SELAMAT DATANG DI BLOG PONDOK PESANTREN MULYA ABADI, JL. MAGELANG KM 8.5 SLEMAN YOGYAKARTA, SEMOGA BLOG INI BISA MENJADI SILATURAHMI KITA UNTUK SALING BERBAGI

2011/09/27

Arti Balaa (بَلَى)


Jika tak salah, lafal, Balaa (بَلَى)" dalam Al-Qur’an diulang 22 kali. Kebanyakan Muballigh dan Muballighah mengartikan, “Iya.” 
Hanya banyak yang bertanya, “Iya di sini yang bagaimana?.” 
Contoh:
زَعَمَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنْ لَنْ يُبْعَثُوا قُلْ بَلَى وَرَبِّي لَتُبْعَثُنَّ ثُمَّ لَتُنَبَّؤُنَّ بِمَا عَمِلْتُمْ وَذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ [التغابن/7]
Baca: Za’amal ladziina kafaruu an lan yub’atsuu. Qul balaa wa Rabbii layub’atsunna tsumma latunabbaunna bimaa ‘amiltum wa dzaalika ‘alaa Allaahi yasiir.
Artinya: Orang-orang Kafir menyangka bahwa mereka takkan dibangkitkan (hidup). Katakan, “Iya saja! Demi Tuhanku niscaya kalian akan dibangkitkan sungguh, lalu kalian akan diceritai sungguh mengenai yang telah kalian amalkan. Dan itu sangat mudah bagi Allah.”
Menurut Azzamakhsyari, memang, “Iya,” di sini maksudnya ‘iya saja’. 
Beliau menulis: الكشاف - (ج 7 / ص 73)
{ بلى } إثبات لما بعد لن ، وهو البعث
Baca: Balaa itsbaatun limaa ba’di lan wahuwa Al-Ba’ts. Artinya: “Iya saja,” di sini untuk membenarkan lafal setelah, “Takkan,” yaitu ‘dibangkitkan’.
Alim besar dalam bidang lughah bernama Abussaaidaat Al-Mubarak (أبو السعادات المبارك) menulis bantahan nabi SAW pada kaum yang menanggapi jawaban Ibrahim AS dalam ayat itu. Yang akan menjadi penjelasan bagi kita; bahwa, “Balaa,” terkadang berarti ‘Iya no’ : النهاية في غريب الأثر - (ج 2 / ص 1203)
 { ( ه ) فيه [ أنا أوْلَى بالشَّكِّ من إبراهيم ] لمَّا نزلت [ وإذْ قال إبراهيمُ رَبِّ أرِنِي كيف تُحْيِي الموتَى قال أوَلَمْ تؤمن ؟ قال : بلى ولكِنْ لِيَطْمئِنَّ قَلبي ] قال قوم سمِعُوا الآية : شَكَّ إبراهيم ولم يَشُكَّ نبيُّنا صلى اللّه عليه وسلم . فقال رسولُ اللّه صلى اللّه عليه وسلم تَواضُعاً منه وتَقْديما لإِبْراهيم على نَفْسه [ أنا أحَقُّ بالشَّكِّ من إبراهيمِ ] أي أناَ لم أشُكَّ وأنا دُونه فكيف يَشُكُّ هو . وهذا كَحدِيثه الآخر [ لا تُفَضِّلوني على يُونُس بن متَّى ]
Artinya: Dalam pembahasan ini [Saya nabi SAW lebih berhak ragu-ragu daripada Ibrahim AS]. 
Ketika ayat yang artinya, “Dan ketika itu Ibrahim berdoa ‘Tuhanku! Tunjukkan saya bagaimana Kau akan menghidupkan yang sama mati’.” 
Allah berfirman, “Apakah kau belum beriman?.” 
Ibrahim berdoa, “Iya no, tetapi agar hati saya mantap.”
Ketika mendengar ayat itu, sejumlah kaum berkata, “Ibrahim telah ragu-ragu, sementara nabi kami SAW tidak ragu-ragu.” Sontak Rasulullah SAW bersabda dengan tawadhuk (merendah diri) dari-Nya, dan menonjolkan Ibrahim mengalahkan dirinya, [“Saya lebih berhak ragu-ragu daripada Ibrahim AS].” Maksudnya, “Saya mutlak tidak ragu-ragu, padahal saya di bawah Ibrahim, lalu bagaimana mungkin beliau ragu-ragu?.” 
Ini seperti  Hadits nabi yang lain [“Kalian jangan mengunggulkan saya mengalahkan Yunus bin Matta AS].”


Ponpes Mulya Abadi Mulungan

0 komentar:

Posting Komentar