SELAMAT DATANG DI BLOG PONDOK PESANTREN MULYA ABADI, JL. MAGELANG KM 8.5 SLEMAN YOGYAKARTA, SEMOGA BLOG INI BISA MENJADI SILATURAHMI KITA UNTUK SALING BERBAGI

Doa Meluluhkan Hati Seseorang

Ya Allah sungguh Engkau Maha Mulia Maha Besar. Sedangkan saya HambaMu yang sangat hina dina. Tiada upaya dan kekuatan kecuali karena Kau. Ya Allah, tundukkanlah

Doa Agar di Beri kerjaan Bisnis

Ya Allah, Raja segala Kerajaan, Tuhan memberikan Kerajaan pada yang Tuhan kehendaki, melepas Kerajaan dari yang Tuhan kehendaki, menjayakan orang yang Tuhan kehendaki, dan merendahkan orang yang Tuhan kehendaki

Sapaan Nabi Membuat Khowat Sungkan

Rasulullah SAW keluar dari tenda dan bersabda pada saya ‘hai Ayah Abdillah, apa yang mendorong kau duduk bersama mereka ?’

Hibah Menurut Bukhori

Hibah Menurut Bukhari Ibrahim Annakhai tergolong Tabiin yang sangar alim. Beliau murid Ibrhaim Attaimi, murid Amer bin Maimun, murid Abu Abdillah Al-Jadali, murid Khuzaimah sahabat Nabi SAW.

Masuk Surga Paling Awal

Rasulullah SAW bersabda, “Jibril AS telah datang untuk memegang tanganku untuk menunjukkan saya Pintu Gerbang Surga, yang akan dimasuki oleh umatku.”

Tampilkan postingan dengan label Muslim. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Muslim. Tampilkan semua postingan

2015/04/17

Ciptaan Allah Terdahulu



Urutan Ciptaan Allah Terdahulu:
1.     Di hari Sabtu, Allah azza wajalla mencipta tanah.
2.     Di hari Ahad, Dia mencipta gunung-gunung.
3.     Di hari Senin, Dia mencipta pepohonan.
4.     Di hari Selasa, Dia mencipta yang dibenci.
5.     Di hari Rabo, Dia mencipta nur (terang).
6.     Di hari Kamis, Dia mencipta dan mengembang-biakkan binatang.
7.     Di hari Jumah bakdal Asar, Dia mencipta Adam AS, di akhir ciptaan. Di waktu akhir hari Jumat, di antara Asar hingga malam. [1]


[1] صحيح مسلم (4/ 2149)
27 - (2789) حَدَّثَنِي سُرَيْجُ بْنُ يُونُسَ، وَهَارُونُ بْنُ عَبْدِ اللهِ، قَالَا: حَدَّثَنَا حَجَّاجُ بْنُ مُحَمَّدٍ، قَالَ: قَالَ ابْنُ جُرَيْجٍ، أَخْبَرَنِي إِسْمَاعِيلُ بْنُ أُمَيَّةَ، عَنْ أَيُّوبَ بْنِ خَالِدٍ، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ رَافِعٍ، مَوْلَى أُمِّ سَلَمَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: أَخَذَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدِي فَقَالَ: «خَلَقَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ التُّرْبَةَ يَوْمَ السَّبْتِ، وَخَلَقَ فِيهَا الْجِبَالَ يَوْمَ الْأَحَدِ، وَخَلَقَ الشَّجَرَ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ، وَخَلَقَ الْمَكْرُوهَ يَوْمَ الثُّلَاثَاءِ، وَخَلَقَ النُّورَ يَوْمَ الْأَرْبِعَاءِ، وَبَثَّ فِيهَا الدَّوَابَّ يَوْمَ الْخَمِيسِ، وَخَلَقَ آدَمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ بَعْدَ الْعَصْرِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ، فِي آخِرِ الْخَلْقِ، فِي آخِرِ سَاعَةٍ مِنْ سَاعَاتِ الْجُمُعَةِ، فِيمَا بَيْنَ الْعَصْرِ إِلَى اللَّيْلِ» ، قَالَ إِبْرَاهِيمُ: حَدَّثَنَا الْبِسْطَامِيُّ وَهُوَ الْحُسَيْنُ بْنُ عِيسَى، وَسَهْلُ بْنُ عَمَّارٍ، وَإِبْرَاهِيمُ ابْنُ بِنْتِ حَفْصٍ وَغَيْرُهُمْ، عَنْ حَجَّاجٍ بِهَذَا الْحَدِيثِ
__________

[شرح محمد فؤاد عبد الباقي]
 [ش (الأربعاء) بفتح الهمزة وكسر الباء وفتحها وضمها ثلاث لغات حكاهن صاحب المحكم وجمعه أربعاوات وحكى أيضا أرابيع]
قال إبراهيم حدثنا البسطامي (وهو الحسين بن عيسى) وسهل بن عمار وإبراهيم بن بنت حفص وغيرهم عن حجاج بهذا الحديث.

2014/04/03

Berita Sangat Unik


Annisa 155 - 159


Firman Allah dalam Surat An-Nisa’:

{فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِيثَاقَهُمْ وَكُفْرِهِمْ بِآيَاتِ اللَّهِ وَقَتْلِهِمُ الْأَنْبِيَاءَ بِغَيْرِ حَقٍّ وَقَوْلِهِمْ قُلُوبُنَا غُلْفٌ بَلْ طَبَعَ اللَّهُ عَلَيْهَا بِكُفْرِهِمْ فَلَا يُؤْمِنُونَ إِلَّا قَلِيلًا () وَبِكُفْرِهِمْ وَقَوْلِهِمْ عَلَى مَرْيَمَ بُهْتَانًا عَظِيمًا () وَقَوْلِهِمْ إِنَّا قَتَلْنَا الْمَسِيحَ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ رَسُولَ اللَّهِ وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَكِنْ شُبِّهَ لَهُمْ وَإِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُوا فِيهِ لَفِي شَكٍّ مِنْهُ مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ إِلَّا اتِّبَاعَ الظَّنِّ وَمَا قَتَلُوهُ يَقِينًا () بَلْ رَفَعَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا () وَإِنْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ إِلَّا لَيُؤْمِنَنَّ بِهِ قَبْلَ مَوْتِهِ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكُونُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا ()} [النساء: 155 - 159].

Adalah ‘Berita Sangat Unik’, karena banyak hikmah tersembunyi di dalamnya, seperti yang akan dibahas di bawah ini.

Arti beberapa Ayat di atas:
Karena mereka telah:
1.     Merusak sumpah mereka. [1]
3.     Membunuh para nabi dengan tidak benar.
4.     Mengatakan,“Hati kami tertutup.” Yang benar justru Allah yang menutup hati mereka, karena kekufuran mereka. Hingga mereka tidak beriman kecauli sangat sedikit.
5.     Melontarkan Tuduhan Dosa Besar atas Maryam.
6.   Berkata,“Kami telah membunuh Al-Masih bin Maryam AS, Utusan Allah.” Padahal mereka tidak membunuh dan tidak menyalib dia AS. Tetapi (yang benar), mereka telah dibuat serupa (bingung). [2] [3] Kaum yang telah berselisih mengenai Isa AS, niscaya di dalam ragu-ragu tentang hal itu. Mereka tidak memiliki ilmu sedikitpun mengenai hal itu, kecuali hanya mengikuti persangkaan. Mereka tidak membunuh dia AS secara yakin. [4] Yang benar, Allah telah mengangkat dia AS pada-Nya. [5] Sejak dulu, Allah Maha Dahsyat Maha Kaya Hikmah. [6] Dan tak seorangpun dari kaum Ahli Kitab, kecuali pasti sungguh akan beriman padanya, sebelum wafatnya. [7] Dan di hari kiamat nanti, dia akan menjadi saksi atas mereka.


Hikmah yang terkandung dalam lima ayat tersebut:
1.     Allah menunjuk 6 kesalahan kaum Yahudi, termasuk di antaranya menuduh Maryam berzina. Mengatakan ‘Isa AS telah wafat di atas Salib, berarti membenarkan pernyataan kaum Yahudi, yang dinilai bohong oleh Allah.
3.     Dalil yang menunjukkan 'Allah menuding 6 kesalahan kaum Yahudi', berada sejak di kalimat fabimaa naqdhihim (فَبِمَا نَقْضِهِمْ) (ayat 155), hingga kalimat wa qaulihim (وَقَوْلِهِمْ) (ayat 167), yakni selalu di-khafadh (dikasrah akhir lafalnya):
·        فَبِمَا نَقْضِ lengkapnya, “فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِيثَاقَهُمْ.”
·        وَكُفْرِ lengkapnya, “وَكُفْرِهِمْ بِآيَاتِ اللَّهِ.”
·        وَقَتْلِ lengkapnya, “وَقَتْلِهِمُ الْأَنْبِيَاءَ بِغَيْرِ حَقٍّ.”
·        وَقَوْلِ lengkapnya, “وَقَوْلِهِمْ قُلُوبُنَا غُلْفٌ.”
·        وَبِكُفْرِهِمْ وَقَوْلِ lengkapnya, “وَبِكُفْرِهِمْ وَقَوْلِهِمْ عَلَى مَرْيَمَ بُهْتَانًا عَظِيمًا.”
·        وَقَوْلِ lengkapnya, “وَقَوْلِهِمْ إِنَّا قَتَلْنَا الْمَسِيحَ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ رَسُولَ اللَّهِ.” Ini semua menunjukkan bahwa Firman tersebut sebagai kesatuan yang tak terpisahkan.

Ada yang bertanya, “Kenapa perkataan mereka ‘hati kami tertutup’ disalahkan oleh Allah, dengan kalimat 'justru Allah yang telah menutup hati mereka, karena kekufuran mereka?'."

Jawabannya, karena kalimat itu menunjukkan mereka, atau orang lain, yang menutup, dan itu berarti ada kemungkinan bisa dibuka. Kalau Allah yang menutup, siapa yang mampu membuka? Agar mereka tahu Allah tidak bersalah, maka Allah berfirman “Karena kekufuran mereka."


Ponpes Mulya Abadi Mulungan



[1] Arti مِيثَاقَ sebenarnya ikatan, namun maksudnya sumpah.
[2] وَ diartikan padahal, karena haliyyah. (Lafal padahal berasal dari pada hal, lalu digabung menjadi padahal. Padahal artinya di dalam hal (kedaan), kalau dalam bahasa Arab disebut haliyyah, adapun dalam tulisan cukup ditulis waw (وَ).
[3] Az-Zamakhsyari termasuk Mufassir (ahli tafsir Al-Qur’an terkenal) yang teliti. Dia membahas kalimat syubbiha lahum: تفسير الزمخشري = الكشاف عن حقائق غوامض التنزيل (1/ 587)
فإن قلت: شُبِّهَ مسند إلى ماذا؟ إن جعلته مسنداً إلى المسيح، فالمسيح مشبه به وليس بمشبه، وإن أسندته إلى المقتول فالمقتول لم يجر له ذكر قلت: هو مسند إلى الجار والمجرور وهو قَوْلِهِمْ كقولك خيل إليه، كأنه قيل: ولكن وقع لهم التشبيه

Artinya: 
Jika kau berkata lafal شُبّهَ dialamatkan ke mana? Jika dialamatkan pada Al-Masih, justru dia AS yang dibuat master: bukannya dibuat serupa, namun jika kau alamatkan pada orang yang dibunuh, dia mutlak tidak disebutkan dalam kisah ini?. 
Saya menjawab, "Dialamatkan pada jar-majrur (لَهُمْ), seperti ucapanmu خيل إليه yang artinya dikhayalkan padanya (artinya dia diberi khayalan). Sungguh sepertinya, penyerupaan telah terjadi untuk (mengecoh) mereka.

Al-Alusi (ahli tafsir Al-Qur’an yang tak kalah mashur dibanding Az-Zamakhsyari), juga menjelaskan seperti itu.

[4] Firman ini, mukjizat atau nubuwat, yang menyatakan bahwa pelaku sejarah, kaum Yahudi, saat itu, tidak yakin bahwa mereka telah membunuh ‘Isa AS.
[5] بَلْ di sini, dan dalam ayat 155, sebelumnya, diartikan yang benar atau justru, berdasarkan:

1.      
صحيح البخاري (8/ 43)
جَلَسْتُ إِلَى سَعِيدِ بْنِ المُسَيِّبِ، فَحَدَّثَنِي: أَنَّ جَدَّهُ حَزْنًا قَدِمَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: «مَا اسْمُكَ» قَالَ: اسْمِي حَزْنٌ، قَالَ: «بَلْ أَنْتَ سَهْلٌ» قَالَ: مَا أَنَا بِمُغَيِّرٍ اسْمًا سَمَّانِيهِ أَبِي قَالَ ابْنُ المُسَيِّبِ: «فَمَا زَالَتْ فِينَا الحُزُونَةُ بَعْدُ»

Artinya: 
Saya pernah duduk di dekat Sa’id bin Al-Musayyab. Dia bercerita padaku bahwa, kakeknya bernama Hazn, pernah datang pada Nabi SAW. Nabi SAW bertanya, “Siapa namamu?” 
Dia menjawab, “Nama saya Hazn (artinya susah).” 
Nabi SAW bersabda, “Bal (justru atau yang benar) kau ini Sahl (artinya mudah atau senang).” 
Dia menjawab, “Saya takkan merubah nama pemberian ayahku.” 
Ibnul-Musayyab berkata, “Akhirnya kesusahan terus-menerus melanda kami.”

2.       
صحيح مسلم (1/ 250)
جَاءَتْ أُمُّ سُلَيْمٍ، - وَهِيَ جَدَّةُ إِسْحَاقَ -، إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ لَهُ، وَعَائِشَةُ عِنْدَهُ: يَا رَسُولَ اللهِ، الْمَرْأَةُ تَرَى مَا يَرَى الرَّجُلُ فِي الْمَنَامِ، فَتَرَى مِنْ نَفْسِهَا مَا يَرَى الرَّجُلُ مِنْ نَفْسِهِ، فَقَالَتْ عَائِشَةُ: يَا أُمَّ سُلَيْمٍ، فَضَحْتِ النِّسَاءَ، تَرِبَتْ يَمِينُكِ، فَقَالَ لِعَائِشَةَ: «بَلْ أَنْتِ، فَتَرِبَتْ يَمِينُكِ، نَعَمْ، فَلْتَغْتَسِلْ يَا أُمَّ سُلَيْمٍ، إِذَا رَأَتْ ذَاكِ »

Artinya: 
Ummu Sulaim (nenek Ishaq) datang pada Rasulillah SAW, untuk berkata, “Ya Rasulallah (saat itu ‘Aisyah berada di sisi Nabi SAW), bagaimana pendapat tuan, mengenai seorang wanita yang mimpi basah seperti lelaki, di waktu tidur?. Dia mengalami seperti yang dialami oleh lelaki?.” 
‘Aisyah langsung menegur dia, “Ya Umma Sulaim! Kau telah mempermalukan kaum wanita! Jatuh tanganmu!.” Pada ‘Aisyah RA, nabi SAW menegur, “Bal (Justru) kau yang jatuh tangannya. Betul! Wanita memang ada juga yang mengalami mimpi basah. Kalau terjadi demikian, hendaklah dia mandi junub seperti laki-laki yang mimpi basah.”

[6] كَانَ diartikan sejak dulu, karena fiil madhi (kata-kerja lampau).
[7] إِنْ مِنْ di sini, diartikan tak seorangpun karena min-nya tab’idhiyyah, berdasarkan: تفسير ابن كثير (2/ 452)
وَقَالَ أَبُو مَالِكٍ فِي قَوْلِهِ: {إِلا لَيُؤْمِنَنَّ بِهِ قَبْلَ مَوْتِهِ} قَالَ: ذَلِكَ عِنْدَ نُزُولِ عِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ، عَلَيْهِ السَّلَامُ، لَا يَبْقَى أَحَدٌ من أهل الكتاب إلا آمن به.

Artinya: 
Abu Malik (Muhaddits yang sering ditulis oleh Bukhari di dalam kitabnya. Dia murid Rib’i), membahas tentang Firman Allah, “Kecuali pasti sungguh (mereka) akan beriman padanya, sebelum wafatnya. ‘Ini akan terjadi pada saat turunnya Isa bin Maryam AS. Tak seorang pun kaum Ahli Kitab, kecuali pasti beriman pada Isa AS’.” 

2012/01/06

Tenggelam dalam Keindahan Firman





Pernahkah saudara tenggelam dalam Keindahan Firman Tuhan? Jika merenungi Firman Allah, tentu kita tenggelam dalam Keindahan FirmanNya. Nabi SAW dan para shahabat syok berat, ketika dilanda kekalahan besar yang menyedihkan di dalam Perang Uhud. Mereka terhibur ketika Allah berfirman panjang lebar melalui Nabi SAW. Dalam Firman, akhir terdapat kalimat mengejutkan membuat terperangah. Bahkan membuat mereka tenggelam dalam Keindahan FirmanNya:

لَيْسَ لَكَ مِنَ الْأَمْرِ شَيْءٌ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ أَوْ يُعَذِّبَهُمْ فَإِنَّهُمْ ظَالِمُونَ وَلِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ يَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ [آل عمران/128، 129].

Artinya:
Sedikitpun kau (Muhammad) tak memiliki hak dalam segala urusan. (Dalam urusan Allah) memberi tobat atas mereka, atau (Allah) menyiksa mereka. Sungguh mereka lalim. Apa yang di beberapa langit dan yang di bumi, milik Allah. Dia mengampuni orang yang Dia kehendaki dan menyiksa orang yang Dia kehendaki. Allah Maha pengampun Maha penyayang. [1]

Kesimpulan:
Diwaktu stres atau syok, adalah waktu paling tepat untuk menyadari bahwa kita sebagai hamba ‘hanya diberi wenang menikmati dan mensukuri yang ada’. Sedangkan yang tidak bisa kita raih, adalah ‘Wewenang Allah’. Hadits yang sepadan maknanya dengan pengertian ini adalah: صحيح مسلم - (ج 12 / ص 455)

4674 - حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ بَهْرَامَ الدَّارِمِيُّ حَدَّثَنَا مَرْوَانُ يَعْنِي ابْنَ مُحَمَّدٍ الدِّمَشْقِيَّ حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ عَنْ رَبِيعَةَ بْنِ يَزِيدَ عَنْ أَبِي إِدْرِيسَ الْخَوْلَانِيِّ عَنْ أَبِي ذَرٍّ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيمَا رَوَى عَنْ اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنَّهُ قَالَ يَا عِبَادِي إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِي وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلَا تَظَالَمُوا يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ ضَالٌّ إِلَّا مَنْ هَدَيْتُهُ فَاسْتَهْدُونِي أَهْدِكُمْ يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ جَائِعٌ إِلَّا مَنْ أَطْعَمْتُهُ فَاسْتَطْعِمُونِي أُطْعِمْكُمْ يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ عَارٍ إِلَّا مَنْ كَسَوْتُهُ فَاسْتَكْسُونِي أَكْسُكُمْ يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ تُخْطِئُونَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَنَا أَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا فَاسْتَغْفِرُونِي أَغْفِرْ لَكُمْ يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ لَنْ تَبْلُغُوا ضَرِّي فَتَضُرُّونِي وَلَنْ تَبْلُغُوا نَفْعِي فَتَنْفَعُونِي يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا زَادَ ذَلِكَ فِي مُلْكِي شَيْئًا يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِي شَيْئًا يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ قَامُوا فِي صَعِيدٍ وَاحِدٍ فَسَأَلُونِي فَأَعْطَيْتُ كُلَّ إِنْسَانٍ مَسْأَلَتَهُ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِي إِلَّا كَمَا يَنْقُصُ الْمِخْيَطُ إِذَا أُدْخِلَ الْبَحْرَ يَا عِبَادِي إِنَّمَا هِيَ أَعْمَالُكُمْ أُحْصِيهَا لَكُمْ ثُمَّ أُوَفِّيكُمْ إِيَّاهَا فَمَنْ وَجَدَ خَيْرًا فَلْيَحْمَدْ اللَّهَ وَمَنْ وَجَدَ غَيْرَ ذَلِكَ فَلَا يَلُومَنَّ إِلَّا نَفْسَهُ قَالَ سَعِيدٌ كَانَ أَبُو إِدْرِيسَ الْخَوْلَانِيُّ إِذَا حَدَّثَ بِهَذَا الْحَدِيثِ جَثَا عَلَى رُكْبَتَيْهِ.

Arti (selain isnad)nya:
(Ajaran) nabi SAW dari Allah Tabaraka wa Taala, “Ya Hamba-HambaKu! Sungguh Aku telah mengharamkan diri ‘menganiaya!’ Aku juga telah mengharamkan ‘penganiayaan antar kalian!’ Maka jangan saling menganiaya! Ya Hamba-HambaKu! Kalian semua sesat kecuali yang telah Kuberi Petunjuk, maka mintalah Petunjuk padaKu! Kalian akan Kuberi petunjuk. Ya Hamba-HambaKu! Kalian semua kelaparan kecuali yang telah Kuberi makan, maka mintalah Makan padaKu, kalian akan Kuberi makan. Ya Hamba-HambaKu! Kalian semua telanjang kecuali yang telah Kuberi busana, maka mintalah Busana padaKu, kalian akan Kuberi busana. Ya Hamba-HambaKu! Kalian melakukan kesalahan di waktu malam dan siang; sedangkan Aku akan mengampuni semua dosa, maka mintalah Ampun padaKu! Kalian akan Kuampuni. Ya Hamba-HambaKu! Sungguh kalian takkan mampu (membuat) madharrat untuk memadharratkan Aku, dan takkan mampu (membuat) manfaat, untuk memberi Manfaat padaKu. Ya Hamba-HambaKu! Sungguh kalau awal kalian, akhir kalian, bangsa manusia kalian, bangsa jin kalian, telah melakukan ketakwaan lebih taqwanya hati lelaki dari kalian, maka demikian itu tidak menambahi KerajaanKu sedikitpun. Ya Hamba-HambaKu! Sungguh kalau awal kalian, akhir kalian, bangsa manusia kalian, bangsa jin kalian, telah melakukan kedurhakaan lebih durhakanya hati seorang lelaki kalian, maka demikian itu tak mengurangi KerajaanKu sedikitpun. Ya Hamba-HambaKu! Sungguh kalau awal kalian, akhir kalian, bangsa manusia kalian, bangsa jin kalian; berdiri di suatu tanah lapang, untuk memohon padKu, lalu Kukabulkan permohonan mereka, maka demikian itu tak mengurangi sedikitpun dari yang di sisiKu, kecuali hanya seperti ketika  jarum mengurangi (air) laut yang dicelup. Ya Hamba-HambaKu! Sesungguhnya yang kalian alami adalah hasil dari amalan kalian sendiri yang Kuperhitungkan untuk kalian. Selanjutnya amalan kalian itu Kubalaskan secara nyata pada kalian. Maka barang siapa menjumpai kebaikan hendaklah memuji Allah, barang siapa menjumpai selain itu, maka jangan mencaci sungguh, kecuali pada dirinya.”
Said berkata, “Dulu jika menceritakan ini Hadits, maka Abu Idris Al-Khaulani (أَبُو إِدْرِيسَ الْخَوْلَانِيُّ) bersimpuh atas dua lututnya.”



Ponpes Kutubussittah Mulya Abadi Mulungan Sleman Jogjakarta Indonesia

[1] Ada beberapa wa (وَ) yang tidak diartikan karena sebagai koma (athaf) atau pernyataan telah mulai pembahasan baru (namnya ibtidaiyah).