya Muslimiin’ berupaya (masholih) memperbaiki mereka.” [1]


Ponpes Mulya Abadi Mulungan


 قَالَ ابْنُ الأَثير: النَّصِيحَةُ كَلِمَةٌ يُعَبَّرُ بِهَا عَنْ جُمْلَةٍ هِيَ إِرادة الْخَيْرِ لِلْمَنْصُوحِ لَهُ، فَلَيْسَ يُمْكِنُ أَن يُعَبَّرَ عَنْ هَذَا الْمَعْنَى بِكَلِمَةٍ وَاحِدَةٍ تَجْمَعُ مَعْنَاهَا غَيْرُهَا. وأَصل النُّصْحِ: الْخُلُوصُ. وَمَعْنَى النصيحة لله: صِحَّةُ الِاعْتِقَادِ فِي وَحْدَانِيَّتِهِ وإِخلاص النِّيَّةِ فِي عِبَادَتِهِ. وَالنَّصِيحَةُ لِكِتَابِ اللَّهِ: هُوَ التَّصْدِيقُ بِهِ وَالْعَمَلُ بِمَا فِيهِ. وَنَصِيحَةُ رَسُولِهِ: التَّصْدِيقُ بِنُبُوَّتِهِ وَرِسَالَتِهِ وَالِانْقِيَادُ لِمَا أَمر بِهِ وَنُهِيَ عَنْهُ. وَنَصِيحَةُ الأَئمة: أَن يُطِيعَهُمْ فِي الْحَقِّ وَلَا يَرَى الْخُرُوجَ عَلَيْهِمْ إِذا جَارُوا. وَنَصِيحَةُ عَامَّةِ الْمُسْلِمِينَ: إِرشادهم إِلى الْمَصَالِح.


2015/03/26

PS 92: Pembebasan Syam






Umu Taim istri Khalid bersama sejumlah wanita Arab, berlari dengan kuda, sangat kencang. Mereka mendekati medan perang yang tertutup oleh debu-debu beterbangan. Tombak-tombak dan pedang-pedang, berkilaun bergerak-gerak mencari sasaran. Mereka kesulitan mencari regu Khalid yang jumlahnya hanya sedikit, dikepung rapat oleh pasukan lawan.

Abu Ubaidah bertakbir dan melancarkan serangan bersama pasukannya. Regu Khalid terkejut senang, mendengar bala-bantuan datang.
Abu Ubaidah dan pasukannya menyerbu kaum kafir yang semakin kewalahan menghadapi serangan regu Khalid yang jumlahnya bertambah.
Sebagian mereka berlari tungang-langgang, menyelamatkan diri.

Di atas pelana kuda, Khalid menyaksikan kaum Abu Ubaidah berdatangan dengan bertakbir. Seorang berkuda memporak-porandakan pasukan Romawi. Lalu berlari cepat menghadap. Khalid menyambut kedatangannya untuk bertanya, “Siapa kau?.”
Orang berkuda yang tertutup wajahnya menjawab, “Saya Umu Taim istrimu! Datang kemari untuk memberikan pecimu yang dibarokahi! In syaa Allah! Kau akan segera mengalahkan mereka! Pakailah! Demi Allah kau tidak melupakan, kecuali agar mendapat qodrat seperti ini." [1]
Peci itu dipegang oleh Khalid; sinar menyambar bagaikan kilat. 
Khalid mengenakan peci dan bergegas menyerang, mengobrak-abrik pasukan lawan.
Lautan pasukan lawan berlarian bagai ombak. Dikejar dan dibunuh oleh pasukan Muslimiin. Pasukan Muslimiin lainnya bertambah bersemangat menyerang. 
Pasukan Romawi yang lain lari semuanya, kecuali yang tertawan, atau luka parah, atau tewas.

Barisan pasukan Romawi yang berlari di depan sendiri, Jabalah dan kaum Nashrani Arab. Karena amukan Khalid dan Muslimiin terlalu dahsyat.

Kaum Nashrani telah kalah. Kaum Muslimiin berkumpul mengelilingi panji, untuk mengucapkan salam dan bersalaman dengan Abu Ubaidah bin Al-Jarrach, yang paling mendapat perhatian.
Pada Khalid, Abu Ubaidah mengucapkan, “Ya ayah Sulaiman! Kau telah membuat lega dan ridho, pada yang Maha Agung.”
Di hadapan pasukannya, Abu Ubaidah RA berkata, “Saudara semuanya! Saya berpandangan sebaiknya kita segera pergi untuk memerangi penduduk Qinasrin (Guensrin) dan Awashim.”
Mereka menjawab, “Setuju!” dengan serempak.
Sebagian mereka menambahkan, “Ya Kepercayaan Umat.”

Abu Ubaidah menunjuk, agar Iyadh bin Ghonim Al-Asyari (عياض بن غانم الاشعري) memimpin beberapa komandan, untuk membawa ribuan pasukan ke Qinasrin dan Awashim.
Arak-arakan pasukan yang panjang itu berjalan terus, hingga mendekati kota Qinasrin dan Awashim.
Di hadapan para sahabat Rasulillah, Iyadh bin Ghonim berkata, “Kita dulu telah memberi tahu bahwa ‘mereka berkewajiban Islam’. Sekarang bersiaplah menyerang mereka.”

Pasukan Iyadh telah mendekati pintu gerbang kota.
Penduduk Qinasrin menutup pintu gerbang. Beberapa tokoh mereka keluar, menghadap pada Abu Ubaidah yang telah hadir.
Dalam pertemuan menegangkan itu, mereka mengajukan ‘permohonan damai’ pada Abu Ubaidah RA yang segera mengabulkan, dengan syarat ‘setiap rakyat Qinasrin dan Awashim’ menyreahan 4 dinar, merujuk perintah Umar.  

Penduduk Qinasrin dan Awashim telah ditaklukkan dengan damai. Pada para sahabat Rasulillah, Abu Ubaidah berkata, “Berilah saya masukan! Semoga Allah menyayang kalian. Karena Allah telah berfiman ‘وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ’. [2] Sebaiknya kita ‘meneruskan perjalanan, untuk menyerbu قلاع  (qilak/castles) Halab dan Anthakiyah? Atau kembali lagi?.”
Beberapa orang berkata, “Wahai pimpinan! Bagaimana mungkin kita kembali ke Halab, padahal hari ini perjajian damai kita dengan penduduk Syairadz hampir selesai? Kami yakin mereka dan penduduk kota lainnya, telah memperkuat pertahanan, untuk menghalang-halangi kita. Mereka memiliki pasukan dan pertahanan yang kuat. Kita teruskan saja perjalanan kita. Semoga Allah memberi kita ‘kemenangan’.”

Abu Ubaidah menyetujui usulan itu, yakni kembali lagi.
Ternyata betul ‘kota-kota telah diperkuat pertahanannya’. Bahan makan yang didrop untuk persiapan perang besar, bertumpuk.

Abu Ubaidah dan pasukannya menuju kota Homs (Chimsh/حِمْص) yang pertahanannya juga telah diperkuat oleh Raja Hiraqla. Hiraqla perintah pada seorang keluarganya bernama Bathriq Harbis (البطريق هربيس), agar memperkuat pertahanan kota itu. Bathriq Harbis terkenal sebagai tokoh besar ahli perang, pasukannya banyak sekali.

Abu Ubaidah perintah agar Khalid mengurusi wilayah Homs (Chimsh/حِمْص). Sementara dia bersama sejumlah pasukan, pergi menuju kota Balbek (Balabak/ بعلبك).

Ketika telah mendekati kota Balbek, Abu Ubaidah dan pasukannya menjumpai sejumlah kafilah. 
Di dalam kafilah yang membawa bermacam-macam dagangan itu, banyak keledai dan binatang. Mereka muncul dari pantai menuju Balbek.
Saat melihat mereka, Abu Ubaidah berkata pada pasukannya, “Siapakah mereka itu?.”
Mereka menjawab, “Kami tidak tau.”
Abu Ubidah perintah, “Ceklah mereka! Dan laporkan pada saya!.”

Sejumlah pasukan berkuda berlari cepat mendekati kafilah. Ternyata kebanyakan yang dibawa ‘gula’, akan diantar ke kota Balbek’.

Setelah pasukan berkuda kembali membawa laporan, Abu Ubaidah berkata, “Penduduk Balbek  memerangi kita! Ambil! Kiriman yang berasal dari Allah itu! Itu jarahan.”
Mereka bergegas merampas bawaan kafilah, berupa 400 bawaan gula, kacang, buah tin, dan lain-lain. Para pembawanya ditawan. Abu Ubaidah melarang, “Jangan dibunuh! Agar ditebus oleh keluarganya!.”

Keluarga para tawanan memberi tebusan emas, perak, pakaian, dan kendaraan. Gula dan bahan makan lainnya, ditukarkan dengan minyak. Sebagian tawanan ada yang berlari, untuk melaporkan mengenai kejadian itu, pada penduduk Balbek.

Pagi harinya, Abu Ubaidah RA perintah agar pasukan Muslimiin memasuki kota Balbek.
Bathriq Harbis penguasa kota Balbek marah, dan perintah agar pasukannya mempersiapkan peralatan perang, untuk memerangi pasukan Muslimiin.
Pasukan Bathriq Harbis bertemu pasukan Abu Ubaidah, di pertengahan siang. Pasukan berkuda Bathriq Harbis berjumlah 7.000 orang. Ditambah lagi bala-bantuan yang jumlah  mereka tak terhitung.

Detik berikutnya sangat mendebarkan; bagian terdepan dari dua pasukan sudah memulai bertempur dengan sengit. Pedang-pedang telah berputar-putar mencari sasaran. Dentingan pedang dan teriakan membaut suara gaduh.
Harbis memompa semangat pasukannya. 
Pada Harbis, sejumlah bathriq berkata, “Sebetulnya kaum Arab ini akan diapakan?.”
Harbis menjawab, “Akan saya perangi agar tidak meremehkan kita! Dan tidak menginjak-injak kota kita.”
Mereka berkata, “Menurut hemat kami, mereka jangan dilawan! Pulang saja, agar kita tetap hidup! Penduduk Damaskus yang pertahanannya sangat kuat sekali saja, tidak mampu mengalahkan mereka. Pasukan kota Ajnadin yang berjumlah 90.000 juga tidak mampu melawan mereka. Pasukan Palestin yang sangat kuat juga dikalahkan oleh mereka. Belum lama ini gabungan tiga pasukan, di bawah penguasa Qinasrin, penguasa Amuriyah, Raja Jabalah, dan kaum Arab Nashrani ‘kalah total’, sisa-sisa mereka yang masih hidup sama kabur! Yang tepat, bawalah pulang pasukan ini, agar kita semuanya selamat!.”
Harbis menggertak, “Saya takkan menghentikan memerangi mereka! Apapun yang akan terjadi! Saya tahu ‘pasukan mereka yang banyak’ bersama Khalid, di kota Homs. Sedangkan yang ini akan digiring oleh Al-Masih ‘agar menjadi jarahan kita!’.”
Seorang bathriq berpaling, dan pergi meninggalkan tempat, sambil berkata, “Saya terus terang akan pulang! Saya tidak sanggup melawan kaum Arab,” lalu melarikan kudanya.
Sejumlah kaum berjumlah banyak, juga pulang menuju Balbek, mengikuti sang bathriq.   





In syaa Allah bersambung.





[1] Dalam naskah aslinya dijelaskan: وقد أتيتك بالقلنسوة المباركة التي تنصر بها على أعدائك فخذها إليك فوالله ما نسيتها إلا لهذا الأمر المقدر.
[2] Baca: (Wa syaawirhum fil amri fa idzaa azamta fatawakkal alallaah). Artinya: Ajaklah mereka bermusyawarah! Jika kau telah memastikan perkara maka ber-tawakkal (berserah)lah, pada Allah.  



Ponpes Kutubussittah Mulya Abadi Mulungan Sleman Jogjakarta Indonesia

2015/03/25

PS 91: Pembebasan Syam







Abdur Rohman menjawab, “Kok kamu bilang begitu? ‘Melewati’ batas bukan sifat kami.”
Jabalah berkata, “Karena kau telah membunuh orang-orang kami. Saya kemari bukan untuk melawanmu, karena kau bukan lawan yang seimbang. Saya kemari karena temanmu itu telah membantu kau! Berarti kau tidak kesatria, perkelahian ini tidak adil.”
Abdur Rohman tersenyum dan berkata, “Hai anak Aiham! Kau akan menipu saya ‘murid Imam Ali RA’. Saya telah mendampingi dia dalam sejumlah acara penting, dan peperangan.”
Jabalah berkata, “Yang saya ucapkan benar, bukan menipu.”
Abdur Rohman berkata, “Kalau kau benar, sekarang mari berkelahi! Seranganmu akan saya lawan.”

Jabalah kehabisan akal, karena Abdur Rohman tidak mudah ditipu. Dia merayu, “Maukah kau kuangkat sebagai tokoh besar kami dengan cara, kau saya masukkan ke dalam air Amudiyah (المعمودية)?. [1] Agar suci dari dosa seperti ketika kau lahir dari perut ibumu? Kau akan kami jadikan pasukan Salib dan Injil, agar bisa makan kurban dan  menjadi orang dekat Raja Hiraqla. Selanjutnya kau akan saya nikahkan dengan anak perempuanku, untuk bergabung menikmati hudup bersamaku. Kau akan kujadikan orang terhormat dengan kekuasaanku. Sayalah orang masyhur, yang pernah disebut oleh penyair nabimu, dalam untaian syairnya.” [2]

Jabalah melantunkan syair karya Chasan bin Tsabit, dengan suara memukau. Lalu berkata, “Bergegaslah kemari untuk menerima tawaran saya, agar kau tidak tewas. Selanjutnya hidup berbahagia.”
Abdur Rohman berkata, “Laa Ilaaha illaa Allahu wahdahu laa syariika lah (لا إله إلا الله وحده لا شريك له)! Hai anak orang tercela! Masyak kamu mengajak saya meninggalkan Hidayah, menuju ‘kesesatan?’ Dari iman menuju ‘kekafiran dan kebodohan?’ Saya sudah mantap memeluk keimananku, dan bisa membedakan kebenaran dan kekeliruan. Saya membenarkan Nabi Allah, dan membenci orang yang mengkufuri Allah! Ayolah kalau mau berkelahi, tak perlu merayu segala! Seranglah kalau ingin menyerang! Kau akan kupukul dengan pedang, penghantar ke alam baka, dan penutup hidungmu! Agar orang-orang Arab tak memuji-muji kau sebagai orang yang mengkufuri Rohman penyembah Sulban (صُلْبَانٌ).” [3]

Jabalah marah dan bergerak cepat, mengayunkan tombak ke arah Abdur Rohman yang segera menghindar dan mematahkan tombak Jabalah dengan pedang. Jabalah membuang sisa tombak dan mengunus pedang kebanggaan yang putih berkilau itu, buatan kaum Kindah. Yang sudah-sudah, pedang itu mampu memutuskan apa saja ‘yang dianggap sangat keras’.

Abdur Rohman menyerang dengan sengit, membuat orang-orang takjub, oleh jurus-jurus mautnya, membuat Jabalah kewalahan mengimbangi. Jabalah menyerang hingga pedangnya berbunyi, “Tang!,” karena berbenturan dengan pedang Abdur Rohman. Perisai Jabalah robek oleh tebasan pedang Abdur Rohman. [4] Pedang Abdur Rohman menebas, “Tang” Hingga helm perang Jabalah pecah. Namun berhasil melukai Jabalah.
Jabalah mengayunkan pedang sekuat tenaga. Abdur Rohman menghindar, namun rajut-besi pelindung leher dan pakaiannya terkoyak. Tebasan pedang selanjutnya mengoyak, hingga lengan Abdur Rohman berdarah.

Abdur Rohman memacu kuda menuju Khalid.
Dengan geram, Khalid bertanya, “Kau telah terluka olehnya?!.”
Abdur Rohman menjawab, “Betul,” sambil menunjukkan lukanya yang serius.
Kaum Muslimiin menurunkan Abdur Rohman dari kuda dan mengobati lukanya. Khalid berkata, “Hai putra Asshiddiiq! Jika Jabalah telah melukai kau! Demi kebenaran bai’at pada ayahmu! [5] Mereka akan saya buat sedih ‘dengan tawananku’, sebagaimana mereka telah membuat saya sedih, karena lukamu.”
Khalid berteriak, “Hamam! Bawa kemari tawananku!.”
Oleh Hamam, Bathriq Luqa dihadapkan pada Khalid, dalam keadaan gemetar. Pedang Khalid bergerak cepat menebas leher Bathriq Luqa. Semua orang terperanjat, menyaksikan darah menyembur dan kepala lepas dari tubuh Luqa. Jantung kaum Romawi seakan berhenti, mata mereka terbelalak.

Raja Jabalah marah, “Kalian curang! Telah membunuh sahabat kami” Lalu berteriak, “Hai semuanya serang mereka ini!.”

Kini, lautan pasukan lawan bersenjata tajam yang mengepung kaum Muslimiin, bergerak mendekat. Sebagian lagi telah menyerang.

Pada Hamam, Khalid perintah, “Tugasmu melindungi Abdur Rohman.” Pada yang lain, Khalid perintah, “Jangan keluar dari lingkaran ini! Pertolongan Allah akan datang segera!.”
Lingkaran sahabat nabi SAW dikepung dan diserbu dari segala penjuru oleh mereka yang menyemut. Ternyata mereka bisa mengimbangi serangan pasukan yang melaut, dalam waktu cukup lama.
Saat paling mendebarkan, ketika Khalid telah mengamuk dengan pedangnya. Banyak musuh yang tewas bersimbah darah. Yang masih hidup lari menjauh.

Kaum Muslimiin terkuras tenaga mereka, keringat mereka bercucuran dan merasa kehausan. Pada Khalid, Rafi’ bin Umairah berkata, “Kita terlanda qodrat.”
Khalid menjawab, “Ya putra Umairah! Ini termasuk karena saya lupa membawa peci yang barokah.” [6]

Di satu sisi, kaum Muslimiin sudah terlalu capek dan haus. Namun kaum Romawi yang tewas bermandi darah, sangat banyak sekali.

Ada suara yang tak diketahui berasal dari mana: “Tenang hai pembawa Al-Qur’an! Pertolongan dari Rohman telah datang untuk kalian! Kalian ditolong mengalahkan penyembah berhala! Kalian telah mengalami kesusahan dan telah berjuang maksimal!.”

Saat itu, Abu Ubaidah dan pasukannya, yang ada di dalamnya ‘Ischaq bin Abdillah’, berada di wilayah Syairazah. Malam itu mereka terkejut, karena Abu Ubaidah keluar dari tenda, sambil berkata, “Hai Muslimiin semuanya! Ayo segera berangkat! Kaum bertauhid sedang dikepung musuh.”

Mereka bergegas berkumpul di hadapan Abu Ubaidah. Sebagian mereka berkata, “Wahai pimpinan! Ada apa?.”
Dengan gugup, Abu Ubaidah berkata, “Dalam tidurku barusan, saya bermimpi melihat Rasulallah SAW datang dan menarik saya, sambil bersabda ‘hai putra Al-Jarrach! Kenapa kau justru tidur? Tidak membantu kaum yang mulia? Bediri dan susullah Khalid bin Al-Walid yang sedang dikepung oleh lawan menjijjikkan! In syaa Allah Rabbul aalamiin masih ada kesempatan menyusul kesana!’.”

Mereka bergegas mengenakan baju dan helm perang berajut besi pelindung leher. Mereka  memacu kuda dengan cepat, menuju regu Khalid yang telah lelah. Yang telah berlari cepat sekali mengendarai kuda, mendahului lainnya, adalah istri Khalid.

Abu Ubaidah berlari di depan pasukan, menyaksikan seorang jauh di depannya, memacu kuda dengan kecepatan maksimal. Abu Ubaidah perintah agar sejumlah pria mengejar dan menangkap dia, yang mencurigakan.
Orang-orang tak mampu menangkap, karena lari kudanya cepat sekali. Abu Ubaidah heran hingga menyangka ‘dia malaikat’ yang diutus oleh Allah, agar berlari di depan pasukan. Abu Ubaidah mengejar dan berteriak, “Hai pengendara kuda yang gagah! Pelan-pelan! Semoga Allah merahmati kau!.”

Dia berhenti, Abu Ubaidah terkejut. Setelah diamati, ternyata dia Umu Taim, istri Khalid.
Abu Ubaidah bertanya, “Kenapa kau memacu kudamu cepat sekali mendahului kami?.”
Umu Taim berkata, “Wahai pimpinan! Saat saya tadi mendengar teriakan kau ‘Khalid dikepung’, saya berkata ‘sampai kapanpun Khalid takkan terkalahkan, karena membawa jambul Al-Mushthafa di pecinya’. [7] Tiba-tiba saya melihat peci Khalid yang dibarokahi itu ‘ketinggalan’. Dia lupa tidak mengenakan. Saya segera mengambil peci itu dan berlari kencang dengan kuda untuk mengantarkan pada Khalid.”   
Abu Ubaidah perintah, “Pergilah secepatnya untuk mengantarkan! Semoga mendapat Barokah dan Pertolongan Allah.”





In syaa Allah bersambung.



[1] Air Amudiyah ialah air suci, bagi kaum Nashrani. Ketika Wardan panglima perang utusan Hiraqla, akan menyerang Khalid, juga masuk pada air Amudiyah. 
[2] Penyair nabi SAW bernama Chasan bin Tsabit. Dia sering ditugaskan ‘membuat syair’ untuk membalas fitnah dan tuduhan dari kaum kafir. Terkadang disuruh ‘menantang musuh’ melalui sayir.
[3] Sulban bentuk jamak dari ‘Salib’.
[4] Perisai dia yang disebut Addarok (الدَّرَقُ), dari kulit yang diolah hingga mengeras.
[5] Mungkin Khalid tidak tahu bahwa, bersumpah dengan selain Nama Allah ‘terlarang’.
[6] Naskah aslinya dalam kitab Futuchtus-Syam, “لاني نسيت القلنسوة المباركة ولم اصحبها معي.”
Ada yang meriwayatkan: Orang yang mengenakan peci Khalid yang disisipi jambul nabi SAW, tidak akan merasa haus, dan jika menyerang pasti menang. Menganggap rambut nabi barokah tidak syirik.
[7] Al-Mushthafa artinya orang pilihan, maksudnya Nabi Muhammad SAW.  



Ponpes Kutubussittah Mulya Abadi Mulungan Sleman Yogyakarta Indonesia