SELAMAT DATANG DI BLOG PONDOK PESANTREN MULYA ABADI, JL. MAGELANG KM 8.5 SLEMAN YOGYAKARTA, SEMOGA BLOG INI BISA MENJADI SILATURAHMI KITA UNTUK SALING BERBAGI

Doa Meluluhkan Hati Seseorang

Ya Allah sungguh Engkau Maha Mulia Maha Besar. Sedangkan saya HambaMu yang sangat hina dina. Tiada upaya dan kekuatan kecuali karena Kau. Ya Allah, tundukkanlah

Doa Agar di Beri kerjaan Bisnis

Ya Allah, Raja segala Kerajaan, Tuhan memberikan Kerajaan pada yang Tuhan kehendaki, melepas Kerajaan dari yang Tuhan kehendaki, menjayakan orang yang Tuhan kehendaki, dan merendahkan orang yang Tuhan kehendaki

Sapaan Nabi Membuat Khowat Sungkan

Rasulullah SAW keluar dari tenda dan bersabda pada saya ‘hai Ayah Abdillah, apa yang mendorong kau duduk bersama mereka ?’

Hibah Menurut Bukhori

Hibah Menurut Bukhari Ibrahim Annakhai tergolong Tabiin yang sangar alim. Beliau murid Ibrhaim Attaimi, murid Amer bin Maimun, murid Abu Abdillah Al-Jadali, murid Khuzaimah sahabat Nabi SAW.

Masuk Surga Paling Awal

Rasulullah SAW bersabda, “Jibril AS telah datang untuk memegang tanganku untuk menunjukkan saya Pintu Gerbang Surga, yang akan dimasuki oleh umatku.”

2013/07/12

Kajian Al-Baqarah 95 - 96



{وَلَنْ يَتَمَنَّوْهُ أَبَدًا بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِالظَّالِمِينَ (95) وَلَتَجِدَنَّهُمْ أَحْرَصَ النَّاسِ عَلَى حَيَاةٍ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا يَوَدُّ أَحَدُهُمْ لَوْ يُعَمَّرُ أَلْفَ سَنَةٍ وَمَا هُوَ بِمُزَحْزِحِهِ مِنَ الْعَذَابِ أَنْ يُعَمَّرَ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِمَا يَعْمَلُونَ (96)} [البقرة: 95، 96].


Artinya:
Mereka takkan berangan-angan pada 'kematian' karena (dosa) yang tangan-tangan mereka lakukan. Dan Allah Maha Tahu pada kaum Aniaya. (95)

Dan niscaya mereka kau jumpai sungguh sebagai manusia lebih ingin atas hidup. Bahkan daripada kaum yang syirik. Seorang mereka berangan-angan ‘kalau diberi umur seribu tahun’. Padahal pemberian umur seribu tahun ‘tidak menjauhkan dia’ dari adzab; kalau dia diberi umur (sepanjang itu). Dan Allah Maha Melihat pada yang mereka amalkan. (96)

Ibnu Katsir mengulas ayat di atas: تفسير ابن كثير (1/ 332)
ثُمَّ هَذَا الذِي فَسَّرَ بِهِ ابْنُ عَبَّاسٍ الْآيَةَ هُوَ الْمُتَعَيَّنُ، وَهُوَ الدُّعَاءُ عَلَى أَيِّ الْفَرِيقَيْنِ أَكْذَبَ مِنْهُمْ أَوْ مِنَ الْمُسْلِمِينَ عَلَى وَجْهِ الْمُبَاهَلَةِ، وَنَقَلَهُ ابْنُ جَرِيرٍ عَنْ قَتَادَةَ، وَأَبِي الْعَالِيَةِ، وَالرَّبِيعِ بْنِ أَنَسٍ، رَحِمَهُمُ اللَّهُ وَنَظِيرُ هَذِهِ الْآيَةِ قَوْلُهُ تَعَالَى فِي سُورَةِ الْجُمُعَةِ: {قُلْ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ هَادُوا إِنْ زَعَمْتُمْ أَنَّكُمْ أَوْلِيَاءُ لِلَّهِ مِنْ دُونِ النَّاسِ فَتَمَنَّوُا الْمَوْتَ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ* وَلا يَتَمَنَّوْنَهُ أَبَدًا بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِالظَّالِمِينَ* قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلاقِيكُمْ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ} [الْجُمْعَةِ: 6-8] فَهُمْ -عَلَيْهِمْ لَعَائِنُ اللَّهِ-لَمَّا زَعَمُوا أَنَّهُمْ أَبْنَاءُ اللَّهِ وَأَحِبَّاؤُهُ، وَقَالُوا: لَنْ يَدْخُلَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ كَانَ هُودًا أَوْ نَصَارَى، دُعُوا إِلَى الْمُبَاهَلَةِ وَالدُّعَاءِ عَلَى أَكْذَبِ الطَّائِفَتَيْنِ مِنْهُمْ، أَوْ مِنَ الْمُسْلِمِينَ. فَلَمَّا نَكَلُوا عَنْ ذَلِكَ عَلِمَ كُلُّ أَحَدٍ أَنَّهُمْ ظَالِمُونَ؛ لِأَنَّهُمْ لَوْ كَانُوا جَازِمِينَ بِمَا هُمْ فِيهِ لَكَانُوا أَقْدَمُوا عَلَى ذَلِكَ، فَلَمَّا تَأَخَّرُوا عُلِمَ كَذِبُهُمْ. وَهَذَا كَمَا دَعَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَفْدَ نَجْرَانَ مِنَ النَّصَارَى بَعْدَ قِيَامِ الْحُجَّةِ عَلَيْهِمْ فِي الْمُنَاظَرَةِ، وَعُتُوِّهِمْ وَعِنَادِهِمْ إِلَى الْمُبَاهَلَةِ، فَقَالَ تَعَالَى: {فَمَنْ حَاجَّكَ فِيهِ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ فَقُلْ تَعَالَوْا نَدْعُ أَبْنَاءَنَا وَأَبْنَاءَكُمْ وَنِسَاءَنَا وَنِسَاءَكُمْ وَأَنْفُسَنَا وَأَنْفُسَكُمْ ثُمَّ نَبْتَهِلْ فَنَجْعَلْ لَعْنَةَ اللَّهِ عَلَى الْكَاذِبِينَ} [آلِ عِمْرَانَ: 61] فَلَمَّا رَأَوْا ذَلِكَ قَالَ بَعْضُ الْقَوْمِ لِبَعْضٍ: وَاللَّهِ لَئِنْ بَاهَلْتُمْ هَذَا النَّبِيَّ لَا يَبْقَى مِنْكُمْ عَيْنٌ تَطْرِفُ. فَعِنْدَ ذَلِكَ جَنَحُوا لِلسِّلْمِ وَبَذَلُوا الْجِزْيَةَ عَنْ يَدٍ وَهُمْ صَاغِرُونَ، فَضَرَبَهَا عَلَيْهِمْ. وَبَعَثَ مَعَهُمْ أَبَا عُبَيْدَةَ بْنَ الْجَرَّاحِ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَمِينًا. وَمِثْلُ هَذَا الْمَعْنَى أَوْ قَرِيبٌ مِنْهُ قَوْلُهُ تَعَالَى لَنَبِيِّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَقُولَ لِلْمُشْرِكِينَ: {قُلْ مَنْ كَانَ فِي الضَّلالَةِ فَلْيَمْدُدْ لَهُ الرَّحْمَنُ مَدًّا} [مَرْيَمَ: 75] ، أَيْ: مَنْ كَانَ فِي الضَّلَالَةِ مِنَّا أَوْ مِنْكُمْ، فَزَادَهُ اللَّهُ مِمَّا هُوَ فِيهِ ومَدّ لَهُ، وَاسْتَدْرَجَهُ، كَمَا سَيَأْتِي تَقْرِيرُهُ فِي مَوْضِعِهِ، إِنْ شَاءَ اللَّهُ فَأَمَّا مَنْ فَسَّرَ الْآيَةَ عَلَى مَعْنَى: {قُلْ إِنْ كَانَتْ لَكُمُ الدَّارُ الآخِرَةُ عِنْدَ اللَّهِ خَالِصَةً مِنْ دُونِ النَّاسِ فَتَمَنَّوُا الْمَوْتَ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ} أي: إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ فِي دَعْوَاكُمْ، فَتَمَنَّوُا الْآنَ الْمَوْتَ. وَلَمْ يَتَعَرَّضْ هَؤُلَاءِ لِلْمُبَاهَلَةِ كَمَا قَرَّرَهُ طَائِفَةٌ مِنَ الْمُتَكَلِّمِينَ وَغَيْرِهِمْ، وَمَالَ إِلَيْهِ ابْنُ جَرِيرٍ بَعْدَ مَا قَارَبَ الْقَوْلَ الْأَوَّلَ؛ فَإِنَّهُ قَالَ: الْقَوْلُ فِي تَفْسِيرِ قَوْلِهِ تَعَالَى: {قُلْ إِنْ كَانَتْ لَكُمُ الدَّارُ الآخِرَةُ عِنْدَ اللَّهِ خَالِصَةً مِنْ دُونِ النَّاسِ فَتَمَنَّوُا الْمَوْتَ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ} وَهَذِهِ الْآيَةُ مِمَّا احْتَجَّ اللَّهُ بِهِ لَنَبِيِّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى اليهود الذين كانوا بَيْنَ ظَهَرَانَيْ مُهَاجَره، وَفَضَحَ بِهَا أَحْبَارَهُمْ وَعُلَمَاءَهُمْ؛ وَذَلِكَ أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى أَمَرَ نَبِيَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى قَضِيَّةٍ عَادِلَةٍ بَيْنَهُ وَبَيْنَهُمْ، فِيمَا كَانَ بَيْنَهُ وَبَيْنَهُمْ مِنَ الْخِلَافِ، كَمَا أَمَرَهُ أَنْ يَدْعُوَ الْفَرِيقَ الْآخَرَ مِنَ النَّصَارَى إِذَا خَالَفُوهُ فِي عِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ، عَلَيْهِ السَّلَامُ، وَجَادَلُوهُ فِيهِ، إِلَى فَاصِلَةٍ بَيْنَهُ وَبَيْنَهُمْ مِنَ الْمُبَاهَلَةِ. فَقَالَ لِفَرِيقٍ [مِنَ] الْيَهُودِ: إِنْ كُنْتُمْ مُحِقِّينَ فَتَمَنَّوُا الْمَوْتَ، فَإِنَّ ذَلِكَ غَيْرُ ضَارٍّ بِكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُحِقِّينَ فِيمَا تَدَّعُونَ مِنَ الْإِيمَانِ وَقُرْبِ الْمَنْزِلَةِ مِنَ اللَّهِ، بَلْ أُعْطِيكُمْ أُمْنِيَتَكُمْ مِنَ الْمَوْتِ إِذَا تَمَنَّيْتُمْ، فَإِنَّمَا تَصِيرُونَ إِلَى الرَّاحَةِ مِنْ تَعَبِ الدُّنْيَا وَنَصَبِهَا وَكَدَرِ عَيْشِهَا، وَالْفَوْزِ بِجِوَارِ اللَّهِ فِي جَنَّاتِهِ إِنْ كَانَ الْأَمْرُ كَمَا تَزْعُمُونَ: مِنْ أَنَّ الدَّارَ الْآخِرَةَ لَكُمْ خَالِصَةً دُونَنَا. وَإِنْ لَمْ تُعْطُوهَا عَلِمَ النَّاسُ أَنَّكُمُ الْمُبْطِلُونَ وَنَحْنُ الْمُحِقُّونَ فِي دَعْوَانَا، وَانْكَشَفَ أَمْرُنَا وَأَمْرُكُمْ لَهُمْ فَامْتَنَعَتِ الْيَهُودُ مِنَ الْإِجَابَةِ إِلَى ذَلِكَ لِعِلْمِهَا أَنَّهَا إِنْ تَمَنَّتِ الْمَوْتَ هَلَكَتْ، فَذَهَبَتْ دُنْيَاهَا وَصَارَتْ إِلَى خِزْيِ الْأَبَدِ فِي آخِرَتِهَا، كَمَا امْتَنَعَ فَرِيقٌ [مِنَ] النَّصَارَى..

Artinya:
Lalu inilah penafsiran Ibnu Abbas RA mengenai Ayat yang dikaji tersebut; “Itu merupakan doa mubahalah (serius) atas ‘salah satu dua golongan’ yang lebih bohong; dari mereka, atau dari umat Islam.”
Ibnu Jarir menukil penjelasan ini dari Qatadah dari Abi Aliyah dari Rabi bin Anas; semoga Allah menyayang mereka.

Perbandingan Ayat ini, Firman Allah Taala dalam Surat Jumah; (Katakan ! Hai khusus kaum Yahudi ! Jika kalian telah yakin bahwa ‘sungguh kalian Kekasih-Kekasih Allah’ manusia yang lain bukan ! Maka berangan-angan matilah ! Jika kalian benar (pernyataannya) !' Namun mereka takkan berangan-angan pada kematian, karena dosa yang telah dilakukan oleh tangan-tangan mereka. Dan Allah Maha Tahu pada kaum Aniaya. Katakan ! Sungguh ‘kematian’ yang kalian lari darinya ! Sungguh dia akan menjumpai kalian! Lalu kalian akan dikembalikan pada yang Maha Tahu barang-barang ghoib dan tampak ! Agar Dia bercerita pada kalian tentang yang telah kalian amalkan. [Qs Jumuah 6-8]).

Ketika meyakini bahwa mereka laknatullah ‘Putra dan Kekasih Allah’, dan berkata, “Takkan masuk surga kecuali orang yang telah Yahudi atau Nashrani.”; Mereka diajak mubahalah dan berdoa atas ‘dua golongan yang lebih bohong’; dari mereka, atau dari umat Islam. Ketika mereka menghindar dari ajakan mubahalah, maka masing-masing golongan tahu bahwa ‘mereka’ kaum Aniaya.
Kalau mereka berpegangan pada keyakinan mereka, tentu mereka mengabulkan tantangan mubahalah. Mereka diketahui bohong, ketika mundur dari tantangan mubahalah. Peristiwa ini seperti ketika Rasulullah SAW mengajak (mubahalah) pada tamu utusan Nashrani Najran. Saat itu Allah berfirman, “Maka barangsiapa membantah kau mengenai itu, setelah yang datang pada kau berupa ilmu; maka katakan ‘ayo kita panggil anak-anak lelaki kami dan anak-anak lelaki kalian ! Perempuan-perempuan kami dan perempuan-perempuan kalian ! Diri-diri kami dan diri-diri kalian ! Lalu kita mubahalah ! Kita jadikan ‘Laknat Allah’ atas kaum Bohong!.”
Ketika telah menyaksikan (nabi SAW akan melaksanakan perintah mubahalah ini), sebagian mereka berkata pada sebagian, “Demi Allah ! Jika kalian mubahalah dengan nabi ini ! Tak seorangpun dari kalian tersisa untuk berkedip!.”
Saat itu mereka merendah untuk menyerah. Dan menyerahkan pajak dengan langsung, dalam keadaan hina. Nabi SAW mewajibkan mereka melunasi pajak untuk umat Islam. Nabi SAW mengutus Abu Ubaidah bin Al-Jarrach sebagai Kepercayaan (umat), agar bergabung (untuk menerapkan aturan atas mereka).
Yang semisal atau mendekati, pengertian ini; Firman Allah Taala pada NabiNya SAW, agar bersabda pada kaum Musyrik, “Katakan ‘barangsiapa di dalam kesesatan’ maka hendaklah Rohman ‘memanjangan (kesesatan)’ dengan benar-benar memanjangkan, padanya!.”
Maksudnya, “Barangsiapa di antara kami atau kalian, di dalam kesesatan; semoga Allah menambahi dan memanjangkan kesesatan yang dia yakini ! Semoga Allah menjebak dia!.”
Sebagaimana pernyataan Allah yang akan kami tulis di halaman berikut, in syaa Allah.

Adapun orang yang menafsirkan Ayat ini dengan menerangkan:
“(Katakan jika kampung akhirat di sisi Allah hanya untuk kalian secara khusus! Selain kalian tidak mendapatkan! Maka berangan-angan matilah! Jika kalian benar)!.”
Maksudnya jika pernyataan kalian benar! Maka berangan-anganlah pada mati!. Dia (yang menafsirkan ayat ini) tidak menjelaskan seperti penjelasan orang-orang di atas dan yang lain; ‘agar mubahalah’.
Setelah menyatakan, “Penjelasan awal mendekati benar,” Ibnu Jarir juga condong pada penjelasan mereka.
Sungguh dia menjelaskan, “Keterangan tafsir Firman Taala ‘Katakan jika kampung akhirat di sisi Allah hanya untuk kalian secara khusus! Manusia lainnya tidak! Maka berangan-angan matilah! Jika kalian benar!’.
Ayat di awal tahun hijrah ini termasuk bantahan Allah untuk NabiNya SAW atas kaum Yahudi. Melalui ayat ini Allah menelanjangi keburukan para tokoh dan ulama mereka. Sungguh Allah Taala telah perintah pada NabiNya agar berbuat adil antara dia SAW dan mereka, mengenai perselisihan yang terjadi antara dia SAW dan mereka. Sebagaimana ketika golongan lain, kaum Nashrani, berselisih dan membantah pada nabi SAW tentang Isa bin Maryam AS; Allah perintah agar nabi SAW menegakkan mubahalah antara nabi SAW dan mereka.”
Dalam hal yang sama Allah juga berfirman pada kaum Yahudi, “Jika kalian benar! Berangan-angan matilah! Jika pernyataan kalian mengenai ‘iman dan kedudukan’ kalian yang ‘dekat’ pada Allah benar! Maka angan-angan tersebut, tidak akan membahayakan kalian! Bahkan angan-angan ‘mati’ kalian, Aku turuti! Jika kalian telah melafalkan angan-angan ‘mati’ tersebut. Agar kalian berhenti dari kesulitan, capek, dan keruhnya kehidupan dunia! Menuju kebahagiaan di sisi Allah di surgaNya! Kalau memang kenyataan seperti yang kalian katakan; kampung akhirat hanya untuk kalian; kami umat Islam tidak berhak! Namun jika isi angan-angan tidak diberikan pada kalian; manusia tahu bahwa kalian kaum bathil; kami yang benar pernyataannya; perkara kami dan kalian tersingkap untuk manusia!.”
Namun kaum Yahudi tidak berani mengabulkan tantangan mubahalah tersebut, karena tahu kalau berani berangan-angan ‘mati’, maka mereka rusak dan dunia mereka hilang. Dan jatuh pada kehinaan abadi hingga akhirat. Hal ini seperti kaum Nashrani dulu tidak berani mubahalah dengan nabi SAW.”

2013/07/11

Dampak Riyak Menurut Al-Hadits


Muslim meriwayatkan Hadits panjang tentang Riyak, sebagai pelajaran bahwa beramal ‘harus ikhlas’. Hadits ini disyarahkan oleh Muhammad Fuad Abdul-Baqi: صحيح مسلم (3/ 1513)

152 - (1905) حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ حَبِيبٍ الْحَارِثِيُّ، حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ الْحَارِثِ، حَدَّثَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ، حَدَّثَنِي يُونُسُ بْنُ يُوسُفَ، عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ يَسَارٍ، قَالَ: تَفَرَّقَ النَّاسُ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، فَقَالَ لَهُ نَاتِلُ أَهْلِ الشَّامِ: أَيُّهَا الشَّيْخُ، حَدِّثْنَا حَدِيثًا سَمِعْتَهُ مِنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: نَعَمْ، سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: " إِنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ، فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ: قَاتَلْتُ فِيكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ، قَالَ: كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ لِأَنْ يُقَالَ: جَرِيءٌ، فَقَدْ قِيلَ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ، وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ، وَعَلَّمَهُ وَقَرَأَ الْقُرْآنَ، فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ: تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ، وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيكَ الْقُرْآنَ، قَالَ: كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ: عَالِمٌ، وَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ لِيُقَالَ: هُوَ قَارِئٌ، فَقَدْ قِيلَ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ، وَرَجُلٌ وَسَّعَ اللهُ عَلَيْهِ، وَأَعْطَاهُ مِنْ أَصْنَافِ الْمَالِ كُلِّهِ، فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ: مَا تَرَكْتُ مِنْ سَبِيلٍ تُحِبُّ أَنْ يُنْفَقَ فِيهَا إِلَّا أَنْفَقْتُ فِيهَا لَكَ، قَالَ: كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ: هُوَ جَوَادٌ، فَقَدْ قِيلَ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ، ثُمَّ أُلْقِيَ فِي النَّارِ "،
__________
[شرح محمد فؤاد عبد الباقي]
 [ش (ناتل أهل الشام) وفي الرواية الأخرى فقال له ناتل الشامي وهو ناتل بن قيس الحزامي الشامي من أهل فلسطين وهو تابعي وكان أبوه صحابيا وكان ناتل كبير قومه
(قوله صلى الله عليه وسلم في الغازي والعالم والجواد وعقابهم على فعلهم ذلك لغير الله وإدخالهم النار - دليل على تغليظ تحريم الرياء وشدة عقوبته وعلى الحث على وجوب الإخلاص في الأعمال كما قال الله تعالى {وما أمروا إلا ليعبدوا الله مخلصين له الدين} وفيه أن العمومات الواردة في فضل الجهاد إنما هي لمن أراد الله تعالى بذلك مخلصا وكذلك الثناء على العلماء وعلى المنفقين في وجوه الخيرات كله محمول على من فعل ذلك لله تعالى مخلصا)]



Arti selain isnadnya:
(Setelah pengajian selesai), orang-orang berpencar mininggalkan Abu Hurairah RA. Penduduk Syam bernama Natil bertanya pada Abu Hurairah, “Ya Syaikh! Ceritakan pada kami Hadits yang pernah kau dengar dari Rasulallah SAW.”
1.     Lelaki yang dibunuh dalam keadaan syahid. Dia didatangkan untuk diberi tahu tentang Nikmat-Nikmat Allah yang mestinya dia terima. Allah berfirman, 'apa yang kau amalkan di dunia?'. Dia menjawab, 'hamba telah berperang untuk Kau hingga saya gugur sebagai syahid'. Allah berfirman, 'kau bohong! Tapi sungguh kau telah berperang agar dikatakan ‘pemberani!’ Sungguh (kau) telah dikatakan demikian. Lalu diperintahkan agar dia ditarik atas wajahnya, hingga akhirnya dimasukkan ke neraka.  
2.     Lelaki yang telah mengkaji dan mengajarkan ilmu. Dan telah membaca Al-Qur’an. Dia didatangkan untuk diberi tahu tentang Nikmat-Nikmat yang mestinya diberikan pada dia. Hingga dia mengetahui semua itu. Allah berfiman, 'apa yang telah kau amalkan di dunia?'. Dia menjawab, 'hamba dulu telah mengaji dan telah mengajarkan. Dan telah membaca Al-Qur’an karena Kau'. Allah berfirman, 'kau bohong!' Tapi sungguh kau dulu belajar agar dikatakan ‘alim’. Kau dulu membaca Al-Qur’an agar dikatakan ‘dia qorik’. Sungguh (kau) telah dikatakan demikian. Lau diperintahkan agar dia ditarik atas wajahnya, hingga akhirnya dilemparkan ke neraka.
3.     Lelaki yang oleh Allah diberi kelapangan rizqi. Dan diberi bermacam-macam harta kekayaan. Dia didatangkan untuk diberi tahu tentang Nikmat-Nikmat yang mestinya diberikan pada dia. Hingga dia mengetahui semua itu. Allah berfirman, 'apa yang telah kau amalkan di dunia?'. Dia menjawab, 'tak satupun jalan yang Kau senangi agar ‘diinfaqi’, kecuali pasti hamba telah infak di sana, karena Kau. Allah menjawab, 'kau telah bohong. Tetapi sungguh kau dulu melakukan dengan tujuan agar dikatakan ‘dermawan’. Sungguh (kau) telah dikatakan demikian.” Lau diperintahkan agar dia ditarik atas wajahnya, hingga akhirnya dilemparkan ke neraka'.

Syarah Muhammad Fuad Abdul-Baqi (tentang Hadits di atas):
Natil penduduk Syam. Di dalam riwayat lain dijelaskan ‘Natil Assyami berkata padanya’ (dan seterusnya). Dia yang bernama lengkap Natil bin Qais Al-Chizami, Assyami, tinggal di Palestin. Ayah seorang tabik ini termasuk sahabat nabi SAW. Natil tokoh besar kaumnya. Sabda nabi SAW mengenai:
1.     Orang yang berjihad.
2.     Orang alim.
3.     Orang dermawan.
4.     Dan siksaan mereka. Karena amalan mereka tidak diniati ‘karena Allah’.
Ini semua merupakan dalil bahwa:
·        Pengharaman riya dengan tegas.
·        Beratnya siksaan mereka yang riyak.
·        Anjuran wajib agar beramal dengan ikhlas. Sebagaimana Allah berfirman, “Dan mereka dulu tidak diperintah kecuali agar menyembah Allah dengan memurnikan agama ‘untuk Allah’.”
Dalam Hadits ini juga terkandung hikmah bahwa umumnya ‘keutamaan berjihad’, adalah khusus bagi orang yang menginginkan (Perhatian) Allah ‘dengan ikhlas’. Demikian pula sanjungan untuk ulama dan kaum yang dermawan dalam segala kebaikan. Penjelasan ini semua untuk orang yang beramal ‘dengan karena Allah’.






2013/07/10

Sengaja Bunuh Orang Iman





Di awal nabi SAW hijrah ke Madinah, terjadi tragedi berdarah yang menggegerkan masyarakat Islam. Seorang muslim membunuh orang yang tidak diketahui Islamnya. Kaum Muslimiin makin tercengang, karena Allah menurunkan Pelajaran Hukum pada mereka berkenaan tragedi tersebut. Inilah Ayat tersebut:

‘{وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ أَنْ يَقْتُلَ مُؤْمِنًا إِلَّا خَطَأً وَمَنْ قَتَلَ مُؤْمِنًا خَطَأً فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ وَدِيَةٌ مُسَلَّمَةٌ إِلَى أَهْلِهِ إِلَّا أَنْ يَصَّدَّقُوا فَإِنْ كَانَ مِنْ قَوْمٍ عَدُوٍّ لَكُمْ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ وَإِنْ كَانَ مِنْ قَوْمٍ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ مِيثَاقٌ فَدِيَةٌ مُسَلَّمَةٌ إِلَى أَهْلِهِ وَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ تَوْبَةً مِنَ اللَّهِ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا} [النساء: 92]’.


Artinya:
1.     (Sejak dulu) orang iman tidak berhak membunuh orang iman, kecuali karena keliru.
2.     Barangsiapa membunuh orang iman karena keliru, maka (kafarahnya) memerdekakan budak iman dan (membayar) denda, diserahkan pada ahlinya. Kecuali jika mereka menyodakoh (mengikhlas)kan.
3.     Jika dia (yang terbunuh) berasal dari kaum musuh bagi kalian, namun dia beriman, maka (kafarahnya) memerdekakan budak iman.
4.     Jika dia berasal dari kaum (dzimmi) yang (ada) ikatan perjanjian (damai) antara kalian dan mereka, maka (kafarahnya membayar) tebusan, diserahkan pada ahlinya, dan memerdekakan budak iman.
5.     Barangsiapa tidak menjumpai (kemampuan), maka berpuasa dua bulan berturut-turut, sebagai tobat dari Allah. Sejak dulu Allah Maha Alim Maha Kaya Hikmah.

Ibnu Katsir menjelaskan Sabab Annuzul Ayat yang memuat lima pasal di atas, namun penjelasan yang lebih jelas dari Azzamakhsyari: تفسير الزمخشري = الكشاف عن حقائق غوامض التنزيل (1/ 548)
وروى أنّ عياش بن أبى ربيعة- وكان أخا أبى جهل لأمّه- أسلم وهاجر خوفا من قومه إلى المدينة، وذلك قبل هجرة رسول اللَّه صلى اللَّه عليه وسلم، فأقسمت أمه لا تأكل ولا تشرب ولا يؤويها سقف حتى يرجع. فخرج أبو جهل ومعه الحارث بن زيد بن أبى أنيسة فأتياه وهو في أطم فقتل منه أبو جهل في الذروة والغارب، وقال: أليس محمد يحثك على صلة الرحم، انصرف وبرّ أمك وأنت على دينك، حتى نزل وذهب معهما، فلما فسحا عن المدينة كتفاه، وجلده كل واحد مائة جلدة، فقال للحارث: هذا أخى، فمن أنت يا حارث؟ للَّه علىّ إن وجدتك خاليا أن أقتلك، وقدما به على أمه، فحلفت لا يحل كتافه أو يرتد، ففعل ثم هاجر بعد ذلك وأسلم، وأسلم الحارث وهاجر، فلقيه عياش بظهر قباء- ولم يشعر بإسلامه- فأنحى عليه فقتله، ثم أخبر بإسلامه فأتى رسول اللَّه صلى اللَّه عليه وسلم فقال: قتلته ولم أشعر بإسلامه  ، فنزلت فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ فعليه تحرير رقبة.


Artinya:
Telah diriwayatkan, “Sesungguhnya Ayasy bin Abi Rabiah saudara seibu Abu Jahl, telah Islam dan telah hijrah ke Madinah, karena takut kaumnya. Ini terjadi sebelum Rasulullah SAW hijrah ke Madinah.
Ibu Ayasy bersumpah ‘takkan makan, takan minum, dan takkan berteduh pada atap, kecuali jika Ayasy kembali’. 
Karena itulah, Abu Jahl bersama Al-Charits bin Zaid bin Abi Unaisah, pergi untuk menemui dia, yang saat itu berada di rumah panggung.
Abu Jahl mencaci-maki pada dia, dan berkata, ‘bukankah Muhammad menganjurkan agar kau silaturohim? Pulang! Berbaktilah pada ibumu! Kau diperbolehkan menetapi agamamu’. 
Ayasy turun dari (rumah panggung), dan pulang bersama mereka berdua.

Ketika telah jauh dari Madinah, mereka berdua mengikat erat dua tangan hingga belikat Ayasy. Mereka berdua memukul Ayasy 100 X.
(Dengan marah), Ayasy berkata pada Al-Charits, ‘ini saudara saya! Kau ini siapa ? (Kok berani memukul saya) hai Al-Charits ?! Demi Allah kalau kau sedang sendirian, akan saya bunuh!.”

Mereka berdua mendatangkan Ayasy pada ibunya.
(Di Makkah), ibunya bersumpah ‘ikatan tangan Ayasy tidak boleh dilepas, kecuali jika mau murtad’.
Ayasy (murtad) menuruti kemauan mereka. Lalu setelah itu hijrah dan Islam lagi (di Madinah).

Al-Charits juga Islam dan hijrah ke Madinah. 
Di kota Quba, Ayasy melihat Al-Charits yang dikira belum Islam. Dia menggelandang untuk membunuh Al-Charits. 
Dia mendapat khabar bahwa sebetulnya Al-Charits telah Islam.
Dia segera datang pada Rasulallah SAW untuk melaporkan, ‘saya telah membunuh, karena tidak tahu bahwa dia telah Islam’.

Maka kalimat Ayat, ‘Fatachriiru raqabah (فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ)’ turun untuk Ayasy (secara khusus). Artinya ‘maka (kafarahnya) memerdekakan budak’.

Berdasarkan kalimat Ayat itu, Ayasy berkewajiban memerdekakan budak iman (karena Al-Charits yang dibunuh, Islam, baru datang dari Makkah, belum bermukim di Madinah (kalangan Muslimiin)). 

Ponpes Kutubussittah Mulya Abadi Mulungan Sleman Jogjakarta Indonesia