SELAMAT DATANG DI BLOG PONDOK PESANTREN MULYA ABADI, JL. MAGELANG KM 8.5 SLEMAN YOGYAKARTA, SEMOGA BLOG INI BISA MENJADI SILATURAHMI KITA UNTUK SALING BERBAGI

2011/10/08

Abu Barzah Sahabat Rasulillah SAW



Sekitar tahun 63 hingga 64 Hijriah, terjadi Pertempuran antar Muslimiin. Padahal sebetulnya saat itu justru Allah telah memberi mereka, Kekayaan yang melimpah ruah. Dan semua musuh besar telah dilumpuhkan. Dalam suasana tidak nyaman itulah, Abul-Minhal bersama ayahnya datang ke hadirat seorang sahabat nabi SAW bernama Abu Barzah.

Bukhari meriwayatkan tentang itu: صحيح البخاري - (ج 22 / ص 9)

6579 - حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ يُونُسَ حَدَّثَنَا أَبُو شِهَابٍ عَنْ عَوْفٍ عَنْ أَبِي الْمِنْهَالِ قَالَ
لَمَّا كَانَ ابْنُ زِيَادٍ وَمَرْوَانُ بِالشَّأْمِ وَوَثَبَ ابْنُ الزُّبَيْرِ بِمَكَّةَ وَوَثَبَ الْقُرَّاءُ بِالْبَصْرَةِ فَانْطَلَقْتُ مَعَ أَبِي إِلَى أَبِي بَرْزَةَ الْأَسْلَمِيِّ حَتَّى دَخَلْنَا عَلَيْهِ فِي دَارِهِ وَهُوَ جَالِسٌ فِي ظِلِّ عُلِّيَّةٍ لَهُ مِنْ قَصَبٍ فَجَلَسْنَا إِلَيْهِ فَأَنْشَأَ أَبِي يَسْتَطْعِمُهُ الْحَدِيثَ فَقَالَ يَا أَبَا بَرْزَةَ أَلَا تَرَى مَا وَقَعَ فِيهِ النَّاسُ فَأَوَّلُ شَيْءٍ سَمِعْتُهُ تَكَلَّمَ بِهِ إِنِّي احْتَسَبْتُ عِنْدَ اللَّهِ أَنِّي أَصْبَحْتُ سَاخِطًا عَلَى أَحْيَاءِ قُرَيْشٍ إِنَّكُمْ يَا مَعْشَرَ الْعَرَبِ كُنْتُمْ عَلَى الْحَالِ الَّذِي عَلِمْتُمْ مِنْ الذِّلَّةِ وَالْقِلَّةِ وَالضَّلَالَةِ وَإِنَّ اللَّهَ أَنْقَذَكُمْ بِالْإِسْلَامِ وَبِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى بَلَغَ بِكُمْ مَا تَرَوْنَ وَهَذِهِ الدُّنْيَا الَّتِي أَفْسَدَتْ بَيْنَكُمْ إِنَّ ذَاكَ الَّذِي بِالشَّأْمِ وَاللَّهِ إِنْ يُقَاتِلُ إِلَّا عَلَى الدُّنْيَا وَإِنَّ هَؤُلَاءِ الَّذِينَ بَيْنَ أَظْهُرِكُمْ وَاللَّهِ إِنْ يُقَاتِلُونَ إِلَّا عَلَى الدُّنْيَا وَإِنْ ذَاكَ الَّذِي بِمَكَّةَ وَاللَّهِ إِنْ يُقَاتِلُ إِلَّا عَلَى الدُّنْيَا.


Arti selain isnadnya:
Abul-Minhal berkata, “Ketika Ibnu Ziyad dan Marwan (memimpin gerakan) di Syam; Ibnu Zubair (memimpin gerakan) di Makkah; Al-Qurra’ (kaum Khawarij yang hafal Al-Qur’an (memimpin gerakan) di Basra; Saya bersama ayah pergi menuju Abi Barzah Al-Aslami (أَبِي بَرْزَةَ الْأَسْلَمِيِّ), hingga kami berhasil memasuki rumah beliau, di pertengahan perumahan (keluarga besar)nya. Saat itu dia sedang duduk di bawah naungan rumah susunnya, dari bambu. Kami duduk mendekati dia.
Ayah saya mulai minta hidangan istimewa berbentuk Pertanyaan Hadits ‘ya Aba Barzah, bukankah kau tahu Fitnah yang melanda manusia?’. 
Awal yang dibicarakan oleh Abu Barzah yang saya dengar ‘saya telah pagi-pagian mencari Pahala di sisi Allah, saya telah pagi-pagian marah pada beberapa kelompok Quraisy. Sungguh kalian hai kaum Arab, kalian dulu hina, sedikit, dan sesat, kalian sendiri tahu. Dan sungguh Allah telah menyelamatkan kalian melalui Islam dan Muhammad SAW, hingga Allah mendatangkan kalian pada Kenyataan yang kalian saksikan. Dan duniawi ini yang telah merusak hubungan antar kalian. Sungguh (Marwan) yang di Syam itu, demi Allah tidak berperang kecuali karena duniawi. Sungguh mereka (Al-Qurra’) yang di pertengahan kalian ini, demi Allah tidak berperang kecuali karena duniawi. Dan sungguh itu (Ibnu Zubair) yang di Makkah, demi Allah tidak berperang kecuali karena duniawi’.”

Sudah menjadi kebiasaan Abul-Minhal dan tabiin lainnya, menjelaskan ilmu hanya intinya saja.

Ibnu Chajar menjelaskan, “Mestinya kisah itu berawal dari Ibnu Ziyad sebagai raja bawahan Raja Yazid bin Muawiyah, diusir dari kota Basra, sehingga dia pergi ke Syam untuk bergabung pada Marwan.
Pengusiran berawal dari Ibnu Ziyad menjelaskan bahwa Raja Yazid wafat. Lalu terjadi perselisihan di Syam.
Penduduk Basra mengusir Ibnu Ziyad, karena merasa lebih senang mengatur urusan negeri mereka sendiri, dan mengangkat raja sendiri.
Ibnu Ziyad menghalang-halangi Salamah bin Dzuaib yang menganjurkan sejumlah Muslimiin agar berbaiat untuk mengangkat Ibnu Zubair sebagai raja (amir). Namun usahanya gagal. 
Ibnu Ziyad memohon perlindungan pada Charits bin Qais, agar tidak dibunuh oleh sejumlah orang berbahaya.

Di malam gelap itu Charits bin Qais membawa Ibnu Ziyad menuju rumah kediaman Mas’ud bin Amer (مَسْعُود بْن عَمْرو), untuk diamankan

Kufah saat itu sangat genting, sejumlah tokoh dan rakyat Basra berselisih, hingga mereka mengangkat Abdullah bin Al-Charits bin Naufal sebagai raja (amir) mereka.
Mas’ud bin Amer terancam kehidupannya, karena adanya raja baru bernama Abdullah bin Al-Charits. 
Mas’ud dibunuh ketika sedang berkhotbah di atas mimbar, pada bulan Syawal tahun 64 Hijriah. 
Ibnu Ziyad yang dikawal oleh 100 pasukan Mas’ud, dikejar dan kekayaannya dijarah.

Singkat cerita bahwa tokoh-tokoh Muslimiin berperang karena duniawi. Maka yang paling penting untuk dicatat, Fatwa Abu Barzah pada dua tamunya yang datang untuk berguru.


Timbul pertanyaan, “Kenapa Abu Barzah tidak menyebutkan nama para tokoh itu?.”
Jawabannya, “Karena rahasia yang harus ditutup. Dan karena Ibnu Zubair seorang sahabat nabi SAW, maka haram digunjing. Dia termasuk sahabat nabi yang rajin sahalat malam, membaca Al-Qur’an dan puasa sunnah.
Tentang Ibnu Zubair, Abdul-Malik mengatakan, “Dia lelaki terberani sejagad.”
Menurut riwayat, “Dia RA orang yang dijamin oleh nabi SAW takkan tersentuh api neraka.

Ponpes Kutubussittah Mulya Abadi Mulungan Sleman Jogjakarta Indonesia

0 komentar:

Posting Komentar