SELAMAT DATANG DI BLOG PONDOK PESANTREN MULYA ABADI, JL. MAGELANG KM 8.5 SLEMAN YOGYAKARTA, SEMOGA BLOG INI BISA MENJADI SILATURAHMI KITA UNTUK SALING BERBAGI

2011/05/29

KW 70: Penduduk Qinasrin

(Bagian ke-70 dari seri tulisan Khalid bin Walid)

Dari lisan ke lisan akhirnya penduduk Qinasrin tahu bahwa panglima perang Muslimiin bernama Abu Ubaidah menjamin keselamatan kaum yang menghadap ke hadiratnya untuk minta diselamatkan. Hal itulah yang membuat sebagian penduduk Qinasrin berkumpul untuk berembuk bersama. Dalam musyawarah itu diputuskan mereka akan menyuruh seorang agar menghadap Abu Ubaidah untuk mengajukan permohonan damai. Keputusan itu tanpa sepengetahuan pimpinan tinggi mereka yang berpangkat bathriq.
Bathriq yang bernama Luqa itulah pimpinan tinggi mereka yang memerintah dua wilayah: kota Qinasrin dan Awashim. [1]  Orangnya sangat pandai berperang perangainya keras, hingga semua rakyatnya takut.
Penguasa kota Chalab adalah orang yang pangkatnya sejajar Bathriq Luqa.
Dua tokoh besar ini telah dipanggil Raja Hiraqla untuk ditanya mengenai pertahanan pasukan wilayah mereka berdua. Mereka berdua menjawab, “Wahai raja! Sejak dulu hingga kapanpun, wilayah kami pasti kami pertahankan. Hanya kalau bisa pertahanan yang ini jangan terlalu berat.”
Raja Hiraqla mengucapkan terimakasih lalu berjanji, “Tenang! Saya akan mengirim pasukan berjumlah sangat banyak untuk membantu kalian berdua.”
Sebetulnya jumlah pasukan berkuda mereka bedua cukup banyak: masing-masing memiliki 10.000 pasukan berkuda. Hanya saja 20.000 pasukan itu tidak berkumpul di suatu tempat.
Dalam waktu cepat penguasa kota Qinasrin tahu bahwa sebagian rakyatnya telah mengajukan permohonan damai pada Abu Ubaidah, tanpa sepengetahuannya. Dia marah dan tersinggung, dan mengumpulkan rakyatnya untuk berkata, “Hai saudara seketurunan! Apa yang harus saya perbuat terhadap kaum Arab?. Sepertinya kalian justru condong pada mereka yang telah menduduki beberapa wilayah kekuasaan kita di negri Syam?.”
Beberapa orang menjawab, “Tuan! Berita yang sampai pada kami: kaum Arab menepati janji dan mau bermurah hati menjamin keselamatan kita. [2] Kebanyakan kota kita telah mereka rebut dengan perdamaian. Orang-orang yang berani melawan mereka, diperangi dan diperbudak keluarga dan anak-anaknya. Namun jika mau mengikuti kemauan mereka, maka diperbolehkan menempati tanah kelahiran dan selamat dari tindakan mereka. Menurut kami paling tepat kita mengajukan permohonan damai agar kita dan harta kita aman.”
Sang bathriq menjawab, “Usulan kalian tepat! Karena mereka adalah kaum yang mendapat pertolongan untuk menaklukkan lawan. Saya bertekat seperti pendapat kalian: yaitu akan mengajukan permohonan perdamaian selama setahun penuh. Hanya saja ketika pasukan Raja Hiraqla telah datang kemari untuk menolong kita, mereka kita serang, kita bunuh semuanya.”
Banyak sekali yang menjawab, “Laksanakan rencana tuan yang bagus itu!.”
Sang bathriq Luqa dan sebagian besar rakyat Qinasrin telah sepakat akan mengajukan permohonan perdamaian untuk menipu kaum Muslimiin. Bathriq Luqa telah memanggil seorang qissis yang sangat pandai agama Nashrani maupun Yahudi bernama Ishthokhor (اصطخر). [3]  Ishthokhor pandai berbicara, pandai bahasa Romawi dan Arab. 
Luqa berkata, “Bapa! Pergilah pada kaum Arab agar mereka menerima permohonan perdamaian kita selama setahun. Dalam waktu setahun itu kita bisa merencanakan siasat dan tipu-muslihat.”
Luqa menulis surat permohonan yang akan dibawa oleh Ishthokhor untuk diserahkan pada Abu Ubaidah RA. Di antara yang tertulis di dalamnya:
Ammaa ba’d:
Hai kaum Arab, pertahanan kami sangat kuat, jumlah pasukan kami sangat banyak. Meskipun kalian bercokol di sini seratus tahun, kalian takkan mampu mengalahkan kami. Dalam hal ini Raja Hiraqla telah mempersiapkan pasukan yang diambil dari sepanjang pesisir Khalij hingga Romawi. [4]  Melalui surat ini kami mengajukan permintaan damai setahun penuh untuk selanjutnya berhitung siapakah yang akan lihai bertempur. Untuk itu kami menunjukkan batas wilayah Qinasrin dan Awashim. Agar jika nanti kalian menyerang, tahu batas-batasnya. Terus terang kami bertindak ini tanpa sepengetahuan Raja Hiraqla karena takut dimurkai dan dibunuh.  
والسلام

Sang bathriq menyerahkan kuda bagalnya dan memberi teman 10 pemuda untuk menemani Ishthokhor dalam perjalanan menuju Chims (Homs). Untuk menjumpai dan menyerahkan surat pada Abu Ubaidah RA.


[2] Istilah Al-Waqidi: أصحاب وفاء وذمة. (Ashchabu wafaa’in wa dzimmah, yang artinya orang-orang yang menetapi janji dan mau menjamin keselamatan musuh).
[3] Qissis adalah okoh agama Nashrani. Lihat catatan kaki dari: http://www.mulungan.org/2011/05/kw-67-kaum-muslimiin-banyak-mengalah.html
[4] Khalij artinya sungai besar yang masuk ke laut.

0 komentar:

Posting Komentar