Banyak kitab yang menjelaskan Mushthalach, dan mengkaji Kanzul-Ummal
yang besar, juga samadengan mengkaji Mushthalach:
Ali RA berkata, “Rasulullah
SAW bersabda ‘sungguh:
1.
Fatihatul-Kitab.
2.
Dua Ayat Ali Imran ({شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا
إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ لَا
إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ
وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلَّا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ
بَغْيًا بَيْنَهُمْ وَمَنْ يَكْفُرْ بِآيَاتِ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ}
[آل عمران: 18، 19]).
3.
Qulillahumma
Maalikal-Mulki hingga bighairi hisab ({ قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ
الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ بِيَدِكَ
الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ تُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَتُولِجُ
النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ وَتُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَتُخْرِجُ الْمَيِّتَ
مِنَ الْحَيِّ وَتَرْزُقُ مَنْ تَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ} [آل عمران: 26، 27]), digantungkan di Arasy. Tidak ada hijab
antara Surat dan Ayat-Ayat tersebut, dengan Allah.
Jika dibaca, Surat
dan Ayat-Ayat tersebut berdoa ‘(ya Allah, Kau turunkan kami ke BumiMu? Dan pada
orang yang maksiat padaMu?.
Allah azza
wajalla berfirman ‘Aku bersumpah, tak seorangpun HambaKu, membaca kalian,
setelah shalat, kecuali:
1.
Aku
memberi Tempat Surga padanya, sesuai yang telah diamalkan.
2.
Dia
Aku tempatkan di Hadziratul-Quds (Kawasan Suci yang terjaga di surga).
3.
Setiap
hari, Aku memandang dia dengan MataKu Al-Maknunah (yang istimewa), 70 x.
4.
Setiap
hari, keperluannya Aku wujudkan, lebih pastinya ampunan.
5.
Aku
lindungi dan Aku tolong mengalahkan musuhnya’.”
Ibnul-Jauzi menjelaskan, “Perowi Hadits ini, bernama Al-Harits bin
Umair, memufrodkan Hadits ini. Dia sering meriwayatkan Hadits-Hadits Dhaif, jauh dari Hadit-Hadits shahih.”
Ketika Al-Hafidz Abul-Fadhli Al-‘Iraqi, ditanya tentang Hadits
ini. Menjawab, “Tokoh-tokoh isnadnya dinilai shahih oleh ahli Hadits zaman
dulu. Dan tidak ada yang perlu diteliti, kecuali :
1.
Muhammad
bin Zanbur Al-Makki.
2.
Al-Harits
bin ‘Umair.
Dua tokoh ini dinilai shahih oleh sekelompok Imam Muhadditsiin. Orang
pertama dinilai dha’if oleh Ibnu Khuzaimah. Hadits orang kedua dihadirkan
oleh Ibnu Hajar, di dalam kitab Amali.
Ibnu Hajar menjelaskan, “Kami tidak menyaksikan para ahli Hadits
awal, mencela Al-Harits (bin ‘Umair). Bahkan dia disanjung oleh alim
yang lebih senior daripada dia, bernama Hammad bin Zaid. Bahkan dia dinilai
shahih oleh Annaqad bin Muin dan Abu Hatim. Bahkan secara ta’liq (tidak
ditulis isnadnya), Nasai dan para penulis kitab Assunnan, menulis Hadits
dia. Di dalam kitab Addhu’afa’, Ibnu Hibban juga memuat Hadits dia,
namun dengan nada merendahkan. Adapun perowi yang di atas dia, tidak perlu
ditanyakan lagi. Karena sudah sangat agung.