SELAMAT DATANG DI BLOG PONDOK PESANTREN MULYA ABADI, JL. MAGELANG KM 8.5 SLEMAN YOGYAKARTA, SEMOGA BLOG INI BISA MENJADI SILATURAHMI KITA UNTUK SALING BERBAGI

2015/02/06

Keunikan Ayat Terpanjang









Allah mengajar agar HambaNya bersatu dan kerjasama, agar mendapatkan hasil sesuai rencana.
Tentang itu, Abu Dawud meriwayatkan Sabda Nabi SAW :

Innallaaha yaquulu Ana Tsaalitsus syariikaini maa lam yakhun achaduhumaa shoochibahu fa idzaa khoonahu khorojtu min bainihimaa.

Artinya:
Sungguh Allah berfirman, 'Aku menigai dua orang bersyarikat, selama satunya tidak khianati sahabatnya. Jika dia telah mengkhianati sahabatnya, Aku keluar dari kalangan mereka berdua'. [1]

Jika Allah menjadi Orang Ketiga, pasti ‘kekuatan dahsyat’. Yang ditinggalkan oleh Allah, pasti ditempati oleh Syaitan, dan tentu akan rapuh, bahkan terjadi kerusakan."

Berdasarkan Hadits ini, Ustadz Rajiman berkata:
“Berapapun jumlah kaum Usaha Bersama, hakikatnya terbagi menjadi dua golongan."

Saya menambah, "Contoh mudah, PT Janu Putra yang besar dan in syaa Allah akan bertambah besar. PT ini menyatukan dua kekuatan. Pertama kekuatan pabrik penyedia pakan ayam. Kedua para pemelihara ayam. Mereka dijadikan satu sistem oleh PT ini, agar menghasilkan uang. Yang pasti, mendasari Sabda Nabi SAW, di atas." Yakni, "Allah menigai kaum Usaha Bersama, kalau semuanya menjunjung amanat. Maka yang paling penting, membuat sistem agar amanat. Yang oleh Allah, diistilahkan 'Dain'." 
Sehebat apapun, jika sistem amanat tidak dibangun, pasti segera runtuh, karena ada Syaitan. Sekecil apapun, bila sistem amanat dibangun, maka akan membesar, karena bergerak dengan Ilmu Allah.

Beberapa tokoh Islam Mutaakkhiriin berkata, “Betapa hebat jika kita bisa Membangun Ekonomi.”

Dan agar harapan baik mereka terwujud, kita harus mengamalkan Ayat Addain, yakni Al-Baqarah, Ayat 282Ayat terpanjang di dalam Al-Qur’an dan terusannya, yang membahas ‘Hutang Rembuk’, yakni ajaran dasar  ‘Usaha Bersama (Benar, Kurup, Janji)’ yang diharapkan berhasil sesuai rencana."

Kalau hanya membahas hutang biasa, tentu Ayat Dain,  tidak sepanjang itu. Bahkan Ayat terpanjang itu ditambah lagi oleh Allah, untuk melengkapi ‘Ajaran Usaha Bersama’.”

Dalam Haditsnya, Ahmad menjelaskan :

Setelah Ayat Dain (di atas) turun, Nabi SAW bersabda ‘sebetulnya yang pertama kali mengingkari hutang rembuk’ justru Adam AS. Sungguh setelah mencipta Adam, Allah  mengusap punggungnya. Untuk mengeluarkan (ruh) anak cucunya, yang akan lahir sebagai manusia, sampai menjelang Kiamat.
Allah menunjukkan mereka pada Adam AS.
Adam melihat seorang terang benderang. Lalu berdoa ‘ya Allah, siapa ini?’.
Allah berfirman ‘cucumu, Dawud AS’. 
Adam berdoa ‘berapa umurya?’. 
Allah berfirman ‘60 tahun’. 
Allah berfirman ‘Tidak bisa! Kecuali kalau sebagian umurmu, boleh Aku tambahkan untuknya’. 
Adam berdoa ‘umur saya yang 40 tahun, saya berikan padanya’. 
Allah menulis Surat Perjanjian Rembuk atas Adam AS, dan mempersaksikan pada sejumlah Malaikat.
Setelah ajal kematian datang, Adam AS didatangi oleh malaikat Maut, untuk dicabut nyawanya.
Adam berkata ‘kamu tergesa-gesa, umur saya masih 40 tahun’. 
Malaikat menjawab ’40 tahun yang kau maksud, telah kau berikan’ pada cucumu, Dawud AS.
Adam membantah ‘saya belum pernah memberikan umur’. 
Pada Adam AS, Allah tunjukkan Surat Perjanjian Rembuk. Dan sejumlah Malaikat menyampaikan persaksian.” [2]

Tirmidzi menambahkan, “Karena Adam mengingkari hutang rembuknya, maka cucunya juga mengingkari hutang rembuk. Beliau AS lupa hutang rembuknya, maka cucunya juga lupa hutang rembuk. 
Maka perintah agar hutang rembuk ditulis dan disaksikan, dimulai sejak itu.” [3]

Dalam Hadits Nasa’i, ada contoh ‘surat perjanjian Usaha Bersama’ (Syarikat) MuqaradhahMufawadhah, dan Annan, sebagai contoh agar ‘hutang rembuk ditulis’. 


(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ) Hai khusus kaum yang telah beriman ! Apabila kalian melakukan hutang-piutang (rembuk) hingga tempo yang ditentukan, maka tulislah!’.

Ini ajaran agar Tempo (Waktu) 'Hutang Rembuk' ditulis. Karena keadaan selalu berubah mengikuti Kehendak yang Maha Kuasa. Dan tempo di sini, bisa diperjelas agar semakin baik. Agar nantinya tidak terjadi perselisihan, dan hasilnya sesuai rencana.
Misal kesalahan sederhana: Pada Bejo, Anda berkata ‘Jo! Buatkan rumah untukku senilai 4 M! Gambarnya ini! Mulai tanggal 17 Agustus! Upahmu sekian!’ Rampungnya tidak dijelaskan. 
Ini jelas membahayakan kerukunan, karena ada rembuk yang belum jelas. Yang pasti makin jelas dan rinci, makin baik. Pastikan dua fihak paham, pada pasal-pasal perjanjian yang akan dilakukan. 

(وَلْيَكْتُبْ بَيْنَكُمْ كَاتِبٌ بِالْعَدْلِ وَلَا يَأْبَ كَاتِبٌ أَنْ يَكْتُبَ كَمَا عَلَّمَهُ اللَّهُ فَلْيَكْتُبْ) Dan hendaklah juru tulis di antara kalian, menulis dengan adil! Juru tulis jangan ‘enggan menulis (hutang rembuk)!’ Seperti yang telah Allah ajarkan padanya! Hendaklah dia menulis (hak / point hutang rembuk)!.

Ini petunjuk agar nantinya tidak bertengkar, dan bahwa tulisan ‘hutang rembuk’ penting. Sampai perintah itu diulang 3 X :
1.     Hai kaum yang telah beriman! Ketika kalian berhutang-piutang hingga tempo yang ditentukan, maka tulislah! (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ).
2.     Hendaklah penulis, menulis dengan adil, pada (hutang rembuk) antar kalian! (وَلْيَكْتُبْ بَيْنَكُمْ كَاتِبٌ بِالْعَدْلِ).
3.     Penulis jangan menolak menulis! Sebagaimana (Allah) telah mengajarkan padanya. Hendaklah dia menulis (hutang rembuk tersebut)! (وَلَا يَأْبَ كَاتِبٌ أَنْ يَكْتُبَ كَمَا عَلَّمَهُ اللَّهُ فَلْيَكْتُبْ).
Bahkan di Ayat setelahnya, dijelaskan mengenai ‘jaminan’. Karena mengenai kewajiban melunasi hutang (rembuk), manusia cenderung lupa.

(وَلْيُمْلِلِ الَّذِي عَلَيْهِ الْحَقُّ وَلْيَتَّقِ اللَّهَ رَبَّهُ وَلَا يَبْخَسْ مِنْهُ شَيْئًا) Yang berkewajiban menunaikan hak (kewajiban atau menguntungkan), hendaklah membaca! Hendaklah takut Allah Tuhannya! Jangan mengurangi  hak (kewajiban atau menguntungkan), sedikitpun!. 

Ini Petunjuk Allah, mengenai Penulisan Rembuk :
1.     Tempo (waktu). Sababunnuzul Ayat ini, para Sahabat Rasulillah SAW, melakukan Usaha Bersama yang disebut Assalam atau Assalaf. [4] Namun Ayat membahas perbuatan baik mereka dengan pengertian lebih luas. Berkembang ke arah Usaha Bersama. Tempo’ di sini bisa diperdetail. Misal tempo ‘rumah yang akan dibangun’ ini, akan dimulai tanggal berapa? Selesai tanggal berapa? Arsiteknya mengecek tiap berapa hari? Para pegawai akan bekerja tiap hari, mulai jam berapa hingga kapan? Dan seterusnya. Yang pasti makin jelas, makin baik.
2.     Hak berupa upah dan bonus, boleh libur tiap hari Ahad dan sebagainya. Makin jelas, makin baik.
3.     Dan hak kewajiban masing-masing harus ditetapi. Berarti dua belah fihak, merumuskan dan membaca ‘hutang rembuk tersebut’. Usaha Bersama dilakukan oleh dua fihak, dengan jelas. Makin rinci dan paham, makin baik.

Karena biasanya, Syaitan menggoda orang Usaha Bersamaagar tidak rukun, melaui empat jalan:
1.     Waktu tidak tepat.
2.     Hak yang diterima tidak sesuai.
3.     Kewajiban tidak dilakukan.
4.     Tiada janji tertulis dan jaminan pengikat.

Kalau pelaku hutang rembuk ‘Usaha Bersama’, tuna netra, atau tidak mampu membaca, (dalam kesulitan)? Jawabannya, diterangkan pada kalimat Ayat selanjutnya, yang artinya: 

(فَإِنْ كَانَ الَّذِي عَلَيْهِ الْحَقُّ سَفِيهًا أَوْ ضَعِيفًا أَوْ لَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يُمِلَّ هُوَ فَلْيُمْلِلْ وَلِيُّهُ بِالْعَدْلِ) 'Jika yang berkewajiban mewujudkan hak (dan kewajiban) bodoh atau lemah, atau tidak mampu membaca, maka hendaklah wali (wakil)nya yang membacakan, dengan adil’. 

Al-Haqqu (الْحَقُّ) dalam Ayat itu adalah, hak sekaligus kewajiban 
1.     “Al di dalam Al-Haqqu (الْحَقُّ), adalah ‘Ahdiyah'. Berarti yang dimaksud adalah, Bidainin (بِدَيْنٍ), yang artinya ‘pada hutang rembuk'
2.     Alasan lain bahwa Al-Haqqu (الْحَقُّ) di sini, 'hak dan kewajiban', Firman Allah ‘shoghiiron aw kabiiron’. 
3.     Dalil pemerkuat uraian ini : (ذَلِكُمْ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ وَأَقْوَمُ لِلشَّهَادَةِ وَأَدْنَى أَلَّا تَرْتَابُوا) Dzaalikum aqsathu inda Allahi wa aqwamu lissyahaadati wa adnaa anlaa tartaabuu.”

---------------------------


(وَاسْتَشْهِدُوا شَهِيدَيْنِ مِنْ رِجَالِكُمْ فَإِنْ لَمْ يَكُونَا رَجُلَيْنِ فَرَجُلٌ وَامْرَأَتَانِ مِمَّنْ تَرْضَوْنَ مِنَ الشُّهَدَاءِ أَنْ تَضِلَّ إِحْدَاهُمَا فَتُذَكِّرَ إِحْدَاهُمَا الْأُخْرَى وَلَا يَأْبَ الشُّهَدَاءُ إِذَا مَا دُعُوا) Dan persaksikan pada dua saksi, dari kaum lelaki kalian! Jika tiada (saksi) dua lelaki, maka seorang lelaki dan dua wanita, dari para saksi yang kalian ridhoi! Jika seorang dari duanya salah, agar satunya mengingatkan lainnya. Para saksi jangan menolak, ‘ketika diundang!’.

Ini Petunjuk Allah, demi tegaknya kerukunan, dan (pelajaran) hukum (mendatangi undangan saksi) Wajib Kifayah. Artinya jika sudah ada saksi yang cukup, maka yang lain tidak berkewajiban.
Ayat ini mansukh’, oleh Ayat ‘Fa in amina’ dan seterusnya.” Sebagai penegasan pentingnya 'menjunjung amanat dan kerukunan'. Artinya untuk menunjukkan bahwa hukum Mendatangi Undangan Saksi, Wajib Kifayah. 

Ibnu Katsir menulis:
معناه: إذا دعوا للتحمل فعليهم الإجابة، وهو قول قتادة والربيع بن أنس.

Artinya: 
‘Ketika diundang’ untuk mengamalkan (Petunjuk ini), mereka berkewajiban ‘mendatangi’, terang Qatadah  dan Ar-Robi’ bin Anas, dua murid Anas bin Malik RA.”



(وَلَا تَسْأَمُوا أَنْ تَكْتُبُوهُ صَغِيرًا أَوْ كَبِيرًا إِلَى أَجَلِهِ ذَلِكُمْ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ وَأَقْوَمُ لِلشَّهَادَةِ وَأَدْنَى أَلَّا تَرْتَابُوا إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً حَاضِرَةً تُدِيرُونَهَا بَيْنَكُمْ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَلَّا تَكْتُبُوهَا وَأَشْهِدُوا إِذَا تَبَايَعْتُمْ) Dan jangan remehkan penulisan hak! ‘Yang kecil maupun yang besar!' Hingga (point) ajal (waktu)nya. Demikian itu:
1.     Lebih adil di sisi Allah.
2.     Lebih menegakkan persaksian.
3.     Dan lebih mendekatkan ke ‘agar kalian tidak ragu-ragu’. Kecuali jika (hutang rembuk ini) perdagangan yang kalian putar antar kalian, maka tiada dosa atas kalian ‘jika tidak kalian tulis’. Dan persaksikan, ketika kalian jualan!.

Kwitansi, nota, adalah saksi bisu. (Ayat ini Mansukh oleh Ayat terusannya 'fain amina'). Yakni disalin dengan ‘ajaran yang lebih baik’.


(وَلَا يُضَارَّ كَاتِبٌ وَلَا شَهِيدٌ وَإِنْ تَفْعَلُوا فَإِنَّهُ فُسُوقٌ بِكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ (282)) Penulis maupun saksi, jangan dimadhorotkan! (dipersulit).
Jika kalian melakukan (memperberat), maka kefasikan melanda kalian. Takutlah Allah! Allah mengajarkan (Ilmu ini) pada kalian. Dan Allah Maha Tahu segala sesuatu.

Ada yang berkata, “Meskipun telah menulis dan mempersaksikan poin-poin perjanjian Usaha Bersama, kalau berniat jahat, ya akan kabur membawa hak milik teman. Dia nggak peduli perjanjian.”
Jawabannya, “Dalam Ayat selanjutnya, Allah berfirman:

(وَإِنْ كُنْتُمْ عَلَى سَفَرٍ وَلَمْ تَجِدُوا كَاتِبًا فَرِهَانٌ مَقْبُوضَةٌ فَإِنْ أَمِنَ بَعْضُكُمْ بَعْضًا فَلْيُؤَدِّ الَّذِي اؤْتُمِنَ أَمَانَتَهُ وَلْيَتَّقِ اللَّهَ رَبَّهُ وَلَا تَكْتُمُوا الشَّهَادَةَ وَمَنْ يَكْتُمْهَا فَإِنَّهُ آثِمٌ قَلْبُهُ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ (283) ‘Jika kalian di dalam bepergian jauh, tidak menjumpakan penulis, maka (agar ada) jaminan yang diserahkan. Jika sebagian kalian merasa aman (percaya) pada sebagian, maka yang diamanati hendaklah:
1.     Mendatangkan ‘Amanatnya’.
2.     Takutlah pada Allah Tuhannya!  
3.     Jangan menyembunyikan persaksian! Barang siapa menyembunyikan persaksian, maka hatinya berdosa. Allah Maha Tahu yang kalian amalkan.”

Meskipun kalimat Ayat ini menjelaskan 'jika kalian di dalam bepergian jauh', dan seterusnya. Namun dalam praktik penyerahan jaminan, 'bukan hanya' di saat pergi jauh dan tiada penulis. Karena ini Ajaran Tuhan, agar aman dari penipuan
Dalam Tafsir Al-Muyassar dijelaskan:

يا من آمنتم بالله واتبعتم رسوله محمدًا صلى الله عليه وسلم إذا تعاملتم بدَيْن إلى وقت معلوم فاكتبوه؛ حفظًا للمال ودفعًا للنزاع.

Artinya:
Hai orang yang telah beriman pada Allah dan mengikuti RasulNya, Muhammad SAW, bila kalian melakukan hutang (rembuk) hingga tempo, maka tulislah! Untuk menyelamatkan harta dan menghindari perselisihan.

Ada (Amanat Penting) yang disampaikan di dalam Pengajian Tokoh, September 2011 halaman 6 nomer 5 : Kita sebagai Muslim, supaya berbudi luhur, berakhlaq karimah. Jangan budi asor! Untuk:
1.     Menjaga nama baik diri, keluarga, dan jamaah.
2.     Agar semua tambah lancar.
Kalau budi asor, dia akan jatuh, keluarga ikut menanggung malu, dan jamaah dijelek-jelekkan.
Contoh budi luhur: Di suatu perusahaan, melaksanakan prinsip kerja tepat: BENAR, KURUPJANJI. Maka dia dipercaya, akhirnya diberi kedudukan terhormat. Keluarganya ikut terhormat, golongannya juga dinilai baik. Hingga akhirnya urusannya lancar."

Tiga Dalil pendorong agar Perjanjian Usaha Bersama ditulis:
1.     ‘{وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّهُ} [البقرة: 282]’ Allah mengajarkan (Ajaran) ini pada kalian. (Apa ada yang lebih hebat daripada Ajaran Allah?).
2.     ‘{وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ} [البقرة: 282]’ Allah Maha Alim mengenai segala sesuatu. Artinya Perbuatan atau FirmaNyaKebenaran

3.     ‘{وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ} [البقرة: 283]’ Allah Maha Alim mengenai yang kalian lakukan. Artinya, melakukan sesuatu harus berdasarkan Ilmu atau Ajaran Allah.








3383 - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سُلَيْمَانَ الْمِصِّيصِيُّ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الزِّبْرِقَانِ، عَنْ أَبِي حَيَّانَ التَّيْمِيِّ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، رَفَعَهُ قَالَ: " إِنَّ اللَّهَ يَقُولُ: أَنَا ثَالِثُ الشَّرِيكَيْنِ مَا لَمْ يَخُنْ أَحَدُهُمَا صَاحِبَهُ، فَإِذَا خَانَهُ خَرَجْتُ مِنْ بَيْنِهِمَا "
__________

[حكم الألباني] : ضعيف.
2270 - حَدَّثَنَا عَفَّانُ، حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ، عَنْ عَلِيِّ بْنِ زَيْدٍ، عَنْ يُوسُفَ بْنِ مِهْرَانَ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، أَنَّهُ قَالَ: لَمَّا نَزَلَتْ آيَةُ الدَّيْنِ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " إِنَّ أَوَّلَ مَنْ جَحَدَ آدَمُ عَلَيْهِ السَّلامُ، أَوْ: أَوَّلُ مَنْ جَحَدَ آدَمُ -، إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ لَمَّا خَلَقَ آدَمَ، مَسَحَ ظَهْرَهُ، فَأَخْرَجَ مِنْهُ مَا هُوَ مِنْ ذَرَارِيَّ (1) إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، فَجَعَلَ يَعْرِضُ ذُرِّيَّتَهُ عَلَيْهِ، فَرَأَى فِيهِمْ رَجُلًا يَزْهَرُ، فَقَالَ: أَيْ رَبِّ مَنْ هَذَا؟ قَالَ: هَذَا ابْنُكَ دَاوُدُ، قَالَ: أَيْ رَبِّ، كَمْ عُمْرُهُ؟ قَالَ: سِتُّونَ عَامًا، قَالَ: رَبِّ زِدْ فِي عُمْرِهِ، قَالَ: لَا، إِلا أَنْ أَزِيدَهُ مِنْ عُمْرِكَ وَكَانَ عُمْرُ آدَمَ أَلْفَ عَامٍ، فَزَادَهُ أَرْبَعِينَ عَامًا، فَكَتَبَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْهِ بِذَلِكَ كِتَابًا، وَأَشْهَدَ عَلَيْهِ الْمَلائِكَةَ، فَلَمَّا احْتُضِرَ آدَمُ، وَأَتَتْهُ الْمَلائِكَةُ لِتَقْبِضَهُ، قَالَ: إِنَّهُ قَدْ بَقِيَ مِنْ عُمُرِي أَرْبَعُونَ عَامًا، فَقِيلَ: إِنَّكَ قَدْ وَهَبْتَهَا لِابْنِكَ دَاوُدَ، قَالَ: مَا فَعَلْتُ وَأَبْرَزَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْهِ الْكِتَابَ، وَشَهِدَتْ عَلَيْهِ الْمَلائِكَةُ " (2)
__________
(1) كذا في (ظ9) و (ظ14) "ما هو ذارىء" وهو الصواب، وفي (م) وباقي الأصول الخطية: "ما هو من ذراري" وهو غير واضح المعنى. والذارىء من صفات الله عز وجل، وهو الذي ذرأ الخلق، أي: خلقهم.
(2) حسن لغيره، وهذا إسناد ضعيف، علي بن زيد -وهو ابن جدعان- ضعيف، وكذا يوسف بن مهران.
وأخرجه الطيالسي (2692) ، وابن سعد 1/28-29، وابن أبي شيبة 13/60 و14/118، وابن أبي عاصم في "السنة" (204) ، وأبو يعلى (2710) ، والطبراني (12928) ، والبيهقي 10/146 من طرق عن حماد بن سلمة، بهذا الإسناد. وسيأتي برقم (2713) و (3519) ، وانظر (2455) . يزهر: أي: يضيء وجهه حسناً.
وله شاهد بإسناد قوي من حديث أبي هريرة صححه ابن حبان برقم (6167) ..

فَمِنْ يَوْمِئِذٍ أُمِرَ بِالكِتَابِ وَالشُّهُودِ ": «هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ مِنْ هَذَا الوَجْهِ، وَقَدْ رُوِيَ مِنْ غَيْرِ وَجْهٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ» مِنْ رِوَايَةِ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ، عَنْ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
__________

[حكم الألباني] : حسن صحيح.
قَوْلُهُ تَعَالَى: (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذا تَدايَنْتُمْ بِدَيْنٍ) الآية. قَالَ سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيَّبِ : بَلَغَنِي أَنَّ أَحْدَثَ الْقُرْآنِ بِالْعَرْشِ آيَةُ الدَّيْنِ. وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: هَذِهِ الْآيَةُ نَزَلَتْ فِي السَّلَمِ خَاصَّةً.


Pada pelaku Usaha Bersama

“Bukankah sebaiknya?”
RKUB disempurnakan menjadi Perjanjian UB
Atau dilengkapi dengan Perjanjian UB?

3 komentar: