SELAMAT DATANG DI BLOG PONDOK PESANTREN MULYA ABADI, JL. MAGELANG KM 8.5 SLEMAN YOGYAKARTA, SEMOGA BLOG INI BISA MENJADI SILATURAHMI KITA UNTUK SALING BERBAGI

Doa Meluluhkan Hati Seseorang

Ya Allah sungguh Engkau Maha Mulia Maha Besar. Sedangkan saya HambaMu yang sangat hina dina. Tiada upaya dan kekuatan kecuali karena Kau. Ya Allah, tundukkanlah

Doa Agar di Beri kerjaan Bisnis

Ya Allah, Raja segala Kerajaan, Tuhan memberikan Kerajaan pada yang Tuhan kehendaki, melepas Kerajaan dari yang Tuhan kehendaki, menjayakan orang yang Tuhan kehendaki, dan merendahkan orang yang Tuhan kehendaki

Sapaan Nabi Membuat Khowat Sungkan

Rasulullah SAW keluar dari tenda dan bersabda pada saya ‘hai Ayah Abdillah, apa yang mendorong kau duduk bersama mereka ?’

Hibah Menurut Bukhori

Hibah Menurut Bukhari Ibrahim Annakhai tergolong Tabiin yang sangar alim. Beliau murid Ibrhaim Attaimi, murid Amer bin Maimun, murid Abu Abdillah Al-Jadali, murid Khuzaimah sahabat Nabi SAW.

Masuk Surga Paling Awal

Rasulullah SAW bersabda, “Jibril AS telah datang untuk memegang tanganku untuk menunjukkan saya Pintu Gerbang Surga, yang akan dimasuki oleh umatku.”

2013/09/24

Nabi Chandlolah AS




Kisah Nabi Chanzholah AS dijelaskan oleh Ibnu Katsir, di dalam kitabnya bernama Al-Bidayah wa Annihayah. Ini potongan kisahnya: البداية والنهاية (2/ 7)
وَقَدْ ذَكَرَ أَبُو بَكْرٍ مُحَمَّدُ بْنُ الْحَسَنِ النَّقَّاشُ، أَنَّ أَصْحَابَ الرَّسِّ كَانَتْ لَهُمْ بِئْرٌ تَرْوِيهِمْ، وَتَكْفِي أَرْضَهُمْ جَمِيعَهَا، وَكَانَ لَهُمْ مَلَكٌ عَادِلٌ حَسَنُ السِّيرَةِ، فَلَمَّا مَاتَ وَجَدُوا عَلَيْهِ وَجْدًا عَظِيمًا، فَلَمَّا كَانَ بَعْدَ أَيَّامٍ تَصَوَّرَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ فِي صُورَتِهِ، وَقَالَ: إِنِّي لَمْ أَمُتْ، وَلَكِنْ تَغَيَّبْتُ عَنْكُمْ حَتَّى أَرَى صَنِيعَكُمْ. فَفَرِحُوا أَشَدَّ الْفَرَحِ، وَأَمَرَ بِضَرْبِ حِجَابٍ بَيْنَهُمْ وَبَيْنَهُ، وَأَخْبَرَهُمْ أَنَّهُ لَا يَمُوتُ أَبَدًا، فَصَدَّقَ بِهِ أَكْثَرُهُمْ، وَافْتَتَنُوا بِهِ، وَعَبَدُوهُ، فَبَعَثَ اللَّهُ فِيهِمْ نَبِيًّا، وَأَخْبَرَهُمْ أَنَّ هَذَا شَيْطَانٌ يُخَاطِبُهُمْ مِنْ وَرَاءِ الْحِجَابِ، وَنَهَاهُمْ عَنْ عِبَادَتِهِ، وَأَمَرَهُمْ بِعِبَادَةِ اللَّهِ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ. قَالَ السُّهَيْلِيُّ: وَكَانَ يُوحَى إِلَيْهِ فِي النَّوْمِ، وَكَانَ اسْمُهُ حَنْظَلَةَ بْنَ صَفْوَانَ، فَعَدَوْا عَلَيْهِ فَقَتَلُوهُ، وَأَلْقَوْهُ فِي الْبِئْرِ، فَغَارَ مَاؤُهَا، وَعَطِشُوا بَعْدَ رَيِّهِمْ وَيَبِسَتْ أَشْجَارُهُمْ، وَانْقَطَعَتْ ثِمَارُهُمْ، وَخَرِبَتْ دِيَارُهُمْ، وَتَبَدَّلُوا بَعْدَ الْأُنْسِ بِالْوَحْشَةِ، وَبَعْدَ الِاجْتِمَاعِ بِالْفُرْقَةِ، وَهَلَكُوا عَنْ آخِرِهِمْ، وَسَكَنَ فِي مَسَاكِنِهِمُ الْجِنُّ وَالْوُحُوشُ، فَلَا يُسْمَعُ بِبِقَاعِهِمْ إِلَّا عَزِيفُ الْجِنِّ، وَزَئِيرُ الْأُسْدِ، وَصَوْتُ الضِّبَاعِ.

Artinya:
Sungguh Abu Bakr Muhammad bin Al-Chasan Annaqasy telah menjelaskan, “Sungguh kaum Ross memiliki sumur berair melimpah untuk mereka. Air sumur tersebut mencukupi kebutuhan mereka, yang dipimpin oleh raja adil yang baik-hati.

Setelah raja meninggal; mereka sangat bersedih. 
Selang beberapa hari setelah itu; syaitan menjelma raja mereka. Dia berkata ‘sungguh saya belum wafat. Saya hanya moksa, untuk mengamati kelakuan kalian’. 
Maka mereka sangat berbahagia.
Syaitan yang telah menjelma raja, perintah agar mereka memasang sitir penghalang, antara dia dan mereka. Dia menjelaskan ‘dia takkan wafat selamanya’.
Ternyata kebanyakan mereka percaya pada bisikan syaitan. Mereka mendapatkan fitnah dan menyembah syaitan tersebut.
Allah mengutus seorang nabi AS pada mereka. 
Nabi AS menjelaskan ‘ini syaitan yang berkhutbah dari belakang sitir’. 
Nabi AS melarang mereka menyembah syaitan, dan perintah agar menyembah Allah Esa yang tidak bersekutu.”
Assuhaili menjelaskan, “Ketika sedang tidur; dia diberi Wahyu (oleh Allah). Dialah yang bernama Nabi Chandlolah bin Shofwan AS. Namun mereka justru menyerang dan membunuh dia AS. Bahkan mereka memasukkan dia kedalam sumur.
Ternyata air sumur surut dan mengering.
Dulunya air mereka melimpah, akhirnya mengering hingga mereka kehausan. Bahkan pepohonan juga sama mengering. Tidak ada lagi buah-buahan untuk mereka. Bahkan rumah-rumah perkampungan mereka sama roboh. Setelah penghuninya sama meninggal, yang menghuni selanjutnya binatang liar. Masih ada beberapa orang yang hidup, tetapi sama tidak rukun. Akhirnya semuanya binasa dalam keadaan kelaparan dan kehausan.
(Setelah sama membusuk), penghuni kampung halaman mereka selanjutnya jin-jin dan binatang buas. Yang bisa didengar di sana, hanya geraman jin; raungan singa jantan dan haina.”

2013/09/23

Tidur Empatbelas Tahun




Budak hitam umat Nabi Chandlolah AS pernah tidur selama empatbelas tahun. Ibnu Katsir menjelaskan di dalam kitabnya bernama Al-Bidayah wa Annihayah: البداية والنهاية (1/ 228)
فَأَمَّا مَا رَوَاهُ أَعْنِي ابْنَ جَرِيرٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ حُمَيْدٍ عَنْ سَلَمَةَ عَنِ ابْنِ إِسْحَاقَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ كَعْبٍ الْقُرَظِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (إِنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْعَبْدُ الْأَسْوَدُ) وَذَلِكَ أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى بَعَثَ نَبِيًّا إِلَى أَهْلِ قَرْيَةٍ فَلَمْ يُؤْمِنْ بِهِ مِنْ أَهْلِهَا إِلَّا ذَلِكَ الْأَسْوَدُ. ثُمَّ إِنَّ أَهْلَ الْقَرْيَةِ عَدَوْا عَلَى النَّبِيِّ فَحَفَرُوا لَهُ بِئْرًا فَأَلْقَوْهُ فِيهَا ثُمَّ أَطْبَقُوا عَلَيْهِ بِحَجَرٍ أَصَمَّ قَالَ فَكَانَ ذَلِكَ الْعَبْدُ يَذْهَبُ فَيَحْتَطِبُ عَلَى ظَهْرِهِ ثُمَّ يَأْتِي بِحَطَبِهِ فَيَبِيعُهُ وَيَشْتَرِي بِهِ طَعَامًا وَشَرَابًا ثُمَّ يَأْتِي بِهِ إِلَى ذَلِكَ الْبِئْرِ فَيَرْفَعُ تِلْكَ الصَّخْرَةَ وَيُعِينُهُ اللَّهُ عَلَيْهَا وَيُدْلِي إِلَيْهِ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ ثُمَّ يَرُدُّهَا كَمَا كَانَتْ قَالَ فَكَانَ كَذَلِكَ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَكُونَ ثُمَّ إِنَّهُ ذَهَبَ يَوْمًا يَحْتَطِبُ كَمَا كَانَ يَصْنَعُ فَجَمَعَ حَطَبَهُ وَحَزَمَ حُزْمَتَهُ وَفَرَغَ مِنْهَا فَلَمَّا أَرَادَ أَنْ يَحْتَمِلَهَا وَجَدَ سِنَةً فَاضْطَجَعَ يَنَامُ فَضَرَبَ اللَّهُ عَلَى أُذُنِهِ سَبْعَ سِنِينَ نَائِمًا ثُمَّ إِنَّهُ هَبَّ فَتَمَطَّى وَتَحَوَّلَ لِشِقِّهِ الْآخَرِ فَاضْطَجَعَ فَضَرَبَ اللَّهُ عَلَى أُذُنِهِ سَبْعَ سِنِينَ أُخْرَى ثُمَّ إِنَّهُ هَبَّ وَاحْتَمَلَ حُزْمَتَهُ وَلَا يَحْسَبُ أَنَّهُ نَامَ إِلَّا سَاعَةً مِنْ نَهَارٍ فَجَاءَ إِلَى الْقَرْيَةِ فَبَاعَ حُزْمَتَهُ ثُمَّ اشْتَرَى طَعَامًا وَشَرَابًا كَمَا كَانَ يَصْنَعُ ثم إنه ذهب الى الحفرة الى موضوعها الَّذِي كَانَتْ فِيهِ فَالْتَمَسَهُ فَلَمْ يَجِدْهُ وَقَدْ كَانَ بَدَا لِقَوْمِهِ فِيهِ بَدَاءٌ فَاسْتَخْرَجُوهُ وَآمَنُوا بِهِ وَصَدَّقُوهُ قَالَ فَكَانَ نَبِيُّهُمْ يَسْأَلُهُمْ عَنْ ذَلِكَ الْأَسْوَدِ مَا فَعَلَ فَيَقُولُونَ لَهُ مَا نَدْرِي حَتَّى قَبَضَ اللَّهُ النَّبِيَّ عَلَيْهِ السَّلَامُ وَأَهَبَّ الْأَسْوَدُ مِنْ نَوْمِهِ بَعْدَ ذَلِكَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ ذَلِكَ الْأَسْوَدَ لَأَوَّلُ مَنْ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ. فَإِنَّهُ حَدِيثٌ مُرْسَلٌ وَمَثَلُهُ فِيهِ نَظَرٌ. وَلَعَلَّ بَسْطَ قصته من كلام محمد ابن كَعْبٍ الْقُرَظِيِّ وَاللَّهُ أَعْلَمُ.

Artinya:
Maka adapun yang diriwayatkan oleh dia, yakni Ibnu Jarir dari Muhammad bin Chumaid, dari Salamah dari Ibnu Ischaq, dari Muhammad bin Kaeb Al-Quradli, “Rasulullah SAW telah bersabda ‘sungguh awal orang yang masuk surga, di hari kiamat nanti; budak hitam. Karena sungguh Allah Taala telah mengutus seorang nabi AS pada suatu perkampungan. Namun penduduk kampung tidak beriman kecuali budak hitam tersebut’.
Sungguh lalu penghuni kampung menyerang nabi AS tersebut. Mereka menggali sumur untuk memasukkan nabi kedalamnya. Bahkan mereka menutup sumur dengan batu besar.
Si budak hitam pergi untuk mencari kayu-bakar yang dibawa dengan punggungnya. Kayu bakar dibawa untuk dijual. Dia membeli makanan dan minuman untuk diberikan pada (Nabi Chandlolah AS). Dia datang untuk mengangkat batu besar penutup sumur. Allah menolong sehingga dia mampu mengangkat batu, (dengan sendirian). Makanan dan minuman diturunkan untuk diberikan pada nabinya AS. Lalu batu dikembalikan, agar sumur tertutup seperti semula. Perbuatan demikian diulang-ulang dalam waktu maa syaa Allah.
Suatu hari dia pergi untuk mencari kayu bakar, sebagaimana biasanya. Dia telah mengumpulkan kayu, dan semua yang dibutuhkan telah dipersiapkan. Namun ketika akan mengangkat kayu, tiba-tiba dia diserang oleh rasa kantuk berlebihan. Dia merebahkan badan untuk tidur. Ternyata Allah membuat dia tertidur selama tujuh tahun.
Setelah terjaga, dia mengolet dan berpindah posisi. Namun Allah membuat dia tertidur lagi dalam waktu yang sama; tujuh tahun. Setelah terjaga, dia segera bangun untuk mengangkat kayunya. (Awalnya) dia menyangka hanya tidur sesaat dari waktu siang. Setelah pergi ke perkampungan untuk menjual kayu, dia segera membeli makanan dan minuman, sebagaimana kebiasaannya. Dia pergi ke galian sumur yang sudah biasa dikunjungi. Namun dia terkejut; karena nabi yang dicari (di dalamnya) sudah tidak ada.

Konon kaumnya telah berubah keyakinan. Mereka telah mengeluarkan dan mengimani pada nabi AS tersebut. Nabi bertanya tentang berita si budak; namun mereka berkata, ‘kami tidak tahu’. Allah mewafatkan nabi tersebut. Sementara si budak bangun, setelah nabi (yang dicari) wafat.
Rasulullah SAW bersabda ‘nisaya sungguh budak hitam tersebut awal orang yang masuk surga’.”

Hadits ini mursal, dan gambaran di dalamnya perlu dikaji lagi secara cermat. Barangkali penjelasan kisah ini berasal dari Muhammad bin Kaeb Al-Quradli. Allah lah yang lebih tahu.

2013/09/18

Kajian Surat Al-Baqarah 139 - 141



{قُلْ أَتُحَاجُّونَنَا فِي اللَّهِ وَهُوَ رَبُّنَا وَرَبُّكُمْ وَلَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُخْلِصُونَ () أَمْ تَقُولُونَ إِنَّ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطَ كَانُوا هُودًا أَوْ نَصَارَى قُلْ أَأَنْتُمْ أَعْلَمُ أَمِ اللَّهُ وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ كَتَمَ شَهَادَةً عِنْدَهُ مِنَ اللَّهِ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ () تِلْكَ أُمَّةٌ قَدْ خَلَتْ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَلَكُمْ مَا كَسَبْتُمْ وَلَا تُسْأَلُونَ عَمَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ () } [البقرة: 139 - 141].


Artinya :
Apakah kalian mengatakan, “Sungguh Ibrahim, Ismail, Ishaq, Yaqub, dan Asbath, mereka dulu kaum Yahudi atau Nashrani?” 
Katakan, “Masyak kalian lebih tahu atau Allah? Siapa yang lebih aniaya daripada orang yang menyembunyikan Persaksian dari Allah di sisinya? Lagian Allah tidak lupa mengenai yang kalian amalkan!.” [140]. [1]
Itu umat yang sungguh telah berlalu. Untuk mereka yang telah mereka lakukan; untuk kalian yang telah kalian lakukan. Kalian takkan ditanya tentang yang telah mereka amalkan. [141].

وَقَوْلُهُ: {وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ كَتَمَ شَهَادَةً عِنْدَهُ مِنَ اللَّهِ} قَالَ الْحَسَنُ الْبَصْرِيُّ: كَانُوا يَقْرَؤُونَ فِي كِتَابِ اللَّهِ الذِي أَتَاهُمْ: إِنَّ الدِّينَ [عِنْدَ اللَّهِ] الإسلامُ، وَإِنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، وَإِنَّ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطَ كَانُوا بُرَآءَ مِنَ الْيَهُودِيَّةِ وَالنَّصْرَانِيَّةِ، فشهِد اللَّهُ بِذَلِكَ، وَأَقَرُّوا بِهِ عَلَى أَنْفُسِهِمْ لِلَّهِ، فَكَتَمُوا شَهَادَةَ الله عندهم من ذلك.

Artinya:
Firman Dia, “Siapa yang lebih aniaya daripada orang yang menyembunyikan Persaksian dari Allah, di sisinya.” (Dan seterusnya).
Chasan Al-Bashri (tabik sohor) berkata, “Dulu mereka membaca di dalam Kitab Allah yang diberikan pada mereka;
1.     Sungguh agama yang di sisi Allah, Islam.
2.     Sungguh Ibrahim, Ismail, Ishaq, Yaqub, Asbath, lepas dari agama Yahudi dan Nashrani.
3.     Allah telah menyampaikan persaksian demikian itu.
4.     Mereka dulu telah mengikrarkan demikian itu.
Namun mereka menyembunyikan Persaksian Allah tentang itu, yang di sisi mereka.”

2013/09/14

Lisanul-Arab




Lisanul-Arab kamus bahasa Arab sohor di kalangan ulama lughot. Kamus ini lebih berbobot daripada Al-Munjid, karena isinya lebih banyak. Melalui kamus ini kita bisa membaca: لسان العرب (3/ 385)
والمُلَبِّدُ مِنَ الْمَطَرِ: الرَّشُّ؛ وَقَدْ لَبَّد الأَرضَ تَلْبِيدًا. ولُبَدٌ: اسْمُ آخَرِ نُسُورِ لُقْمَانَ بْنِ عادٍ، سَمَّاهُ بِذَلِكَ لأَنه لَبِدَ فَبَقِيَ لَا يَذْهَبُ وَلَا يَمُوتُ كاللَّبِدِ مِنَ الرِّجَالِ اللَّازِمِ لِرَحْلِهِ لَا يُفَارِقُهُ؛ ولُبَدٌ يَنْصَرِفُ لأَنه لَيْسَ بِمَعْدُولٍ، وَتَزْعُمُ الْعَرَبُ أَن لُقْمَانَ هُوَ الَّذِي بَعَثَتْهُ عَادٌ فِي وَفْدِهَا إِلى الْحَرَمِ يَسْتَسْقِي لَهَا، فَلَمَّا أُهْلِكُوا خُيِّر لُقْمَانُ بَيْنَ بَقَاءِ سَبْعِ بَعْرات سُمْر مِنْ أَظْبٍ عُفْر فِي جَبَلٍ وَعْر لَا يَمَسُّها القَطْرُ، أَو بَقَاءِ سَبْعَةِ أَنْسُرٍ كُلَّمَا أُهْلِكَ نَسْرٌ خلَف بَعْدَهُ نَسْرٌ، فَاخْتَارَ النُّسُور فَكَانَ آخِرُ نُسُورِهِ يُسَمَّى لُبَداً.

Artinya:
Al-Mulabbid (Becek lengket) dari hujan, artinya ‘guyuran’ (hujan). Sungguh hujan telah membuat tanah lengket secara nyata.
Lubad nama akhir burung Nasr (milik) Luqman bin Ad. Luqman menamakan burung tersebut Lubad, karena burung itu lengket dan menetap. Tidak bisa pergi dan tidak mati. Seperti kaum lelaki yang lengket pada rumah mereka; tidak bisa keluar dari rumah. Lafal ‘Lubad’ bisa ditashrif karena bukan ma’dul (dibelokkan).
Kaum Arab yakin bahwa Luqman inilah yang pernah diutus oleh Ad (kaum Nabi Hud AS), untuk berkunjung ke Tanah Haram, untuk beristisqa’ (memohon hujan pada Allah), untuk kaumnya.
Ketika mereka telah dibinasakan oleh Allah (dengan hujan dan angin); Luqman disuruh memilih akan hidup:
1.    Sepanjang umur tujuh unta liar, yakni kawanan kijang berwarna terang, di gunung Wa’r kering, yang tak tersentuh air hujan.
2.    Atau seumur tujuh burung Nasr. Tiap seekor burung mati; diteruskan lagi dengan burung Nasr lainnya. Luqman memilih beberapa burung Nasr (untuk dipelihara). Burung yang terakhir dinamakan Lubad.

Catatan “Luqman ini” bukan yang dijelaskan di dalam Al-Qur’an yang diberi hikmah oleh Allah.


Ponpes Mulya Abadi Mulungan