Subhanallah, arak-arakan
lautan manusia panjang sekali,
mengalir meninggalkan Damaskus.
Athiyah bin Amir berdiri tercengang,
menyaksikan beribu-ribu orang, semakin lama semakin
jauh. Saat itu, tokoh yang paling menjadi perhatian bagi mereka, Tuma dan istrinya, yaitu putri Raja
Hiraqla, dan Harbis. Lama sekali berakhirnya,
karena saking banyaknya jumlah mereka.
Athiyah menegur, “Hai Putra Al-Azwar! Kenapa kau kesal melihat
mereka? Fasilitas surga yang di sisi Allah, jauh lebih banyak, daripada yang
mereka bawa itu semua.”
Dhirar menjawab, “Demi Allah, yang saya butuhkan bukan harta.
Saya hanya menyesal ‘kenapa mereka’ dibiarkan hidup dan pergi meninggalkan kota
ini. Abu Ubaidah telah menjatuhkan martabat kaum Muslimiin.”
Athiyah menjawab, “Hai putra Al-Azwar! ‘Kepercayaan Umat (Abu
Ubaidah)’ ini tidak menghendaki, kecuali demi kebaikan kaum Muslimiin. Untuk melindungi darah dan kita semua,
karena perang yang berkepanjangan. Menyayang seorang Muslim, nilainya lebih
baik daripada semua harta yang disinari oleh matahari. Allah sendiri meletakkan
rahmat pada semua hati kaum iman. Bahkan berfirman di dalam kitab yang
diturunkan ‘sungguh Tuhan takkan
menyayang orang yang tak menyayang’. Bahkan juga berfirman ‘wasshulchu khair’.”
Dhirar menjawab, “Demi umurku kau telah benar! Tetapi
saksikanlah bahwa ‘saya paling benci’ pada orang yang berkeyakinan bahwa, Allah
beristri dan berputra.”
Watsilah bin Al-Asqa, tergolong pasukan yang bergabung
sebagai pasukan Khalid, di dalam Penaklukan Negeri Damaskus. Komandan dia bernama Dhirar bin Al-Azwar. Rombongan Dhirar, pasukan
berkuda yang berkeliling kota, mulai dari Gerbang Tuma, hingga Gerbang Salamah.
Lalu berjalan lagi hingga Gerbang Jabiyah. Berjalan lagi hingga Gerbang Kecil.
Berjalan lagi hingga Gerbang Qiyadz.
Sejumlah pasukan Muslimiin terkejut, oleh suara pintu gerbang,
yang tiba-tiba terbuka. Ada orang naik kuda yang keluar dan begerak mendekati
mereka. Dia ditangkap dan diancam, “Jika kamu berteriak, kami bunuh!.”
Mereka dikejutkan lagi, oleh wanita berkuda yang muncul dari
dalam. Di tengah pintu dia berteriak, memanggil lelaki yang ditangkap. Pada
tawanan itu, mereka perintah, “Beri tahulah dia!.”
Tawanan bergerak mendekati orang yang barusan keluar. Dengan
bahasa Romawi, dia memberi tahu, “Burung telah terperangkap.”
Wanita itu tahu bahwa temannya telah ditawan oleh kaum
Muslimiin. Dia bergerak cepat berbalik ke belakang, lalu menutup pintu
gerbang.
Kaum Muslimiin mendatangi untuk membunuh lelaki tawanan
tersebut. Karena siapa tahu pembicaraan dengan temannya barusan, membahayakan.
Beberapa Muslimiin berkata, “Jangan dibunuh! Kita bawa menghadap Khalid,
saja!.”
Mereka datang pada Khalid, membawa tawanan.
Kepadanya, Khalid bertanya, “Siapa kau?.”
Dia menjawab, “Saya orang Romawi bernama Yunus Ad-Dimaski. Saya telah menikahi gadis dari kaumku tadi, sebelum tuan menyerbu negeri ini. Saya sangat cinta pada dia.
Tuan terlalu lama mengepung
negeri ini. Saya telah minta pada keluarganya, agar kami dipestakan, namun
mereka menolak dengan alasan ‘sedang repot’. Padahal saya benar-benar ingin
segera dirayakan. Saya berkencan ‘mengajak dia’ ke arena bermain. Di tempat
itulah dia minta saya membawa dia keluar
kota. Ketika saya membuka pintu gerbang untuk melihat
keadaan, ternyata saya ditangkap pasukan tuan. Orang berkuda yang memanggil saya di pintu gerbang itu benar-benar istri saya.
Saya memberitahu dia ‘burung telah terperangkap’, agar dia menghindar dari
kalian. Kalau dia bukan istriku, telah saya biarkan kalian tangkap.”
Khalid bertanya, “Bagaimana jika kau masuk Islam?.”
Yunus Ad-Dimaski berkata, “Asyhadu an laa Ilaaha illaa
Allah, wa asyhadu anna Muhammadan Rasul Allah.”
Yunus dilepaskan karena telah masuk Islam. Dia bergabung pada
pasukan Muslimiin, untuk berperang dengan giat melawan kaum Romawi
Damaskus.
Ketika Damaskus telah dikuasai oleh kaum Muslimiin sepenuhnya,
dia mencari istrinya. Dan terkejut ketika mendengar orang bilang, “Istrimu
telah menjadi biarawati.”
Yunus mencari hingga berjumpa. Namun orang yang belum lama
diperistri itu sudahpangling padanya.
Dia menegur, “Apa yang mendorong kau menjadi biarawati?.”
Istrinya menjawab, “Saya dulu senang suamiku, namun dia
ditangkap kaum Arab. Saya menjadi biarawati karena susah ‘memikirkan dia’.”
Yunus menjawab, “Saya lah suamimu yang telah mengikuti agama
kaum Arab.”
Biarawati bertanya, “Kalau kau telah murtad, apa tujuanmu
menemui aku?!.”
Dia menjawab, “Agar kau mau menjadi dzimmah
(taklukan Islam yang tunduk).”
Biarawati menjawab, “Demi kebenaran Al-Masih! Sampai kapan pun,
tak mungkin terjadi! Tidak ada alasan ke sana.”
Dia pergi untuk bergabung pada rombongan Bathriq Tuma, keluar
dari negeri Damaskus tercinta.
Yunus melaporkan pada Khalid yang lalu menjawab, “Karena kota
ini telah diduduki dengan damai oleh Abu Ubaidah, berarti kau tak punya jalan
lagi untuk menguasai dia.”
Maksud Khalid, kalau belum diduduki dengan damai, biarawati itu
bisa ditangkap menjadi tawanan, yang bisa diberikan pada suaminya yang telah
Islam.
Yunus tahu bahwa Khalid akan mencari rombongan Tuma, keluar
kota. Dengan semangat, dia berkata, “Saya akan mengikuti perjalanan Khalid,
agar bisa menjumpai istri.”
Dia berdiam di Damaskus selama empat hari, untuk menunggu Khalid
keluar.