2011/04/28

KW 28: Penguasa Kota Oman

(Bagian ke-28 dari seri tulisan Khalid bin Walid)
Dhirar bin Al-Azwar namanya sohor di kota Damaskus. Jika sang Wardan saja takut karena serangannya yang sangat ganas dan keberaniannya yang maksimal, apa lagi hanya tentara rendahan. Dialah yang telah meringkus Paulus yang namanya kondang di negri Romawi. Dia pula yang menusuk putra Wardan yang bernama Hamdan. Dia pula yang berani menembus lautan pasukan lawan untuk mengamuk. Tusukan anak panah berjumlah banyak tak dihiraukan melukai kulitnya. Bahkan justru hal itu memacu semangat untuk melawan dan mengobrak-abrik hingga setidaknya 40 pasukan lawan berguguran. Yang masih hidup kabur karena takut mati. Dhirar berlari pulang bergabung pada pasukan Muslimiin.

Dhirar melepas helm perang dan Zarod (bahasa Arab: anyaman dari besi pilihan untuk melindungi leher dikaitkan helm perang)nya. Dia berteriak:
Akulah Maut yang akan merenggut keluarga Ashfar[1]
Akulah Dhirar bin Al-Azwar
Akulah lawan kalian
Aku pembunuh Hamdan putra Wardan
Akulah balak[2] yang akan menundukkan kalian
dan siapa saja yang syirik pada Rahman

Subahanallah, begitu pasukan Romawi mendengar teriakannya, mundur kebelakang karena takut. Karena nama Dhirar telah kondang di kota Damaskus atau kota Najdin. Hampir semua orang di sana pernah membicarakan atau mendengar kehebatan Dhirar di medan pertempuran. Lelaki yang pernah dibawa oleh seratus pasukan berkuda untuk dihadapkan pada Raja Hiraqla inilah yang telah membuat penduduk kota Damasku dan Homs bergetar takut karena berkali-kali serangannya yang garang tak dapat dipatahkan oleh orang sehebat apapun.
Dhirar mengenakan jubah rangkap dari kulit gajah dan membawa perisai. Dia tampak gagah berani dan menakutkan. Ketika dia bergerak dengan kudanya menuju lautan pasukan Romawi; pasukan romawi lari kencang kebelakang bagai ombak yang menghempas kedaratan.
Wardan bertanya, “Siapa orang kampung yang datang kemari ini?.”
Mereka menjawab, “Tuan panglima, dialah orang berumur panjang yang biasanya kalau berperang telanjang dada. Kadang bersenjata panah, kadang tombak.”
Wardan terkejut dan nafasnya menjadi sesak ketika mendengar nama Dhirar disebut. Wardan berkata, “Dialah yang telah membunuh putraku bernama Hamdan. Saya ingin sekali di antara kalian ada yang membalaskan dendamku atas terbunuhnya putraku. Kalau berhasil akan kuberi apa saja yang dia minta.”
Seorang batriq penguasa Tiberia (طبرية) bergegas menghadap Wardan. Dia berkata, “Saya yang akan membalaskan dendam tuan.” Si batriq membelokkan kudanya untuk mendekati Dhirar. Dia menyerang Dhirar yang telah waspada sepenuhnya. Peperangan berlangsung lebih dari satu jam karena sama-sama unggul. Peperangan diakhiri dengan tusukan tombak Dhirar menembus ulu hati lalu keluar jauh dari dari tubuhnya. Dia kelojotan sakarat dan tewas.

Wardan berkata, “Kalau dia bisa menaklukkan Dhirar, saya jusrtu tak percaya, meskipun mataku melihat buktinya. Dia tak mungkin ditaklukkan oleh siapapun.” Walau begitu Wardan berjalan untuk berganti baju perang yang lebih alot. Lalu mengenakan pakain perang satu lagi, lalu mengenakan mahkota[3]. Dia mengendarai kuda Arab untuk menyerang Dhirar. Jalannya terhenti oleh seorang batriq bernama Ishthofan (اصطفان). Ishthofan adalah penguasa kota Oman (عمان). Lelaki yang telah tergila-gila kecantikan putri Wardan itu memberanikan diri berkata, “Tuan yang mulia, jika saya mampu membunuh dia yang hina, maukah tuan menikahkan saya dengan putri tuan?.”
Wardan mengundang pejabat-pejabat agar menyaksikan: “Saksikanlah!. Jika dia mampu membunuh Dhirar, akan saya nikahkan dengan putriku.”

Dengan penuh semangat Isthofan memacu kudanya kearah Dhirar.
Ishthofan tersenyum bahagia. Bagi dia tidak ada yang lebih indah daripada hidup bersanding wanita jelita putri Gubernur Wardan. Dia yakin sepenuhnya jika telah berhasil membunuh Dhirar, akan segera memandang bahkan menyanding putri tecantik sedunia, pikirnya. 

[1] Maksudnya pasukan Romawi.
[2] Bahasa Arab, artinya ujian.
[3] Mahkota itu pemberian ketika Raja Hiraqla mengangkat Wardan sebagai panglima perang agar mau memerangi Khalid dengan mati-matian. Pemberian lainnya saat itu adalah Salib emas yang empat sisinya dihiasi mutiara gemerlapan. 

(Bagian ke-28 dari seri tulisan Khalid bin Walid)
Dhirar bin Al-Azwar namanya sohor di kota Damaskus. Jika sang Wardan saja takut karena serangannya yang sangat ganas dan keberaniannya yang maksimal, apa lagi hanya tentara rendahan. Dialah yang telah meringkus Paulus yang namanya kondang di negri Romawi. Dia pula yang menusuk putra Wardan yang bernama Hamdan. Dia pula yang berani menembus lautan pasukan lawan untuk mengamuk. Tusukan anak panah berjumlah banyak tak dihiraukan melukai kulitnya. Bahkan justru hal itu memacu semangat untuk melawan dan mengobrak-abrik hingga setidaknya 40 pasukan lawan berguguran. Yang masih hidup kabur karena takut mati. Dhirar berlari pulang bergabung pada pasukan Muslimiin.

Dhirar melepas helm perang dan Zarod (bahasa Arab: anyaman dari besi pilihan untuk melindungi leher dikaitkan helm perang)nya. Dia berteriak:
Akulah Maut yang akan merenggut keluarga Ashfar[1]
Akulah Dhirar bin Al-Azwar
Akulah lawan kalian
Aku pembunuh Hamdan putra Wardan
Akulah balak[2] yang akan menundukkan kalian
dan siapa saja yang syirik pada Rahman

Subahanallah, begitu pasukan Romawi mendengar teriakannya, mundur kebelakang karena takut. Karena nama Dhirar telah kondang di kota Damaskus atau kota Najdin. Hampir semua orang di sana pernah membicarakan atau mendengar kehebatan Dhirar di medan pertempuran. Lelaki yang pernah dibawa oleh seratus pasukan berkuda untuk dihadapkan pada Raja Hiraqla inilah yang telah membuat penduduk kota Damasku dan Homs bergetar takut karena berkali-kali serangannya yang garang tak dapat dipatahkan oleh orang sehebat apapun.
Dhirar mengenakan jubah rangkap dari kulit gajah dan membawa perisai. Dia tampak gagah berani dan menakutkan. Ketika dia bergerak dengan kudanya menuju lautan pasukan Romawi; pasukan romawi lari kencang kebelakang bagai ombak yang menghempas kedaratan.
Wardan bertanya, “Siapa orang kampung yang datang kemari ini?.”
Mereka menjawab, “Tuan panglima, dialah orang berumur panjang yang biasanya kalau berperang telanjang dada. Kadang bersenjata panah, kadang tombak.”
Wardan terkejut dan nafasnya menjadi sesak ketika mendengar nama Dhirar disebut. Wardan berkata, “Dialah yang telah membunuh putraku bernama Hamdan. Saya ingin sekali di antara kalian ada yang membalaskan dendamku atas terbunuhnya putraku. Kalau berhasil akan kuberi apa saja yang dia minta.”
Seorang batriq penguasa Tiberia (طبرية) bergegas menghadap Wardan. Dia berkata, “Saya yang akan membalaskan dendam tuan.” Si batriq membelokkan kudanya untuk mendekati Dhirar. Dia menyerang Dhirar yang telah waspada sepenuhnya. Peperangan berlangsung lebih dari satu jam karena sama-sama unggul. Peperangan diakhiri dengan tusukan tombak Dhirar menembus ulu hati lalu keluar jauh dari dari tubuhnya. Dia kelojotan sakarat dan tewas.

Wardan berkata, “Kalau dia bisa menaklukkan Dhirar, saya jusrtu tak percaya, meskipun mataku melihat buktinya. Dia tak mungkin ditaklukkan oleh siapapun.” Walau begitu Wardan berjalan untuk berganti baju perang yang lebih alot. Lalu mengenakan pakain perang satu lagi, lalu mengenakan mahkota[3]. Dia mengendarai kuda Arab untuk menyerang Dhirar. Jalannya terhenti oleh seorang batriq bernama Ishthofan (اصطفان). Ishthofan adalah penguasa kota Oman (عمان). Lelaki yang telah tergila-gila kecantikan putri Wardan itu memberanikan diri berkata, “Tuan yang mulia, jika saya mampu membunuh dia yang hina, maukah tuan menikahkan saya dengan putri tuan?.”
Wardan mengundang pejabat-pejabat agar menyaksikan: “Saksikanlah!. Jika dia mampu membunuh Dhirar, akan saya nikahkan dengan putriku.”

Dengan penuh semangat Isthofan memacu kudanya kearah Dhirar.
Ishthofan tersenyum bahagia. Bagi dia tidak ada yang lebih indah daripada hidup bersanding wanita jelita putri Gubernur Wardan. Dia yakin sepenuhnya jika telah berhasil membunuh Dhirar, akan segera memandang bahkan menyanding putri tecantik sedunia, pikirnya. 

[1] Maksudnya pasukan Romawi.
[2] Bahasa Arab, artinya ujian.
[3] Mahkota itu pemberian ketika Raja Hiraqla mengangkat Wardan sebagai panglima perang agar mau memerangi Khalid dengan mati-matian. Pemberian lainnya saat itu adalah Salib emas yang empat sisinya dihiasi mutiara gemerlapan. 

2 komentar:

  1. gak sabar nunggunya... :P

    BalasHapus
  2. semoga kesabaran sampean membuahkan bidadari dunia dan akhirat

    BalasHapus