SELAMAT DATANG DI BLOG PONDOK PESANTREN MULYA ABADI, JL. MAGELANG KM 8.5 SLEMAN YOGYAKARTA, SEMOGA BLOG INI BISA MENJADI SILATURAHMI KITA UNTUK SALING BERBAGI

2015/05/01

PS 116: Pembebasan Syam





Umar RA berdoa, “Ya Allah! Sayangi! Selamatkan! Dan lipatlah yang jauh untuk Abdullah bin Qurth! Sungguh Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” [1]

Abdullah bin Qurth berkata, “Saya keluar dari Masjid Nabawi melalui pintu gerbang Chabasyah (الحبشة). Hati saya berkata ‘jika saya tidak berziarah untuk mendoakan salam pada Rasulallah di makamnya, merupakan kesalahan. Karena siapa tahu saya takkan melihat lagi makam itu, untuk selamanya’.”

Abdullah bergegas memasuki makam Rasulallah SAW. Aisyah dan janda nabi lainnya berada di sisi makam. Ali memangku Chusain (الحسين). Abbas memangku Chasan (الحسن) RA. [2]
Mereka membaca Surat Al-An’am. Ali RA membaca surat Hud. Setelah mendoakan salam pada Rasulallah, Abdullah ditanya oleh Ali, “Kau akan segera pulang ke Syam?.”
Abdullah menjawab, “Betul wahai putra paman Rasulallah. Saya yakin jika telah sampai ke sana, pasukan kita telah berhadap-hadapan dengan lawan. Saya khawatir jika pasukan melihat saya tidak membawa bala bantuan, akan merasa kecewa dan menggerutu. Saya tergesa-gesa karena ingin sampai ke sana sebelum perang berkecamuk, sehingga ada kesempatan nasehat, agar mereka tabah.”
Ali bertanya, “Apa kau tadi tidak minta agar Umar mendoakan kau? Tak tahukah kau bahwa doa dia takkan ditolak oleh Allah? Dan Rasulullah SAW pernah bersabda mengenai kehebatan dia:
‘kalau ada nabi lagi setelahku, niscaya Umar bin Khatthab lah orangnya’.
Umar pula yang hukumnya menyamai hukum Al-Kitab (Al-Qur’an), hingga (Nabi) Al-Musthafa SAW bersabda ‘kalau siksaan tadi turun, tidak ada yang selamat kecuali Umar bin Khatthab’. Tak tahukah kau bahwa Allah telah menunkan Ayat-Ayat yang jelas karena dia. Dia orang yang zuhud dan bertaqwa. Dia orang yang menyamai Nabi Nuh AS. Jika dia telah mendoakan kau, maka dikabulkan oleh Allah.”
Abdullah berkata, “Karena kefahaman saya seperti kau, maka itu telah saya laksanakan. Tetapi saya ingin minta tambahan doa kau, dan doa Abbas paman Rasulillah SAW.”
Abbas dan Ali RA mengangkat tangan dan berdoa, “Ya Allah! Sungguh kami bertawassul dengan ini nabi Al-Mushthafa (pilihan)! Dan rasul Al-Mujtaba (Pilihan)! Yang namanya pernah dipergunakan bertawassul oleh Nabi Adam AS! Hingga Kau mengabulkan dan mengampuni dosanya! Permudahkanlah perjalanan Abdullah! Lipatlah yang jauh menjadi dekat! Dan bantulah sahabat-sahabat NabiMu dengan Pertolongan! Sungguh Engkau Maha mendengar doa.” [3]

Ali RA perintah, “Hai Abdullah! Berangkatlah! Saya yakin Allah takkan menolak doa Umar! Abbas! Ali! Chasan! Chusain! Dan para istri Rasulillah SAW! Doa yang ini tadi, dengan tawassul pada makhluq paling mulia SAW!.”

Abdullah keluar dari makam Rasulillah SAW, dengan berbahagia. Dia bergerak cepat, mengendarai dan memacu unta, menyusuri jalan sangat panjang. Doa Umar, Ali, Abbas dan para janda Rasulillah SAW, menjadi bekal perjalanan paling dibanggakan.

Abdullah di Madinah hanya beberapa jam. Dia meninggalkan Madinah setelah asar. Malam dan dingin segera menyelimuti bumi. Tali kendali unta kendaraan dilepas dari genggamannya. Dia terkejut oleh kendaraannya yang berjalan cepat luar biasa, hampir seperti terbang. Perjalanan yang biasanya ditempuh dalam waktu seminggu dengan kecepatan maksimal, hanya ditempuh dalam waktu tiga hari. Suara terindah yang didengarkan sewaktu sampai kota Yarmuk, adzan asar yang menggema bersaut-sautan menggetarkan sukma. [4]

Abdullah memasuki tenda untuk mengucapkan salam pada Abu Ubaidah, panglima yang telah ditinggalkan selama 10 hari. Dia melaporkan perjalanannya bisa cepat sekali berkat doa Umar, Ali, Abbas, Chusain dan Chasan RA.
Abu Ubaidah mendengarkan laporan dengan takjub. Dan menjawab, “Kau benar hai putra Qurth! Sungguh mereka orang-orang yang dimuliakan oleh Allah! Doa mereka makbul!.”
Abu Ubaidah membuka dan membaca surat di pertengahan pasukan Muslimiin. Mereka berbahagia saat mendengar surat Umar yang mereka cintai dan mereka rindukan ‘dibaca’. Beberapa orang menitikkan airmata. Suara riuh bersaut-sautan, “Yang mulia! Kami semua bertekat ingin mati Syahid!’ Dan berdoa semoga Allah mengabulkan.”

Semangat berperang telah berkobar, karena nasehat Umar melaui surat yang dibacakan. Banyak mata berkaca-kaca karena ‘ingin berperang’ disaksikan oleh yang Maha Kuasa.







In syaa Allah bersambung.



[1] Tentang ini, Al-Waqidi menulis: اللهم ارحمه وسلمه واطو له البعيد إنك على كل شيء قدير. Baca: Allaahummar hamhu wa sallimhu wathwi lahul baiida innaKa alaa kulli syai’in qadiir.
[2] Mungkin Aisyah beranggapan ‘pengharaman ziarah kubur’ atas wanita, ada pengecualian ‘jika yang dikubur’ suami, ayah, atau mahram. Ibnu Chajar menjelaskan, “Setelah Umar  dikubur di kamar Rasulillah, maka Aisyah memasang korden penyekat.”
[3] Tentang itu, Al-Waqidi menulis: اللهم إنا نتوسل بهذا النبي المصطفى والرسول المجتبى الذي توسل به آدم فأجبت دعوته، وغفرت خطيئته إلا سهلت على عبد الله طريقه وطويت له البعيد وأيدت أصحاب نبيك بالنصر إنك سميع الدعاء. Baca:Allaahumma innaa natawassalu bihaadzan nabiyyil mushthafaa warrasuulil mujtabal ladzii tawassala bihii Aadamu fa ajabta da’watahu wa ghawafarta khathii’atahu illaa sahhalta alaa Abdillahi thariiqahu wa thawwaita lahul ba’iida wa ayyadta ashchaaba NabiyyiKa binnashri innaKa Samii’ud duaa’. Namun kami tidak mengamalkan Riwayat ini, karena wirai (hati-hati takut  Allah).
[4] Al-Waqidi menulis: فتوح الشام (1/ 169)
فلما كانت صلاة العصر من اليوم الثالث أشرفت على اليرموك وسمعت ضجيج أذان المسلمين.  

Mulungan Sleman Yogyakarta Indonesia Ponpes Kutubussittah Mulya Abadi

0 komentar:

Posting Komentar