SELAMAT DATANG DI BLOG PONDOK PESANTREN MULYA ABADI, JL. MAGELANG KM 8.5 SLEMAN YOGYAKARTA, SEMOGA BLOG INI BISA MENJADI SILATURAHMI KITA UNTUK SALING BERBAGI

2011/10/07

NN 3: Nashrani Najrani



(Bagian ke-3 dari seri tulisan Nashrani Najrani)
Turunnya Awal Surat Ali Imran


Ibnul-Qayyim mencatat, “Ketika rombongan tamu utusan dari Najran datang, untuk bertanya pada nabi SAW tentang Isa bin Maryam AS; permulaan surat Ali Imran hingga 80 ayat lebih, turun." 
Orang Nashrani yang telah masuk Islam, yaitu ayah Abdu Yasuk (عَبْد يَسُوعَ) berkata, “Sesungguhnya Rasululullah SAW pernah mengirimi surat pada penduduk Najran:
Dengan Nama Tuhan Ibrahim, Ishaq, dan Yaqub. Ammaa bakd:
Saya mengajak kalian untuk meninggalkan menyembah hamba menuju menyembah Allah. Saya juga mengajak kalian untuk meninggalkan kekuasaan hamba menuju Kekusaan Allah. Jika kalian membangkang, kalian harus membayar pajak.

Uskup terkejut dan bingung setelah membaca surat nabi SAW. 
Uskup memanggil Syurachbil bin Wadaah (شُرَحْبِيلُ بْنُ وَدَاعَةَ) yang dulunya orang Hamdan. Jika ada sesuatu yang membuat takut dan bingung, uskup selalu memanggil dan minta pertimbangan Syurachbil, sebelum pada lainnya. 
Uskup menyerahkan surat Rasulillah SAW agar dibaca oleh Syurachbil, lalu bertanya, “Hai ayah Maryam, bagaimana pendapatmu mengenai kebenaran surat ini?.” 
Syurachbil menjawab, “Memang saya tahu bahwa Allah pernah berjanji bahwa Ibrahim AS akan menurunkan seorang nabi melalui putranya yang bernama Ismail AS. Namun jika yang dimaksud nabi tersebut adalah orang ini, takkan ada yang percaya. Saya sendiri tidak punya pandangan mengenai sebetulnya nabi itu siapa?. Mungkin yang bisa memberi keterangan mengenai ini adalah Abdullah bin Syurachbil (عَبْدُ اللّهِ بْنُ شُرَحْبِيلَ).” 
Syurachbil menyingkir untuk duduk di tempat lain. 
Uskup memanggil Abdullah untuk dimintai keterangan. 
Abdullah menghadap lalu disuruh mendengarkan pembacaan surat nabi SAW, untuk ditanya seperti Syurachbil. Ternyata jawabannya sama dengan jawaban Syurachbil. 

Abdullah disuruh menyingkir ke tempat lain, dan uskup memanggil Jabbar bin Faidh (جَبّارُ بْنُ فَيْضٍ) untuk disuruh mendengarkan pembacaan surat, dan ditanya tentang pendapatnya. Ternyata jawabannya sama dengan jawaban dua orang sebelumnya. Karena jawaban tiga orang yang dianggap pintar itu sama, maka uskup perintah agar lonceng gereja dipukul sekeras-kerasnya, dan para biarawan di biara-biara, disuruh berbusana sederhana. Sebagai pertanda ada sesuatu yang sangat penting pada siang hari. Jika sesuatu penting datang pada malam hari, lonceng gereja dipukul dan biara-biara diberi obo-obor menyala.

Luas kawasan Najran yang terdiri dari 73 wilayah itu sejauh perjalanan sehari, dengan kuda yang larinya cepat. Pertahanan Najran sangat kuat karena memiliki sejumlah 100.000 pasukan tempur. Hari itu orang-orang berbondong-bondong menuju gereja agung yang loncengnya barusan bergema. 
Gereja besar itu tidak mampu memuat jemaat. Banyak sekali jemaat yang mendapat tempat di luar gereja. Di gereja itulah sang uskup membacakan surat Rasulullah SAW di hadapan para jemaat. Uskup minta tanggapan mengenai surat Rasulullah SAW, pada para jemaat. 
Jemaat berpandangan sebaiknya Syurachbil, Abdullah, dan Jabbar bin Faidh, diutus ke Madinah, untuk mengecek betulkah Muhammad utusan Allah SAW.


Mubahalah (Memohon-mohon)

Tamu utusan dari Najran datang ke Madinah. Mereka melepas busana perjalanan untuk berganti yang pantas, berupa hulal yang menjuntai menyentuh tanah, dan bercincin emas. Mereka mendatangi rumah kediaman nabi SAW, untuk mengucapkan salam, dengan harapan segera ditemui. Tetapi Rasulullah SAW tidak menjawab salam, meskipun mereka telah menunggu lama, karena nabi benci pada busana mereka yang terlalu mewah dan cincin emas yang mereka pakai.
Mereka mencari Utsman bin Affan dan Abdur Rohman bin Auf yang telah mereka kenal. Di zaman Jahiliyyah, Utsman dan Abdur Rohman sering datang ke Najran, bersama kafilah, untuk membeli gandum dan buah-buahan. 
Ternyata mereka berdua sedang berada di kumpulan kaum Anshar dan Muhajiriin. Mereka berkata, “Hai Utsman dan Abdur Rohman, nabi kalian telah mengirimkan surat pada kami, sehingga kami datang kemari. Kami telah mengucapkan salam namun tidak dijawab, bahkan kami telah lama menunggu jawaban hingga capek. Apa sebaiknya kami pulang saja?.”
Mereka berdua berkata pada Ali RA, “Hai ayah Chasan, sebaiknya bagaimana mereka ini?.” 
Ali RA menjawab, “Sebaiknya mereka melepas baju mewah mereka, lalu berganti busana yang mereka kenakan di dalam perjalanan, baru kemudian datang pada baginda.”

Para tamu itu melaksanakan anjuaran Ali, lalu datang menghadap nabi SAW. Ternyata nabi menjawab salam dan menerima mereka. Nabi dan mereka berdiskusi dalam waktu cukup lama. Mereka bertanya, “Bagaimana pendapat kau tentang Isa bin Maryam AS? Agar kami pulang nanti bisa membawa jawaban yang menyenangkan kaum kami,  kalau kau benar seorang nabi.” 
Nabi bersabda, “Mengenai ini saya belum memiliki jawaban. Jangan pulang dulu sebelum saya menjawab kalian, mengenai Isa bin Maryam AS.”

Di pagi yang indah itu Allah telah menurunkan wahyu pada nabi SAW:
إِنَّ مَثَلَ عِيسَى عِنْدَ اللَّهِ كَمَثَلِ آَدَمَ خَلَقَهُ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلَا تَكُنْ مِنَ الْمُمْتَرِينَ فَمَنْ حَاجَّكَ فِيهِ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ فَقُلْ تَعَالَوْا نَدْعُ أَبْنَاءَنَا وَأَبْنَاءَكُمْ وَنِسَاءَنَا وَنِسَاءَكُمْ وَأَنْفُسَنَا وَأَنْفُسَكُمْ ثُمَّ نَبْتَهِلْ فَنَجْعَلْ لَعْنَةَ اللَّهِ عَلَى الْكَاذِبِينَ  [آل عمران/59-61]
Baca: 
Inna matsala Iisaa inda Allahi kamatsali Aadama khalaqahuu min turaabin tsumma qaala lahuu kun fayakuun. Al-Chaqqu min Rabbika falaa takun minal mumtariin. Faman chaaajjaka fiihi min ba’di maaa jaa’aka minal ilmi faqul ta’aalau nad’u abnaaa’anaa wa abnaaa’akum wanisaaa’anaa wanisaaa’akum wa anfusanaa wa anfusakum tsumma nabtahil fanaj’al la’nat Allaahi ‘alal kaadzibiin.
Artinya: 
Sesungguhnya gambaran Isa di sisi Allah seperti gambaran Adam. Dia mencipta dia dari tanah, lalu berfirman padanya, “Jadilah!” maka jadi. (Jawaban) Benar ini dari Tuhanmu, maka jangan tergolong kaum yang ragu. Barang siapa membantahmu mengenai dia seteh sebagian ilmu ini datang padamu, maka katakan ‘ayo kita mengajak para anak laki-laki kami dan para anak laki-laki kalian, para perempuan kami dan para perempuan kalian, diri kami dan diri kalian, lalu kita ber-mubahalah untuk memastikan laknat Allah agar menimpa kaum yang bohong’!.”
Namun mereka bersikeras tidak mau mengakui kebenaran yang dibawa oleh nabi SAW. Di pagi berikutnya nabi SAW datang dengan menyelimuti Chasan dan Chusain RA untuk melaksanakan perintah (mubahalah) dari Allah dalam ayat itu. Fathimah RA berjalan di belakang Rasulillah SAW. Sebetulnya Allah memberi kemurahan nabi boleh mengajak sembilan istrinya yang ketika itu ada, melaui ayat tersebut.

Syurachbil bertanya, “Hai Abdullah dan Jabbar! Sungguh kalian berdua telah tahu bahwa jika lembah ini dipenuhi manusia hingga meluap, semua bisa rusak terkena siksaan. Saya yakin (mubahalah) ini urusan serius. Demi Allah jika dia hanya seorang raja maka saya pasti yang pertama kali menusuk matanya dan menghalang-halangi gerakannya. Dia dan kaumnya pasti akan mengganggu kenyamanan hidup kita. Kita adalah tetangga Arab terdekat dengan dia dan kaumnya. Namun jika dia benar-benar nabi, kita tidak boleh melayani ajakannya ber-mubahalah yang isinya agar kita dilaknat 'jika berbohong', karena akan berakibat kita hingga rambut serta kuku kita akan habis terkena siksaan.” 
Abdullah dan Jabbar bertanya, “Lalu bagaimana sebaiknya, kaulah yang selama ini pendapatnya diikuti oleh semua orang. Katakan.” 
Dia berkata, “Sebaiknya kita menyerah akan diapakan, karena dia takkan keliru hukumnya.” 
Mereka berdua berkata, “Okay, kalau begitu.”

Syurachbil menghadap Rasulallah SAW untuk berkata, “Saya berpandangan ada yang lebih baik daripada mengabulkan ber-mubahalah (saling mendoakan laknat) dengan kau.” 
Rasulallah SAW bertanya, “Apa itu.” 
Dia menjawab, “Tindakan kau atas kami, kami tunggu hingga malam, hingga besok pagi. Kami akan menerima tindakan kau.” 
Rasulallah SAW bertanya, “Barangkali ada orang selain kau yang bisa diajak berembuk mengenai ini?.” Dia menjawab, “Silahkan kau minta pertimbangan dua teman saya yang biasanya berembuk dengan saya ini.” 
Ketika Rasulallah SAW bertanya pada Abdullah dan Jabbar, mereka berdua menjawab, “Yang sudah-sudah, seluruh penduduk Najran pasti merasa puas dengan keputusan Syurachbil ini.” 
Rasulullah SAW bersabda, “Berarti dia orang kafir.”  


Mengenai surat perjanjian nabi SAW atas kaum Najran, diriwayatkan oleh Abu Dawud di dalam Sunannya yang masyhur: سنن أبي داود - (ج 8 / ص 279)
2644 - حَدَّثَنَا مُصَرِّفُ بْنُ عَمْرٍو الْيَامِيُّ حَدَّثَنَا يُونُسُ يَعْنِي ابْنَ بُكَيْرٍ حَدَّثَنَا أَسْبَاطُ بْنُ نَصْرٍ الْهَمْدَانِيُّ عَنْ إِسْمَعِيلَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْقُرَشِيِّ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ صَالَحَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَهْلَ نَجْرَانَ عَلَى أَلْفَيْ حُلَّةٍ النِّصْفُ فِي صَفَرٍ وَالْبَقِيَّةُ فِي رَجَبٍ يُؤَدُّونَهَا إِلَى الْمُسْلِمِينَ وَعَوَرِ ثَلَاثِينَ دِرْعًا وَثَلَاثِينَ فَرَسًا وَثَلَاثِينَ بَعِيرًا وَثَلَاثِينَ مِنْ كُلِّ صِنْفٍ مِنْ أَصْنَافِ السِّلَاحِ يَغْزُونَ بِهَا وَالْمُسْلِمُونَ ضَامِنُونَ لَهَا حَتَّى يَرُدُّوهَا عَلَيْهِمْ إِنْ كَانَ بِالْيَمَنِ كَيْدٌ أَوْ غَدْرَةٌ عَلَى أَنْ لَا تُهْدَمَ لَهُمْ بَيْعَةٌ وَلَا يُخْرَجَ لَهُمْ قَسٌّ وَلَا يُفْتَنُوا عَنْ دِينِهِمْ مَا لَمْ يُحْدِثُوا حَدَثًا أَوْ يَأْكُلُوا الرِّبَا قَالَ إِسْمَعِيلُ فَقَدْ أَكَلُوا الرِّبَا قَالَ أَبُو دَاوُد إِذَا نَقَضُوا بَعْضَ مَا اشْتُرِطَ عَلَيْهِمْ فَقَدْ أَحْدَثُوا
Arti (selain isnadnya):
Ibnu Abbas RA berkata, “Rasulullah SAW telah mendamai penduduk Najran dengan persyaratan: 
1), Mereka menyetorkan 2.000 chullah, pada muslimiin. Yang setengah diberikan pada bulan Sapar, sisanya pada bulan Rajab. 
2), Mereka meminjami 30 baju perang 30 kuda, 30 unta, 30 macam peralatan perang, untuk berperang. Peminjaman ini berlaku jika ada serangan atau pengkhianatan di Yaman, dan harus dikembalikan lagi. 
3), Gereja tidak boleh dirobohkan dan alim Nashrani tidak boleh diusir dari Gereja. 
4), Selama mereka tidak membuat pembaharuan atau tidak makan riba, agama mereka tidak boleh dirusak.”
Ismail (إِسْمَعِيل بْن عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْقُرَشِيِّ) murid Ibnu Abbas berkata, “Sungguh mereka telah makan riba.” 
Abu Dawud berkata, “Jika mereka melanggar satu pasal dalam syarat mereka, berarti sungguh telah membuat pembaharuan.”[1]
Mengenai syair yang berhubungan dengan kisah ini:
Nashrani Najrani datang menghadap nabi SAW
Konsultasi mengenai Isa bin Maryama
Kata mereka, “Putra sang Pencipta.”
Yang Maha Pencipta tidak terima
Lalu berqala
Dalam Ali Imrana
Betapa indahnya
Amarahum Dzul Jalal agar ibtihal
Tapi mereka takut disiksa
Karena telah berdusta pada yang Esa


[1] Bukhari juga meriwayatkan potongan kisah ini: صحيح البخاري - (ج 13 / ص 284)
4029 - حَدَّثَنِي عَبَّاسُ بْنُ الْحُسَيْنِ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ آدَمَ عَنْ إِسْرَائِيلَ عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ عَنْ صِلَةَ بْنِ زُفَرَ عَنْ حُذَيْفَةَ قَالَ
جَاءَ الْعَاقِبُ وَالسَّيِّدُ صَاحِبَا نَجْرَانَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُرِيدَانِ أَنْ يُلَاعِنَاهُ قَالَ فَقَالَ أَحَدُهُمَا لِصَاحِبِهِ لَا تَفْعَلْ فَوَاللَّهِ لَئِنْ كَانَ نَبِيًّا فَلَاعَنَّا لَا نُفْلِحُ نَحْنُ وَلَا عَقِبُنَا مِنْ بَعْدِنَا قَالَا إِنَّا نُعْطِيكَ مَا سَأَلْتَنَا وَابْعَثْ مَعَنَا رَجُلًا أَمِينًا وَلَا تَبْعَثْ مَعَنَا إِلَّا أَمِينًا فَقَالَ لَأَبْعَثَنَّ مَعَكُمْ رَجُلًا أَمِينًا حَقَّ أَمِينٍ فَاسْتَشْرَفَ لَهُ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ قُمْ يَا أَبَا عُبَيْدَةَ بْنَ الْجَرَّاحِ فَلَمَّا قَامَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَذَا أَمِينُ هَذِهِ الْأُمَّةِ

0 komentar:

Posting Komentar