Nabi
bersabda ‘hai Ghailan ! Datanglah pada dua tunas ini ! Yang satu perintahlah, agar
bergabung pada lainnya ! Akan saya pergunakan sebagai tutup, untuk
berwudhu’.
Tiba-tiba
sebatang tunas keluar dari tanah, dan berjalan menuju lainnya, untuk bergabung.
Nabi
SAW turun ke belakang dua tunas yang bergabung, untuk berwudhu. Setelah nabi
SAW pergi dengan kendaraan, akar tunas kurma keluar lagi, dan berjalan menuju
tempatnya semula.
Setelah
kami istirahat, seorang wanita datang dengan membawa anak kecilnya yang sangat
mirip uang dinar. Wanita berkata ‘ya Rasulallah, telah lama di desa kami, tidak
ada anak yang lebih saya cintai daripada anak saya ini. Namun dia terserang Mautah
(kerasukan syaitan yang berdampak lemas seperti mayat). Saya tidak ingin anak
saya meninggal dunia. Berdoalah untuk kesembuhannya, ya Nabi Allah’.
Di
waktu istirahat kami berikutnya, nabi SAW dijumpai oleh lelaki yang laporan ‘ya
Nabi Allah, saya telah lama memiliki kebun yang di dalamnya ada penghidupan
saya dan keluarga. Di dalam sana ada dua unta Nadhih milik saya yang mengamuk. Menghalang-halangi
saya dan harta saya yang berada di dalamnya. Tidak ada orang yang berani
mendekat’.
Nabi
SAW mengajak para sahabat, hingga datang ke kebun. Pada sahabatnya, nabi
perintah ‘buka pintunya !’.
Nabi
SAW perintah lagi ‘buka !’.
Setelah
pintu dibuka dengan kuncinya, dua unta Nadhih tampak. Suara injakan kakinya mantap,
bagai angin besar menyambar. Setelah keluar dari pintu, dan melihat nabi SAW,
dua unta mendekam lalu bersujud.
Dua
kepala unta dipegang oleh nabi SAW, untuk diserahkan pada pemiliknya. Dan
berpesan ‘ajaklah bekerja ! Namun diberi makanan yang baik !’.
Kaum
yang hadir berkata ‘ya Nabi Allah, baginda disujudi oleh binatang? Anugerah
Allah untuk kita lebih baik daripada
ini. Baginda telah menyelamatkan kami dari kesesatan, dan menyelamatkan dari
dari kerusakan. Bolehkah kami bersujud pada baginda ?’.
Nabi
bertanya ‘bagaimana kalian memperlakukan saudara kalian yang telah meninggal
dunia ? Apa kalian bersujud pada dia yang di dalam kubur ?’.
Mereka
menjawab ‘kami akan melaksanakan petunjuk baginda’.
Nabi
SAW bersabda ‘bersujud hanya pada yang Maha Hidup, yang takkan wafat. Kalau ada
yang saya perintahkan agar disujudi, niscaya istri saya perintah agar bersujud
pada suaminya’.
Dalam
perjalanan pulang, si wanita muncul dan berkata ‘ya Nabi Allah, anak saya tidak
pernah kesurupan lagi’. Dan menghidangkan minyak samin, susu, dan beberapa
potong daging unta panggang.
Namun
nabi SAW menolak minyak samin dan beberapa potong daging unta panggang. Yang
diterima untuk diberikan pada para sahabatnya SAW, air susu.”
(HR
Ibnu Asakir)