SELAMAT DATANG DI BLOG PONDOK PESANTREN MULYA ABADI, JL. MAGELANG KM 8.5 SLEMAN YOGYAKARTA, SEMOGA BLOG INI BISA MENJADI SILATURAHMI KITA UNTUK SALING BERBAGI

2011/06/26

KW 86: Di Puncak Gunung

(Bagian ke-86 dari seri tulisan Khalid bin Walid)

Dhirar menjawab, “Akan saya laksanakan dengan senang dan sebaik-baiknya.”
Tiap rombongan telah berangkat menuju lokasi yang ditentukan. Di pagi yang dingin itu, kaum Balbek membuka semua pintu beteng untuk keluar. Beribu-ribu pasukan yang mengalir keluar itu dipimpin Bathriq Harbis raja mereka yang di bawah kendali Raja Hiraqla. Mereka mendengarkan Harbis berkata, “Ketahuilah hai orang-orang Nashrani, bahwa saudara-saudara kita yang berada di selain wilayah kita tidak mampu melawan kaum Arab.”
Kaumnya sama menjawab, “Yang mulia berbahagialah, dan nasehatilah kami. Sebelumnya kami takut pada kaum Arab, namun ternyata mereka bukan orang yang pemberani dan bukan orang yang gigih dalam berjuang. Banyak di antara mereka yang berpakaian jelek; padahal kita berbaju perang dan berhelm yang diberi pilindung leher. Kita telah diberi kewibawaan oleh Al-Masih."

Abu Ubidah berteriak pada seluruh pasukannya, “Hai kaum Muslimiin! Jangan takut mereka! Agar kewibawaan kalian tidak hilang! Bersabarlah! Sungguh Allah menyertai orang-orang sabar!.”

Namun kebanyakan pasukan Balbek (Balabak/بعلبك) takut karena teringat serangan pasukan Muslimiin sehari sebelumnya, dahsyat sekali. Hal itu membuat serangan mereka pada pasukan Muslimiin sangat ganas berbahaya.

Seorang Muslim bernama Sahl bin Shabach Al-Absi (سهل بن صباح العبسي) menjelaskan, “Saat terjadi peperangan di hari yang kedua itu, serangan kaum Balbek ganas sekali. Saat itu lengan kanan saya tidak bisa digerakkan untuk membawa pedang karena luka seerius. Saya berperang berjalan kaki bersama teman-teman, dan berpikir kalau terjadi peperangan saya tidak bisa berbuat banyak. Saya mendaki ke puncak gunung tinggi yang dingin untuk melihat peperangan, dari belakang batu besar.
Kaum Balbek (Balabak/بعلبك) melancarkan serangan bertubi-tubi; kaum Muslimiin melawan mereka dengan garang. Beberapa pedang berdenting mengeluarkan bunga api; saat membentur helm perang atau pedang.”
Beberapa Muslimiin berharap Sa’id bin Zaid (سعيد بن زيد) dan Dhirar bin Al-Azwar (وضرار بن الأزور) mengamuk, untuk meringankan beban perjuangan kaum Muslimiin umunya. Panglima perang mereka bernama Abu Ubidah juga berperang sibuk sekali. Perang makin berkobar-kobar dan korban sama berjatuhan. Sahl bin Shabach yang sedang luka menyaksikan peperangan dari puncak gunung. Di atas itu, dia mematahkan pepohonan untuk ditumpuk dan dibakar. Dia menggoreskan zinad (korek) untuk menyalakan tumpukan kayu-kayu. Setelah menyala, ditambahi lagi kayu-kayu kering dan basah hingga asapnya membanyak dan membumbung tinggi.
Sebelum itu sudah ada kesepakatan di antara kaum Muslimiin: tanda untuk mengumpulkan mereka adalah api dan asap. Api dan asap semakin membesar dan meninggi. Sa’id bin Zaid dan pasukannya dari bawah, melihat asap tebal di puncak gunung; Dhirar bin Al-Azwar dan pasukannya juga melihatnya. Dua komandan itu perintah orang agar menghubungi panglima mengenai adanya tanda untuk berkumpul. Dua golongan bergerak saling mendekat untuk bersatu. Saat itu peperangan sedang sangat gawat karena dua kubu saling menyerang dan melawan, sehingga kaum Muslimiin kesulitan dan susah sekali.
Pasukan Muslimiin dikejutkan orang berteriak, “Hai penganut Al-Qur’an! Pertolongan dari Rohman telah datang pada kalian! Kalian ditolong untuk menaklukkan penyembah Sulban (الصُّلْبَانُ).”[1] 
Di saat pasukan Muslimiin bergerak menjauhi pintu gerbang beteng; pasukan Balbek melancarkan serangan bertubi-tubi dan bergerak meninggalakan ruangan kosong depan pintu gerbang untuk menyerbu dan menyerbu.
Sa’id bin Zaid dan Dhirar mengamuk untuk membunuh musuh dan memberi jalan pasukan mereka berdua, agar memasuki ruangan kosong itu. Pasukan Balbek yang tadinya yakin akan segera menaklukkan kaum Muslimiiin terkejut; saat melihat kenyataan yang diluar dugaan.
Pasukan Balbek bergerak mendekat untuk merebut lagi posisi di dekat pintu gerbang, namun tebasan pedang dan tusukan tombak pasukan Muslimiin menewaskan mereka dengan tragis. Dan amukan pasukan Muslimiin yang menggila menggugurkan mereka; mirip badai menggugurkan dedaunan. Pada sisa-sisa pasukan yang masih hidup itu, panglima perang mereka bernama Harbis berteriak, “Jangan lari menuju pintu gerbang! Karena telah terhalang oleh mereka! Siasat kaum Arab kali ini berhasil!.”
Sisa-sisa pasukan Balbek berkumpul mengelilingi panglima mereka, berjalan menjauh ke depan lalu berbelok ke kiri dan menaiki gunung.
Sa’id bin Zaid dan Dhirar menggerakkan pasukan mereka berdua untuk menyerang sisa-sia pasukan Balbek yang ketinggalan di kiri dan kanan beteng, hingga mereka tewas terkena senjata tajam. Yang lain berlari untuk bergabung pada pasukan induk di bawah komando panglima perang mereka di atas gunung.  


[1] Sulban bahasa Arab, bentuk jamak dari Salib.

0 komentar:

Posting Komentar