SELAMAT DATANG DI BLOG PONDOK PESANTREN MULYA ABADI, JL. MAGELANG KM 8.5 SLEMAN YOGYAKARTA, SEMOGA BLOG INI BISA MENJADI SILATURAHMI KITA UNTUK SALING BERBAGI

Doa Meluluhkan Hati Seseorang

Ya Allah sungguh Engkau Maha Mulia Maha Besar. Sedangkan saya HambaMu yang sangat hina dina. Tiada upaya dan kekuatan kecuali karena Kau. Ya Allah, tundukkanlah

Doa Agar di Beri kerjaan Bisnis

Ya Allah, Raja segala Kerajaan, Tuhan memberikan Kerajaan pada yang Tuhan kehendaki, melepas Kerajaan dari yang Tuhan kehendaki, menjayakan orang yang Tuhan kehendaki, dan merendahkan orang yang Tuhan kehendaki

Sapaan Nabi Membuat Khowat Sungkan

Rasulullah SAW keluar dari tenda dan bersabda pada saya ‘hai Ayah Abdillah, apa yang mendorong kau duduk bersama mereka ?’

Hibah Menurut Bukhori

Hibah Menurut Bukhari Ibrahim Annakhai tergolong Tabiin yang sangar alim. Beliau murid Ibrhaim Attaimi, murid Amer bin Maimun, murid Abu Abdillah Al-Jadali, murid Khuzaimah sahabat Nabi SAW.

Masuk Surga Paling Awal

Rasulullah SAW bersabda, “Jibril AS telah datang untuk memegang tanganku untuk menunjukkan saya Pintu Gerbang Surga, yang akan dimasuki oleh umatku.”

Tampilkan postingan dengan label Khalid bin Walid. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Khalid bin Walid. Tampilkan semua postingan

2012/02/20

KW 190: Yuqana Bersiasat



Ketika telah membaca surat tentang, Amer dan Pasukannya Selamat” Abu Ubaidah berbahagia. Lalu menulis surat jawaban:
“Jika suratku telah kau baca, segeralah kembali ke Qaisariyah! Saya akan segera memberangkatkan pasukan untuk menggempur kaum Shaur (صور), Akka (عَكّاءَ), Tharabulus (طرابُلُس), dan Qaisariyah (قَيْسارِيَةَ), yang tidak taat Allah.”

Abu Ubaidah perintah agar pasukannya bersiap berangkat ke Sachil (Pantai). Abdullah Yuqana raja Chalab (Aleppo) berdiri untuk berkata, “Yang mulia, Allah telah menggulingkan kekufuran dan menjayakan Ketauhidan. Saya ingin berangkat mendahului menuju kesana, dengan tujuan bisa mendahului berperang.”
Abu Ubaidah menjawab, “Ya Abdallah! Kalau memang tujuanmu mendekat pada Allah, Allah juga akan mendekati kamu! Silahkan!.”

Abdullah Yuqana bergegas menyiapkan pasukan yang terdiri dari kaum Chalab, berjumlah 4.000 pasukan berkuda. Derap kaki kuda mereka membahana; debu-debu beterbangan. Mereka pergi sebelum Abu Ubaidah dan pasukannya.


Di antara pasukan Abu Ubaidah yang dibawa oleh Abdullah Yuqana, ada 3.000 bathriq yang telah Islam, di bawah pimpinan Jirfas. Mereka telah menyadari bahwa agama Islam, kelanjutan dari agama Isa bin Maryam AS. Dan telah sadar bahwa Allah lah satu-satunya Tuhan yang harus disembah yang mutlak tidak berputra dan diputrakan.


Setelah kabur dari Jabiyah menuju kerajaan Qaisariyah, Raja Filasthin didampingi 80.000 pasukan, perintah agar 3.000 pasukan berkuda dari kota Tharabulus datang, untuk memperkuat pertahanan kerajaan. 
Arak-arakan pasukan berkuda dari Tharabulus berbondong-bondong mendatangi undangan Filasthin. Dalam perjalanan panjang itu, mereka istirahat di hutan dan mengikat kuda.

Tiba-tiba Raja Yuqana dan pasukannya muncul. Di dalam pasukan Yuqana, raja Romawi bernama Filanthinus.
Tadinya Filanthinus bertemu di jalan lalu bergabung pada pasukan Yuqana.

Jirfas memacu kuda untuk mendekati pasukan dari Tharabulus, lalu mengucapkan salam dan bertanya, “Siapa kalian?.”
Mereka menjawab, “Kami kaum yang telah berlindung pada kaum Arab. Tadinya, kami menyangka baik, ternyata mereka jahat dan agama mereka jelek. Kami kaum Chalab (Aleppo), Qinasrin, Izaz, Darim, dan Anthakiyah, yang akan menghadap pada Raja Hiraqla.”

Jirfas lega ketika mendengar jawaban mereka. Lalu dengan lembut, dia berkata, “Istirahatlah di sisi kami sejenak, untuk menghilangkan lelah. Kalian pasti khawatir pada serangan kaum Arab.”
Jirfas yakin mereka tidak curiga bahwa dirinya telah Islam.
Pada mereka, Yuqana bertanya, “Kalian akan diutus kemana?.”
Mereka menjawab, “Raja Filasthin perintah agar kami ke Tharabulus.”
Yuqana berpesan, “Hati-hati! Setahu kami, Abu Ubaidah berencana pergi ke Sachil.”
Jirfas berkata, “Kekuasaan kita telah hilang dan hari-hari indah kita tinggal kenangan. Ternyata Salib yang kita sembah tidak bisa menolong kita.”

Arak-arakan kaum Romawi itu mau istirahat di sisi pasukanYuqana. Setelah rasa capek hilang, dan telah diberi makanan, mereka pergi meneruskan perjalanan. Jirfas hampir mengikuti, tetapi dihalang-halangi, “Jangan! Suruhlah pasukanmu agar mengenakan busana terbaik! Agar kalian berwibawa” oleh Yuqana.

Setelah rencana muslihatnya matang, Yuqana membawa pasukannya menuju Sachil (pantai), untuk menangkap sejumlah orang di bawah pimpinan Al-Charits bin Sulaim. Tangan mereka diikat erat hingga belikat. 
Ketika malam tiba, Al-Charits bin Sulaim dan kaumnya dikumpulkan untuk diberi tahu, “Maaf saudara sekalian! Ini hanya siasat. Saya tidak murtad dari Islam, dan takkan mencelakai kalian. Ini siasat agar kaum Romawi menyangka saya telah menyerbu dan menangkap kalian kaum Arab” oleh Yuqana.

Setelah tahu maksud Yuqana, Al-Charits dan kaumnya merasa tenang. Mereka berkata, “Kalau tujuan kau bersiasat untuk menegakkan Agama Allah, maka Allah akan menolong kau mengalahkan lawan.”
Beberapa pria disuruh oleh Yuqana, agar berpura-pura membawa harta rampasan. Jirfas merasa tenang pada Yuqana, karena ternyata kaumnya dan binatang mereka hanya dikumpulkan, tidak dirampas.


2012/02/12

KW 187: Petolongan Datang tak Terduga




 (Bagian ke-187 dari seri tulisan Khalid bin Walid)

Setelah perintah agar putranya bernama Filasthin pergi ke Qaisariyah (Caesarea), Hiraqla perintah agar seorang bathriq agung bernama Qidamun (قيدمون) mendampingi Filasthin. Qidamun termasuk tokoh Romawi yang firasatnya selalu tepat. Ada yang bilang, “Dia paman Filasthin dari jalur ibu, veteran Perang Persia, Turki dan Jaramiqah, yang menguasai berbagai bahasa.”
                         
Dengan busana dan perhiasan gemerlapan, Qidamun tingggi besar muncul, untuk menantang berperang. 
Beberapa pasukan muslimiin bergerak untuk mengabulkan tantangannya. Mereka membaca,Laa Ilaaha illaa Allahbersaut-sautan. 

Kaum pengepung Qidamun mendengar Amer berteriak, “Pahala Allah jauh lebih baik daripada busana dan perhiasan yang dia kenakan. Yang memerangi dia, jangan hanya karena ingin rampasan! Saya pernah mendengar Rasulallah SAW bersabda ‘Barang siapa hijrahnya menuju Allah dan RasulNya, maka akan sampai pada Allah dan RasulNya. Barang siapa hijrahnya karena dunia maka akan mendapatkan dunia. Kalau bertujuan mendapatkan wanita, maka akan menikahi wanita. Orang akan sampai pada tujuan’.” 

Seorang pemuda dari Yaman maju
, untuk melayani tantangan Qidamun. Dialah lelaki yang datang ke Syam bersama ibu dan sudara perempuannya.
Saudara perempuan berkata, “Hai putra ibu! Ayo perjalanan ini kita percepat! Agar kita segera menikmati rizqi di Syam!.”
Dia menjawab, “Saya datang kemari untuk mencari Keridhoan Allah azza wajalla. Saya pernah mendengar Muadz bin Jabal berkata sungguh kaum yang mati sebagai syuhada, mendapat rizqi di sisi Tuhan’.”
Saudara perempuan membantah, “Bagaimana mungkin, kaum mati mendapat rizqi?.”
Dia menjawab, “Muadz berkata ‘sungguh Allah Taala memasukkan ruh para Syuhada, di dalam tubuh burung-burung surga. Menikmati buah-buahan dan air surga. Itulah Rizqi Allah untuk mereka’.”

Pada ibu dan saudara perempuannya, lelaki itu berpamitan, “Saya akan menghadap Allah, dengan jalan berperang membela AgamaNya. Saya akan menunggu kalian berdua di telaga Rasulillah SAW.”
Ibu dan saudara perempuan menangis. Air mata membasahi pipi.
dengan berdebar, lelaki itu bergerak melangkahkan kaki, untuk pergi ke medan perang. 
Ibu dan sudaranya ditinggalkan dalam keadaan menangis dan berdoa.
Air mata ibu dan saudaranya yang tumpah semakin banyak
, ketika pemuda itu memacu kuda dengan memegang tombak. 

Pemuda itulah yang menusuk dengan tombak ke arah dada Bathriq Qidamun. Dia kesulitan melepaskan tombak yang menancap. Dan terkejut oleh tebasan pedang Qidamun yang tahu-tahu mematahkan tombaknya. Bahkan lalu bergerak cepat sekali membelah kepalanya. 
Atas Rahmat Allah, pemuda itu gugur dengan kepala terbelah.

Qidamun menginjak mayat dan menantang berkelahi pada pasukan
Muslimiin. 
Ibnu Qutsam datang untuk melawan. Tetapi pedang Qidamun menebas hingga dia tewas sebagai Syahid kedua.
Qidamun membusungkan dada, semakin sombong.

Syurachbil memaki dirinya sendiri, “Kenapa kau membiarkan penjahat itu membunuh dua orang Muslimiin?” Lalu keluar dari barisan, menyerang dengan membawa panji pemberian Abu Bakr Asshiddiq RA. 

Amer menegur, “Hai Hamba Allah! Tancapkan panjimu di tanah! Agar tidak mengganggu berperang!.”
Syurachbil menancapkan panji panjang ke celah-celah bebatuan. Dia yakin bahwa dirinya akan mampu manaklukkan lawan, karena Pertolongan Tuhan.

Ketika Syurachbil berlari dengan kuda, mendekati Qidamun yang berkuda. Pasukan Muslimiin berdoa agar Syurachbil menang.
Qidamun laknat berperawakan tinggi besar menertawakan Syurachbil yang lebih kecil dan kerempeng, yang rajin berpuasa dan shalat malam.

Pedang dan perisai mereka berdua bergerak-gerak dengan berdenting karena berkali-kali berbenturan. Pedang Syurachbil berkali-kali memukul, tetapi tak melukai kulit yang dilindungi dengan baju perang. Dan tak mampu membelah helm perang Qidamun. Bahkan dia terkejut oleh sambaran pedang Qidamun yang menggores kulit, meskipun telah dihindari

Di atas kuda, mereka berdua berkelahi semakin seru.
Hujan deras mengguyur bumi. Tempat berperang makin becek, hingga mereka berdua turun dari kuda dan bergulat di lumpur.
Syurachbil dipukul hingga masuk ke
dalam lumpur, dan diangkat untuk dilemparkan. Lalu dadanya diduduki oleh Qidamun.
Tangan Qidamun telah bergerak, mengambil belati untuk menyembelih Syurachbil
yang hatinya berdebar hingga berdoa, “Ya Penolong kaum yang memohon pertolongan!.”
Sebelum doa yang dia baca selesai
, muncul lelaki berkuda dari pasukan Romawi. 
Qidamun terkejut, menyangka lelaki berkuda itu akan menyerahkan kuda dan akan menolong dirinya. Qidamun bergerak, tak sadar bahwa Syurachbil di bawahnya tahu-tahu lolos dan bangkit. 

Lelaki itu menghunus dan mengayunkan pedang sekuat tenaga hingga leher putus dan darah Qidamun tumpah.
Lelaki itu perintah
, “Ya Abdallah! Rampaslah yang dia miliki!” pada Syurachbil.
Syurachbil bertanya, “Demi Allah, menurutku tak ada yang lebih menakjubkan dari pada ini. Kenapa kau muncul dari pasukan Romawi?.”
Syurachbil terperangah oleh jawabannya, “Saya orang keparat yang dibenci oleh kaum Muslimiin. Nama saya Thalchah bin Khuwailid (طلحة بن خويلد) yang pernah mengaku sebagai nabi setelah Rasulallah SAW. Yang pernah berdusta dengan mengatas namakan Allah. Yang pernah mengaku mendapatkan Wahuyu dari langit.”
Syurachbil berkata, “Saudara! Sungguh Rahmat Allah dekat pada kaum yang berbuat ihsan. Sungguh RahmatNya memuat segala sesuatu. Barang siapa bertobat, pasti Allah menerima tobat dan mengampuni dia. Nabi juga bersabda ‘tobat melebur dosa sebelumnya’. Tak tahukah kau bahwa:
Ketika Allah menurunkan Firman ‘وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ’ yang artinya: dan RahmatKu memuat segala sesuatu, [1] segala sesuatu hingga Iblis pun berharap, mendapatkan Rahmat itu. Ketika Allah menurunkan Firman ‘فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ’, yang artinya: maka Rahmat itu akan Aku pastikan untuk kaum yang bertaqwa dan menunaikan zakat,[2] kaum Yahudi berkata ‘kami bertaqwa dan menunaikan zakat’. Ketika Allah menurunkan Firman ‘وَالَّذِينَ هُمْ بِآَيَاتِنَا يُؤْمِنُونَ’ yang artinya: dan kaum yang beriman pada Ayat-Ayat Kami,[3] kaum Yahudi berkata ‘kami beriman pada yang Allah turunkan di dalam Shuchuf dan Taurat’. Allah menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan Firman itu, umat Muhammad SAW secara khusus: ‘الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الْأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِنْدَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ يَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالْأَغْلَالَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ فَالَّذِينَ آَمَنُوا بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي أُنْزِلَ مَعَهُ أُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ’ artinya: yaitu kaum yang mengikti Rasul Nabi Ummi yang mereka jumpai tertulis di sisi mereka, di dalam Taurat dan Injil. Yang:
1.     Perintah agar mereka melakukan kebaikan dan mencegah kemungkaran.
2.     Menghalalkan kebaikan-kebaikan pada mereka.
3.     Mengharamkan kejelekan-kejelekan.
4.     Dan membebaskan dosa dan belenggu yang telah membelenggu mereka.
Kaum yang telah beriman padanya dan mengikuti Nur yang diturunkan bersamanya, mereka kaum yang beruntung.” [4]

Air mata Thalchah berderai karena terharu oleh penjelasan Surachbil. Tetapi lalu berkata, “Tidak! Saya sudah malu jika memasuki agama Islam lagi!.” 
Kakinya diayunkan untuk berlari. Tetapi Suhrachbil menahan dia dan berkata, “Thalchah! Saya takkan membiarkan kau! Kau harus bergabung dengan pasukanku!.”
Thalchah berkata, “Terus terang saya takut dimarahi dan dibunuh oleh Khalid bin Al-Walid yang pendek itu.”
Syurachbil menghibur, “Sudahlah! Beliau tidak ada di dalam pasukan kami. Yang memimpin pasukan ini, Amer bin Al-Ash.”

Thalchah mengikuti Syurachbil untuk bergabung pada pasukan
Muslimiiin. 

Kedatangan Syurachbil disambut dengan bahagia oleh pasukan
Muslimiin. Mereka bertanya, “Hai Syurachbil! Siapa yang telah menolong kau ini?.” 
Thalchah sengaja menutupi wajahnya dengan sebagian kain surbannya.
Syurachbil menjawab, “Inilah Thalchah bin Khuwailid yang pernah mengaku sebagai nabi.” 
Mereka berkata, “Apa dia telah bertobat pada Allah?.”
Thalchah berkata, “Saya telah bertobat pada Allah.” 

Syurachbil membawa Thalchah menuju Amer bin Al-Ash.
Pada Amer, Thalchah mengucapkan, “Assalamu alaikum, selamat beremu lagi.”




[1] وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ [الأعراف/156].
[2] فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ [الأعراف/156].
[3] وَالَّذِينَ هُمْ بِآَيَاتِنَا يُؤْمِنُونَ [الأعراف/156].
[4] الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الْأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِنْدَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ يَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالْأَغْلَالَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ فَالَّذِينَ آَمَنُوا بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي أُنْزِلَ مَعَهُ أُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ [الأعراف/157].

2012/01/02

KW 171: Dakwah di Negri Anthakiyah






 (Bagian ke-171 dari seri tulisan Khalid bin Walid)

Pagar-pagar pengaman, tenda-tenda, sutra-sutra, perkakas berharga mahal, emas, intan, berlian, diambil oleh kaum Arab, untuk dikumpulkan. 
Pasukan Romawi Timur yang ditawan berjumlah 30.000 orang. Sebuah sumber menjelaskan, “Pasukan Romawi Timur yang tewas berjumlah 70.000 orang
Pasukan Nashrani Arab kabur menuju negeri Qaisariyah (قيسارية), berlindung pada Raja Qusthanthin bin Hiraqla (قسطنطين بن هرقل). Kecuali yang tertangkap.” 

Ketika peperangan telah selesai, jarahan dan tawanan perang berjumlah banyak sekali, dikumpulkan di hadapan Abu Ubaidah yang terperangah dan matanya melebar. Beliau menunduk untuk bersujud dan bersyukur pada Allah. 

Pasukan Muslimiin saling mengucapkan dan menjawab salam; Dhirar dan para sahabatnya berdatangan.
Yuqana muncul; Filanthanus dan orang-orangnya juga berdatangan untuk mengucapkan salam pada kaum Muslimiin.

Dengan wajah cerah Filanthanus dan orang-orangnya menyaksikan para sahabat senior Rasulillah SAW berkata, “Kami pernah mendengar nabi kami SAW bersabda ‘ketika tokoh kaum datang pada kalian maka muliakan!’.” 

Filanthanus dan orang-orangnya merasa terharu, ketika dihormat dengan sopan oleh kaum Muslimiin. Dia bersumpah, “Demi Allah mereka ini kaum yang pernah dijelaskan oleh Isa AS.” 
Semua kerabat Filanthanus menyatakan Islam. Dan bergabung berjihad hingga negeri-negeri selain Anthakiyah direbut oleh kaum Arab.

Filanthanus pergi haji ke Makkah, dan ziarah ke Kubur Rasulillah SAW. Dan mengucapkan salam pada Umar RA yang bergegas bersama kaum Muslimiin, menyambut kedatangan dia di kota Madinah. 
Dia bermukim di Baitul-Maqdis hingga ajal menjemput.
Karena pengaruh sopan-santun Abu Ubaidah dan pasukannya, Raja Filanthanus, kerabatnya, Raja Yuqana dan kerabatnya; maka penduduk Anthakiyah sama masuk Islam. Wilyah itu dan lainnya menjadi wilayah Islam. Bagi orang yang benci Islam pasti mencemooh, “Islam berkembang dengan pedang.” 
Padahal ucapan yang seperti benar itu 'sebetulnya bermuatan politik' merendahkan dan menyudutkan Islam. Kalau dijawab, “Dulu Nashrani juga bekembang karena pedang,” in syaa Allah pasti mereka terkejut. 

Sejak naik ke langit, agama Isa bin Maryam AS dirintangi secara besar-besaran oleh penguasa Romawi dan Yahudi. Bahkan sekitar 83 tahun setelah Isa bin Maryam AS naik ke langit, ada tokoh Yahudi bernama Paulus (Syaul) yang memerangi dengan sadis pada pengikut Isa AS. Agama Islam yang dibawa oleh Isa AS mulai berjaya setelah Raja Qusthanthin dan ibu surinya masuk Islam. 

Qusthanthin menggerakkan pasukannya untuk menyerbu penduduk Baitil-Maqdis dengan sadis. Peperangan dilancarkan terus-menerus hingga dia merebut wilayah yang sangat luas. 
Menurut sahabat nabi SAW bernama Abu Said Al-Khudri RA:
“Sejak Adam AS hingga Firaun dan pasukannya tenggelam di laut, adalah batas abad-abad kuno yang dalam Al-Qur’an diisilahkan ‘qurunul uulaa’. Di masa ‘qurunul uulaa’, Allah menyiksa manusia yang tidak mau mengesakan Dia, langsung dari langit. Setelah itu hingga kiamat nanti adalah ‘lembaran qurunul ukhra’ yang artinya abad-abad akhir. Mulai saat itu, jika Allah menyiksa orang-orang yang tidak mau mengesakan Dia, menggunakan Tangan para HambaNya.”

Pada dasarnya ajaran Islam adalah sopan dan lembut lagi ilmiyah. Dua Ayat dari Surat Hud ini bukti nyata dari uraian barusan:
أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ قُلْ فَأْتُوا بِعَشْرِ سُوَرٍ مِثْلِهِ مُفْتَرَيَاتٍ وَادْعُوا مَنِ اسْتَطَعْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ فَإِنْ لَمْ يَسْتَجِيبُوا لَكُمْ فَاعْلَمُوا أَنَّمَا أُنْزِلَ بِعِلْمِ اللَّهِ وَأَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ فَهَلْ أَنْتُمْ مُسْلِمُونَ [هود/13، 14].
Artinya:
Justru mereka berkata, “Dia yang mengarang (Al-Qur'an).” 
Katakan, “Coba datangkan 10 Surat (Karya Tulis) semisal itu yang dikarang! Dan ajaklah siapa saja yang kalian mampu! Jika kalian telah benar! 
Namun jika mereka mutlak tidak mampu mengabulkan pada kalian, maka ketahuilah bahwa: 
1.   Sesungguhnya Dia diturunkan dengan memuat Ilmu Allah. 
2.   Mutlak tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Dia (Allah). 
3.   Bukankah kalian mau masuk Islam?.”
Khusus lafal am (أَمْ) dalam kalimat di atas, diartikan, “Justru,” karena tidak diawali dengan ‘a’ (أَ). 
Hal dalam kata ‘fahal’ (فَهَلْ) di atas diartikan, “Bukankah?,” karena pertanyaan dengan lafal dan dalam untaian kalimat itu harus dijawab ‘iya’

Tegasanya bahwa kaum yang tidak mau beragama Islam menurut 2 Ayat itu adalah keliru, karena di dalam 2 Ayat itu, Allah telah menunjukkan Cara Paling Dahsyat, dalam waktu abadi, bahwa Al-Qur’an benar-benar dari Allah, yang memuat Ilmu Allah, yang mampu membuktikan bahwa Tuhan yang pantas disembah hanya Allah 

Lam (لَمْ) di atas diartikan mutlak tidak (mampu mengabulkan pada kalian). Maksudnya pembuktian terdahsyat sepanjang sejarah kehidupan manusia ini 'bersifat abadi'.

Maksud penulis bahwa sudah terlalu banyak dan fariatif, Dakwah yang disampaikan oleh Allah melalui RasulNya dengan kelembutan, kesopanan dan ilmiyah. Tetapi karena kaum Kafir justru makin memusuhi kebenaran, karena mentaati Syaitan, maka Allah menurunkan Perintah yang sama dengan yang diperintahkan atas semua Nabi sejak Musa hingga Isa AS. Subhanalloh.


Bersambung.