SELAMAT DATANG DI BLOG PONDOK PESANTREN MULYA ABADI, JL. MAGELANG KM 8.5 SLEMAN YOGYAKARTA, SEMOGA BLOG INI BISA MENJADI SILATURAHMI KITA UNTUK SALING BERBAGI

2015/02/04

PS 42: Pembebasan Syam






Bathriq Ishthofan telah keluar dari barisan, akan membunuh Dhirar. Semangatnya menyala-nyala bagai api yang takkan terpadamkan. Sebelum menyerang, Ishthofan membentak, “Celaka kau! Kali ini yang menghadapi kau, seorang yang takkan mungkin bisa kau taklukkan.”
Dhirar tidak paham bahasa Romawi yang diucapkan. Yang dia ketahui Ishthofan perintah, agar dia bersiap menerima serangannya. 
Isthofan mengeluarkan Salib emas, yang digantungkan pada kalung dari perak. Dia mencium Salib lalu meletakkan di atas kepala. 
Dhirar paham bahwa maksud Ishthofan minta pertolongan pada Salib, agar diberi kemenangan.  
Dhirar berkata, “Silahkan kau minta tolong padanya. Saya minta tolong pada Al-Qoriib Al-Mujiib (بالقريب المجيب) yang Maha Dekat Maha mengabulkan orang yang menyeru pada-Nya.”

Yang mendebarkarkan dan mengejutkan, saat Isthofan memulai melancarkan serangan ganas pada Dhirar, yang menyambut dengan serangakaian tangkisan. Hampir semua penonton Romawi berkata, “How” Dengan serempak, riuh.

Khalid berteriak, “Hai Putra Azwar! Kenapa kurang semangat dan terlalu santai melayani dia?! Padahal surga telah dibukakan untuk kau! Dan nereka telah dibukakan untuk musuh-musuhmu? Yang cekatan! Karena Allah akan menolong kau!.”
Dhirar menghapus rasa malasnya, dan menyerang dengan ganas sekali. 
Walau hati berdebar, pasukan Romawi berteriak, agar Ishthofan tetap berani.
Dhirar dan Ishthofan saling menyerang dan menangkis, bagai orang kalap yang mengerikan, mendebarkan.
Saat itu sudah siang, sehingga rasanya panas, karena sengatan matahari.

Batriq Ishthofan minta agar Dhirar turun dari kuda, untuk berperang di atas tanah. Dhirar menuruti keinginannya, turun dari kuda.

Tiba-tiba sekelompok pasukan Romawi berdatangan, dipimpin oleh pemuda, putra Ishthofan. Batriq muda itu mengendarai kuda penurut yang dituntun oleh seorang tentara. 
Dhirar memanggil kudanya yang segera datang. Dan berteriak pada kudanya, “Temani saya sebentar! Jika menolak! Kau saya laporkan pada Rasulillah SAW!.”
Kuda bergerak cepat menghadap Dhirar, yang segera menusuk batriq muda, penolong Ishthofan. Lalu dia mengambil dan mengendarai kuda batriq muda itu. Dan melepas kuda yang telah menemani, agar berlari menuju pasukan Muslimiin.

Di sana kuda diterima oleh pasukan Muslimiin.

Dhirar kembali menghadap batriq Ishthofan. 
Ishthofan terkejut, berdebar-debar, marah dan takut, karena putranya telah terbunuh, dan kuda putranya telah dirampas oleh Dhirar. Saat itulah dia yakin bahwa dirinya juga akan tewas. Dia berpikir jika lari ‘pasti dibunuh’ secepatnya, jika melawan juga ‘pasti’ kalah.

Di saat itulah, tiba-tiba sekelompok pasukan berkuda dari Romawi bergerak mendekat.

Wardan telah menyaksikan tanda-tanda Ishthofan ‘sudah tak mampu’ lagi, mengimbangi serangan Dhirar yang ganas. Dia berpikir jika tidak segera ditolong, Ishthofan bisa tewas.
Dia berkata, “Hai pahlawan saya! Syaithan inilah yang telah makan seiris hati saya! Jika saya tak mampu membunuh dia! Saya akan bunuh diri! Saya harus membunuh dia!.”

Wardan bergerak bersama sepuluh batriq berbaju besi, mendekati Dhirar. Kaki sepuluh batriq dibungkus sepatu lars dari besi. Baju besi yang mereka kenakan berlengan besi. Membawa tongkat besi. Wardan berbaju perang, mengenakan mahkota agung, gemerlapan.  
Wardan memimpin sepuluh batriq, mendekati Dhirar. Mendebarkan.
Ishthofan berteriak agar Dhirar menoleh. Namun dia hanya bergerak untuk siaga.

Khalid melihat sebelas musuh, bergerak makin mendekati Dhirar. Dan melihat kilauan mahkota Wardan, karena sinar matahari.

Dari agak jauh, Khalid berkata, “Yang mengenakan mahkota itu pasti raja! Berarti pemimpin sepuluh orang, yang mendekati teman kita itu, ‘Wardan!’ Kita harus membantu kawan! Yang ikut saya hanya sepuluh saja! Agar jumlahnya ‘sama’ dengan mereka!.”

Khalid dan sepuluh orangnya keluar dari barisan, mendekati kuda. Untuk datang dan membantu Dhirar.

Subhanallah, meskipun Wardan dan sepuluh pasukan pengawalnya telah makin dekat, namun Dhirar tak mundur setapak pun. Bahkan dia tenang sekali, hatinya seperti lebih keras dari batu.


Wardan dan pasukan pengawalnya terkejut oleh suara Khalid, “Berbahagialah hai Dhirar! Kau akan ditolong oleh Al-Jabbar! Jangan takut kaum Kuffar!.”
Dhirar berkata, “Kali ini pertolongan telah dekat sekali.”

Khalid bersama pasukannya mendekati, menyerang Wardan dan pasukannya. 
Kini setiap seorang, berperang melawan seorang. 
Khalid bertempur melawan Wardan. 
Ishthofan ketakutan, ketika melihat Khalid dan sepuluh pasukan Muslimiin. Dengan grogi, dia menoleh kekiri dan kekanan, akan kabur. 
Tombak Dhirar bergerak cepat ke arah Ishthofan, yang menghindar dengan terjun dari kuda, untuk berlari.
Dhirar mengejar dengan kuda lalu terjun untuk menangkap Ishthofan.

“Grubyuk” Mereka berdua jatuh ke tanah. Tubuh Isthofan besar keras seperti batu. Tubuh Dhirar ramping.
Setelah pergulatan seru berlangsung cukup lama, Dhirar memukul lempeng dan membanting, hingga Ishthofan berteriak minta tolong pada Wardan, “Tonglah saya mengatasi kesulitan! Wahai tuan! Saya hampir kalah!.”
Wardan menjawab, “Lalu yang menolong saya menghadapi singa-singa buas ini siapa?!.”

Dengan terbengong, dua golongan yang bertikai, saling memandang fihak lawan. 
Dhirar mendekati Ishthofan yang tak berdaya. Lalu menduduki dada dan menyembelih dia, bagai menyembelih unta.

Di waktu Khalid berperang melawan Wardan, Dhirar telah memotong leher lawannya.
Dhirar bangkit untuk naik kuda. Pasukan Romawi telah kalap dan melancarkan serangan dahsyat, atas kaum Muslimiin. Suara mereka ribut, mengusir sepi.


0 komentar:

Posting Komentar