SELAMAT DATANG DI BLOG PONDOK PESANTREN MULYA ABADI, JL. MAGELANG KM 8.5 SLEMAN YOGYAKARTA, SEMOGA BLOG INI BISA MENJADI SILATURAHMI KITA UNTUK SALING BERBAGI

2015/07/10

Perang Khaibar (1)




Perang Khaibar adalah perang akbar. Perang ini ditungguh-tunggu, karena dua bulan sebelumnya, Allah telah menjelaskan 'Kaum Muslimiin’ pasti akan menang, dan mendapatkan jarahan banyak sekali'. Allah berfirman, “
فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا وَمَغَانِمَ كَثِيرَةً يَأْخُذُونَهَا وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا.” [1]

Artinya: Lalu Dia menurunkan Ketenangan atas mereka, dan mengganjar mereka ‘Kemenangan’ yang sangat dekat. Mereka akan mengambil rampasan perang sangat banyak. Sejak dulu Allah Maha Mulia Maha Bijaksana.


Jarak tempuh dari Madinah hingga Khaibar, delapan barid  ke arah Syam. Satu Barid: 12 mil. Khaibar, kawasan yang dihuni oleh kaum Yahudi. Kota tersebut terisi beberapa beteng atau kastil dan perkebunan kurma yang sangat luas. Kastil-kastil tersebut tidak berkumpul dalam satu tempat; tetapi pada beberapa tempat terpisah, di dalam beberapa dataran, bersebelahan. 
Di pertengahan perkebunan yang sangat luas itu, mereka mendirikan kastil-kastil. 
Khaibar merupkan tempat persembunyian umat Yahudi yang mencari kenyamanan hidup. Ada tujuh kastil dari batu yang bertengger di sana:
1.     Na’im,
2.     Al-Qamus (tempat tinggal tokoh besar mereka, Abul-Chuqaiq),
3.     As-Syaqq,
4.     An-Nathah,
5.     As-Salalim,
6.     Al-Wathich,
7.     Al-Katibah.

Menurut Qarwini [2], “Khaibar saat itu, sering dijangkiti penyakit panas. Dan penduduknya suka melancarkan makar dan kejahatan. Orang Yahudi yang dikenal oleh masyarakat luas, sebagai orang baik, hanya Samual bin Adiya.” 

Pasukan berkuda Muslimiin 300 orang. Selain mereka berjumlah 1.300 orang, berjalan atau naik unta. [3] Istri yang mendampingi nabi SAW, dalam peperangan tersebut, Ummu Salamah. Dia pula yang mendampingi nabi SAW, di waktu Perang Hudaibiyah, sekitar dua bulan sebelumnya. 

Yang dipercaya oleh nabi agar memimpin Jamaah Madinah selama ditinggalkan, Siba’ bin Urfuthah Al-Ghifari (سِبَاعَ بْنَ عُرْفُطَةَ الْغِفَارِيّ). 

Sebetulnya banyak sekali yang ingin bergabung dalam Perang Khaibar ini, tetapi nabi menolak mereka, karena taat Perintah Allah. Karena mereka tahu bahwa peperangan tersebut, pasti akan menang, dan akan mendapatkan rampasan perang sangat banyak.  
Allah berfirman, “سَيَقُولُ الْمُخَلَّفُونَ إِذَا انْطَلَقْتُمْ إِلَى مَغَانِمَ لِتَأْخُذُوهَا ذَرُونَا نَتَّبِعْكُمْ يُرِيدُونَ أَنْ يُبَدِّلُوا كَلَامَ اللَّهِ قُلْ لَنْ تَتَّبِعُونَا كَذَلِكُمْ قَالَ اللَّهُ مِنْ قَبْلُ فَسَيَقُولُونَ بَلْ تَحْسُدُونَنَا بَلْ كَانُوا لَا يَفْقَهُونَ إِلَّا قَلِيلًا.” [4]

Artinya: Orang-orang yang dikodar ketinggalan (dari Perang Hudaibiyah) akan berkata, “Bebaskan kami, kami akan ikut kalian (Perang Khaibar)!Ketika kalian pergi, untuk mengambil rampasan (Perang Khaibar). Mereka ingin merubah Kalam Allah. Katakan, “Kalian takkan mengikuti kami! Demikian itu Firman Allah sebelumnya!” Maka mereka akan berkata, “Memang kalian dengki pada kami” Memang mereka tidak faham kecuali sedikit.  


Meskipun sombong dan congkak, namun, begitu Muslimin berangkat dari Madinah, kaum Yahudi sangat khawatir jika kota mereka rusak, dan dikalahkan. Karena, kaum Yahudi Qainuqak, Nadhir, dan Quraizha, telah ditaklukkan oleh Muslimiin. Kekhawatiran mereka tampak sekali, semua orang Yahudi yang memberi piutang orang Islam, segera menagih.
Abus-Syachm termasuk kaum Yahudi yang segera menagih piutang; lima dirham, untuk gandum, atas Ibnu Abi Chadrad. 
Ibnu Abi Chadrad berkata “Besok saja, in syaa Allah saya akan melunasi, jika telah pulang dari Khaibar. Sungguh secara khusus, Allah telah menjanjikan ‘akan memberi kemenangan’ pada Nabi-Nya, atas kota Khaibar.” 
Tentu saja ucapan Ibnu Abi Chadrad, membuat jantung dia bertambah berdebar-debar. Abus-Syachm, orang Yahudi kaya, yang menghutangi Sya’ir 30 Sha’ pada nabi, dengan tempo setahun. Dan menahan baju perang, hingga nabi SAW wafat. [5]

Beberapa orang ingat peristiwa beberapa tahun yang lalu: kaum Yahudi dari keluarga besar Nazhir, berbondong-bondong ke Khaibar, dengan membawa terbang dan seruling. Sepertinya mereka berbahagia oleh terbang dan seruling, yang mereka mainkan. Padahal sesungguhnya hati mereka terluka, perih, kecut, pahit, bahkan panas, karena dirusir oleh Muslimiin. 
Dipastikan di pertengahan mereka, ada tangisan, jeritan, gertakan, cibiran, pukulan, debaran jantung, sesak nafas, bingung dan lain-lain. 

Itulah kehidupan; dibolak-balik oleh Tuhan. Sebelum itu kaum Yahudi sangat menguasai kaum Arab, namun dalam waktu yang sangat cepat, tiba-tiba ditaklukkan oleh kaum Arab. Dan penaklukan Khaibar adalah yang paling memalukan dan menyakitkan.

Perjalanan jauh yang melelahkan, akhirnya hampir sampai tujuan. Di saat menghadap kota KhaibarRasulullah SAW bersabda, “Berhenti!,” lalu berdoa, “اللّهُمّ رَبّ السّمَوَاتِ وَمَا أَظْلَلْنَ وَرَبّ الْأَرَضِينَ وَمَا أَقْلَلْنَ وَرَبّ الشّيَاطِينِ وَمَا أَضْلَلْنَ وَرَبّ الرّيَاحِ وَمَا أَذْرَيْنَ فَإِنّا نَسْأَلُك خَيْرَ هَذِهِ الْقَرْيَةِ وَخَيْرَ أَهْلِهَا وَخَيْرَ مَا فِيهَا ، وَنَعُوذُ بِك مِنْ شَرّهَا وَشَرّ أَهْلِهَا وَشَرّ مَا فِيهَا."

Artinya:Ya Allah, Tuhan beberapa langit dan yang dinaungi (di bawah)nya. Tuhan bumi-bumi dan yang dimuat. Tuhan syaitan-syaitan dan yang disesatkan. Tuhan angin-angin dan yang ditaburkan. Sungguh kami memohon pada-Mu baiknya ini desa, baiknya penduduknya, dan baiknya yang di dalamnya. Dan kami berlindung pada-Mu dari jeleknya desa ini, jeleknya penduduknya, dan jeleknya yang di dalamnya.” 

As-Suhaili [6] berkata, “Tiap kali akan memasuki desa, maka nabi SAW berdoa seperti di atas.” 
Di malam yang menegangkan itu, Rasulullah SAW tidak segera melancarkan serangan, tetapi menunggu sampai subuh. Siapa tahu ada suara adzan di pertenghan kota tersebut. Sepertinya kaum Yahudi telah tahu bahwa umat Islam akan menyerang. Di pagi yang semakin terang itu, para petani keluar-rumah, membawa bajak-bajak dan sejumlah wadah. 

Di saat menyaksikan Rasulallah SAW dan para pasukan Muslimiin, mereka berteriak, “Muhammad dan Khamis” Sambil lari terbirit-birit. Khamis adalah formasi pasukan yang disusun menjadi lima titik: depan, kiri, kanan, tengah, dan belakang. 

Sontak nabi bersabda “Khaibar hancur! Sungguh halaman kaum yang kami datangi, menjadi sejelek-jelek yang diancam.” 
Ternyata benar Firman Allah: Mereka segera kalah sebagian demi sebagaian, dan harta mereka dijarah. Kastil yang pertama kali dikuasai, Na’im. Sedangkan kastil yang terakhir ditaklukkan oleh Muslimiin, yang paling besar, bernama Qamus.


Naik ke Atas Benteng

Jantung berdebar, susah, sebal, benci, geregetan, adalah keadaan yang selalu membalut perjuangan, apalagi perang. Namun di balik itu, juga ada senang, puas, dan bahagia. Demikianlah yang terjadi pada saat itu. Muslimiin geregetan terhadap penghuni sebuah kastil yang sulit sekali ditaklukkan. Musim panas, dan angin-besar menyambar keras, menambah sebagian kaum Muslimiin susah. 

Dalam peperangan sengit tersebut, seorang Yahudi bernama Marhab, menaiki benteng dan menjatuhkan lesung-batu. Di bawahnya ada seorang Muslim bernama Machmud yang terkejut; topi-perangnya hancur tertimpa lesung-batu itu. Selain topi-perangnya hancur; kulit keningnya mengelupas, darahnya bercucuran. 
Para sahabat takjub, di saat menyaksikan kulit tersebut direkatkan lagi oleh nabi SAW, hingga pulih seperti semula. Selanjutnya Rasulullah صّلى اللّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلّمَ membalut dengan kain.
Sebuah sumber memberitakan, “Yang diperintah memimpin penaklukan kastil An-Nathah, Utsman bin Affan. Dia memulai penyerangan pada hari pertama, siang-hari, dari arah bawah. Jika hari mulai gelap, dia menarik pasukannya menuju Rajik. Hari berikutnya dia menyerang lagi dari arah atas, hingga menang.”

Ka’eb bin Malik berkisah:
“Di saat kami di Rajik; seorang Yahudi penghuni kastil An-Nathah berteriak keras ‘saya mohon dipastikan aman' karena akan menyampaikan berita penting!’. 
Kami menjawab ‘ya!’. 
Kami bergegas mencari lelaki tersebut, dan saya yang pertama kali menangkap. 
‘Siapa kau?’ tanyaku. 
Dia menjawab ‘lelaki Yahudi’. 
Kami segera memasukkan dia ke ruangan Rasulullah SAW
Yahudi itu berkata ya Ayah Qasim', amankan saya dan keluarga saya. Kau akan saya beri tahu 'rahasia kaum Yahudi’
Setelah nabi bersabda ‘ya’ dia segera menjelaskan rahasia yang dimaksud.
Malam itu juga, Rasulullah SAW memanggil dan menggerakkan para sahabat, untuk menyerang mereka. Rasulullah SAW juga memberi tahukan ‘sungguh kaum Yahudi telah ditinggalkan oleh para pendukung mereka. Bahkan kaum Yahudi telah terusik, berselisih dan berlari, meninggalkan kastil’.
Di pagi buta, kami segera bergegas menyerbu; ternyata benar, penghuni kastil tersebut telah kosong. Hanya anak-anak kecil yang berada di sana. Kami pun segera menyerbu kastil itu.
Lalu menyerbu kastil As-Syaqq; ternyata istri lelaki Yahudi yang menghadap nabi SAW tersebut di situ. Nabi menyerahkan wanita tersebut padanya. Dan dia pun segera menggandeng wanita cantik-jelita tersebut.”

Di waktu itu, Rajik adalah posko umat Islam. Selama seminggu Rasulullah SAW mengatur pergantian para sahabat, agar berjaga-jaga.
Di hari keenam, yang dipilih agar memimpin pasukan, Umar. 
Saat itu, Umar RA menggerakkan sahabat-sahabatnya untuk mencerai-beraikan musuh, sehingga kemenangan makin sempurna. Saat itu pula, ada tawanan perang yang hampir dipenggal lehernya, atas perintah Umar. 
Dia bersilat-lidah, “Serahkan saya pada nabi kalian! Agar saya berbicara langsung padanya!.” 
Umar menangkap dan membawa lelaki itu, menuju pintu tenda Rasulullah SAW. Saat itu nabi sedang shalat. Setelah mendengar ucapan Umar, nabi segera mengucapkan salam dan menyuruh dia masuk. 
Nabi bertanya, “Apa yang di belakangmu dan siapakah kau?.” 
Dia menjawab, “Saya seorang Yahudi, amanankan saya. Saya akan mengatakan informasi penting dan benar padamu.” 
Rasulullah SAW bersabda “Na’am,” maksudnya ‘ya’. 
Dia berkata, “Malam ini saya barusan kelur dari kastil An-Nathah, di saat penghuninya sedang bercerai-berai dan meninggalkan kastil tersebut."
Rasulullah SAW bertanya, “Lalu mereka lari kemana?.” 
Dia menjawab, “Mereka justru lari menuju kastil yang lebih jelek, As-Syaqq. Yang pasti mereka benar-benar takut kau, hingga perasaan mereka bergoncang hebat. Sebetulnya yang ini, justru kastil Yahudi yang penuh senjata, bahan makan dan lemak. Bahkan peralatan-perang-berat yang mereka gunakan berperang antar mereka, juga berada di sini. Mereka menyembunyikan semua itu di ruangan-bawah-tanah.” 
Rasulullah SAW bertanya “Terdiri dari apa saja?.” 
Dia menjawab “Manjaniq,” maksudnya pelontar batu. 
Dia melanjutkan, “Di sana juga ada peralatan perang berupa pedang, topi-perang dan dua dababah (pelontar batu). Jika kau memasuki benteng tersebut besok pagi, pasti akan menemukan.” 

Rasulullah SAW bersabda “In syaa Allah” Artinya jika Allah menghendaki; namun maksudnya semoga Allah menghendaki. [7]

Lelaki Yahudi berkata, “In syaa Allah saya akan kesana, karena tak seorang-pun Yahudi yang tahu kecuali saya. Ada lagi yang perlu kau ketahui: ambillah itu semua! Selanjutnya yang akan memasang Manjaniq (pelontar batu) untuk menyerbu kastil As-Syaq saya sendiri. Suruhlah sejumlah pria, agar masuk ke bawah Dababah! Selanjutnya agar membobol kastil tersebut, dengan jalan menggali tanah. Hari itu juga kau akan menaklukkan mereka. Selanjutnya kastil Katibah juga serbulah! Dengan cara yang sama.” 
Umar berkata “Ya Rasulallah, saya yakin lelaki ini telah berkata benar.” 
Yahudi tersebut berkata pada nabi, “Ya Abal-Qasim! Pastikan darah saya aman.” 
Nabi bersabda “Kau dijamin aman.” 
Dia meneruskan permohonan, “Saya memiliki istri di kastil An-Nazzar, pastikan dia tetap milikku.”
Nabi menjamin, “Dia tetap milikmu.” 
Rasulullah SAW bertanya, “Kenapa kaum Yahudi memindahkan anak-anak kecil mereka dari kastil An-Nathah?.” 
Dia menjawab, “Mereka mengkhususkan kastil itu untuk tentara, dan memindahkan anak-anak ke kastil As-Syaq dan Al-Katibah.” 

Beberapa orang menjelaskan, “Akhirnya Rasulullah SAW mengajak dia masuk Islam.” 
Dia menjawab, “Berilah saya kesempatan beberapa hari untuk mempertimbangkan.”
Pagi itu, Rasulullah SAW bersama kaum Muslimiin pergi ke kastil An-Nathah. Tak lama kemudian, Allah memberi Kemenangan untuk kaum Muslimiin, atas penghuni kastil tersebut. Semua barang yang dilaporkan oleh lelaki Yahudi tersebut dikeluarkan. 

Rasulullah SAW perintah agar dua Manjaniq segera dipasang, untuk menyerang kastil As-Syaq, sekaligus kastil An-Nazar. Ternyata penghuni kastil An-Nazzar takluk sebelum batu-batu-lontar habis oleh Manjaniq, atas mereka. 

Di saat Rasulullah SAW datang memasuki kastil tersebut; sebagian penghuninya tewas tertimbun batu-batu menggunung. Mereka bisa diambil setelah batu-batu disingkirkan. 
Nufailah diserahkan pada suaminya; lelaki Yahudi bernama Simak yang telah laporan pada nabi tersebut.
Setelah Rasulullah SAW menaklukkan penghuni kastil Al-Wathih dan Sulalim, Simak masuk Islam. Selanjutnya dia meninggalkan kota Khaibar dan tamatlah riwayatnya.


Panji Berkibar

Kastil Na’im berada di wilayah An-Nathah. Saat itu, Rasulullah SAW membaris dan melarang sahabat-sahabatnya 'memulai serangan' sebelum memberi idzin. Namun seorang lelaki dari Asyjak melancarkan serangan pada seorang Yahudi. Ternyata Marhab lelaki Yahudi justru telah mendahului menyerang dan membunuh dia. 
Orang-orang berkata ”Ya Rasulallah, si fulan mati syahid.” 
Rasulullah SAW bertanya, “Apakah menyerangnya setelah saya melarang melakukan serangan? Sebelum saya beri idzin?.” 
Mereka menjawab, “Betul.” 
Tak lama kemudian, Rasulullah SAW perintah agar seorang menyerukan, “Surga takkan halal untuk orang yang menentang atasan!.”  
Rasulullah SAW memberi idzin, agar serangan segera dimulai. Muslimiin menempati posisi mereka masing-masing. 

Di waktu peperangan berkecamuk dengan seru; ada seorang budak-hitam bernama Yasar Al-Chabasyi, milik seorang Yahudi bernama Amir. Yasar Al-Chabasyi menggembala sejumlah kambing milik Amir, majikannya. 
Di saat penduduk Khaibar berlarian menuju kastil, untuk berlindung, dia bertanya, “Ada apa ini?.”
Mereka berlari sambil menjawab, “Berperang melawan orang yang mengaku-aku sebagai nabi itu.”
Benak dia berkata, “Mungkin justru dia benar-benar Nabi.” 
Dia segera menggiring kawanan kambingnya menuju Rasulullah SAW. Dan berkata, “Ya Muhammad! Apa saja yang kau sampaikan? Dakwahmu kau arahkan ke mana?.” 
Nabi menjawab, “Saya mengajak masuk Islam. Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan kecuali Allah dan saya Utusan Allah SAW.” 
Dia bertanya, “Apa pahalaku jika Islam?.” 
Nabi menjawab, “Surga, jika kau tetap atas Islam.” 
Dia masuk Islam, dan berkata, “Kambing-kambing yang saya gembala adalah amanat majikan saya.” 
Nabi bersabda, “Bawalah keluar dari laskar! Lalu teriaki dan lemparlah! Dengan beberapa kerikil! Sungguh Allah akan mendatangkan kambing amanatmu, ke alamatnya!.”
Setelah budak tersebut melaksanakan perintah; kawanan kambing tersebut berjalan pulang, menuju pemiliknya.
Majikan Yasar Al-Chabasyi tahu pasti 'budaknya bernama Yasar Al-Chabasyi' telah Islam.
Pada Muslimiin, Rasulullah SAW nasehat dan membagi tiga panji, yakni bendera besar. 
Sebelulm perang Khaibar, nabi belum pernah membawa panji. Sebelum itu, jika perang hanya membawa bendera kecil. Panji yang dibawa oleh nabi dalam Perang Khaibar berwarna hitam, berasal dari selimut ‘A’isyah yang dibordir pinggir, lalu diberi nama Al-Iqab. Bendera kecil yang dibawa oleh nabi, berwarna putih. 
Tiga panji diberikan pada Ali, Al-Chubab bin Al-Mundzir, dan Sa’ed bin Ubadah. 
Di saat Ali keluar menuju barisan musuh; budak hitam tersebut mengikuti di belakang, ikut berperang hingga gugur. 
Mayat diusung-masuk ke sebauh tenda laskar. Rasulullah SAW menengok dan bersabda, “Niscaya Allah telah memuliakan dan menggiring, pada budak-hitam ini, menuju Khaibar. Dia menerima Islam benar-benar dari lubuk hatinya. Sungguh saya telah menyaksikan dua-istri-bidadari-bermata-indah, berada di sisi kepala dia.”




[1] Qs Al-Fath 18-19.
[2]  Sejarahwan Islam.
[3]  Menurut sebagian riwayat.
[4]  Qs Al-Fath 15.
[5] Di dalam Lisanul-Arab dijelaskan: في الحديث أَن النبي صلى الله عليه وسلم لما تُوُفِّيَ وغُسِّلَ صَلَّى عليه الناسُ أَفناداً أَفناداً قال أَبو العباس ثعلب أَي فِرْقاً بعد فِرْق فُرادى بلا إِمام قال وحُزِرَ المصلون فكانوا ثلاثين أَلفاً ومن الملائكة ستين أَلفاً لأَن مع كل مؤْمن ملكين
Artinya: Di dalam Hadits dijelaskan, “Sungguh di saat telah wafat dan telah dimandikannabi SAW  dishalati oleh sekelompok demi sekelompok.” 
Abul-Abbas Tsa’lab menjelaskan, “Yakni sekumpulan demi sekumpulan, sendiri-sendiri tanpa Imam. Diperkirakan jumlah yang menshalati 30.000 orang, dan 60.000 malaikat, karena tiap orang iman disertai oleh dua malaikat.”
[6] Dia sejarahwan Islam, penulis Arraudhul-Unuf.
[7] Ada dua dalil bahwa in syaa Allah  maksudnya semoga Allah menghendaki:
1.      عَنْ رَسُولِ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - قَالَ « قَالَ سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ - عَلَيْهِمَا السَّلاَمُ - لأَطُوفَنَّ اللَّيْلَةَ عَلَى مِائَةِ امْرَأَةٍ - أَوْ تِسْعٍ وَتِسْعِينَ - كُلُّهُنَّ يَأْتِى بِفَارِسٍ يُجَاهِدُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ ، فَقَالَ لَهُ صَاحِبُهُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ . فَلَمْ يَقُلْ إِنْ شَاءَ اللَّهُ . فَلَمْ يَحْمِلْ مِنْهُنَّ إِلاَّ امْرَأَةٌ وَاحِدَةٌ ، جَاءَتْ بِشِقِّ رَجُلٍ ، وَالَّذِى نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ ، لَوْ قَالَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ ، لَجَاهَدُوا فِى سَبِيلِ اللَّهِ فُرْسَانًا أَجْمَعُونَ’. Dari Rasulullah SAW, “Sulaiman bin Dawud AS berkata ‘sungguh malam ini, saya akan menggilir seratus istri (atau sembilan-puluh-sembilan). Semuanya akan melahirkan pahlawan ahli berkuda, yang berjihad di Jalan Allah’. Sahabat dia berkata, mengingatkan ‘in syaa Allah’. Namun dia AS tidak berkata ‘in syaa Allah’. Namun tak seorang pun dari mereka yang berhasil hamil, kecuali seorang wanita. Melahirkan separuh-bayi lelaki, yakni tidak normal. Demi yang diriku di Tangan-Nya, kalau dia berkata ‘in syaa Allah’, niscaya semua anak yang diharapkan, benar-benar lahir sebagai pahlawan ahli berkuda yang semuanya berjihad di Jalan Allah’.”
2.       عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : إِنَّ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ لَيَحْفِرُونَ السَّدَّ كُلَّ يَوْمٍ ، حَتَّى إِذَا كَادُوا يَرَوْنَ شُعَاعَ الشَّمْسِ ، قَالَ الَّذِي عَلَيْهِمْ : ارْجِعُوا فَسَتَحْفِرُونَهُ غَدًا ، فَيَعُودُونَ إِلَيْهِ كَأَشَدِّ مَا كَانَ ، حَتَّى إِذَا بَلَغَتْ مُدَّتُهُمْ ، وَأَرَادَ اللَّهُ أَنْ يَبْعَثَهُمْ عَلَى النَّاسِ ، حَفَرُوا ، حَتَّى إِذَا كَادُوا يَرَوْنَ شُعَاعَ الشَّمْسِ ، قَالَ الَّذِي عَلَيْهِمْ : ارْجِعُوا فَسَتَحْفِرُونَهُ غَدًا ، إِنْ شَاءَ اللَّهُ ، وَيَسْتَثْنِي ، فَيَعُودُونَ إِلَيْهِ وَهُوَ كَهَيْئَتِهِ حِينَ تَرَكُوهُ ، فَيَحْفِرُونَهُ وَيَخْرُجُونَ عَلَى النَّاسِ ، فَيُنَشِّفُونَ الْمِيَاهَ ، وَيَتَحَصَّنَ النَّاسُ مِنْهُمْ فِي حُصُونِهِمْ ، فَيَرْمُونَ بِسِهَامِهِمْ إِلَى السَّمَاءِ ، فَتَرْجِعُ وَعَلَيْهَا كَهَيْئَةِ الدَّمِ ، فَيَقُولُونَ : قَهَرْنَا أَهْلَ الأَرْضِ ، وَعَلَوْنَا أَهْلَ السَّمَاءِ ، فَيَبْعَثُ اللَّهُ عَلَيْهِمْ نَغَفًا فِي أَقْفَائِهِمْ فَيَقْتُلُهُمْ بِهَا فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ ، إِنَّ دَوَابَّ الأَرْضِ لَتَسْمَنُ وَتَشْكُرُ شُكْرًا مِنْ لُحُومِهِمْ وَدِمَائِهِمْ’. Dari Rasulillah SAW“Sesungguhnya setiap-hari, kaum Ya’juj dan Ma’juj melobangi dinding-penghalang mereka. Hingga ketika telah hampir menyaksikan sinar-terang-matahari; pimpinan mereka berkata ‘kembalilah! Kalian akan melanjutkan pelobangan ini besok pagi!’. Ternyata pagi harinya mereka harus kembali lagi berjuang melobang dinding, seperti semangat mereka sebelumnya. Karena lobang-lobang buntu lagi. Ketika masa perjuangan telah hampir berakhir; dan Allah telah menghedaki melepaskan, agar mereka menyerang manusia; mereka melobangi dinding-penghalang (dengan giat). Hingga ketika perjuangan mereka telah hampir melihat sinar-terang-matahari; pimpinan mereka berkata ‘pulanglah! Besok pagi kalian akan berhasil membobol in syaa Allah!’ Dia yatstatsni, yakni berkata in syaa Allah. (Sepertinya pagi itu terasa indah bagi mereka): Ketika mereka kembali lagi melobang dinding seperti pekerjaan tiap harinya; ternyata lobang dinding tersebut utuh; tak berubah, tidak seperti yang sudah-sudah. Mereka melobangi dinding, dan keluar, untuk menyerang manusia. Mereka menghabiskan perairan yang sangat luas dengan diminum. Manusia berlarian menuju benteng persembunyian. Kaum Ya'juj dan Ma'juj meluncurkan ribuan anak panah, kearah langit. Anak-panah-anak-panah tersebut, kembali kebumi, dalam keadaan berlumuran cairan seperti darah. Mereka berkata ‘kami telah menaklukkan penduduk bumi dan telah mengalahkan penduduk langit’. Allah mengirimkan naghaf, (bentuk jamak dari naghafah, yang artinya ulat-ulat-mematikan) yang menempel tengkuk-tengkuk mereka. Dengan itulah Allah mematikan mereka.“ Rasulullah صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda, “Demi yang diri Muhammad di Tangan-Nya, sesungguhnya binatang merayap bumi pasti akan gemuk dan sangat bersyukur, karena daging dan darah mereka (yang disantap banyak sekali).”

0 komentar:

Posting Komentar