SELAMAT DATANG DI BLOG PONDOK PESANTREN MULYA ABADI, JL. MAGELANG KM 8.5 SLEMAN YOGYAKARTA, SEMOGA BLOG INI BISA MENJADI SILATURAHMI KITA UNTUK SALING BERBAGI

Doa Meluluhkan Hati Seseorang

Ya Allah sungguh Engkau Maha Mulia Maha Besar. Sedangkan saya HambaMu yang sangat hina dina. Tiada upaya dan kekuatan kecuali karena Kau. Ya Allah, tundukkanlah

Doa Agar di Beri kerjaan Bisnis

Ya Allah, Raja segala Kerajaan, Tuhan memberikan Kerajaan pada yang Tuhan kehendaki, melepas Kerajaan dari yang Tuhan kehendaki, menjayakan orang yang Tuhan kehendaki, dan merendahkan orang yang Tuhan kehendaki

Sapaan Nabi Membuat Khowat Sungkan

Rasulullah SAW keluar dari tenda dan bersabda pada saya ‘hai Ayah Abdillah, apa yang mendorong kau duduk bersama mereka ?’

Hibah Menurut Bukhori

Hibah Menurut Bukhari Ibrahim Annakhai tergolong Tabiin yang sangar alim. Beliau murid Ibrhaim Attaimi, murid Amer bin Maimun, murid Abu Abdillah Al-Jadali, murid Khuzaimah sahabat Nabi SAW.

Masuk Surga Paling Awal

Rasulullah SAW bersabda, “Jibril AS telah datang untuk memegang tanganku untuk menunjukkan saya Pintu Gerbang Surga, yang akan dimasuki oleh umatku.”

Tampilkan postingan dengan label Bedah Ibnu Majah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bedah Ibnu Majah. Tampilkan semua postingan

2011/11/04

Bedah Ibnu Majah



Meskipun Ibnu Majah mengeluarkan Hadits yang dinilai maudhu, oleh sebagian Muhadditsiin, tetapi beliau meletakkan setelah Hadits shahih. Hadits maudhu tersebut hanya untuk mempertajam pesan yang disampaikan pada umat. Hadits yang shahih itu: سنن ابن ماجه - (ج 1 / ص 52)
44 - حَدَّثَنَا سُوَيْدُ بْنُ سَعِيدٍ وَأَحْمَدُ بْنُ ثَابِتٍ الْجَحْدَرِيُّ قَالَا حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ الثَّقَفِيُّ عَنْ جَعْفَرِ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا خَطَبَ احْمَرَّتْ عَيْنَاهُ وَعَلَا صَوْتُهُ وَاشْتَدَّ غَضَبُهُ كَأَنَّهُ مُنْذِرُ جَيْشٍ يَقُولُ صَبَّحَكُمْ مَسَّاكُمْ وَيَقُولُ بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةَ كَهَاتَيْنِ وَيَقْرِنُ بَيْنَ إِصْبَعَيْهِ السَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى وَيَقُولُ أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْأُمُورِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَكَانَ يَقُولُ مَنْ تَرَكَ مَالًا فَلِأَهْلِهِ وَمَنْ تَرَكَ دَيْنًا أَوْ ضَيَاعًا فَعَلَيَّ وَإِلَيَّ

Artinya (isnadnya tidak diartikan):
Jabir bin Abdullah berkta, “Dulu ketika berkhutbah, dua mata Rasulullah SAW memerah, suaranya meninggi dan emosinya memuncak. Mirip seperti orang yang menakut-nakuti pasukan. Beliau bersabda ‘mereka pagi-pagian pada kalian, mereka sore-sorean pada kalian!’ Beliau bersabda ‘Saya dengan kiamat, telah diutus sepertin dua ini’, sambil menggandeng dua jarinya telunjuk dan tengah. Dan bersabda ‘amma bakdu:
Maka sungguh Sebaik-baik Perkara, Kitab Allah, sebaik-baik perbuatan perbuatan Muhammad. Sejelek-jelek perkata barunya. Semua bid’ah sesat’. [1] 
Beliau pernah bersabda ‘barang siapa meninggalkan harta maka untuk ahli warisnya. Barang siapa meninggalkan hutang atau keluarga, maka serahkan padaku’.”

Setelah itu Ibnu Majah baru mengeluarkan Hadits-Hadits yang nilainya dibawahnya, termasuk di antaranya: سنن ابن ماجه - (ج 1 / ص 56)
48 - حَدَّثَنَا دَاوُدُ بْنُ سُلَيْمَانَ الْعَسْكَرِيُّ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَلِيٍّ أَبُو هَاشِمِ بْنِ أَبِي خِدَاشٍ الْمَوْصِلِيُّ قَالَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مِحْصَنٍ عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ أَبِي عَبْلَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الدَّيْلَمِيِّ عَنْ حُذَيْفَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَقْبَلُ اللَّهُ لِصَاحِبِ بِدْعَةٍ صَوْمًا وَلَا صَلَاةً وَلَا صَدَقَةً وَلَا حَجًّا وَلَا عُمْرَةً وَلَا جِهَادًا وَلَا صَرْفًا وَلَا عَدْلًا يَخْرُجُ مِنْ الْإِسْلَامِ كَمَا تَخْرُجُ الشَّعَرَةُ مِنْ الْعَجِينِ

Artinya (isnadnya tidak diartikan): Chudzaifah berkata, “Rasulullah SAW bersabda ‘Allah takkan menerima puasa, shalat, shadaqah, haji, umrah, jihad, amalan sunah, dan amalan wajibnya pengamal bidah. Dia keluar dari Islam sebagaimana rambut keluar dari adonan roti’.”

Catatan:
1.     Muhammad bin Michshan adalah cucu sahabat nabi yang bernama Ukasyah bin Michshan, yang akan menyeberangi Shirathal Mustaqim paling awal tanpa hisaban amal, bersama 70.000 orang dari umat nabi SAW. Sudah menjadi kebiasaan Muhaddits, mentajrich orang dengan ucapan pedas, demi kebaikan.
2.     Ibnu Majah berfaham seperti Bukhari dan Muslim, “Meletakkan Hadits dhaif di sisi Hadits shahih yang semakna, mengangkat derajat Dhaif itu.”
3.     Muhammad bin Michshan yang oleh sebagian Muhadditsiin dinilai, “Kadzab yadhaul Hadiits (كذاب يضع الحديث).” Yang artinya ‘pendusta yang memaudhukkan Hadits’, Haditsnya diterima oleh Ibnu Majah karena semakna dengan Hadits shahih di atasnya.

Menurut Ibnu Chajar, Bukhari juga mengeluarkan Hadits mursal di sisi Hadits shahih yang semakna: فتح الباري لابن حجر - (ج 19 / ص 350)
قَوْله ( قُلْت وَقَدْ كَانَتْ هُذَيْل أَيْ الْقَبِيلَة الْمَشْهُورَة ، وَهُمْ يَنْتَسِبُونَ إِلَى هُذَيْل بْن مُدْرِكَة بْن إِلْيَاس بْن مُضَر ، وَهَذَا مِنْ قَوْل أَبِي قِلَابَةَ ، وَهِيَ قِصَّة مَوْصُولَة بِالسَّنَدِ الْمَذْكُور إِلَى أَبِي قِلَابَةَ ، لَكِنَّهَا مُرْسَلَة لِأَنَّ أَبَا قِلَابَةَ لَمْ يُدْرِك عُمَر)

Artinya:
Ucapan dia, قُلْت وَقَدْ كَانَتْ هُذَيْل (saya berkata ‘Hudzail dulu juga pernah’).” Maksud Hudzail di sini, nama kabilah yang mashur. Mereka memiliki silsilah keturunan hingga kakek mereka bernama Hudzail bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar. Ini ucapan Abu Qilabah, dan kisah ini berisnad mausul, hingga Abu Qilabah. Tetapi sungguh kisah ini mursal karena Abu Qilabah tidak bertemu Umar. Hadits lengkapnya: صحيح البخاري - (ج 21 / ص 207)

قُلْتُ وَقَدْ كَانَتْ هُذَيْلٌ خَلَعُوا خَلِيعًا لَهُمْ فِي الْجَاهِلِيَّةِ فَطَرَقَ أَهْلَ بَيْتٍ مِنْ الْيَمَنِ بِالْبَطْحَاءِ فَانْتَبَهَ لَهُ رَجُلٌ مِنْهُمْ فَحَذَفَهُ بِالسَّيْفِ فَقَتَلَهُ فَجَاءَتْ هُذَيْلٌ فَأَخَذُوا الْيَمَانِيَّ فَرَفَعُوهُ إِلَى عُمَرَ بِالْمَوْسِمِ وَقَالُوا قَتَلَ صَاحِبَنَا فَقَالَ إِنَّهُمْ قَدْ خَلَعُوهُ فَقَالَ يُقْسِمُ خَمْسُونَ مِنْ هُذَيْلٍ مَا خَلَعُوهُ قَالَ فَأَقْسَمَ مِنْهُمْ تِسْعَةٌ وَأَرْبَعُونَ رَجُلًا وَقَدِمَ رَجُلٌ مِنْهُمْ مِنْ الشَّأْمِ فَسَأَلُوهُ أَنْ يُقْسِمَ فَافْتَدَى يَمِينَهُ مِنْهُمْ بِأَلْفِ دِرْهَمٍ فَأَدْخَلُوا مَكَانَهُ رَجُلًا آخَرَ فَدَفَعَهُ إِلَى أَخِي الْمَقْتُولِ فَقُرِنَتْ يَدُهُ بِيَدِهِ قَالُوا فَانْطَلَقَا وَالْخَمْسُونَ الَّذِينَ أَقْسَمُوا حَتَّى إِذَا كَانُوا بِنَخْلَةَ أَخَذَتْهُمْ السَّمَاءُ فَدَخَلُوا فِي غَارٍ فِي الْجَبَلِ فَانْهَجَمَ الْغَارُ عَلَى الْخَمْسِينَ الَّذِينَ أَقْسَمُوا فَمَاتُوا جَمِيعًا وَأَفْلَتَ الْقَرِينَانِ وَاتَّبَعَهُمَا حَجَرٌ فَكَسَرَ رِجْلَ أَخِي الْمَقْتُولِ فَعَاشَ حَوْلًا ثُمَّ مَاتَ قُلْتُ وَقَدْ كَانَ عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ مَرْوَانَ أَقَادَ رَجُلًا بِالْقَسَامَةِ ثُمَّ نَدِمَ بَعْدَ مَا صَنَعَ فَأَمَرَ بِالْخَمْسِينَ الَّذِينَ أَقْسَمُوا فَمُحُوا مِنْ الدِّيوَانِ وَسَيَّرَهُمْ إِلَى الشَّأْمِ



Ponpes Mulya Abadi Mulungan

[1] Saya mengartikan, “Hadyu,” perbuatan berdasarkan: حاشية السندي على ابن ماجه - (ج 1 / ص 37)
بِفَتْحِ هَاء وَسُكُون دَال هِيَ الطَّرِيقَة وَالسِّيرَة وَهَذَا هُوَ الْمَشْهُور