Nama Jesus sebenarnya,
Yasyu (يشوع), namun karena kaum Romawi terpengaruh oleh bahasa Yunani dalam
penambahan us di belakang namanya, maka menjadi Jesus. Di
Indonesia ditulis Yesus. [1] Al-Qur’an
menyebut Isa AS, karena berbahasa Arab.
Jesus yang saat ini
disembah manusia, karena dianggap Tuhan atau Putra Tuhan, sebetulnya belum
pernah mengaku Tuhan. [2] Yang
pertama kali ‘mengajarkan’ Jesus Tuhan atau Putra Tuhan, orang bernama
Paulus. Dia tokoh Yahudi yang memimpin memerangi secara besar-besaran pada
pengikut Jesus. Itu terjadi 81 tahun setelah Jesus diangkat kelangit.
Setelah melihat mayat
berserakan banyak sekali, Paulus (بولس) stres. Singkat cerita, Paulus pura-pura menjadi pengikut Isa AS,
sebagai upaya agar bisa mempelajari Taurat dan Injil. Setelah menguasai Taurat
dan Injil selama setahun dari pengikut Isa as, maka dia mencari murid bernama
Nastur (نسطور) untuk diajar bahwa Isa adalah Allah. Mungkin Nasthur inilah
yang pernah dipilih menjadi wakil Paulus yang bertempat tinggal di
Baitil-Maqdis.
Paulus pergi ke Romawi
untuk mengajarkan Al-Lahut wan-Nasut (اللاهوت
والناسوت/Paham Tuhan Bersatu dengan Manusia). Namun saat itu ajaran dia belum bisa berkembang di
Baitil-Maqdis maupun di Romawi. Dalam ajaran itu dia mengatakan Isa as bukanlah
manusia, tetapi Putra Tuhan yang menjadi manusia.
Paulus juga mengangkat
murid bernama Mulk yang diajar bahwa, sejak dulu hingga kapanpun Tuhan adalah
Jesus.[3]
Menurut Abu Nuaim
dalam kitab Haditsnya bernama Chilyah. [4] 'Kaeb
Al-Achbar' berkata, “Pada suatu hari, Isa AS menyusuri Jurang Kiamat.[5] (وادي
القيامة)
Yang nama lainnya, As-Shokhroh (الصخرة) artinya batu besar.
Hari itu Jumat sore badal asar, berarti telah memasuki malam Sabtu.[6] Di
dalam perjalanan itu, tiba-tiba beliau menjumpai tengkorak putih telah keropos.
Tengkorak itu kepala orang yang telah wafat selama 94 tahun silam.
Isa memandangi
tengkorak itu dengan takjub, lalu berdoa ‘ya Rabb, berilah idzin
pada tengkorak ini agar:
1.
Berbicara pada saya dengan bahasa orang hidup.
2.
Memberi khabar pada saya 'adzab apa yang dia
rasakan? Telah berapa lama dia mati? Apa yang telah dia saksikan? Matinya dulu
bagaimana? Dan apa yang dia sembah sewaktu hidupnya ?’."
Isa berkata ‘ya
tengkorak yang telah keropos’.
Dia menjawab ‘(لبيك وسعديك) ya saya mendengarkan, silahkan bertanya apa yang muncul di
dalam hati tuan’.
Isa bertanya ‘kau telah mati selama berapa tahun?’.
Dia menjawab ‘tidak ada jiwa [9] yang
menghitung berapa lama hidup, dan tidak ada ruh yang menghitung tahun di dalam
kubur’.
Tiba-tiba ada seruan dari langit ‘sungguh dia telah mati sejak 94 tahun yang
lalu, tanyalah padanya!’.
Isa bertanya ‘kau
wafat karena apa?’.
Tengkorak menjawab
‘hari itu saya sedang duduk. Tiba-tiba ada benda seperti anak panah [10] yang
menancap perut saya. Rasanya panas seperti terbakar. Gambaran kebingungan saya
saat itu, seperti lelaki di dalam kolam renang, tiba-tiba airnya panas. Dia
berusaha keluar karena takut mati. Tiba-tiba malaikat maut [11] bersama
pasukannya yang berwajah seperti anjing, datang pada saya. Taring mereka
ditampakkan, mata mereka melotot merah bagai api menyala. Membawa gada untuk
memukuli wajah dan pantat saya. Mereka mencabut ruh dari tubuhku.
Malaikat maut
mengambil dan meletakkan ruhku di atas bara dari Jahannam. Ruhku dibalut
dengan kain jelek dari Jahannam. Dan dibawa oleh sejumlah malaikat menuju
langit. Namun para malaikat di sana menolak masuk. Mereka menutup pintu-pintu
langit agar ruh tidak bisa masuk.
Tiba-tiba seorang
datang untuk menyerukan ‘kembalikanlah ruh jelek ini pada tempatnya!’.
Isa bertanya pada dia
‘gelap dan sempitnya kubur? Atau adzab Jahannam? Yang lebih berat kau
rasakan?’.
Tengkorak menjawab ‘ya
Ruhallah, di saat ruh dicabut dari jasad, di matanya tidak ada nur untuk
mengetahui gelap dan terang. Di hatinya tak ada akal untuk mengetahui sempit
dan luas. Begini saja, tuan akan saya khabari tentang 'Ketika Ruh Saya
Dikembalikan' ke jasadnya. Selanjutnya saya dipikul di dalam kubur.
Di dalam kubur itulah,
saya didatangi oleh dua malaikat yang tangan masing-masing membawa gada. Mereka
mendudukkan lalu memukul saya, sekali. Saat itu saya yakin, bahwa langit tujuh
runtuh, menimpa bumi. [12] Mereka
memberi saya lembaran, dan perintah ‘tulislah semua yang pernah kamu
amalkan!’.
Saya mencatat semua
yang pernah saya amalkan, hingga selesai. Mereka membukakan pintu menuju Jahannam
untuk saya. Tiba-tiba api yang datang memenuhi kubur saya. Ular-ular berwajah
bagaikan serigala, berdatangan. Lehernya bagaikan unta Bukhti. [13] Mereka
mengigiti daging dan meremukkan tulang saya. Ada malaikat raksasa yang memasuki
kubur saya, membawa gada besar yang di ujungnya ada ular Tsuban. (ثعبان)[14] Tidak
bisa dijelaskan besarnya. Di sebelah bawahnya, beberapa kalajengking hitam, sebesar
keledai (البغال) mengerikan. Lobang paku 360 biji pada gada
sangat besar itu, menyemburkan 360 macam api yang berbeda dengan lainnya.
Sejumlah malaikat
memukul saya dengan gada itu. Api-apinya menyala membakar jasad saya. Ular
besar dan kalajengking mendekati saya. Tiba-tiba ada yang menyeru ‘bawalah jiwa
jelek itu kemari!’.
Sejumlah malaikat yang
warnanya tidak diketahui, bertaring besar seperti tanduk, bermata bagaikan
kilat, berjari besar seperti tanduk, menarik dan membawa saya, menuju seoang
malaikat yang duduk di atas kursi. Yang perintah ‘bawalah jiwa jelek
ini! Menuju Jahannam! Sebagai tempatnya.
1. Saya segera dibawa
oleh para malaikat menuju awal neraka Jahannam. Ternyata pintu itu lobang
sempit penuh angin besar. Di sana saya dikejutkan oleh suara-suara guruh dan
sambaran-sambaran petir, serta semburan api dahsyat. Api itu ternyata tidak
hanya seperti api tuan, berwarna hitam kelam yang panasnya 60 x panasnya api
tuan.
2.
Selanjutnya saya dibawa untuk dimasukkan ke
pintu kedua. Ternyata api yang berada di dalamnya yang panasnya 60 x lipat itu,
membakar api yang berada di luar, yang telah saya tinggalkan.
3.
Selanjutnya saya dibawa masuk ke pintu ketiga.
Ternyata di dalamnya ada api yang 60 x jauh lebih panas, daripada api yang di
pintu luar pertama dan kedua, yang telah saya tinggalkan. Api itu memakan
bebatuan dan api dari luar pintu, yang bisa diraih.
4.
Lalu saya dimasukkan ke dalam pintu keempat,
yang di dalamnya ada api melahap api luar pintu. Panasnya 60 x lipat daripada
api semua sebelumnya. Ternyata ada pohon besar yang menggugurkan batu-batu
hitam terbalut api. Yang lebih mengerikan, sejumlah kaum dipaksa agar makan
batu-batuan itu. Saya bertanya ‘siapakah mereka ini?’. Ada yang menjawab
‘mereka kaum yang suka makan [15] harta-harta
orang lain, dengan aniaya. [16]
Dan menimbulkan permusuhan'. [17]
5. Selanjutnya saya
dibawa menuju pintu kelima. Di sana ada api dan kegelapan. Ternyata api di
dalamnya 60 x lebih panas daripada seluruh api sebelumnya. Ada pohon yang
membuat saya ngeri, buah-buahnya bagaikan kepala syaitan. Banyak sekali cacing
hitam sepanjang 100 hasta. Selain itu ada sejumlah pria dipaksa agar makan
cacing-cacing besar itu. Saya bertanya ‘apa ini?’. Ada yang menjawab ‘inilah
pohon Zaqqum’. Saya bertanya ‘siapakah mereka itu?’. Sejumlah
malaikat menjawab ‘mereka orang yang suka makan riba'. [18]
6. Selanjutnya saya
dibawa menuju ke pintu keenam. Ternyata apinya jauh lebih panas dan lebih gelap
60 x daripada semua sebelumnya. Yang membuat saya ngeri lagi, sumur-sumur yang
dalamnya tidak bisa diperkirakan. Dan ternyata jauh di dalamnya ada kaum yang
wajah mereka [19] membusuk,
mengeluarkan nanah, yang baunya menjijikkan. Kalau nanah itu diteteskan ke
bumi, niscaya seluruh bumi dipenuhi baunya yang tidak sedap. Ada lagi yang
membuat saya tersiksa, angin yang dinginnya bisa menghapus panasnya api. Saya
bertanya ‘apa ini?’. Beberapa malaikat menjawab ‘Zamharir’. Saya
bertanya ‘siapa kaum yang wajah mereka membusuk itu?’. Mereka
menjawab ‘para pezina'. [20] Lalu
saya didatangkan pada malaikat berbentuk lelaki ‘duduk’ di atas kursinya, di
pertengahan api. Dia dikelilingi para malaikat yang membawa gada api membara.
Sang malaikat bertanya ‘apa yang disembah oleh ini dahulu ?’. Beberapa malaikat
menjawab ‘dia dulu menyembah sapi, bukan Allah’. Dia perintah ‘bawalah dia
menuju teman-temannya!’. Nabi Isa AS menyela ‘bagaimana kamu dulu menyebah
sapi?’. Tengkorak menjawab ‘kami dulu menyembah dengan cara ‘bersujud dan
memberikan sesaji’ Chimash (الحمَّص/Kacang) dan madu yang
disaring’. Isa AS bertanya ‘dulu nabimu bernama siapa?’. Tengkorak
menjawab ‘Ilyas AS’, lalu melanjutkan ceritanya:
7.
‘Lalu mereka membawa saya menuju pintu
ketujuh. Saya terkejut saat melihat 300 tembok membara memagari 300 perumahan
membara. Tiap perumahan berisi 300 rumah membara. Di dalam semua rumah terdapat
alat-alat siksa berjumlah 300, semuanya berbeda jenisnya. Yang pasti ada
sejumlah ular, kalajengking dan Afai (الأفاعي/jenis ular besar). Saya dimasukkan kedalam
sumur itu, dan dibakar dalam keadaan dibelenggu, bersama sahabat-sahabat saya.
Sejumlah ular Afai (الأفاعي) menyerbu perut kami. Sejumlah ular lainnya menggigiti kami. Sejumlah
malaikat memukul kami dengan gada. Sejak 94 tahun yang lalu, siksaan untuk kami
tidak pernah diringankan sekejap matapun. Hanya setiap hari Jumat dan Kamis
Allah Taala meringankan siksaan untuk kami. Akhirnya kami tahu
hari Jumat dan Kamis karena keringanan yang rutin itu.
Di saat kami sedang menikmati keringanan siksaaan, ada seruan yang sampai pada
saya ‘keluarkanlah jiwa jelek ini menuju tengkoraknya (جمجمتها)! Yang tergolek di
jurang Kiamat! Karena Ruchullah [21] telah
memberi syafaat padanya'.
Saya dikeluarkan
menuju kemari. Saya mohon pada tuan Ruch dan Kalimat Allah.[22] Agar
berdoa 'agar Tuhan tuan memberi ampunan pada saya, dan agar memberi syafaat
pada tuan mengenai diri saya'.
Isa AS melakukan
shalat dua rakaat lalu berdoa pada Tuhannya ‘ya Tuhan dan Khaliq hamba (يا
إلهي وخالقي), utuslah jiwa jelek ini pada hamba’.
Tengkorak itu bersama Nabi Isa AS, karena diutus oleh Allah. Hingga Isa AS
diangkat ke langit, dan Allah menggenggam lagi pada tengkorak itu.”
Seorang Ustadz
menegur "Jumjumah adalah kerangka manusia."
Saya menjawab
"Kerangka adalah haikal; sedangkan jumjumah adalahtengkorak."
Ustadz lain nyeletuk,
"Mbok yang dibahas keimanan."
Saya menjawab "Akhi, ini
termasuk pembahasan iman pada malaikat, Nabi Isa AS dan hari
akhir."