SELAMAT DATANG DI BLOG PONDOK PESANTREN MULYA ABADI, JL. MAGELANG KM 8.5 SLEMAN YOGYAKARTA, SEMOGA BLOG INI BISA MENJADI SILATURAHMI KITA UNTUK SALING BERBAGI

2011/05/08

KW 48: Menguntit Rombongan Tuma

(Bagian ke-48 dari seri tulisan Khalid bin Walid) 

Penduduk Damaskus yang masih tetap tinggal di kampung halaman mereka cukup banyak. Mereka mulai tenang karena sudah ada perjanjian damai dengan kaum Muslimiin. Sebagian mereka ada yang berani berselisih dengan Khalid mengenai sawah milik mereka. Menurut Khalid sawah yang berjumlah banyak sekali itu semua sudah menjadi hak milik kaum Muslimiin. Abu Ubaidah menengahi, “Itu semua hak milik mereka sesuai dengan perjanjian damai.”
Tetapi semakin lama perselisihan semakin memuncak. Hampir saja terjadi perkelahian antara para pendukung Khalid dan pendukung Abu Ubaidah. Ketegangan berakhir setelah mereka sepakat agar Khalid dan Abu Ubaidah kirim surat pada Abu Bakr As-Shiddiq agar menengahi mereka. Kaum Muslimiin tidak tahu bahwa sebetulnya Abu Bakr telah wafat di waktu mereka merebut kota Damaskus. Abu Ubaidah tahu bahwa Abu Bakr RA telah wafat, tapi diam.

Subhanallah: arak-arakan lautan manusia panjang sekali mengalir meninggalkan Damaskus. Athiyah bin Amir (عطية بن عامر) berdiri tercengang menyaksikan beribu-ribu orang semakin lama semakin jauh. Tokoh yang paling menjadi perhatian bagi mereka saat itu adalah Tuma dan istrinya yaitu putri Raja Hiraqla, dan Harbis. Lama sekali berakhirnya karena saking banyaknya lautan manusia yang mengalir.
Dhirar bin Al-Azwar juga menonton, dengan mata memicing karena geregetan dan kesal.
Athiyah menegur, “hai putra Al-Azwar! Kenapa kau kesal melihat mereka?. Fasilitas surga yang di sisi Allah jauh lebih banyak daripada yang mereka bawa itu semua.”
Dhirar menjawab, “Demi Allah, yang saya butuhkan bukan harta. Saya hanya menyesal kenapa mereka dibiarkan hidup dan pergi meninggalkan kota ini. Abu Ubaidah telah menjatuhkan martabat kaum Muslimiin.”  
Athiyah menjawab, “Hai putra Al-Azwar! Kepercayaan umat ini tidak menghendaki kecuali demi kebaikan Muslimiin.[1] Untuk melindungi darah dan istri-istri mereka karena perang yang berkepanjangan. Menyayang seorang Muslim nilainya lebih baik daripada semua harta yang disinari oleh matahari. Allah sendiri meletakkan rahmat pada semua hati orang-orang iman. Tuhan juga berfirman di dalam kitab yang diturunkan ‘sungguh Tuhan takkan menyayang orang yang tak menyayang’. Bahkan juga berfirman wasshulchu khair’.” [2]
Dhirar menjawab, “Demi umurku kau telah benar! Tetapi saksikanlah bahwa saya paling benci pada orang yang berkeyakinan bahwa Allah beristri dan berputra.”

Watsilah bin Al-Asqa’ (وائلة بن الاسقع) tergolong orang yang bergabung sebagai pasukan Khalid bin Al-Walid di dalam penaklukan negri Damaskus. Komandan dia bernama Dhirar bin Al-Azwar. Rombongan Dhirar, pasukan berkuda yang berkeliling kota mulai dari pintu gerbang Damaskus yang bernama Tuma, hingga pintu gerbang Salamah. Lalu berjalan lagi hingga pintu gerbang Jabiyah. Berjalan lagi hingga pintu gerbang kecil. Berjalan lagi hingga pintu gerbang Qiyadz. Saat itu Syam belum ditaklukkan pasukan Muslimiin. 

Sejumlah pasukan Muslimiin terkejut oleh suara pintu gerbang yang dibuka. Ada orang naik kuda yang keluar dan mendekat. Dia ditangkap dan diancam: “Jika kamu berteriak, kami bunuh!.”
Kaum Muslimiin dikejutkan oleh orang berkuda yang muncul lagi dari dalam. Di tengah pintu dia berteriak mengenai lelaki yang telah ditangkap. Kaum Muslimiin perintah pada tawanan itu, “Beri tahulah dia!.”
Tawanan bergerak mendekati temannya untuk berbicaya dengan bahasa Romawi. Yang dibicarakan, “Burung itu telah terperangkap.”
Sontak dia tahu bahwa temannya telah ditawan oleh kaum Muslimiin.
Dia bergerak cepat berbalik ke belakang lalu menutup pintu gerbang. 

Kaum Muslimiin mendatangi untuk membunuh lelaki tawanan. Karena siapa tahu pembicaraannya dengan temannya barusan membahayakan. Beberapa Muslimiin berkata, “Jangan dibunuh! Kita bawa menghadap Khalid saja!.”
Kaum Muslimiin datang pada Khalid membawa tawanan. Khalid bertanya padanya, “Siapa kau?.”
Dia menjawab, “Saya orang Romawi bernama Yunus Ad-Dimaski (يونس الدمشقي). Saya telah menikahi gadis dari kaumku, sebelum tuan menyerbu negri ini. Saya sangat cinta pada dia. Tuan terlalu lama mengepung negri ini. Saya telah minta pada keluarganya agar dibuatkan resepsi untuk pernikahan kami, namun mereka menolak dengan alasan ‘sedang repot’. Padahal saya benar-benar ingin segera dirayakan. Saya berkencan mengajak dia ke arena bermain. Di tempat itulah dia minta saya membawa dia keluar kota. Ketika saya membuka pintu gerbang untuk melihat keadaan, ternyata saya ditangkap pasukan tuan. Orang berkuda yang memanggil saya di pintu gerbang itulah istri saya. Saya memberi tahu dia ‘burung telah terperangkap’, agar dia menghindar dari kalian. Kalau dia bukan istriku, telah saya biarkan kalian tangkap.”
Khalid bertanya, “Bagaimana jika kau masuk Islam?.”
Yunus Ad-Dimaski (يونس الدمشقي) berkata, “Asyhadu an laa Ilaaha illaa Allah, wa asyhadu anna Muhammadan Rasul Allah.”[3]
Yunus Ad-Dimaski dilepaskan karena telah masuk Islam. Dia bergabung pada pasukan Muslimiin untuk berperang dengan giat melawan kaum Romawi di Damaskus. 
Ketika Damaskus telah sepenuhnya direbut kaum Muslimiin, dia mencari istrinya. Ada yang bilang, “Istrimu telah menjadi biarawati.”
Yunus menjumpainya, namun orang yang belum lama diperistri itu sudah pangling padanya.
Dia menegur, “Apa yang mendorongmu menjadi biarawati?.”
Biarawati menjawab, “Saya dulu senang suamiku, namun dia ditangkap kaum Arab. Saya menjadi biarawati karena susah memikirkan suamiku ditangkap.”
Yunus menjawab, “Saya lah suamimu yang telah mengikuti agama kaum Arab.”
Biarawati bertanya, “Kalau kau telah murtad, apa tujuanmu menemuiku?!.”
Dia menjawab, “Agar kau mau menjadi dzimmah.”[4]
Biarawati menjawab, “Demi kebenaran Al-Masih! Sampai kapan pun itu tak mungkin terjadi! Tidak ada alasan ke sana.”

Biarawati menusul untuk bergabung pada rombongan Bathriq Tuma keluar dari negri Damaskus tercinta. Yunus melaporkan pada Khalid. Khalid berkata, “Karena kota ini telah diduduki dengan damai oleh Abu Ubaidah, berarti kau tak punya jalan lagi untuk menguasai dia.” 
Maksud Khalid; kalau belum diduduki dengan damai, biarawati itu bisa ditangkap menjadi tawanan yang bisa diberikan pada suaminya yang telah Islam.
Yunus tahu bahwa Khalid akan menguntit rombongan Tuma keluar kota. Dia berkata, “Saya akan mengikuti perjalanan Khalid agar bisa menjumpai istri.” 
Dia berdiam di Damaskus hingga empat hari untuk menunggu Khalid keluar.


[1] Maksud kalimat, “Kepercayaan umat,” di sini; Abu Ubaidah.
[2] Dalam Al-Qur’an ditulis: {وَالصُّلْحُ خَيْرٌ} [النساء: 128].
Artinya: Dan damai adalah baik.
[3] أشهد أن لا إله إلا الله واشهد أن محمدا رسول الله.
[4] Dzimmah sama dengan dzimmi, yaitu menyerah untuk dilindungi pada kaum Muslimiin.

0 komentar:

Posting Komentar