SELAMAT DATANG DI BLOG PONDOK PESANTREN MULYA ABADI, JL. MAGELANG KM 8.5 SLEMAN YOGYAKARTA, SEMOGA BLOG INI BISA MENJADI SILATURAHMI KITA UNTUK SALING BERBAGI

2011/05/14

KW 55: Pasukan Pencari Putri Hiraqla

(Bagian ke-55 dari seri tulisan Khalid bin Walid) 

Langit, bumi, gunung, angin, pohon-pohon, dan burung-burung, bertasbih kepada Allah dengan bahasa mereka masing-masing. Jalan sangat panjang dan berliku-liku telah dilalui oleh arak-arakan pasukan Khalid yang panjang sekali bagaikan tali yang ditarik. Harapan dan doa Khalid agar Allah memberi kemampuan menaklukkan pasukan Tuma dan Harbis telah dikabulkan. Bahkan semua harta kekayaan mereka yang sangat banyak telah dijarah semuanya. Bahkan putri Raja Hiraqla yang cantik jelita pun telah ditawan. Tidak ada anugrah yang lebih besar dari pada itu semua. 
Pasukan Muslimiin memasuki perkampungan dengan berarak-arak panjang sekali. Banyak sekali masyarakat awan yang ketakutan saat melihat mereka lewat. Arak-arakan panjang itu memasuki kawasan Marjus Shoghir (مرج الصغير). Artinya: hutan kecil. Marjas Shoghir berada di dekat gedung Ummu Hakim yang artinya induk hakim. [1] 

Ada debu beterbangan yang sangat tebal membumbung tinggi jauh di belakang pasukan Muslimiin. Pasukan yang di bagian belakang mengamati kepulan itu dengan seksama. Sejumlah pasukan berlari mendekati Khalid untuk melaporkan kejadian itu. Khalid perintah, “Mana di antara kalian yang sanggup ke sana untuk melaporkan padaku? Ada apa di sana?.”
Sho’sho’ah bin Yazid Al-Ghifari (صعصعة بن يزيد الغفاري) bergegas menghadap dan berkata, “Wahai pemimpin, saya.”
Orang yang kecepatan larinya melampaui kuda pilihan itu turun dari kuda lalu berlari cepat sekali mendekati rombongan orang jauh di belakang sana. Sejumlah pasukan berkuda menyusul di belakang Sho’sho’ah. Setelah Sho’sho’ah mengamati keadaan yang ada di belakang pasukan Muslimiin, segera berbalik dan berlari cepat sekali untuk menyampaikan laporan pada Khalid. 
Sho’sho’ah datang dan berteriak, “Wahai pemimpin! Ternyata mereka membawa sejumlah Salib dan senjata tajam. Yang bisa melihat mereka dari jauh hanya yang pandangan matanya tajam.”  

Arak-arakan pasukan berkuda Romawi di belakang telah semakin dekat; Khalid perintah pada Yunus, “Temuilah pasukan berkuda itu dan tanyalah apa tujuannya!.”
Yunus menjawab, “Perintah ini akan saya laksanakan.”
Lalu bergegas mendekati pasukan berkuda Romawi di belakang.

Yunus kembali menghadap Khalid untuk berkata, “Benar kan? Telah saya katakan bahwa raja pasti akan mencari putrinya? Pasukan berkuda ini akan merampas barang sitaan kita. Tujuan mereka akan menyusul kau di Damaskus, untuk minta agar putri raja dilepaskan dengan tebusan atau dibebaskan.
Tiba-tiba ada lelaki tua berpakaian sederhana mendekati pasukan Muslimiin bagian belakang. Dia dipersilahkan menghadap pada Khalid. Khalid berkata, “Katakan apa maumu?.”
Lelaki tua menjawab, “Saya utusan Raja Hiraqla. Beliau berkata pada kau ‘kembalikanlah harta pasukanku yang telah kau rampas. Kau telah membunuh Tuma suami putriku dan telah mempermalukan saya. Jangan pergi sebelum menyerahkan putriku dengan imbalan tebusan atau kau kembalikan dia dengan tanpa syarat. Sebagai kesatria yang baik pertimbangkanlah ucapanku. Orang yang tak bisa menyayang takkan disayang. Sebetulnya saya ingin berdamai dengan kalian.”

Para Pejabat Menangis di Hadapan Hiraqla
Khalid menjawab, “Katakan pada rajamu ‘demi Allah saya takkan kembali untuk dia dan agama dia, sehingga saya dapat menduduki tahtanya dan merebut tanah yang dia kuasai. Sebagaimana telah kau ketahui dalam ilmumu. Adapun putrimu saya berikan dengan tanpa imbalan denda’.”
Khalid melepaskan putri Raja Hiraqla agar dibawa pulang oleh lelaki tua dan rombongan pasukannya. Lelaki tua membawa putri Raja Hiraqla dan bergabung pada pasukan yang sama membawa Salib dan senjata tajam. Mereka segera berbalik dan pulang menuju kerajaan. Derap kaki kuda mereka mengepulkan asap tebal mengangkasa.

Putri raja pulang disambut oleh rakyat yang melaut. Mereka cukup berbahagia mendapati putri raja pulang dengan selamat. Tangis dan kesedihan karena kekalahan besar sementara terobati.
Raja Hiraqla berkhutbah pada pejabat-pejabat tinggi, “Inilah yang dulu pernah saya katakan pada kalian, namun saat itu kalian  tidak percaya. Yang akan menimpa kita akan lebih besar lagi. Bahkan yang ini nanti bukan dari tindakan mereka, tetapi karena Tindakan Tuhan langit.”
Ruangan agung itu kini terisi suara isak tangisan semua hadirin yang terdiri dari pejabat militer. Bahkan tangisan itu semakin lama semakin keras sehingga membisingkan. Tak seorangpun tersenyum atau tertawa di sana. Raja Hiraqla pun menangis sedih, karena tahu bahwa kerajaannya akan segera berakhir, berpindah ke tangan pasukan Muslimiin.
Kaum Romawi yang dulunya tidak percaya pada ucapan raja, kini menjadi percaya karena menyaksikan sendiri kekuatan Muslimiin di medan perang luar biasa. Dan itu telah terbukti berkali-kali di tempat dan waktu yang berbeda. Tadinya mereka terlalu sombong dan congkak karena telah mampu menaklukkan pasukan berkekuatan dahsyat dari Persia di kota Ninawa. Tadinya mereka terlalu meremehkan kaum Arab yang hanya orang-orang miskin dan tak pernah mendapatkan pendidikan perang seperti mereka. Kenyataan itu membuat mereka seakan-akan terjun dari langit tujuh ke jurang terdalam lalu terlempar ke laut dan karam ke dalam palung terdalam. Susah, takut, khawatir, marah, malu, sakit, geregetan, nestapa, semua bercampur menjadi satu sehingga meledakkan tangisan memilukan.

Meskipun Damaskus adalah kota besar yang indah, dan kaum Muslimiin di sana seperti raja, karena bermacam-macam fasilitas semuanya tersedia. Kaum Nashrani yang di sana sangat menghormat dan taat sepenuhnya pada mereka. Namun Abu Ubaidah dan kaum Muslimiin di sana dirundung rindu. Mereka ingin sekali mendapat berita mengenai Khalid di tengah pasukannya. Bagaimanakah khabar mereka? Bagi mereka Khalid dan pasukannya adalah kawan yang sangat dicintai, yang telah lama menjadi teman sependeritaan.   

Dari jauh tampak arak-arakan rombongan berjumlah banyak sekali. Semakin lama semakin jelas bahwa mereka adalah sahabat yang ditunggu-tunggu. Pasukan Muslimiin sama keluar dengan bahagia menyambut kedatangan mereka.
Khalid dan pasukannya telah mendekat; kaum Muslimiin di Damaskus mengucapkan selamat dan salam. Khalid menemui tokoh penting: Amer bin Ma’dikarib (عمرو بن معد يكرب), Malik bin Asytar (ومالك بن الاشتر النخعي), dan lainnya. Lalu duduk bersanding dengan tokoh Muslimiin sangat agung bernama Abu Ubaidah.
Khalid berkisah mengenai peperangannya yang mendebarkan. Abu Ubaidah mendengarkan dengan penuh heran mengenai keberanian dan kepiawaian Khalid dalam berperang. Setelah Khalid duduk sejenak, membagi rampasan perang menjadi lima bagian. Yang seperlima akan disetorkan ke Madinah, sisanya diberikan pada seluruh pasukan. Bagian Khalid dipotong sebagian untuk Yunus Ad-Dimaski yang telah menunjukkan jalan menuju gunung Hiraqla dan Marjud Dibaj. “Ini untukmu agar kau pergunakan menikah atau membeli pelayan dari wanita Romawi,” kata Khalid.
Yunus menjawab, “Demi Allah saya takkan menikah di dunia selama-lamanya. Saya ingin menikah besok di akhirat saja, dengan bidadari bermata indah.”

Rafi’ bin Umairoh At-To’i (رافع بن عميرة الطائي) berkisah:
“Yunus bergabung pada kaum Muslimiiin hingga Perang Yarmuk. Dia sangat gigih di dalam berjihad. Dalam kondisi luka-luka, lengan dia tertembus anak panah musuh hingga dia tersungkur dan wafat. [2]  Saya sangat bersdih ditinggalkan dia.
Ketika saya tidur, bermimpi: melihat dia berbusana chullah (seperti pakaian ichram bagi pria) yang gemerlapan indah. Dua sandal yang dikenakan dari emas. Dia bersuka-ria di dalam taman indah nan subur. Saya bertanya ‘bagaimana Allah memperlakukanmu?’. Dia menjawab ‘Allah telah mengampuni dan memberi ganti istri padaku: tujuh puluh bidadari bermata indah. Kalau seorang dari mereka muncul ke dunia, niscaya sinarnya mengalahkan teranganya matahari dan bulan. Semoga Allah membalas baik pada kalian’.[3]
Saya menjelaskan mimpiku pada Khalid. Khalid menjawab ‘demi Allah selain mati syahid tidak ada yang lebih menguntungkan’.”


[1] Mungkin gedung itu kantor kehakiman pusat.
[2] رحمه الله تعالى.
[3] جزاكم الله خيرا.

0 komentar:

Posting Komentar