SELAMAT DATANG DI BLOG PONDOK PESANTREN MULYA ABADI, JL. MAGELANG KM 8.5 SLEMAN YOGYAKARTA, SEMOGA BLOG INI BISA MENJADI SILATURAHMI KITA UNTUK SALING BERBAGI

2011/06/15

KW 78: Perkelahian Berbahaya

(Bagian ke-78 dari seri tulisan Khalid bin Walid)[1]
 
Abu Ubaidah memanggil para sahabat RA nabi SAW untuk diajak bermusyawarah. Dia berkata, “Hai semuanya! Menurut kalian bagaimana bathriq Luqa ini? Saya telah menetapi janji padanya; namun dia justru bermakar pada kita?.”
Khalid bin Al-Walid berbicara, “Sungguh penjahat itu akan segera tewas. Meskipun dia telah bermakar pada kita; namun Allah mengintai perbuatannya! Kita akan bermakar dengan yang lebih dahsyat atas dia. Saya akan menjumpai dia dengan sepuluh sahabat Rasulillah SAW.”
Abu Ubaidah perintah, “Hai ayah Sulaiman![2] Laksanakanlah gagasanmu! Kau kuberi hak sepenuhnya untuk melakukan gagasanmu!.”
Khalid memanggil ‘Iyadh bin Ghanim Al-Asy’ari, ‘Amer bin Sa’id, Mus’ab bin Mucharib, Abu Jandalah bin Sa’id, Sahl bin Amer, Rafi’ bin Umairah, Al-Musayyab bin Najiyah, Sa’id bin Amir, Amer bin Ma’dikarib, Ashim bin Umar, Abdur Rohman bin Abi Bakr Asshiddiq (عبد الرحمن بن ابي بكر الصديق) RA. Semuanya menjawab, “Labbaik! (artinya ya).”

Dhirar bin Al-Azwar tidak dipanggil karena sedang sakit mata.
Khalid perintah, “Ayo segera berangkat,” dan mengenakan pakaian perang hasil rampasan dari Musailamah (مسيلمة الكذاب) nabi palsu, di dalam Perang Yamamah.
Khalid mengendarai kuda lalu berkata pada pelayannya bernama Hamam, “Ikutlah kami agar kau melihat keajaiban di sana!.”
Pelayan mengikuti perjalanan Khalid dan sepuluh sahabat nabi SAW. Khalid bertanya pada Sa’id, “Ya Sa’id! Apakah Jabalah tidak memberi tahu padamu mengenai Bathriq Luqa akan lewat jalan mana untuk bertemu dia?.”
Sa’id menjawab, “Betul ya Aba Sulaiman! Dia telah memberi tahu saya.”
Khalid perintah, “Ayo ikut untuk menunjukkan jalan menuju kesana, bergabung pada Jabalah!,” sambil mendekati Sa’id bin Amir. 
Khalid berkata, “Kita nanti menyamar hingga Bathriq Qinasrin bernama Luqa itu muncul. Selanjutnya dia dan pasukan pengawalnya kita makar untuk kita bunuh.”
Sa’id berjalan di depan menunjukkan jalan rombongan. Perjalanan rahasia itu dilakukan pada malam hari.
Rombongan Khalid telah mendekati tenda-tenda yang diterangi dengan obor-obor yang menyala-nyala. Setelah didekati, ternyata dari tenda-tenda itu terdengar banyak orang berceloteh.
Sa’id menempati posisi yang akan dilalui oleh Raja Jabalah, sambil bersembunyi hingga waktu subuh. Khalid mengimami shalat subuh pada kaumnya.
Persembunyian mereka berakhir ketika arak-arakan pasukan Raja Jabalah meninggalkan tempat dan lewat. Raja Jabalah yang berpangkat bathriq itu berkuda di pertengahan pasukannya yang mengalir berjumlah banyak sekali. Sebagian pasukan Raja Jabalah, kaum Arab beragama Nashrani. Penguasa kota Amuriyah juga ada di pertengahan pasukan ribuan itu. Arak-arakan pasukan yang sangat panjang itu mengalir ke arah kota Awashim dan Qinasrin, derap kaki mereka membahana membisingkan.
Muslimiin yang hanya berjumlah 12 orang itu berkata pada Khalid, “Ya Ayah Sulaiman![3] Tak tahukah kau bahwa pasukan yang lewat itu banyaknya bagaikan duri-duri dan pepohonan di hutan ini?.”
Khalid menghibur, “Mereka itu sedikit jika kita telah ditolong oleh Allah, Allah memihak kita. Masuklah ke perkumpulan mereka untuk menyusup! Bergayalah seperti golongan mereka! Sebagai upaya agar kita nantinya bisa bertemu Bathriq Luqa penguasa kota Qinasrin. Semoga Allah berbuat indah untuk kita.”
Khalid dan pasukannya keluar dari hutan untuk menyusup pada mereka yang mengalir bagaikan sungai. Saat itu perjanjian damai antara pasukan Muslimiin dan pasukan Nashrani yang disetujui oleh Abu Ubaidah hampir berakhir.
Perjalanan yang memakan waktu cukup lama itu akan segera berakhir. Bathriq Luqa penguasa kota Awashim dan Qinasrin muncul untuk menyongsong kehadiran pasukan yang melaut di bawah pimpinan Raja Jabalah.
Bathriq Luqa didampingi pasukannya berjumlah sangat banyak. Di depan Luqa ada Salib besar yang diangakat oleh seorang. Di sisi Luqa ada sejumlah ulama Nashrani dan para rahib. Sejumlah orang membaca kitab Injil; sejumlah lainnya mengucapkan kaliamat kafir.
Pemandangan yang sangat mengagumkan bagi kaum Nahrani: Raja Jabalah dan pasukannya akan segera mendapat ucapan selamat datang dari Bathriq Luqa dan pasukannya.
Bathriq Luqa berkuda di depan kaumnya untuk menemui dan mengucapkan selamat datang pada Raja Jabalah bin Al-Aiham. Bathriq Luqa terkejut oleh datangnya Khalid dikawal sepuluh orang. Tetapi Bathriq Luqa tidak tahu bahwa yang datang mendekat itu adalah orang-orang berbahaya, sehingga dia menyapa, “Semoga Al-Masih memberi barokah pada kalain, dan semoga kalian ditolong oleh Salib.”
Khalid menjawab, “Goblok! Kami bukan penyembah Salib! Justru kami ini para sahabat Muhammad SAW yang tercinta.”
Khalid membuka wajahnya dan berkata, “Laa Ilaah illaa Allah wachdahu laa syariika lah. Wa anna Muhammadan ‘abduHu wa RasuuluH (لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأن محمدا عبده ورسوله). Hai musuh Allah! Sayalah Khalid bin Al-Walid dari Al-Makhzumi, sahabat Rasulullah.”
Khalid menghantam dan dan menarik Bathriq Luqa dari pelana kuda; para sahabat Rasulillah SAW menghunus pedang untuk menodong, agar pasukan pengawal Bathriq Luqa tidak bergerak. Suara ricuh dan gertakan keras kaum Nashrani tak dapat ditahan. Bahkan semakin lama suara mereka bersaut-sautan, bahkan makin menggemuruh. Kaum Muslimiin tak jatuh mental, mereka juga meneriakkan kalimat tauhid dengan keras.
Saat itu jantung-jantung berdebar-debar: Raja Jabalah dan pengawalnya mendekat untuk mengepung para sahabat nabi yang bersenjata tajam terhunus. Semakin lama pengepungan semakin rapat. Khalid memegang tali kendali kuda Luqa dan menggerakkan pedang ke arah Luqa. Luqa tersenyum sinis; Khalid bertanya, “Kenapa tersenyum?.”
Luqa berkata, “Karena kau dan orang-orangmu akan segera mati! Sebaiknya kau biarkan saya hidup! Itu lebih tepat.”
Khalid melepaskan Luqa dan berteriak pada Muslimiin, “Lindungi saya dan tabahlah menghadapi mereka! Yang paling kalian khawatirkan adalah kematian; padahal bagi saya kematian adalah harapan. Demi Allah saya sanggup mati berkali-kali agar meraih pahala syahid (syahadah/الشهادة)! Ketahuilah bahwa alasan kita benar! Dan kita berserah pada Allah! Sepertinya terbayang dalam benakku! Kalian menghadap kehadirat Tuhan untuk menempati surga yang penghuninya takkan wafat untuk selamanya.” Lalu membaca: {لا يَمَسُّهُمْ فِيهَا نَصَبٌ وَمَا هُمْ مِنْهَا بِمُخْرَجِينَ} [الحجر:48].”[4]
Artinya: Tiada rasa capek menyentuh mereka, dan mereka takkan dikeluarkan darinya.


[1] Kelanjutan yang di: http://mulya-abadi.blogspot.com/2011/06/kw-77-said-bin-amir-dilepaskan.html
[4] Baca: Laa yamassuhum fiihaa nashobun wamaa hum bimukhrajiiin.

0 komentar:

Posting Komentar