SELAMAT DATANG DI BLOG PONDOK PESANTREN MULYA ABADI, JL. MAGELANG KM 8.5 SLEMAN YOGYAKARTA, SEMOGA BLOG INI BISA MENJADI SILATURAHMI KITA UNTUK SALING BERBAGI

Doa Meluluhkan Hati Seseorang

Ya Allah sungguh Engkau Maha Mulia Maha Besar. Sedangkan saya HambaMu yang sangat hina dina. Tiada upaya dan kekuatan kecuali karena Kau. Ya Allah, tundukkanlah

Doa Agar di Beri kerjaan Bisnis

Ya Allah, Raja segala Kerajaan, Tuhan memberikan Kerajaan pada yang Tuhan kehendaki, melepas Kerajaan dari yang Tuhan kehendaki, menjayakan orang yang Tuhan kehendaki, dan merendahkan orang yang Tuhan kehendaki

Sapaan Nabi Membuat Khowat Sungkan

Rasulullah SAW keluar dari tenda dan bersabda pada saya ‘hai Ayah Abdillah, apa yang mendorong kau duduk bersama mereka ?’

Hibah Menurut Bukhori

Hibah Menurut Bukhari Ibrahim Annakhai tergolong Tabiin yang sangar alim. Beliau murid Ibrhaim Attaimi, murid Amer bin Maimun, murid Abu Abdillah Al-Jadali, murid Khuzaimah sahabat Nabi SAW.

Masuk Surga Paling Awal

Rasulullah SAW bersabda, “Jibril AS telah datang untuk memegang tanganku untuk menunjukkan saya Pintu Gerbang Surga, yang akan dimasuki oleh umatku.”

2014/12/19

T 2: Tokoh-Tokoh setelah Musa AS



Kajian Bersambung

{وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ اللَّهَ قَدْ بَعَثَ لَكُمْ طَالُوتَ مَلِكًا قَالُوا أَنَّى يَكُونُ لَهُ الْمُلْكُ عَلَيْنَا وَنَحْنُ أَحَقُّ بِالْمُلْكِ مِنْهُ وَلَمْ يُؤْتَ سَعَةً مِنَ الْمَالِ قَالَ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَاهُ عَلَيْكُمْ وَزَادَهُ بَسْطَةً فِي الْعِلْمِ وَالْجِسْمِ وَاللَّهُ يُؤْتِي مُلْكَهُ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ () وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ آيَةَ مُلْكِهِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ التَّابُوتُ فِيهِ سَكِينَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَبَقِيَّةٌ مِمَّا تَرَكَ آلُ مُوسَى وَآلُ هَارُونَ تَحْمِلُهُ الْمَلَائِكَةُ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَةً لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ () } [البقرة: 247، 248].

Artinya:
Nabi mereka AS berkata, “Sungguh Allah telah mengutus Thalut sebagai raja untuk kalian.”
Mereka berkata, “Bagaimana  mungkin kerajaan atas kami, dikuasai oleh dia? Padahal kami lebih berhak bertahta, daripada dia? Lagian dia tidak memiliki keluasan harta?.”
Nabi AS bersabda, “Sungguh Allah telah memilih dia atas kalian. Dan telah menambahi dia, keluasan dalam ilmu dan raga. Lagian, Allah sedang (dan akan) memberikan KerajaanNya, pada orang yang Dia kehendaki. Allah Maha Luas Maha Alim. (247).

Pada mereka, nabi mereka AS bersabda, “Sungguh tanda ‘dia jadi raja’, kalian akan kedatangan peti yang di dalamnya ada ketenangan dan sisa peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun AS, dari Tuhan kalian. Dibawa oleh para malaikat. Sungguh mengenai kenyataan itu nanti, merupakan mukjizat untuk kalian. Jika kalian kaum Mukminin.” (248).

Ibnu Juraij menyampaikan ucapan Ibnu Abbas RA, “Peti dibawa untuk didatangkan oleh sejumlah malaikat. Asalnya kelihatan di antara langit dan bumi, akhirnya dibawa turun dan diletakkan di depan Thalut. Disaksikan oleh kaum.”
Assuddi berkata, “Tiba-tiba di pagi itu, ada peti di rumah Thalut. Maka mereka beriman pada Nubuwat (Ramalan) Nabi Syamwil AS, dan mentaati Thalut.” [1]



[1] تفسير ابن كثير (1/ 667)
قَالَ ابْنُ جُرَيْجٍ: قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: جَاءَتِ الْمَلَائِكَةُ تَحْمِلُ التَّابُوتَ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ حَتَّى وَضَعَتْهُ بَيْنَ يَدَيْ طَالُوتَ، وَالنَّاسُ يَنْظُرُونَ.
وَقَالَ السُّدِّيُّ: أَصْبَحَ التَّابُوتُ فِي دَارِ طَالُوتَ فَآمَنُوا بِنُبُوَّةِ شَمْعُونَ وَأَطَاعُوا طَالُوتَ.

2014/12/18

Kallaa Bal Roona




Arti roona, kotor atau ‘mengotori?’
Ya jelas ‘telah mengotori’
Karena itu fiil madhi
Kata kerja lampau disebut fiil madhi

Dasar Haditnya:
سنن الترمذي (5/ 434)
3334 - حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ قَالَ: حَدَّثَنَا اللَّيْثُ، عَنْ ابْنِ عَجْلَانَ، عَنْ القَعْقَاعِ بْنِ حَكِيمٍ، عَنْ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «إِنَّ العَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ، وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ، وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ» {كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ} [المطففين: 14] . «هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ»
__________

[حكم الألباني] : حسن

Mengikuti KehendakNya




Semua berubah mengikuti KehendakNya
Allah yang mengatur semuanya
Ada yang dijadikan menakjubkan
Ada yang dijadikan mengejutkan
Bahkan ada yang dijadiakan
Penyebab kematian
Tentang itu, Allah berfirman:
Lillahil amru min qoblu wamin bakdu
Segala perkara yang terjadi mulai dari sejak itu
Dan yang setelah itu
Terserah Allah kama roaitu

Rujukan: {لِلَّهِ الْأَمْرُ مِنْ قَبْلُ وَمِنْ بَعْدُ} [الروم: 4].

2014/12/11

Malu di Depan Umum



Dalam kehidupan sehari-hari, nabi SAW juga pernah melakukan perbuatan yang membuat malu. Di antaranya ketika nabi SAW menyalahkan Qatadah bin Numan yang sebetulnya benar dalam laporannya, dan ketika beliau SAW membela keluarga Ubairiq pengkhianat jahat. Saat itu nabi SAW sangatmalu, karena Allah menegur dan menyuruh istighfar padanya SAW ataskesalahannya, melaui beberapa ِِِAyat yang turun beruntun :

{ إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِتَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ بِمَا أَرَاكَ اللَّهُ وَلَا تَكُنْ لِلْخَائِنِينَ خَصِيمًا} [النساء: 105]


Artinya:
Sungguh Kami telah menurunkan Kitab dengan hak atas kau, agar kau menerapkan hukum dengan dasar Pandangan yang telah Allah berikan padamu. Namun jangan membela para pengkhianat! Istighfarlah pada Allah ! Sungguh Allah Maha Ampun Maha Sayang. Dan jangan membela kaum yang mengkhianati diri! Sungguh Allah tidak senang pengkhianat yang banyak dosa.

Baginda SAW juga pernah sangat malu hingga mengilak semua istrinya selama sebulan. [1] Hingga para sahabat RA banyak yang menangis di dalam Masjid Nabawi. Hingga Umar RA membela nabi SAW dan marah-marah pada putrinya bernama Chafshah. Yang pasti tentang peristiwa itu, Nasai meriwayatkan dalam Haditsnya, “Saat itu Masjid Nabawi ‘malaanun minannas (مَلْآنٌ مِنْ النَّاسِ)’, (artinya ‘penuh hingga jamaah berjejal-jejal)’.”

Mereka mengecek 'kepastian berita nabi  SAW mentalak istri-istrinya ?' Penyebab lainnya karena mereka takut Allah murka, karena murka RasulNya SAW pada istri-istrinya yang keluarga atau anak perempuan mereka.

Abu Bakr juga pernah malu karena marah-marah pada Misthach yang telah melakukan kesalahan besar, yaitu terpengaruh Abdullah bin Ubai yang memfitnah Aisyah, putrinya RA. Abu Bakr bersumpah, “Demi Allah ! Saya takkan memberi nafkah lagi, pada Misthach, untuk selamanya.”

Beliau terkejut dan malu, ketika Allah menegur :

ولَا يَأْتَلِ أُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ أَنْ يُؤْتُوا أُولِي الْقُرْبَى وَالْمَسَاكِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ  [النور/22].


Artinya:
“Kaum dari kalian, yang memiliki keutamaan dan keluasan, jangan mengilak! (Dengan cara) tidak memberi nafkah para kerabat, kaum miskin, dan para Muhajiriin! Hendaklah memaafkan dan berbuat baik! Bukankah kalian senang jika Allah mengampuni pada kalian? Allah Maha Pengampun Maha Penyayang.”

Umar juga pernah malu karena telah lepas kontrol ketika berbicara pada orang banyak. Ini terjadi pada saat umat Islam surprise karena mendapatkan kemenangan akbar. Saat itu, kaum Muslimiin berjumlah banyak sekali mengalir menuju Madinah, untuk mendengarkan langsung Pembacaan Surat Khalid dari Syam, yang menjelaskan Kemenangan Akbar. Pembacaan surat didengar Jamaah sangat banyak. Dari Makkah, Chijaz, dan Yaman.
Mereka ingin lebih yakin bahwa Allah benar-benar memberi Kemenangan Akbar pada kaum Muslimiin. Dan memberi Rampasan Perang dalam jumlah banyak sekali.

Hari-hari selanjutnya kaum Muslimiin ingin bergabung berjihad, dan ingin bergabung berperang ke Syam. Rasanya ingin sekali mendapat kemenangan dan pahala seperti mereka.
Penduduk Makkah yang berdatangan ke Madinah semakin banyak bagaikan sungai. Bahkan tokoh-tokoh besar mereka tak ketinggalan. Berkendaraan kuda, membawa panah dan peralatan perang lainnya. Di rombongan paling depan, tokoh besar bernama Abu Sufyan, dan Ghidaq bin Wa’il.

Di Madinah, mereka menemui Abu Bakr RA, agar diberi idzin bergabung perang ke kota Syam. Namun Umar RA tidak memberi idzin pada mereka. 
Pada Abu Bakr, Umar RA berkata, “Orang-orang yang belum bisa mengatasi dendam-kesumat, jangan baginda beri idzin! Segala puji bagi Allah yang Kalimat (Ajaran)-Nya sangat tinggi! Sedangkan kalimat (faham) yang dianut oleh kaum Musyrikiin ‘sangat rendah’. Mereka ingin memadamkan Nur Allah dengan mulut mereka. Namun Allah bertekat menyempurnakan Nur-Nya. Oleh karena itu kita yakin tiada Penakluk selain Allah ! Ketika Allah telah menjayakan agama kita dan memperkuat syari’at kita; mereka masuk Islam karena takut pedang! Setelah mendengar berita Pasukan Allah menaklukkan kaum Romawi yang dianggap dahsyat, mereka datang pada kita untuk minta diperintah memerangi musuh, agar mendapatkan bagian yang sama dengan para pendahulu mereka! Yang benar kita tidak boleh menempatkan mereka ini, di dekat mereka.”
Abu Bakr menjawab, “Saya takkan menyelisihi maupun menentang kemauanmu.”

Dalam waktu cepat, ucapan Umar RA sampai ke penduduk Makkah. Mereka merasa tersinggung sehingga harus datang ke Madinah bebodong-bondong banyak sekali. Tujuan mereka akan menemui Abu Bakr RA yang sedang di dalam Masjid, dikerumuni jamaah Muslimiin. Di dalam Masjid yang dipenuhi Muslimiin itu suaranya sangat riuh. Pembicaraan mereka berkisar mengenai Kemenangan Akbar untuk Muslimiin. Umar mendampingi di sebelah kiri Abu Bakr; Ali di sebelah kanannya.

Rombongan tamu itu mendekati Abu Bakr. Setelah salam dijawab, mereka duduk di hadapan Abu Bakr RA. Mereka berembuk sejenak mengenai siapa yang akan mewakili mereka berbicara. Ternyata Abu Sufyan yang mengawali mereka berbicara.
Pembicaraan dialamatkan pada Umar, “Hai Umar! Di zaman Jahiliyyah dulu kau kami benci! Setelah Allah memberi Hidayah ! Kami menghapus kebencian kami padamu! Karena Iman memberantas syirik! Namun kenapa kau kini membuat kami marah!? Sebetulnya apa yang mendorong kau memusuhi dan menyingkirkan kami ini, hai Putra Khotthob?! Apa kau belum mencuci dendam dalam hatimu?! Kami semua menyadari bahwa kau lebih utama dan lebih duluan beriman dan berjihad! Kami juga tahu kedudukanmu yang sangat tinggi!.”

Umar RA diam tidak menjawab, karena malu, dimarahi oleh Abu Sufyan, di hadapan orang banyak sekali.   

Tekat mereka yang melaut itu telah bulat, ingin bergabung berjuang ke negeri Syam. Suara Abu Sufyan “Sungguh saya mempersaksikan pada kalian bahwa, saya bertekat berjihad di Jalan Allah!” menarik perhatian Majlis. 
Tak lama kemudian sejumlah tokoh Makkah juga menyatakan, “Saya juga begitu!” Menggemuruh.

Suara Abu Bakr RA “Ya Allah! Sampaikan mereka pada yang mereka inginkan yang lebih utama. Dan berilah pahala yang mereka amalkan dengan baik. Berilah mereka ini kemampuan menaklukkan lawan. Musuh, jangan kau beri kesempatan menaklukkan mereka. Sungguh Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu" sangat berwibawa namun sejuk.
Banyak mata hadirin yang berkaca-kaca, karena bagi mereka, doa yang diucapkan oleh Abu Bakr terasa sejuk bagai air sorgawi.


Ponpes Mulya Abadi Mulungan

 اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ وابي بكر وعمر، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى  آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ



[1] Mengilak adalah merenggangkan cinta-kasih. Sumpah ilak artinya sumpah untuk merenggankan cinta-kasih.

2014/12/10

T 1: Tokoh-Tokoh setelah Musa AS




Kajian Bersambung

{أَلَمْ تَرَ إِلَى الْمَلَإِ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ مِنْ بَعْدِ مُوسَى إِذْ قَالُوا لِنَبِيٍّ لَهُمُ ابْعَثْ لَنَا مَلِكًا نُقَاتِلْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ هَلْ عَسَيْتُمْ إِنْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ أَلَّا تُقَاتِلُوا قَالُوا وَمَا لَنَا أَلَّا نُقَاتِلَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَقَدْ أُخْرِجْنَا مِنْ دِيَارِنَا وَأَبْنَائِنَا فَلَمَّا كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقِتَالُ تَوَلَّوْا إِلَّا قَلِيلًا مِنْهُمْ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِالظَّالِمِينَ } [البقرة: 246].

Artinya:
Apa kau tidak memperhatikan pada tokoh-tokoh dari Bani Israil, setelah Musa AS? Ketika itu mereka berkata pada nabi mereka AS, “Angkatlah raja untuk kami. Kami akan berperang di Jalan Allah.”
Dia menjawab, “Bukankah jika peperangan telah diwajibkan atas kalian, kalian ingin ‘tidak ikut perang?’.”
Mereka menjawab, “Bagaimana mungkin kami nanti, tidak berperang di Jalan Allah? Padahal kami benar-benar telah diusir dari kampung-kampung dan anak-anak kami?.”
Maka ketika ‘Perang’ telah diwajibkan atas mereka, mereka berpaling, kecuali sangat sedikit dari mereka. Namun Allah Maha Alim mengenai kaum aniaya (lalim). (246).

Al-Qurthubi menjelaskan yang artinya:
Ketika itu mereka berkata pada nabi mereka AS, “Angkatlah raja untuk kami.”
Ada yang berkilah, “Dia Nabi Syamwil bin Bal bin Alqomah AS, yang sering disebut ‘Putra Wanita Tua’.”
Tentang itu, ada lagi yang berkilah, “Nabi Syamun AS.”
Assuddi berkata, “Sungguh dia dipanggil ‘Putra Wanita Tua’ karena ibunya tua renta. Namun berdoa agar Allah memberi putra, padahal jelas mandul. Allah memberi anugrah ‘putra’ padanya.”
Ada yang berkilah, “Dia bernama Nabi Syamun AS. Karena ibunya pernah berdoa agar Allah memberi putra. Setelah lahir, diberi nama Samun, yang artinya ‘Allah telah mendengarkan doa saya’. Huruf ‘sin’ Arab, dalam bahasa Ibrani ‘syin’. Beliau cucu Nabi Yaqub AS.”
Muqotil berkata, “Dia termasuk cucu Nabi Harun AS.”

Qotadah berkata, “Dia Nabi Yusyak bin Nun AS.”
Ibnu Athiyah berkata, “Namun beberapa penjelasan di atas dhoif, karena jarak waktu mulai Musa hingga Dawud AS, beberapa abad. Sedangkan Yusyak adalah pelayan Musa AS.”
Al-Muhasibi menjelaskan, “Nama dia Nabi Ismail AS.” Namun Allah lebih tahu. [1]



[1] تفسير القرطبي (3/ 243)
(إِذْ قالُوا لِنَبِيٍّ لَهُمُ ابْعَثْ لَنا مَلِكاً) قِيلَ: هُوَ شَمْوِيلُ بْنُ بَالَ بْنِ عَلْقَمَةَ وَيُعْرَفُ بابن العجوز. ويقال فيه: شمعون، قال السدى: وإنما قيل: ابن والعجوز لِأَنَّ أُمَّهُ كَانَتْ عَجُوزًا فَسَأَلَتِ اللَّهَ الْوَلَدَ وَقَدْ كَبِرَتْ وَعَقِمَتْ فَوَهَبَهُ اللَّهُ تَعَالَى لَهَا. وَيُقَالُ لَهُ: سَمْعُونُ لِأَنَّهَا دَعَتِ اللَّهَ أَنْ يَرْزُقَهَا الْوَلَدَ فَسَمِعَ دُعَاءَهَا فَوَلَدَتْ غُلَامًا فَسَمَّتْهُ" سَمْعُونَ"، تَقُولُ: سَمِعَ اللَّهُ دُعَائِي، وَالسِّينُ تَصِيرُ شِينًا بِلُغَةِ الْعِبْرَانِيَّةِ، وَهُوَ مِنْ وَلَدِ يَعْقُوبَ. وَقَالَ مُقَاتِلٌ: هُوَ مِنْ نَسْلِ هَارُونَ عَلَيْهِ السَّلَامُ. وَقَالَ قَتَادَةُ: هُوَ يُوشَعُ بْنُ نُونَ. قَالَ ابْنُ عَطِيَّةَ: وَهَذَا ضَعِيفٌ لِأَنَّ مُدَّةَ دَاوُدَ هِيَ مِنْ بَعْدِ مُوسَى بِقُرُونٍ مِنَ النَّاسِ، وَيُوشَعُ هُوَ فَتَى مُوسَى. وَذَكَرَ الْمُحَاسِبِيُّ أَنَّ اسْمَهُ إِسْمَاعِيلُ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.