SELAMAT DATANG DI BLOG PONDOK PESANTREN MULYA ABADI, JL. MAGELANG KM 8.5 SLEMAN YOGYAKARTA, SEMOGA BLOG INI BISA MENJADI SILATURAHMI KITA UNTUK SALING BERBAGI

2011/10/25

BB 2: Bedah Bukhari



Sejak zaman dulu, perang berpengaruh besar, pada budaya dan agama. Setelah Kaisar Agustus menaklukkan Yunani, maka kebudayaan dan bahasa Yunani disadap untuk negerinya. 
Setelah Raja Konstantin memerangi kaum Yahudi di Anthakiyah, membakar ribuan umat Nasrani untuk dipaksa menyembah Salib, merubah kitab Taurat maupun Injil, maka kehidupan kaum Nashrani dan manusia umumnya berubah total, baik pemikiran maupun akhlaq mereka. 
Begitu pula setelah Perang Salib dimenangkan oleh kaum Salibis. Kemenangan mereka makin gemilang setelah kaum Zionis bergabung membantu. Dalam kesempatan ini Syaitan menyesatkan insan dengan segala cara, yang dibisikkan pada kekasih-kekasihnya. Termasuk yang mencolok saat ini, banyak orang meramal atau berkhotbah tentang teori Terjadinya Alam Semesta, yang rujukanya dari bisikan Syaitan.

Jika seorang pandai ditanya, “Ketika dia di dalam kandungan berusia tujuh bulan, tujuh hari, tujuh jam, tujuh menit, tujuh detik, keadaan kesehatannya bagaimana ? Menghadap ke mana ? Perut ibunya sedang terbuka atau sedang ditutup ? Ibunya sedang menangis atau tertawa. Dia dibawa oleh ibunya ke mana ? Ada cairan putih hangat yang masuk ke dirinya tidak ?.” 
Pasti tidak bisa menjawab, karena beberapa alasan. Tetapi dengan mengatas namakan ilmu dan ilmiah, kini ada orang yang berani memperkirakan Terjadinya Alam Semesta.

Subhanallah. Betulkah teori mengenai Terjadinya Alam Semesta yang selama ini mencengangkan ? Melalui Surat Hud, Allah mengajarkan pada kita bahwa, Teori bisa dikatakan benar, bila telah teruji kebenarannya. Misal, ada orang berkata, “Alam semesta ini asalnya dari kabut yang begini begini begini lalu begini.”
Jika telah ada kabut yang dibuat menjadi alam semesta, merujuk teori dia, berarti pernyataan dia benar.[1]

Sebetulnya Allah telah menjelaskan mengenai Penciptaan Alam Semesta, dengan jelas sekali. Hanya semakin jelas, setelah Lautan Ilmu bernama Ibnu Abbas RA, membedah Al-Qur’an, di hadapan tokoh Khawarij yang bertanya tentang beberapa kemisykilan Ayat dalam Al-Qur’an: صحيح البخاري ـ م م - (ج 6 / ص 127)

سُورَةُ حم السَّجْدَةِ وَقَالَ طَاوُسٌ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ { ائْتِيَا طَوْعًا أَوْ كَرْهًا } أَعْطِيَا { قَالَتَا أَتَيْنَا طَائِعِينَ } أَعْطَيْنَا وَقَالَ الْمِنْهَالُ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ قَالَ قَالَ رَجُلٌ لِابْنِ عَبَّاسٍ إِنِّي أَجِدُ فِي الْقُرْآنِ أَشْيَاءَ تَخْتَلِفُ عَلَيَّ قَالَ { فَلَا أَنْسَابَ بَيْنَهُمْ يَوْمَئِذٍ وَلَا يَتَسَاءَلُونَ } { وَأَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلَى بَعْضٍ يَتَسَاءَلُونَ } { وَلَا يَكْتُمُونَ اللَّهَ حَدِيثًا } { وَاللَّهِ رَبِّنَا مَا كُنَّا مُشْرِكِينَ } فَقَدْ كَتَمُوا فِي هَذِهِ الْآيَةِ وَقَالَ { أَمْ السَّمَاءُ بَنَاهَا إِلَى قَوْلِهِ دَحَاهَا } فَذَكَرَ خَلْقَ السَّمَاءِ قَبْلَ خَلْقِ الْأَرْضِ ثُمَّ قَالَ { أَئِنَّكُمْ لَتَكْفُرُونَ بِالَّذِي خَلَقَ الْأَرْضَ فِي يَوْمَيْنِ إِلَى قَوْلِهِ طَائِعِينَ } فَذَكَرَ فِي هَذِهِ خَلْقَ الْأَرْضِ قَبْلَ خَلْقِ السَّمَاءِ وَقَالَ { وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا } { عَزِيزًا حَكِيمًا } { سَمِيعًا بَصِيرًا } فَكَأَنَّهُ كَانَ ثُمَّ مَضَى فَقَالَ { فَلَا أَنْسَابَ بَيْنَهُمْ } فِي النَّفْخَةِ الْأُولَى ثُمَّ يُنْفَخُ فِي الصُّورِ { فَصَعِقَ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ إِلَّا مَنْ شَاءَ اللَّهُ } فَلَا أَنْسَابَ بَيْنَهُمْ عِنْدَ ذَلِكَ وَلَا يَتَسَاءَلُونَ ثُمَّ فِي النَّفْخَةِ الْآخِرَةِ { أَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلَى بَعْضٍ يَتَسَاءَلُونَ } وَأَمَّا قَوْلُهُ { مَا كُنَّا مُشْرِكِينَ } { وَلَا يَكْتُمُونَ اللَّهَ حَدِيثًا } فَإِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ لِأَهْلِ الْإِخْلَاصِ ذُنُوبَهُمْ وَقَالَ الْمُشْرِكُونَ تَعَالَوْا نَقُولُ لَمْ نَكُنْ مُشْرِكِينَ فَخُتِمَ عَلَى أَفْوَاهِهِمْ فَتَنْطِقُ أَيْدِيهِمْ فَعِنْدَ ذَلِكَ عُرِفَ أَنَّ اللَّهَ لَا يُكْتَمُ حَدِيثًا وَعِنْدَهُ { يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُوا } الْآيَةَ وَخَلَقَ الْأَرْضَ فِي يَوْمَيْنِ ثُمَّ خَلَقَ السَّمَاءَ ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءِ فَسَوَّاهُنَّ فِي يَوْمَيْنِ آخَرَيْنِ ثُمَّ دَحَا الْأَرْضَ وَدَحْوُهَا أَنْ أَخْرَجَ مِنْهَا الْمَاءَ وَالْمَرْعَى وَخَلَقَ الْجِبَالَ وَالْجِمَالَ وَالْآكَامَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي يَوْمَيْنِ آخَرَيْنِ فَذَلِكَ قَوْلُهُ { دَحَاهَا } وَقَوْلُهُ { خَلَقَ الْأَرْضَ فِي يَوْمَيْنِ } فَجُعِلَتْ الْأَرْضُ وَمَا فِيهَا مِنْ شَيْءٍ فِي أَرْبَعَةِ أَيَّامٍ وَخُلِقَتْ السَّمَوَاتُ فِي يَوْمَيْنِ { وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا } سَمَّى نَفْسَهُ ذَلِكَ وَذَلِكَ قَوْلُهُ أَيْ لَمْ يَزَلْ كَذَلِكَ فَإِنَّ اللَّهَ لَمْ يُرِدْ شَيْئًا إِلَّا أَصَابَ بِهِ الَّذِي أَرَادَ فَلَا يَخْتَلِفْ عَلَيْكَ الْقُرْآنُ فَإِنَّ كُلًّا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ}


Artinya:
Thawus mengajarkan pelajaran Ibnu Abbas RA, “Maksud Perintah Allah pada bumi dan langit: ‘datanglah kalian berdua, dengan taat atau terpaksa !’ adalahwujudlah kalian berdua ! Dengan taat atau terpaksa !’. 
Langit dan bumi berdoa ‘kami wujud dengan taat.”
Al-Minhal (الْمِنْهَالُ) menyampaikan pelajaran dari seorang tabi bernama Said bin Jubair (سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ): “Seorang lelaki, bertanya pada Ibnu Abbas RA ‘sungguh saya menjumpai beberapa Ayat yang bertentangan, dalam Al-Qur’an:
·         فَإِذَا نُفِخَ فِي الصُّورِ فَلَا أَنْسَابَ بَيْنَهُمْ يَوْمَئِذٍ وَلَا يَتَسَاءَلُونَ  [المؤمنون/101]. Artinya: Ketika sangkakala telah ditiup, sontak tiada hubungan keluarga, dan mereka takkan saling bertanya. وَأَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلَى بَعْضٍ يَتَسَاءَلُونَ [الصافات/27]. Artinya: Sebagian mereka menghadap pada sebagian, saling bertanya. يَوْمَئِذٍ يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَعَصَوُا الرَّسُولَ لَوْ تُسَوَّى بِهِمُ الْأَرْضُ وَلَا يَكْتُمُونَ اللَّهَ حَدِيثًا  [النساء/42]. Artinya: Di hari itu kaum yang telah kafir dan menentang rasul, berangan-angan ‘kalau mereka disamakan dengan bumi’, dan mereka takkan mampu menyembunyikan cerita pada Allah. ثُمَّ لَمْ تَكُنْ فِتْنَتُهُمْ إِلَّا أَنْ قَالُوا وَاللَّهِ رَبِّنَا مَا كُنَّا مُشْرِكِينَ [الأنعام/23]. Artinya: Lalu fitnah yakni kerusakan mereka tiada lain, kecuali pernyataan ‘demi Allah Tuhan kami, kami dulu bukan kaum musyrik’. Sungguh berdasarkan Ayat ini, mereka menyembunyikan kekufuran.
·         Dia berfirman ‘أَأَنْتُمْ أَشَدُّ خَلْقًا أَمِ السَّمَاءُ بَنَاهَا رَفَعَ سَمْكَهَا فَسَوَّاهَا وَأَغْطَشَ لَيْلَهَا وَأَخْرَجَ ضُحَاهَا وَالْأَرْضَ بَعْدَ ذَلِكَ دَحَاهَا [النازعات/27-30]’. Artinya: Apakah kalian lebih dahsyat? Ataukah langit yang telah Allah buat? Allah telah meninggikan atapnya, lalu menyempurnakan dia. Dan menutupkan malamnya, dan mengeluarkan terangnya. Dan bumi setelah itu, Dia bentangkan?. Lalu berfirman di dalam Surat lain (Fusshilat)قُلْ أَئِنَّكُمْ لَتَكْفُرُونَ بِالَّذِي خَلَقَ الْأَرْضَ فِي يَوْمَيْنِ وَتَجْعَلُونَ لَهُ أَنْدَادًا ذَلِكَ رَبُّ الْعَالَمِينَ وَجَعَلَ فِيهَا رَوَاسِيَ مِنْ فَوْقِهَا وَبَارَكَ فِيهَا وَقَدَّرَ فِيهَا أَقْوَاتَهَا فِي أَرْبَعَةِ أَيَّامٍ سَوَاءً لِلسَّائِلِينَ ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءِ وَهِيَ دُخَانٌ فَقَالَ لَهَا وَلِلْأَرْضِ اِئْتِيَا طَوْعًا أَوْ كَرْهًا قَالَتَا أَتَيْنَا طَائِعِينَ [فصلت/9-11]]’. Artinya: Katakan ‘masyak kalian mengkufuri pada yang membuat bumi di dalam dua hari? Dan (masyak) kalian menjadikan sekutu-sekutu untuk-Nya? Itulah Tuhan seluruh alam. Dia menjadikan gunung-gunung di atasnya, memberi barakah di dalamnya, dan menqadar fasilitas-fasilitas (perlengkapan)nya, di dalam empat hari yang sama, (sebagai jawaban) untuk kaum Tanya. Lalu Dia sengaja pada langit yang saat itu masih kabut (asap). Untuk perintah padanya dan pada bumi ‘wujudlah dengan taat atau terpaksa!’. Mereka berdua berdoa ‘kami wujud dengan taat’.” Di Ayat ini, Dia menjelaskan ciptaan bumi sebelum langit?
·         Dia juga berfirman ‘{ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا } { عَزِيزًا حَكِيمًا } { سَمِيعًا بَصِيرًا }’. Artinya: Dan sejak dulu Allah Maha pengampun Maha penyayang. Maha Mulia Maha bijaksana. Maha mendengar Maha melihat. Sungguh sepertinya sifat Maha pengampun Maha penyayang. Maha Mulia Maha bijaksana, telah berlangsung sejak zaman dahulu, lalu berkelanjutan?.”

·         “فَإِذَا نُفِخَ فِي الصُّورِ فَلَا أَنْسَابَ بَيْنَهُمْ يَوْمَئِذٍ وَلَا يَتَسَاءَلُونَ [المؤمنون/101]. Artinya: Ketika sangkakala telah ditiup, sontak tiada hubungan keluarga, dan mereka takkan saling bertanya. Ini terjadi pada tiupan sangakakala pertama kali. Lalu sangkakala ditiup lagi. Allah menjelaskan ‘فَصَعِقَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ إِلَّا مَنْ شَاءَ اللَّهُ [الزمر/68]’. Artinya: Sontak orang yang di beberapa langit dan bumi mati, kecuali yang Allah kehendaki. Terjadinya ‘sontak tiada hubungan keluarga, dan mereka takkan saling bertanya’, saat itu. Lalu dalam tiupan terakhir (kebangkitan), ‘sebagian mereka menghadap pada sebagian, dengan saling bertanya’. Adapun penjelasan Allah, mengenai ucapan kaum kafir ‘kami dulu bukan kaum Musyrik’, dan penjelasan Allah sebelumnya, mengeni kaum musyrik nanti ‘dan mereka takkan meyembunyikan cerita pada Allah’. Karena Allah akan mengampuni dosa-dosa kaum yang memurnikan niat dan agama (أَهْل الْإِخْلَاصِ). Kaum musyrik berkata ‘ayo kita berkata kami dulu bukan kaum musyrik’. Sontak mulut-mulut dikunci, hingga tangan-tangan mereka berbicara. Saat itu, diketahui bahwa tidak ada berita yang bisa disembunyikan di sisi Allah, dan saat itu pula, kaum yang telah kafir dan menentang rasul, berangan-angan ‘kalau mereka disamakan dengan bumi’ seperti yang diterangkan dalam Ayat
·         Dan Allah membuat bumi di dalam dua hari, lalu membuat langit. Maksudnya lalu PerhatianNya diarahkan pada calon langit, untuk disempurnakan menjadi tujuh langit, di dalam dua hari yang lain. Lalu menyempurnakan bumi dengan cara, mengeluarkan mata airnya, menumbuhkan rerumputan, membuat gunung-gumung, bukit-bukit, dataran tinggi, dan tonjolan di antara itu, dalam dua hari yang lain. Itulah maksud dari Firman ‘وَالْأَرْضَ بَعْدَ ذَلِكَ دَحَاهَا [النازعات/30]’. Artinya: Dan bumi setelah itu; Dia bentangkan (dan seterusnya). Sedangkan FirmaNya ‘قُلْ أَئِنَّكُمْ لَتَكْفُرُونَ بِالَّذِي خَلَقَ الْأَرْضَ فِي يَوْمَيْنِ]]’. Artinya: Katakan ‘masyak kalian mengkufuri pada yang membuat bumi di dalam dua hari’. Artinya bumi dan semua yang berada di dalamnya berupa apa saja, dibuat selama empat hari. Beberapa langit juga dibuat selama dua hari. Dan sejak dulu Allah Maha pengampun Maha penyayang, Allah menyebutkan demikian dan itulah FirmanNya. Maksudnya bersifat demikian terus menerus. Sungguh sesuatu yang dikehendaki oleh Allah maka pasti terwujud. Maka jangan ada isi Al-Qur’an yang pengertiannya bertentangan atasmu, karena semuanya berasal dari Allah.”[2]



Ponpes Mulya Abadi Mulungan


[1] Sebagian pengertian dari dua Ayat ini: أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ قُلْ فَأْتُوا بِعَشْرِ سُوَرٍ مِثْلِهِ مُفْتَرَيَاتٍ وَادْعُوا مَنِ اسْتَطَعْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ فَإِنْ لَمْ يَسْتَجِيبُوا لَكُمْ فَاعْلَمُوا أَنَّمَا أُنْزِلَ بِعِلْمِ اللَّهِ وَأَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ فَهَلْ أَنْتُمْ مُسْلِمُونَ [هود/13، 14], adalah, teori bisa dikatakan benar bila telah teruji kebenarannya.
[2] Lelaki yang bertanya pada Ibnu Abbas ini bernama Nafi bin Al-Azraq (نَافِع بْن الْأَزْرَق) yang akhirnya menjadi pimpinan Khawarij.

1 komentar: