SELAMAT DATANG DI BLOG PONDOK PESANTREN MULYA ABADI, JL. MAGELANG KM 8.5 SLEMAN YOGYAKARTA, SEMOGA BLOG INI BISA MENJADI SILATURAHMI KITA UNTUK SALING BERBAGI

2015/02/05

PS 43: Pembebasan Syam






Lautan pasukan Romawi kalap dan mengamuk. 
Kaum Muslimiin melawan meskipun hati mereka bergetar
Sa’id bin Zaid berteriak, “Teman-teman! Berhentilah di Hadirat Allah! Raja yang Maha Perkasa! Jangan lari, karena berakibat masuk neraka! Hai orang-orang iman! Hai yang hafal Al-Qur’an! Semangatlah!.”

Subahanallah, aneh sekali, perkataan dia membuat kaum Muslimiin bersemangat. Sehingga dengan keberanian penuh, mereka melawan pasukan Romawi. Bahkan amukan mereka menggila, membuat lawan tewas berserakan.

Waktu shalat ashar tiba; kaum Muslimiin melancarkan serangan paling ganas hingga 3.010 tokoh militer dari mereka, tewas. Tentara-tentara kroco yang tewas lebih banyak lagi. 
Di antara tokoh penting yang tewas:
1.     Ruman penguasa kota Amiroh.
2.     Damar penguasa kota Nawa.
3.     Kaukab penguasa kota Balqa (البلقاء).
4.     Lawi bin China penguasa kota Ghuzah.
5.     Dan lainnya.

Suasanya mencekam. Banyak mayat berserakan bermadi darah. 
Bau anyir menusuk hidung.


Dua kubu telah menarik pasukan masing-masing, karena telah lelah. Wardan berjalan menuju barak. Perasaannya takut ‘jika kekalahan’ selanjutnya, akan lebih mengerikan. Dalam hatinya terbayang, betapa kaum Muslimiin ‘sangat tabah’, dan serangan mereka ‘dahsyat’ sekali.

Dalam Dewan Perang itu, para batriq telah berkumpul, untuk mendengarkan khotbah Panglima Besar. Wardan yang ditunggu-tunggu akhirnya menyampaikan khotbah, “Hai pemeluk agama Nashrani! Bagaimana pendapat kalian mengenai kaum Arab yang kita perangi ini? Saya justru berpandangan! ‘Mereka akan meraih’ kemenangan yang lebih besar lagi, daripada sebelumnya! Pedang-pedang mereka tajam! Pasukan berkuda mereka memiliki ketabahan maksimal! Serangan kalian justru tumpul. Ketaatan mereka pada pimpinan lebih tinggi dari ketaatan kalian pada Tuhan kalian! Kekalahan yang kita derita ini karena dosa, kesalahan, kejahatan, dan kemaksiatan kita, terlalu banyak. Jalan terbaik adalah ‘kita bertobat!’ Jika mau bertobat, saya yakin kita akan menang. Namun jika tidak mau bertobat! Al-Masih justru akan memerangi hingga kalian tewas. Ketahuilah bahwa Allah yang telah menindak kita, ‘Siksaan-Nya’ lebih dahsyat. Dia telah mengerahkan kaum yang kita anggap remeh. Mereka orang-orang kelaparan karena kekurangan pangan! Kelas mereka juga sangat rendah! Pakaian mereka jelek karena miskin. Mereka menyerbu kita karena negerinya kekurangan makanan. Kekurangan makan yang berlebihan membuat mereka tersiksa. Setelah memasuki wilayah kita, mereka makan roti dan bermacam-macam buah, madu dan anggur. Ada lagi yang ‘paling membuat’ mereka berbahagia! Para perempuan dan harta kekayaan kita.”

Khotbah yang disampaikan dengan berapi-api itu, membuat Majlis menangis, karena menyadari dosa mereka yang banyak. Dalam pertemuan agung itu, kini terisi isak tangisan. Yang tadinya diam, akhirnya juga menangis seperti lainnya. Hingga tak satupun tersenyum apalagi tertawa. Bahkan seakan-akan dunia pun ikut menangis.   

Dengan menangis, Wardan bertanya “Bagaimana pendapat kalian untuk mengatasi hal ini?!” pada hadirin, yang terdiri dari para batriq (pejabat militer dan kepala gereja, yang sangat pandai berperang. Setidaknya membawahi 5.000 pasukan). 
Majlis tekejut oleh pertanyaan yang disampaikan dengan nada tinggi. 
Seorang batriq menjawab, “Ya Tuan Wardan! Tuan telah mendapat ujian berat! Kaum yang kita hadapi tidak bisa dikalahkan. Saya sendiri telah menyaksikan seorang mereka, menyerang pasukan kita, dengan membabi-buta. Tidak ada satu pun yang mundur meskipun harus mati. Yang membuat mereka bersemangat di dalam perang, nabi mereka berkata ‘jika dari kalian ada yang gugur maka masuk ke surga. Jika musuh gugur maka masuk neraka’. Selain itu, bagi mereka ‘mati dan hidup’ sama saja. Menurut saya, jalan paling tepat, menipu panglima mereka, untuk kita bunuh. Jika panglima mereka telah kita bunuh, pasti mereka akan lari ketakutan. Tapi hal ini tak mungkin terjadi kecuali dengan siasat yang tepat.”     


0 komentar:

Posting Komentar