SELAMAT DATANG DI BLOG PONDOK PESANTREN MULYA ABADI, JL. MAGELANG KM 8.5 SLEMAN YOGYAKARTA, SEMOGA BLOG INI BISA MENJADI SILATURAHMI KITA UNTUK SALING BERBAGI

2011/09/07

KW 125: Perang Yarmuk (اليرموك)



 (Bagian ke-125 dari seri tulisan Khalid bin Walid) 

Zubair mengayun-ayunkan tombak untuk menyerang hingga para musuh mundur ke belakang. [1]

Laits bin Jabir yang saat itu ikut Perang Yarmuk menyampaikan persaksian:
“Luarbiasa; sungguh Zubair sendirian telah mengamuk atas mereka. Tak seorang pun membatu dia. Hingga pasukan lawan mundur; dan Amer serta pasukanya bisa bergabung lagi pada pasukan induk, sambil berteriak ‘kembali! Kembali!. Dan tabahlah!.”
Amer dan pasukannya telah kembali lagi pada pasukan induk.

Jarjir memimpin 30.000 pasukan berkuda untuk menyerbu penulis wahyu Rasulillah SAW bernama Syurachbil dan pasukannya. Pasukan Jarjir yang melaut itu berhasil memporak-porandakan pasukan Syurachbil.
Hanya sekitar 500 pasukan berkuda Syurachbil yang bertahan dengan gigih menangkis serangan yang ganas. Tapi Syurachbil RA justru melancarkan serangannya pada Jarjir sambil berteriak, “Hai umat Islam jangat takut mati!. Gigihlah dalam berjuang!.”
Pasukan Syurachbil yang mundur, maju lagi untuk menyerang Jarjir dan pasukannya yang melaut banyak sekali. Serangan Muslimiin yang membabi-buta melukai Jarjir dan pasukannya, bahkan menewaskan pada sejumlah orang.
Syurachbil kembali lagi pada tempatnya dikerumuni oleh pasukannya. Dia bertanya pada mereka yang baru datang, “Kenapa kalian tadi berlari dari mereka?. Kalian ini orang hebat selama berpegangan Al-Qur’an yang menghubungkan kita dengan Tuhan. Tuhan berfirman ‘barang siapa memalingkan duburnya di hari itu (perang), maka sungguh telah kembali dengan membawa murka dari Allah, dan tempatnya Jahannam, sejelek-jelek tempat kembali. Kecuali (yang berpalingnya) untuk siasat atau bergabung pada Jamaah’. [2]
Dia Taala juga berfirman ‘sungguh Allah telah membeli dari orang-orang iman: diri-diri dan harta-harta mereka; dengan imbalan surga untuk mereka’.[3] Kenapa kalian berlari?.”  
Mereka menjawab, “Ya sahabat Rasulillah, kami terpengaruh oleh syaitan seperti pada zaman Perang Uhud dan Hunain. Sekarang kami telah sadar, silahkan menyerbu, kami akan membantu.”
Syurachbil bersyukur, “Jazaakumulaahu khaira,” lalu menggerakkan mereka agar mendekati pasukan Said bin Zaid. Setelah seorang tokoh bernama Qais bin Hubairah menyaksikan pasukan berkuda Syurachbil datang mendekat; Qais mengajak Syurachbil menyerang kagi, “Ya Nashra Allah, anzil!.” Serunya dengan sandi yang disepakati oleh Muslimiin sejak zaman Perang Badar dan Uhud.

Khalid dan pasukannya menyerbu sayap kanan; Qais dan pasukannya menyerbu sayap kiri. Dari mereka yang menyerang dengan sengit itu yang paling menonjol adalah serangan Zubair, Hasyim bin Al-Marqal (هاشم بن المرقال), dan Khalid.
Berkat perjuangan Muslimiin yang digerakkan oleh tokoh-tokoh itu, pasukan Romawi terdesak jauh hingga mendekati pagar tenda utama yang ditempati oleh Raja Mahan. Karena penjagaan pasukan di situ sangat ketat, maka di situ terjadi pertempuran yang sangat sengit mengerikan.
Mahan yang tadinya duduk santai di atas singgasana, turun untuk membentak pasukannya yang lari, “Jangan lari!.”
Pasukan Mahan kembali lagi menyerang pasukan Muslimiin. Abu Ubaidah perintah Said bin Zaid dengan kata sandi, “Laa Ilaaha illaa Allah!. Yaa Manshur!.”
Said dan pasukannya bergerak cepat untuk menyerang dengan garang. Serangan yang bertubi-tubi itu membuat pasukan Romawi berguguran dan berlarian.
Ada teriakan keras, “Ya Nashra Allah, anzil!. Jangan lari!.”
Ternyata teriakan itu dari Abu Sufyan yang membawa panji menyanding putranya bernama Yazid. Para pemimpin Muslimiin menggerakkan pasukan untuk menyerang bersama-sama, sehingga terjadi peperangan yang sengit. Benturan pedang; tombak; perisai; teriakan; jeritan; gertakan, gaduh membisingkan telinga.
Pasukan Romawi terdesak mundur, kecuali yang sama disatukan dengan rantai. Pasukan Romawi yang ganas selain mereka yang disatukan dengan rantai adalah; pasukan berpanah berjumlah 100.000 orang. Jika mereka meluncurkan anak panah dengan serempak, sinar matahari tertutup hingga gelap hingga beberapa saat. Kalau Allah tidak menolong, niscaya pasukan Muslimiin telah berguguran terkena hujan anak panah.
Banyaknya pasukan Romawi yang berguguran membuat pasukan Muslimiin makin menyadari bahwa Allah lah yang menolong mereka.
Seorang pasukan tinggi besar berbaju dihias emas berhelm perang lapis emas muncul membawa Salib emas dihias jauhar. Orang yang kudanya tampan berwarna putih itu membawa tombak panjang sambil membusungkan dada dan menantang perang satu lawan satu.
Pasukan Muslimiin terperangah oleh orang itu. Mereka makin terkejut ketika Abu Ubaidah berteriak, “Jangan takut oleh tinggi dan besarnya! Banyak yang besar tapi bodoh!. Siapa berani melawan dia?! Berdoalah agar Allah menolong mengalahkan dia!.”
Hamba sahaya milik Dzul-Kala Al-Chimyari (ذو الكلاع الحميري) muncul dengan berjalan kaki membawa pedang dan perisai untuk melawan. Tapi lalu berhenti dan kembali karena dilarang oleh Dzul-Kala. Dzul-Kala yang terkenal jago berkelahi itu terlalu percaya diri bahwa akan mampu menaklukkan musuh itu.
Mereka berdua berkelahi dengan tombak dan perisai. Perkelahian dilanjutkan dengan pedang. Pedang Dzul-Kala melukai dia; pedang dia juga melukai Dzul-Kala. Hanya saja pedang dia yang sangat kuat itu mampu mematahkan pedang dan membelah perisai Dzul-Kala.
Dzul-Kala terkejut karena luka di lengan kirinya sangat berat dan darah yang menyembur telalu banyak. Dzul-Kala memacu kuda agar berlari cepat sekali; musuhnya terbengong-bengong karena dalam waktu cepat Dzul-Kala telah bergabung pada Muslimiin.
Pasukan Muslimiin terkejut melihat lengan kiri Dzul-Kala bersimbah darah. Di hadapan mereka, Dzul-Kala berkata, “Hai pahlawan-pahlawan Chimyar! Jika berperang jangan mengandalkan pedang yang kuat!. Berserahlah pada Allah!.”
Orang-orang bertanya, “Kenapa begitu?.”
Dzul-Kala menjawab, “Saya tadi melarang hamba sahaya saya melawan dia karena saya berpikiran pedangnya hanya murahan. Saat itu saya berpikir saya jago berkelahi dan pedang saya sangat kuat. Ternyata saya justru menderita luka berat oleh serangan dia. Demi Allah perang yang paling berat saya rasakan justru ini tadi.”
Kaum itu mengobati luka lalu mempersilahkan agar Dzul-Kala istirahat.
Dzul-Kala berteriak, “Hai pahlawan Chimyar!. Jika pimpinan kalian kembali dalam keadaan luka, apakah ada yang akan membalaskan?!.”
Seorang berkuda berbusana disomba, bergerak cepat untuk membalaskan Dzul-Kala pimpinannya. Mulutnya diam tapi kudanya berlari kencang membawa dia yang bergerak cepat menusuk dada hingga musuhnya gugur  untuk masuk neraka. Ketika dia mau turun dari kuda untuk merampas yang dimiliki oleh mayat itu; sekelompok pasukan berkuda datang untuk menghalang-halangi.
Pedang lelaki itu bergerak cepat menebas-nebas ke arah mereka hingga mereka ketakutan dan pergi. Dia mengambil yang dimiliki oleh mayat itu untuk diberikan pada Abu Ubaidah.
Abu Ubaidah menyerahkan rampasan itu pada seorang; lelaki itu memacu kudanya menuju medan tempur lagi. Ketika seorang Romawi datang untuk menyerang, dia telah bersiap menangkis dan menebaskan pedang, hingga lawannya terkejut kesakitan bahkan tewas.
Musuh yang datang selanjutnya lebih marah dan serangannya ganas sekali, namun akhirnya juga tewas oleh tebasan pedangnya.
Musuh yang keempat yang berhasil membunuh lelaki Chimyar pasukan Dzul-Kala itu. Namun ketika dia turun dari kuda untuk mengambil yang dimiliki oleh korbannya; pangkal lengannya tertembus anak panah yang membuat dia sakarat dan tewas.
Pasukan Romawi grogi dan mundur oleh serang pasukan Muslimiin yang bertubi-tubi. Lelaki yang tewas oleh anak panah barusan adalah seorang bathriq yang diagung-agungkan oleh mereka. Dia pula penguasa kota Nabulus (نابُلُس). [4]
Mahan membentak agar pasukan Romawi jangan mundur. Seorang raja dari kota Allan bernama Marius berbusana mewah dan berikat pinggang yang dihias jauhari, muncul dengan berkendaraan kuda. Dengan membusungkan dada dia berkata, “Sayalah raja kota Allan. Pimpinan kalian agar berperang melawan saya!.”
Syurachbil bin Chasanah RA penulis wahyu Rasulillah SAW muncul membawa panji, berbaju perang dari besi, untuk mengabulkan tantangnnya.
Abu Ubaidah bertanya, “Siapa yang berkuda itu?.”  
Beberapa orang menjawab, “Syurachbil bin Chasanah.”
Abu Ubaidah perintah, “Suruhlah dia agar menyerahkan panjinya pada seorang!. Setelah itu baru berperang!.”


[1] Mengenai Zubair ikut dalam Perang Yarmuk, Bukhari meriwayatkan: صحيح البخاري - (ج 12 / ص 371)
3678 - حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ أَخْبَرَنَا هِشَامُ بْنُ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ أَصْحَابَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالُوا لِلزُّبَيْرِ يَوْمَ الْيَرْمُوكِ أَلَا تَشُدُّ فَنَشُدَّ مَعَكَ فَقَالَ إِنِّي إِنْ شَدَدْتُ كَذَبْتُمْ فَقَالُوا لَا نَفْعَلُ فَحَمَلَ عَلَيْهِمْ حَتَّى شَقَّ صُفُوفَهُمْ فَجَاوَزَهُمْ وَمَا مَعَهُ أَحَدٌ ثُمَّ رَجَعَ مُقْبِلًا فَأَخَذُوا بِلِجَامِهِ فَضَرَبُوهُ ضَرْبَتَيْنِ عَلَى عَاتِقِهِ بَيْنَهُمَا ضَرْبَةٌ ضُرِبَهَا يَوْمَ بَدْرٍ قَالَ عُرْوَةُ كُنْتُ أُدْخِلُ أَصَابِعِي فِي تِلْكَ الضَّرَبَاتِ أَلْعَبُ وَأَنَا صَغِيرٌ قَالَ عُرْوَةُ وَكَانَ مَعَهُ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الزُّبَيْرِ يَوْمَئِذٍ وَهُوَ ابْنُ عَشْرِ سِنِينَ فَحَمَلَهُ عَلَى فَرَسٍ وَوَكَّلَ بِهِ رَجُلًا
Arti (selain isnad)nya: Sesungguhnya para sahabat Rasulillah SAW telah berkata pada Zubair di dalam Perang Yarmuk, “Maukah kau menyerbu, agar kami juga menyerbu bersamamu?.”
Dia menjawab, “Sungguh kalau saya telah menyerbu (mereka), kalian bohong.”
Mereka menjawab, “Kami takkan bohong.”
Zubair menyerbu mereka (bertubi-tubi) hingga membelah lalu memotong barisan mereka, namun taak seorang pun mengikuti dia. Lalu dia kembali lagi; mereka memegang tali-kendali (kuda)nya untuk memukul dia dua kali pukulan (dengan pedang) pada pundaknya. Di tengah dari dua pukulan itu bekas pukulan pedang pada zaman Perang Badar.
Urwah berkata, “Ketika saya dulu masih kecil pernah memasukkan jari-jariku di dalam tiga bekas luka tusukan pedang itu untuk bermain-main.”
Urwah berkata, “Saat Perang Yarmuk, Zubair membawa Abdullah bin Az-Zubair yang umurnya 10 tahun, dengan kendaraan kuda. Di dalam perang itu beliau menyerahkan Abdullah bin Az-Zubair agar dijaga oleh seorang lelaki.”

[2] وَمَنْ يُوَلِّهِمْ يَوْمَئِذٍ دُبُرَهُ إِلَّا مُتَحَرِّفًا لِقِتَالٍ أَوْ مُتَحَيِّزًا إِلَى فِئَةٍ فَقَدْ بَاءَ بِغَضَبٍ مِنَ اللَّهِ وَمَأْوَاهُ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ [الأنفال/16].
[3] إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ [التوبة/111].
[4] Dalam kamus dijelaskan di dekat kota ini Nabi Uzair AS dikubur: القاموس المحيط - (ج 1 / ص 471)
عَوْرتَا: د قُرْبَ نابُلُسَ، قيلَ: بها قَبْرُ سَبْعين نبيّاً، منهم: عُزَيرٌ ويُوشَعُ .
Baca: Aurata qurba Nabulusa. Qiila bihaa qabru sab’iina nabiyyan. Minhum Uzairu wa Yuusya’u.
Artinya: Kota Aurata dekat kota Nabulus. Ada yang menjelaskan, “Di dekat kota itu ada kuburan 70 nabi. Di antara mereka ada yang bernama Uzair dan Yusya AS.”


0 komentar:

Posting Komentar