SELAMAT DATANG DI BLOG PONDOK PESANTREN MULYA ABADI, JL. MAGELANG KM 8.5 SLEMAN YOGYAKARTA, SEMOGA BLOG INI BISA MENJADI SILATURAHMI KITA UNTUK SALING BERBAGI

Doa Meluluhkan Hati Seseorang

Ya Allah sungguh Engkau Maha Mulia Maha Besar. Sedangkan saya HambaMu yang sangat hina dina. Tiada upaya dan kekuatan kecuali karena Kau. Ya Allah, tundukkanlah

Doa Agar di Beri kerjaan Bisnis

Ya Allah, Raja segala Kerajaan, Tuhan memberikan Kerajaan pada yang Tuhan kehendaki, melepas Kerajaan dari yang Tuhan kehendaki, menjayakan orang yang Tuhan kehendaki, dan merendahkan orang yang Tuhan kehendaki

Sapaan Nabi Membuat Khowat Sungkan

Rasulullah SAW keluar dari tenda dan bersabda pada saya ‘hai Ayah Abdillah, apa yang mendorong kau duduk bersama mereka ?’

Hibah Menurut Bukhori

Hibah Menurut Bukhari Ibrahim Annakhai tergolong Tabiin yang sangar alim. Beliau murid Ibrhaim Attaimi, murid Amer bin Maimun, murid Abu Abdillah Al-Jadali, murid Khuzaimah sahabat Nabi SAW.

Masuk Surga Paling Awal

Rasulullah SAW bersabda, “Jibril AS telah datang untuk memegang tanganku untuk menunjukkan saya Pintu Gerbang Surga, yang akan dimasuki oleh umatku.”

Tampilkan postingan dengan label Al-Bukhari. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Al-Bukhari. Tampilkan semua postingan

2017/02/17

Kitabul-Washoya

Kitabul-Washoya  




Tsabit murid Anas mengajarkan, pada Abi Thalhah, Nabi SAW bersabda, “Pastikan (Bairuha) untuk para kaum Fakir kerabatmu !”  Maka Abi Thalhah menjadikan (Bairuha) untuk Hasan dan Ubai bin Kaeb.
Al-Anshari murid ayahnya, murid Tsumamah, murid Anas RA, menyampaikan semisal Hadits Tsabit, “Pastikan (Bairuha) untuk kaum Fakir kerabatmu !” Anas berkata, “Maka dia menjadikan (Bairuha) untuk Hasan dan Ubai bin Kaeb. Memang kekerabatan mereka berdua terhadap Abi Thalhah, lebih dekat dari pada saya (anak tiri).”
Konon kekerabatan (Hassan dan) Ubay, mulai dari :
1.            Abi Thahah (Zaid bin Sahl).
2.            Bin Al-Aswad.
3.            Bin Haram.
4.            Bin Amer.
5.            Bin Zaid Manat.
6.            Bin Adi.
7.            Bin Amer.
8.            Bin Malik.
9.            Bin Annajar. [1]  




[1] صحيح البخاري (4/ 6)
وَقَالَ ثَابِتٌ: عَنْ أَنَسٍ، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأَبِي طَلْحَةَ: «اجْعَلْهَا لِفُقَرَاءِ أَقَارِبِكَ» فَجَعَلَهَا لِحَسَّانَ، وَأُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ وَقَالَ الأَنْصَارِيُّ: حَدَّثَنِي أَبِي، عَنْ ثُمَامَةَ، عَنْ أَنَسٍ، مِثْلَ حَدِيثِ ثَابِتٍ، قَالَ: «اجْعَلْهَا لِفُقَرَاءِ قَرَابَتِكَ» ، قَالَ أَنَسٌ: فَجَعَلَهَا لِحَسَّانَ، وَأُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ وَكَانَا أَقْرَبَ إِلَيْهِ مِنِّي «وَكَانَ قَرَابَةُ حَسَّانَ، وَأُبَيٍّ مِنْ أَبِي طَلْحَةَ وَاسْمُهُ زَيْدُ بْنُ سَهْلِ بْنِ الأَسْوَدِ بْنِ حَرَامِ بْنِ عَمْرِو بْنِ زَيْدِ مَنَاةَ بْنِ عَدِيِّ بْنِ عَمْرِو بْنِ مَالِكِ بْنِ النَّجَّارِ، وَحَسَّانُ بْنُ ثَابِتِ بْنِ المُنْذِرِ بْنِ حَرَامٍ، فَيَجْتَمِعَانِ إِلَى حَرَامٍ وَهُوَ الأَبُ الثَّالِثُ، وَحَرَامُ بْنُ عَمْرِو بْنِ زَيْدِ مَنَاةَ بْنِ عَدِيِّ بْنِ عَمْرِو بْنِ مَالِكِ بْنِ النَّجَّارِ، فَهُوَ يُجَامِعُ حَسَّانَ، وَأَبَا طَلْحَةَ وَأُبَيًّا إِلَى سِتَّةِ آبَاءٍ، إِلَى عَمْرِو بْنِ مَالِكٍ وَهُوَ أُبَيُّ بْنُ كَعْبِ بْنِ قَيْسِ بْنِ عُبَيْدِ بْنِ زَيدِ بْنِ مُعَاوِيَةَ بْنِ عَمْرِو بْنِ مَالِكِ بْنِ النَّجَّارِ، فَعَمْرُو بْنُ مَالِكٍ يَجْمَعُ حَسَّانَ وَأَبَا طَلْحَةَ وَأُبَيًّا» وَقَالَ بَعْضُهُمْ: إِذَا أَوْصَى لِقَرَابَتِهِ فَهُوَ إِلَى آبَائِهِ فِي الإِسْلاَمِ "
__________
[تعليق مصطفى البغا]
 [ش (الأنصاري) هو محمد بن عبد الله بن المثنى بن عبد الله بن أنس بن مالك رضي الله عنه. (بعضهم) أراد أبا يوسف صاحب أبي حنيفة رحمهما الله تعالى]    



2016/02/27

Ali Imran 62 – 64




{إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْقَصَصُ الْحَقُّ وَمَا مِنْ إِلَهٍ إِلَّا اللَّهُ وَإِنَّ اللَّهَ لَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (62) فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِالْمُفْسِدِينَ (63) قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ (64)} [آل عمران: 62 - 64].

Artinya:
Sungguh ini niscaya kisah-kisah hak. Tiada Tuhan yang wajib disembah kecuali Allah. Sungguh Allah Maha Mulia Maha Bijaksana. [62].
Maka jika mereka berpaling, maka sungguh Allah Maha Alim mengenai kaum Mufsidin (Pembuat kerusakan). [63].
Katakan “Hai ahli kitab ! Ayo menuju kalimat sama di antara kami dan di antara kalian ‘bahwa kita :
1.     Takkan menyembah kecuali pada Allah.
2.     Takkan menyirikkan sesuatu dengan Dia.
3.     Sebagian kami takkan mengambil sesembahan pada yang lain selain Allah’.
Maka jika mereka berpaling, maka katakan ‘saksikan bahwa kami Muslim’.” [64].

Ayat 64 (يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ) di atas, pernah dikirimkan pada Hiraqla, oleh Rasulallah SAW, pada awal tahun 7 Hijriah. Bukhari meriwayatkan Jawaban Hiraqla atas surat tersebut:
“Kalau telah di sisinya SAW, niscaya aku basuh kakinya.” Lalu dia minta surat Rasulillah SAW yang diantarkan oleh Dihyah pada gubernur Bushra (Al-Harits bin Abi Syamrin Al-Ghasani), untuk Hiraqla.
Setelah dibaca, ternyata berisi : ‘Bismillaahir Rohmaanir Rohiim. Dari Muhammad, Hamba dan Utusan Allah SAW, untuk Hiraqla pembesar Romawi. Salam untuk orang yang mengikuti petunjuk’. Amma ba’du, sungguh saya mengajak kau dengan ajakan Islam. Islamlah! Kau akan selamat. Allah akan memberi kau pahala dua kelipatan. Jika berpaling, dosa kaum Arisiyin akan memberatkan kau. Hai ahli kitab ! Ayo menuju kalimat sama di antara kami dan di antara kalian ‘bahwa kita :
2.     Takkan menyirikkan sesuatu dengan Dia.
3.     Sebagian kami takkan mengambil sesembahan pada yang lain selain Allah’.
Maka jika mereka berpaling, maka katakan ‘saksikan bahwa kami Muslim’.” [1]

In syaa Allah bersambung.



وَلَوْ كُنْتُ عِنْدَهُ لَغَسَلْتُ عَنْ قَدَمِهِ. ثُمَّ دَعَا بِكِتَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الَّذِي بَعَثَ بِهِ دِحْيَةُ إِلَى عَظِيمِ بُصْرَى، فَدَفَعَهُ إِلَى هِرَقْلَ، فَقَرَأَهُ فَإِذَا فِيهِ " بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ، مِنْ مُحَمَّدٍ عَبْدِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ إِلَى هِرَقْلَ عَظِيمِ الرُّومِ: سَلاَمٌ عَلَى مَنِ اتَّبَعَ الهُدَى، أَمَّا بَعْدُ، فَإِنِّي أَدْعُوكَ بِدِعَايَةِ الإِسْلاَمِ، أَسْلِمْ تَسْلَمْ، يُؤْتِكَ اللَّهُ أَجْرَكَ مَرَّتَيْنِ، فَإِنْ تَوَلَّيْتَ فَإِنَّ عَلَيْكَ إِثْمَ الأَرِيسِيِّينَ " وَ {يَا أَهْلَ الكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَنْ لاَ نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلاَ نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلاَ يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ}.

2015/08/19

Hajar dan Ismail AS



 



Hajar dan Ismail di Makkah


Ibnu Abbas bercerita, “Wanita mempergunakan ikat pinggang (setagen), berawal dari (Hajar) Ibu Nabi Ismail AS. Dia memakai setagen dari kain untuk menutup bekas pijakan kakinya, karena (bersitegang dengan) Sarah.
Ibrahim AS membawa Hajar dan anaknya yang masih menyusu. Untuk menempatkan mereka di dekat Baitullah, dekat pohon besar. Sebelah atas Zamzam, sebelah atas Masjidil-Haram (yang dulu). Saat itu, belum ada orang yang tinggal di Makkah, karena belum ada airnya.
Di situ, Ibrahim meletakkan istri dan putranya. Bekal yang ditinggalkan se-jirob (wadah) kurma, dan se-siqok (wadah) air.
Ibrahim AS meninggalkan mereka berdua.”
Hajar mengikuti sambil berkata, “Kau akan pergi kemana? Meninggalkan kami di jurang yang tidak berpenghuni? Dan tidak ada sesuatu yang bermanfaat?.”
Pertanyaannya diulang-ulang, namun Ibrahim AS tidak menoleh. Setelah ditanya, “Apakah Allah yang perintah demikian padamu? Dia menjawab ‘betul’.”
(Dengan sedih) Hajar berkata, “Kalau begitu, Allah takkan menyia-nyiakan kami.” Lalu pulang kerumahnya.
Ketika telah menaiki pegungungan jauh dari mereka, Ibrahim AS menghadap ke Baitullah, lalu mengangkat dua tangannya dan berdoa, “Tuhanku! Sungguh hamba telah menempatkan sebagian anak hamba, di jurang yang tak menghasilkan gandum, di sisi RumahMu Al-Muharram! Tuhan kami! Agar mereka menegakkan shalat! Jadikan hati sebagian manusia ‘condong’ pada mereka! Berilah mereka sebagian buah-buahan! Agar mereka bersukur.”

Hajar menyusui Ismail, dan minum air yang tersedia. Ketika telah kehabisan air, dia dan putranya kehausan. (Dengan sedih) dia melihat putranya lemas. Dia bergegas pergi dan mendaki gunung terdekat, Shofa.
Di atas, dia mengamati bawah dengan harapan seorang datang. Karena harapannya tidak terwujud, dia turun dan berjalan terus. Ketika sampai jurang, dia menyingsingkan kainnya dan berjalan cepat, hingga melewati jurang. Perjalanan diteruskan hingga mendaki gunung Marwah.
Di atas gunung, dia berdiri untuk melihat orang yang akan datang, namun harapannya tidak terwujud. Dan mengulang perbuatannya tujuh kali.

Nabi SAW bersabda, “Itulah amalan sa’i manusia, di Shofa dan Marwah.”
Ketika mendaki Marwah, dia mendengar suara. Dan menyuruh dirinya, “Diam!.” Telinganya dipasang dengan serius. Ternyata benar-benar ada suara. Maka berkata “Kalau kau bisa menolong, berbicaralah yang keras!.”
Ternyata ada malaikat di tempat sumur Zamzam. Dengan tumit atau sayapnya, malaikat menggali tanah. Hingga keluar air Zamzam.
Hajar bergerak menahan agar air Zamzam terkumpul. Wadahnya dipenuhi air. Mata air terus memancar. 

Nabi SAW meyayangkan, “Semoga Allah menyayang Ibu Ismail! Kalau dulu dia membiarkan, niscaya Zamzam menjadai mata air besar.”
Hajar bisa minum dan menyusui anaknya. Kepadanya, malaikat berkata, “Jangan takut kesulitan! Di sini ada Baitullah yang akan dibangun oleh anak ini dan ayahnya. Ahli Baitullah takkan disia-siakan oleh Allah.”
Asal Baitullah, tanah menonjol seperti bukit. Kiri dan kanannya longsor oleh arus banjir. Keadaan mereka dan lingkungan tidak berubah, hingga datang kaum Jurhum, atau keluarga dari Jurhum. Mereka datang dari arah kampung Kada, dan tinggal di bawah Makkah.

Tiba-tiba mereka melihat burung dari atas merendah. Mereka berkata, “Burung ini pasti terbang mengelilingi air di bawahnya. Dulu, di jurang ini tidak ada air.”
Mereka mengutus seorang atau dua orang utusan, agar mengecek. Ternyata benar, ada air.

Pada Hajar, mereka berkata, “Bolehkah kami tinggal di dekatmu?.”
Hajar menjawab, “Silahkan! Tetapi pemilik mata air ini, bukan kalian.”
Mereka setuju, “Ya.”
Hajar yang lembut dan baik, menyaksikan mereka menepati janji.
Mereka bertetangga dengan Hajar, dan memanggil agar keluarga tinggal bersama mereka. Masyarakat baru tersebut berkembang sehat. Melalui mereka, Ismail AS belajar bahasa Arab.

Setelah dewasa, Ismail AS menjadi perhatian, hingga diambil menantu oleh mereka.
Setelah menikah, Ismail ditengok oleh Ibrahim AS. Namun tidak ada di rumah, yang di rumah hanya istrinya.
Ibrahim bertanya tentang Ismail AS. Dan dijawab, “Dia sedang mencari rizqi untuk kami.”
Setelah bertanya mengenai kehidupan mereka, Ibrahim dijawab, “Kehidupan kami jelek, kesulitan dan berat.” Dia mendengar wanita itu berkeluh kesah.
Ibrahim AS berpesan, “Jika dia telah datang, sampaikan Salam dari saya! Dan katakan ‘agar dia merubah daun pintunya!’.”

Sepertinya Ismail tahu bahwa ayahnya barusan datang ke rumah. Hingga bertanya, “Apa ada seorang yang datang kemari?.”
Istri menjawab, “Betul. Lelaki tua datang kemari, (dan seterusnya). Kami telah menjawab pertanyaannya, “Bagaimana kehidupan kita. Kami mengatakan ‘kami di dalam kesulitan dan keberatan’.”
Ismail bertanya, “Apa dia pesan sesuatu padamu?.”
Istri menjawab, “Betul. Dia menyuruh membacakan Salam untuk kau, dan berpesan ‘rubahlah daun pintumu!’.”
Ismail berkata, “Dia ayah saya. Berarti saya diperintah ‘agar mentalak kau’. Pulanglah ke rumah keluargamu!.”
Dia mentalak istrinya, lalu menikahi wanita lain. Dan dalam beberapa waktu, tidak ditengok oleh Ibrahim AS.

Ketika didatangi oleh Ibrahim, Ismail AS tidak ada di rumah. Istri memasukkan mertua ke rumah. Dan ditanya oleh Ibrahim, “Di mana suamimu?.”
Istri menjawab, “Dia sedang cari makan, untuk kami.”
Ibrahim bertanya, “Bagaimana keadaan kalian?” Dan bertanya mengenai kehidupan mereka.
Istri menjawab, “Keadaan kami baik, dan senang.” Dan menyanjung Allah.
Ibrahim bertanya, “Apa makanan kalian?.”
Istri menjawab, “Daging.”
Ibrahim bertanya, “Apa minuman kalian?.”
Istri menjawab, “Air.”
Ibrahim berdoa, “Ya Allah, berkahilah daging dan air, untuk mereka.”

Nabi SAW bersabda, “Di hari itu, tidak ada biji-bijian di sisi mereka. Kalau ada, pasti didoakan baik untuk mereka.”
Selain penduduk Makkah, tidak cocok mengkonsumsi daging dan air (berlebihan).

Ibrahim berpesan, “Jika suamimu datang, sampaikan Salam saya padanya! Dan perintahlah agar daun pintunya diperkuat!.”
Ketika telah pulang, Ismail bertanya, “Apa ada tamu?.”
Istri membenarkan, “Betul. Lelaki tua berpenampilan sopan.” Dan menyanjung tamunya. 
Istri Ismail AS berkata, “Dia bertanya saya mengenai kau. Setelah saya jawab, dia bertanya tentang kehidupan kita. Saya menjelaskan ‘kehidupan kita baik’.”
Ismail bertanya, “Apa beliau berpesan padamu?.”
Istri menjawab, “Benar. Dan membaca Salam untukmu, dan berpesan agar kau menetapkan daun pintumu.”
Ismail berkata, “Beliau ayah saya, dan kau daun pintu. Dia perintah agar saya mempertahankan kau (sebagai istri).”

Cukup lama Ibrahim AS maa syaa Allah, tidak menengok mereka. 
Dia mencul (ke Makkah) ketika Ismail AS sedang membenahi anak panahnya, di bawah pohon besar dekat Zamzam.
Ketika melihat Ibrahim, Ismail AS berdiri dan menghampiri. Lalu melakkan seperti kebiasaan anak dan orang tua yang bertemu.
Ibrahim AS berkata, “Ya Ismail, sungguh Allah memberi Perintah saya.”
Ismail AS menjawab, “Lakukan Perintah Tuhan Ayah.”
Ibrahim bertanya, “Kau akan menolong saya?.”
Ismail menjawab, “Saya akan menolong Ayah.”
Ibrahim berkata, “Sungguh Allah perintahagar saya membangun Baitullah, di sini.” Dan menunjuk pada tanah membukit, (di dekat mereka).
Mereka meninggikan pondasi Baitullah. Ismail mendatangkan bebatuan; Ibrahim AS yang membangun.
Ketika bangunan telah meninggi, Ismail mendatangkan Hijr Ismail.
Dengan bertumpu Hijr Ismail, Ibrahim membangun Baitullah.
Ismail memberikan batu-batu padanya.
Mereka berdoa, “Tuhan kami, terimalah (amalan) dari kami. Sungguh Engkau Maha Dengar Maha Alim.” [Qs Al-Baqarah 127].
Mereka menyelesaikan, hingga mengelilingi Baitullah. Dan berdoa, “Tuhan kami, terimalah (amalan) dari kami. Sungguh Engkau Maha Dengar Maha Alim.” [Qs Al-Baqarah 127]. [1]


Ponpes Mulya Abadi Mulungan


3364 - وحَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ، أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ، عَنْ أَيُّوبَ السَّخْتِيَانِيِّ، وَكَثِيرِ بْنِ كَثِيرِ بْنِ المُطَّلِبِ بْنِ أَبِي وَدَاعَةَ، يَزِيدُ أَحَدُهُمَا عَلَى الآخَرِ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ، قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: أَوَّلَ مَا اتَّخَذَ النِّسَاءُ المِنْطَقَ مِنْ قِبَلِ أُمِّ إِسْمَاعِيلَ، اتَّخَذَتْ مِنْطَقًا لِتُعَفِّيَ أَثَرَهَا عَلَى سَارَةَ، ثُمَّ جَاءَ بِهَا إِبْرَاهِيمُ وَبِابْنِهَا إِسْمَاعِيلَ وَهِيَ تُرْضِعُهُ، حَتَّى وَضَعَهُمَا عِنْدَ البَيْتِ عِنْدَ دَوْحَةٍ، فَوْقَ زَمْزَمَ فِي أَعْلَى المَسْجِدِ، وَلَيْسَ بِمَكَّةَ يَوْمَئِذٍ أَحَدٌ، وَلَيْسَ بِهَا مَاءٌ، فَوَضَعَهُمَا هُنَالِكَ، وَوَضَعَ عِنْدَهُمَا جِرَابًا فِيهِ تَمْرٌ، وَسِقَاءً فِيهِ مَاءٌ، ثُمَّ قَفَّى إِبْرَاهِيمُ مُنْطَلِقًا، فَتَبِعَتْهُ أُمُّ إِسْمَاعِيلَ فَقَالَتْ: يَا إِبْرَاهِيمُ، أَيْنَ تَذْهَبُ وَتَتْرُكُنَا بِهَذَا الوَادِي، الَّذِي لَيْسَ فِيهِ إِنْسٌ وَلاَ شَيْءٌ؟ فَقَالَتْ لَهُ ذَلِكَ مِرَارًا، وَجَعَلَ لاَ يَلْتَفِتُ إِلَيْهَا، فَقَالَتْ لَهُ: آللَّهُ الَّذِي أَمَرَكَ بِهَذَا؟ قَالَ نَعَمْ، قَالَتْ: إِذَنْ لاَ يُضَيِّعُنَا، ثُمَّ رَجَعَتْ، فَانْطَلَقَ إِبْرَاهِيمُ حَتَّى إِذَا كَانَ عِنْدَ الثَّنِيَّةِ حَيْثُ لاَ يَرَوْنَهُ، اسْتَقْبَلَ بِوَجْهِهِ البَيْتَ، ثُمَّ دَعَا بِهَؤُلاَءِ الكَلِمَاتِ، وَرَفَعَ يَدَيْهِ فَقَالَ: رَبِّ {إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ المُحَرَّمِ} [إبراهيم: 37]- حَتَّى بَلَغَ - {يَشْكُرُونَ} [إبراهيم: 37] " وَجَعَلَتْ أُمُّ إِسْمَاعِيلَ تُرْضِعُ إِسْمَاعِيلَ وَتَشْرَبُ مِنْ ذَلِكَ المَاءِ، حَتَّى إِذَا نَفِدَ مَا فِي السِّقَاءِ عَطِشَتْ وَعَطِشَ ابْنُهَا، وَجَعَلَتْ تَنْظُرُ إِلَيْهِ يَتَلَوَّى، أَوْ قَالَ يَتَلَبَّطُ، فَانْطَلَقَتْ كَرَاهِيَةَ أَنْ تَنْظُرَ إِلَيْهِ، فَوَجَدَتِ الصَّفَا أَقْرَبَ جَبَلٍ فِي الأَرْضِ يَلِيهَا، فَقَامَتْ عَلَيْهِ، ثُمَّ اسْتَقْبَلَتِ الوَادِيَ تَنْظُرُ هَلْ تَرَى أَحَدًا فَلَمْ تَرَ أَحَدًا، فَهَبَطَتْ مِنَ الصَّفَا حَتَّى إِذَا بَلَغَتِ الوَادِيَ رَفَعَتْ طَرَفَ دِرْعِهَا، ثُمَّ سَعَتْ سَعْيَ الإِنْسَانِ المَجْهُودِ حَتَّى جَاوَزَتِ الوَادِيَ، ثُمَّ أَتَتِ المَرْوَةَ فَقَامَتْ عَلَيْهَا وَنَظَرَتْ هَلْ تَرَى أَحَدًا فَلَمْ تَرَ أَحَدًا ، فَفَعَلَتْ ذَلِكَ سَبْعَ مَرَّاتٍ، قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «فَذَلِكَ سَعْيُ النَّاسِ بَيْنَهُمَا» فَلَمَّا أَشْرَفَتْ عَلَى المَرْوَةِ سَمِعَتْ صَوْتًا، فَقَالَتْ صَهٍ - تُرِيدُ نَفْسَهَا -، ثُمَّ تَسَمَّعَتْ، فَسَمِعَتْ أَيْضًا، فَقَالَتْ: قَدْ أَسْمَعْتَ إِنْ كَانَ عِنْدَكَ غِوَاثٌ، فَإِذَا هِيَ بِالْمَلَكِ عِنْدَ مَوْضِعِ زَمْزَمَ، فَبَحَثَ بِعَقِبِهِ، أَوْ قَالَ بِجَنَاحِهِ، حَتَّى ظَهَرَ المَاءُ، فَجَعَلَتْ تُحَوِّضُهُ وَتَقُولُ بِيَدِهَا هَكَذَا، وَجَعَلَتْ تَغْرِفُ مِنَ المَاءِ فِي سِقَائِهَا وَهُوَ يَفُورُ بَعْدَ مَا تَغْرِفُ. قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " يَرْحَمُ اللَّهُ أُمَّ إِسْمَاعِيلَ، لَوْ تَرَكَتْ زَمْزَمَ - أَوْ قَالَ: لَوْ لَمْ تَغْرِفْ مِنَ المَاءِ -، لَكَانَتْ زَمْزَمُ عَيْنًا مَعِينًا " قَالَ: فَشَرِبَتْ وَأَرْضَعَتْ وَلَدَهَا، فَقَالَ لَهَا المَلَكُ: لاَ تَخَافُوا الضَّيْعَةَ، فَإِنَّ هَا هُنَا بَيْتَ اللَّهِ، يَبْنِي هَذَا الغُلاَمُ وَأَبُوهُ، وَإِنَّ اللَّهَ لاَ يُضِيعُ أَهْلَهُ، وَكَانَ البَيْتُ مُرْتَفِعًا مِنَ الأَرْضِ كَالرَّابِيَةِ، تَأْتِيهِ السُّيُولُ، فَتَأْخُذُ عَنْ يَمِينِهِ وَشِمَالِهِ، فَكَانَتْ كَذَلِكَ حَتَّى مَرَّتْ بِهِمْ رُفْقَةٌ مِنْ جُرْهُمَ، أَوْ أَهْلُ بَيْتٍ مِنْ جُرْهُمَ، مُقْبِلِينَ مِنْ طَرِيقِ كَدَاءٍ، فَنَزَلُوا فِي أَسْفَلِ مَكَّةَ فَرَأَوْا طَائِرًا عَائِفًا، فَقَالُوا: إِنَّ هَذَا الطَّائِرَ لَيَدُورُ عَلَى مَاءٍ، لَعَهْدُنَا بِهَذَا الوَادِي وَمَا فِيهِ مَاءٌ، فَأَرْسَلُوا جَرِيًّا أَوْ جَرِيَّيْنِ فَإِذَا هُمْ بِالْمَاءِ، فَرَجَعُوا فَأَخْبَرُوهُمْ بِالْمَاءِ فَأَقْبَلُوا، قَالَ: وَأُمُّ إِسْمَاعِيلَ عِنْدَ المَاءِ، فَقَالُوا: أَتَأْذَنِينَ لَنَا أَنْ نَنْزِلَ عِنْدَكِ؟ فَقَالَتْ: نَعَمْ، وَلَكِنْ لاَ حَقَّ لَكُمْ فِي المَاءِ، قَالُوا: نَعَمْ، قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «فَأَلْفَى ذَلِكَ أُمَّ إِسْمَاعِيلَ وَهِيَ تُحِبُّ الإِنْسَ» فَنَزَلُوا وَأَرْسَلُوا إِلَى أَهْلِيهِمْ فَنَزَلُوا مَعَهُمْ، حَتَّى إِذَا كَانَ بِهَا أَهْلُ أَبْيَاتٍ مِنْهُمْ، وَشَبَّ الغُلاَمُ وَتَعَلَّمَ العَرَبِيَّةَ مِنْهُمْ، وَأَنْفَسَهُمْ وَأَعْجَبَهُمْ حِينَ شَبَّ، فَلَمَّا أَدْرَكَ زَوَّجُوهُ امْرَأَةً مِنْهُمْ، وَمَاتَتْ أُمُّ إِسْمَاعِيلَ، فَجَاءَ إِبْرَاهِيمُ بَعْدَمَا تَزَوَّجَ إِسْمَاعِيلُ يُطَالِعُ تَرِكَتَهُ، فَلَمْ يَجِدْ إِسْمَاعِيلَ، فَسَأَلَ امْرَأَتَهُ عَنْهُ فَقَالَتْ: خَرَجَ يَبْتَغِي لَنَا، ثُمَّ سَأَلَهَا عَنْ عَيْشِهِمْ وَهَيْئَتِهِمْ، فَقَالَتْ نَحْنُ بِشَرٍّ، نَحْنُ فِي ضِيقٍ وَشِدَّةٍ، فَشَكَتْ إِلَيْهِ، قَالَ: فَإِذَا جَاءَ زَوْجُكِ فَاقْرَئِي عَلَيْهِ السَّلاَمَ، وَقُولِي لَهُ يُغَيِّرْ عَتَبَةَ بَابِهِ، فَلَمَّا جَاءَ إِسْمَاعِيلُ كَأَنَّهُ آنَسَ شَيْئًا، فَقَالَ: هَلْ جَاءَكُمْ مِنْ أَحَدٍ؟ قَالَتْ: نَعَمْ، جَاءَنَا شَيْخٌ كَذَا وَكَذَا، فَسَأَلَنَا عَنْكَ فَأَخْبَرْتُهُ، وَسَأَلَنِي كَيْفَ عَيْشُنَا، فَأَخْبَرْتُهُ أَنَّا فِي جَهْدٍ وَشِدَّةٍ، قَالَ: فَهَلْ أَوْصَاكِ بِشَيْءٍ؟ قَالَتْ: نَعَمْ، أَمَرَنِي أَنْ أَقْرَأَ عَلَيْكَ السَّلاَمَ، وَيَقُولُ غَيِّرْ عَتَبَةَ بَابِكَ، قَالَ: ذَاكِ أَبِي، وَقَدْ أَمَرَنِي أَنْ أُفَارِقَكِ، الحَقِي بِأَهْلِكِ، فَطَلَّقَهَا، وَتَزَوَّجَ مِنْهُمْ أُخْرَى، فَلَبِثَ عَنْهُمْ إِبْرَاهِيمُ مَا شَاءَ اللَّهُ، ثُمَّ أَتَاهُمْ بَعْدُ فَلَمْ يَجِدْهُ، فَدَخَلَ عَلَى امْرَأَتِهِ فَسَأَلَهَا عَنْهُ، فَقَالَتْ: خَرَجَ يَبْتَغِي لَنَا، قَالَ: كَيْفَ أَنْتُمْ؟ وَسَأَلَهَا عَنْ عَيْشِهِمْ وَهَيْئَتِهِمْ، فَقَالَتْ: نَحْنُ بِخَيْرٍ وَسَعَةٍ، وَأَثْنَتْ عَلَى اللَّهِ، فَقَالَ: مَا طَعَامُكُمْ؟ قَالَتِ اللَّحْمُ، قَالَ فَمَا شَرَابُكُمْ؟ قَالَتِ المَاءُ. قَالَ: اللَّهُمَّ بَارِكْ لَهُمْ فِي اللَّحْمِ وَالمَاءِ، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «وَلَمْ يَكُنْ لَهُمْ يَوْمَئِذٍ حَبٌّ، وَلَوْ كَانَ لَهُمْ دَعَا لَهُمْ فِيهِ» . قَالَ: فَهُمَا لاَ يَخْلُو عَلَيْهِمَا أَحَدٌ بِغَيْرِ مَكَّةَ إِلَّا لَمْ يُوَافِقَاهُ، قَالَ: فَإِذَا جَاءَ زَوْجُكِ فَاقْرَئِي عَلَيْهِ السَّلاَمَ، وَمُرِيهِ يُثْبِتُ عَتَبَةَ بَابِهِ، فَلَمَّا جَاءَ إِسْمَاعِيلُ قَالَ: هَلْ أَتَاكُمْ مِنْ أَحَدٍ؟ قَالَتْ: نَعَمْ، أَتَانَا شَيْخٌ حَسَنُ الهَيْئَةِ، وَأَثْنَتْ عَلَيْهِ، فَسَأَلَنِي عَنْكَ فَأَخْبَرْتُهُ، فَسَأَلَنِي كَيْفَ عَيْشُنَا فَأَخْبَرْتُهُ أَنَّا بِخَيْرٍ، قَالَ: فَأَوْصَاكِ بِشَيْءٍ، قَالَتْ: نَعَمْ، هُوَ يَقْرَأُ عَلَيْكَ السَّلاَمَ، وَيَأْمُرُكَ أَنْ تُثْبِتَ عَتَبَةَ بَابِكَ، قَالَ: ذَاكِ أَبِي وَأَنْتِ العَتَبَةُ، أَمَرَنِي أَنْ أُمْسِكَكِ، ثُمَّ لَبِثَ عَنْهُمْ مَا شَاءَ اللَّهُ، ثُمَّ جَاءَ بَعْدَ ذَلِكَ، وَإِسْمَاعِيلُ يَبْرِي نَبْلًا لَهُ تَحْتَ دَوْحَةٍ قَرِيبًا مِنْ زَمْزَمَ، فَلَمَّا رَآهُ قَامَ إِلَيْهِ، فَصَنَعَا كَمَا يَصْنَعُ الوَالِدُ بِالوَلَدِ وَالوَلَدُ بِالوَالِدِ، ثُمَّ قَالَ يَا إِسْمَاعِيلُ، إِنَّ اللَّهَ أَمَرَنِي بِأَمْرٍ، قَالَ: فَاصْنَعْ مَا أَمَرَكَ رَبُّكَ، قَالَ: وَتُعِينُنِي؟ قَالَ: وَأُعِينُكَ، قَالَ: فَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَنِي أَنْ أَبْنِيَ هَا هُنَا بَيْتًا، وَأَشَارَ إِلَى أَكَمَةٍ مُرْتَفِعَةٍ عَلَى مَا حَوْلَهَا، قَالَ: فَعِنْدَ ذَلِكَ رَفَعَا القَوَاعِدَ مِنَ البَيْتِ، فَجَعَلَ إِسْمَاعِيلُ يَأْتِي بِالحِجَارَةِ وَإِبْرَاهِيمُ يَبْنِي، حَتَّى إِذَا ارْتَفَعَ البِنَاءُ، جَاءَ بِهَذَا الحَجَرِ فَوَضَعَهُ لَهُ فَقَامَ عَلَيْهِ، وَهُوَ يَبْنِي وَإِسْمَاعِيلُ يُنَاوِلُهُ الحِجَارَةَ، وَهُمَا يَقُولاَنِ: {رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ العَلِيمُ} [البقرة: 127] ، قَالَ: فَجَعَلاَ يَبْنِيَانِ حَتَّى يَدُورَا حَوْلَ البَيْتِ وَهُمَا يَقُولاَنِ: {رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ العَلِيمُ} [البقرة: 127]
__________

[تعليق مصطفى البغا]
3184 (3/1227) -[ش (المنطق) ما يشد به الوسط. (لتعفي أثرها) أي لتجره على الأرض وتخفي أثرها على سارة. (دوحة) شجرة كبيرة. (جرابا) ما يتخذ من الجلد لتوضع فيه الزوادة. (قفى) من التقفية وهي الإعراض والتولي يعني ولى راجعا. (الثنية) الطريق العالي في الجبل. (الكلمات) الدعوات أو الجمل التي أنزلها الله تعالى في كتابه على محمد صلى الله عليه وسلم وتتمتها {عند بيتك المحرم ربنا ليقيموا الصلاة فاجعل أفئدة من الناس تهوي إليهم وارزقهم من الثمرات لعلهم يشكرون} / إبراهيم 37 /. (بواد) هو مكة. (المحرم) الذي يحرم التعرض له والتهاون به. (أفئدة) جمع فؤاد وهو القلب والمراد الناس أصحاب القلوب. (تهوي إليهم) تقصدهم وتسكن إليهم. (يتلوى) يتمرغ وينقلب ظهرا لبطن ويمينا وشمالا. (يتلبط) يتمرغ ويضرب بنفسه الأرض وقيل يحرك لسانه وشفتيه كأنه يموت. (درعها) قميصها. (سعت) هرولت وأسرعت في خطاها. (المجهود) الذي أصابه الجهد وهو الأمر الشاق. (فذلك سعي الناس بينهما) أي سبب مشروعية السعي بين الصفا والمروة لإحياء تلك الذكرى في النفوس لتنشط في الالتجاء إلى الله عز وجل في كل حال. (صه) أي قالت لنفسها اسكتي. (غواث) من الغوث أي إن كان غوث فأغثني. (بالملك) أي جبريل عليه السلام. (فبحث بعقبه) البحث طلب الشيء في التراب وكأنه حفر بطرف رجله. (تحوضه) يجعله كالحوض لئلا يذهب الماء. (تقول بيدها) هو حكاية لفعلها. (عائفا) هو الذي يتردد على الماء ويحوم ولا يمضي عنه والعائف أيضا الرجل الذي يعرف مواضع الماء من الأرض. (لعهدنا) لمعرفتنا صلتنا. (جريا) رسولا ويطلق على الوكيل والأجير وسمي بذلك لأنه يجري مجرى مرسله أو لأنه يجري مسرع في حوائجه. (فألفى ذلك) فوجد الجرهمي. (الأنس) المؤانسة بالناس. (شب الغلام) نشأ إسماعيل عليه السلام. (أنفسهم) رغبهم فيه وفي مصاهرته. (يطالع تركته) يتفقد حال ما تركه هناك والتركة بمعنى المتروكة والمراد بها أهله والمطالعة النظر في الأمور. (يبتغي لنا) يطل لنا الرزق وكان عيشه من الصيد. (هيئتهم) حالتهم. (عتبة بابه) هي أسكفة الباب وهي هنا كناية عن المرأة. (لا يخلو عليهما أحد) لا يعتمد أحد في طعامه على اللحم والماء فقط. (لم يوافقاه) أي لا يوافقان مزاجه ويشتكي من بطنه ونحو ذلك وأما في مكة فإن المداومة على أكلها لا تحدث شيئا وهذا من بركة إبراهيم عليه السلام. (ربنا تقبل. .) / البقرة 127 /].

2015/05/21

PS 125: Pembebasan Syam






Pada Jaisyuz-Zachf (جيش الزحف) pasukan andalannya, Khalid berkata, “Peperangan ini luar biasa.”
Khalid berdoa, “Ya Allah! Tolonglah pasukan Muslimiin” Lalu berkata pada Abu Ubaidah, “Yang mulia! Ternyata para pasukan yang datang kemari pembawa gada itu! Disatukan dengan rantai.”
Abu Ubaidah menjawab, “Yang bisa mengalahkan mereka hanya kaum yang tabah” Lalu bertanya, “Bagaimana sebaiknya, hai Ayah Sulaiman?.”

Dari lautan pasukan itu, Mahan memilih 100.000 prajurit gagah berani, agar menyerang di bagian depan. 

Khalid segera menyadari keadaan. Dia berkata pada Abu Ubaidah,“Sebaiknya yang mulia menempati tempat yang ditempati oleh Said bin Zaid, di belakang, bersama 200 hingga 300 sahabat Rasulillah SAW. Agar kaum di sana sungkan pada Allah dan pada baginda yang mulia. Agar mereka tidak kabur.”

Saat itu nama Said bin Zaid sangat masyhur, hampir seperti Abu Ubaidah. Karena dia tergolong ‘sepuluh orang pasti masuk surga’, berdasarkan Sabda Rasulillah SAW.


Dalam suasana mencekam itu, Said dipanggil agar menempati tempat Abu Ubaidah
Abu Ubaidah mundur menempati tempat Said.

Abu Ubaidah memilih 200 hingga 300 pasukan berkuda dari Yaman. Di antara mereka ada beberapa orang Muhajiriin dan Anshar. Mereka lah yang mendampingi Abu Ubaidah, bersebelahan dengan Said bin Zaid.  [1]

Menurut laporan Waraqah bin Muhalhil Attanukhi (ورقة بن مهلهل التنوخي), pembawa panji Abu Ubaidah di dalam Perang Yarmuk:


Dengan menangis terharu, Abu Ubaidah berkata, “Sampaikan salam saya pada baginda SAW! Dan katakan ‘kami telah menyaksikan ‘Janji Tuhan untuk kami! Ternyata benar!’.”
Pemuda itu memacu kuda untuk persiapan menyerang. 
Kedatangannya disambut oleh lelaki Romawi berkuda.
Pemuda itu mendekati lawan sambil melantunkan syair:

Tak lama lagi kita akan berperang
Dengan pedang telanjang
Semoga saya berhasil meraih keberuntungan
Di dalam Firdaus yang menawan

Pemuda itu bertempur melawan lawannya. Dan pedangnya menembus hingga musuhnya roboh dan sakarat. Dia merampas harta dan kuda musuh yang telah tewas, untuk diserahkan pada lelaki dari kaumnya. Lalu bergerak ke tengah medan, menantang perang.

Seorang datang untuk melawan. Namun beberapa jurus kemudian tewas oleh tebasan pedangnya.

Musuh yang ketiga dan keempat bernasib sama, tewas oleh tebasan pedangnya.

Musuh yang kelima yang mampu mengalahkan pemuda itu.

Kaum dari suku pemuda itu marah, karena dia yang jagoan. Mereka bergerak untuk menyerang, untuk membalaskan kematian saudara sekakek.

Arak-arakan pasukan Romawi yang berdatangan, jauh lebih banyak, bagaikan kawanan belalang yang tak terhitung. Yang mereka dekati, pasukan Muslimiin yang berada di sayap kanan.

Dengan penuh semangat, Abu Ubaidah berkata, “Hai! Musuh-Musuh Allah telah mendekat! Bersiaplah! Ketahuilah bahwa Allah bersama kalian! Semangatlah dalam menghadapi serangan untuk menyambut Pertolongan Tuhan.”
Abu Ubaidah memandang langit lalu berdoa, “Ya Allah! Hanya kepadaMu kami menyembah! Dan hanya kepadaMu kami mohon Pertolongan! Hanya kepadaMu kami meyakini sebagai satu-satunya Tuhan! Dan meyakini bahwa tidak ada yang membandingi Kau! Musuh-MusuhMu ini mengkufuri Kau dan Ayat-AyatMu! Dan mereka menganggap Kau berputra! Ya Allah buatlah mereka kabur! Dan hati mereka kacau-balau ketakutan! Turunkan Ketenangan pada kami! Tetapkanlah kami pada kalimat taqwa! Amankan kami dari AdzabMu wahai yang takkan menyelisihi janji! Ya Allah tolonglah kami mengalahkan mereka! Wahai yang telah berfirman di dalam KitabNya dan berpeganglah pada Allah! Dia Pelindung kalian. Sebaik-baik Pelindung, Sebaik-baik Penolong’.” [Qs Al-Chajj 78/الحج: 78].  [2]

Tiba-tiba pasukan Romawi menyerang sayap kanan dengan sengit. Disambut oleh kaum Al-Azd, kaum Madzchaj, kaum Chadhramaut, dan kaum Khaulan.
Serangan yang menggila dilawan dengan garang. Tiba-tiba bala bantuan pasukan Romawi berdatangan banyak sekali. Namun pasukan Muslimiin tidak mundur.

Ketika bala bantuan Romawi yang ketiga, berjumlah sangat banyak, datang menyerang, pasukan Muslimiin terdesak dan surut ke belakang. Karena jumlah tidak sebanding.

Pimpinan Muslimiin di bagian itu, Amer bin Madikarib yang sangat dihormati, yang telah berumur 120 tahun. Dia berteriak, “Hai kaum Zubaid! Hai kaum Zubaid! Kenapa mundur meninggalkan musuh? Apakah kalian senang namanya tercoreng dan hina? Jangan takut terhadap serangan anjing-anjing ini! Apa kalian tak tahu bahwa Allah mengamati kalian yang berjihad dengan tabah? Jika telah tahu kalian tabah! Allah akan segera menurunkan PertolonganNya! Masyak kalian berlari meninggalkan surga menuju neraka dan Kemurkaan yang Maha Kuasa?!.”

Kaum Zubaid berjumlah sekitar 500 orang berkuda, yang lain berjalan kaki, tidak jadi berlari, karena nasehat pimpinan mereka. Lalu kembali lagi untuk mengerumuni pimpinan dan menyerang pasukan Romawi dengan serangan paling ganas.
Kaum Chimyar, Chadhramaut, Khaulan, dan yang lain, berdatangan membantu menyerang.

Pasukan Romawi tersapu ke belakang dan tewas. Apalagi ketika kaum Daus di bawah pimpinan Abu Hurairah berdatangan untuk menyerang. Abu Hurairah RA pembawa panji yang menggerakkan pasukannya, “Hai semuanya! Berperang ini upaya agar kita bisa memeluk para bidadari bermata indah, di sisi Tuhan seluruh alam! Tidak ada tempat yang lebih menyenangkan Allah untuk kita, daripada medan perang ini! Ketahuilah bahwa kaum yang tabah, lebih diutamakan oleh Allah, mengalahkan lainnya, yang tidak berjihad dan tidak tabah!” agar menyerang.

Ucapan Abu Hurairah sangat berpengaruh pada kaum Daus. Mereka mengerumuni Abu Hurairah RA untuk bersama-sama melancarkan serangan terganas atas lawan.
Peperangan berkecamuk dengan sengit.

Titik serbu yang diutamakan oleh pasukan Romawi, bagian sayap kanan.
Pasukan sayap kanan mundur bersama kuda mereka, karena serangan terlalu ganas dan bertubi-tubi. Para wanita Muslimaat berteriak, “Hai para wanita Arab! Ayo kita turun untuk memberi semangat pasukan! Agar mereka kembali lagi menghadapi lawan!.”

Ufairah bintu Ghoffar berpakaian menyerupai pria, karena akan berperang. Dia berteriak, “Hai wanita Arab! Ayo kita beri semangat pasukan kita! Angkatlah anak-anak kalian! Untuk menyuruh pasukan kita bertempur dan berjihad!.”

Sejumlah wanita melemparkan batu pada pasukan Muslimiin yang lari ke belakang. Anak perempuan Ash bin Munabbih berteriak, “Allah akan menghina lelaki yang tidak berjuang membela istri!.”

Beberapa wanita berkata, “Kalian bukan suami kami yang hebat! Jika tidak melindungi kami dari serangan kaum kafir ini!” pada para suami yang lari.

Khaulah bintil-Azwar, Khaulah bintu Tsalabah, Kaub ibnatu Malik (كعوب ابنة مالك), Salma bintu Hasyim, Nakm bintu Fayadh (ونعم ابنة فياض), Hind bintu Utbah, dan Lubna bintu Jarir, menggerakkan para wanita Muslimaat, agar ikut berjihad.

Walau hatinya berdebar, Khaulah melantunkan syair pemacu semangat jihad:


Pengaruh syair yang dilantunkan, luar biasa.
Pasukan Muslimiin yang telah berlari, berbalik maju lagi untuk menyerang. Bahkan serangan mereka ganas sekali hingga pasukan Romawi kocar-kacir dan berjatuhan.

Hind bintu Utbah muncul membawa tongkat, diikuti para wanita Muhajiraat. Dengan semangat, dia membaca syair pemacu semangat jihad:
Kami anak-anak perempuan Thariq
Berjalan membawa namariq  [3]
Bagai burung Qutha yang aduhai
Barangsiapa enggan berpisah dengan kami
Taklukkan musuh untuk kami
Jika kalian berlari kalah
Sebaiknya kita berpisah
Lelaki perkasa adalah
Pelindung para Muslimah





[1] Said bin Zaid RA, sahabat nabi SAW yang menganggap ‘dosa sangat besar’ pada Pembunuhan Utsman bin Affan RA, ketika Islam telah berjaya. Bukhari meriwayatkan tentang itu: صحيح البخاري - (ج 12 / ص 246)
3578 - حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا يَحْيَى حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ حَدَّثَنَا قَيْسٌ قَالَ سَمِعْتُ سَعِيدَ بْنَ زَيْدٍ يَقُولُ لِلْقَوْمِ لَوْ رَأَيْتُنِي مُوثِقِي عُمَرُ عَلَى الْإِسْلَامِ أَنَا وَأُخْتُهُ وَمَا أَسْلَمَ وَلَوْ أَنَّ أُحُدًا انْقَضَّ لِمَا صَنَعْتُمْ بِعُثْمَانَ لَكَانَ مَحْقُوقًا أَنْ يَنْقَضَّ.

Arti (selain isnad)nya:
Qais berkata, “Saya pernah mendengar Said bin Zaid berkata pada kaum ‘kalau saya melihat saat saya diikat oleh Umar, (karena) saya dan sudara perempuannya (beragama Islam). Saat itu Umar belum Islam. Kalau gunung Uhud telah diqadar remuk-redam karena perlakuan kalian (yang kejam) atas Utsman, niscaya saat itu benar-benar remuk-redam.

[2] Dalam Futuchus-Syam, dijelaskan mengenai hal itu: فتوح الشام - (ج 1 / ص 158)
ثم رمق إلى السماء بطرفه وقال: اللهم إياك نعبد وإياك نستعين ولك نوحد ولا نشرك بك شيئاً وأن هؤلاء أعداؤك يكفرون بك وبآياتك ويتخذون لك ولداً: اللهم زلزل أقدامهم وارجف قلوبهم وأنزل علينا السكينة وألزمنا كلمة التقوى وآمنا عذابك يا من لا تخلف الميعاد، اللهم انصرنا عليهم يا من قال في كتابة العزيز: " واعتصموا بالله هو مولاكم فنعم المولى ونعم النصير.

[3] Namariq: Bantal untuk mempernyaman duduk dan tidur.