SELAMAT DATANG DI BLOG PONDOK PESANTREN MULYA ABADI, JL. MAGELANG KM 8.5 SLEMAN YOGYAKARTA, SEMOGA BLOG INI BISA MENJADI SILATURAHMI KITA UNTUK SALING BERBAGI

2011/05/05

KW 42: Saat Itu Hampir Pagi


(Bagian ke-42 dari seri tulisan Khalid bin Walid)
Tamim bin Adi tergolong pasukan di bawah komando Abu Ubaidah. Dia berkisah, “Saya pernah di dalam tenda Abi Ubaidah[1]. Saat itu Abu Ubaidah sedang sholat. Tiba-tiba dia mendengar jeritan. Setelah salam dia berkata ‘laa chaula wa laa quwwata illaa billaahil Aliyyil Adziim[2]. Dia mengambil pedang lalu menata pasukannya, lalu bergerak ke arah suara gaduh. Suara gaduh semakin jelas ketika Abu Ubaidah dan pasukannya mendekat.
Abu Ubaidah berlari lagi menyeberangi orang-orang yang berperang untuk menuju pintu gerbang. Di sana dia bertakbir keras diikuti takbir Muslimiin lainnya. Ledakan takbir yang membahana membuat orang-orang musyrik ketakutan karena menyangka ada bala bantuan Muslimiin datang dari belakang.
Kaum musyrik mundur dan lari ke belakang kearah pintu gerbang . Ternyata justru mereka bertemu Abu Ubaidah dan pasukannnya yang baru saja datang. Abu Ubaidah dan pasukannya menyambut kedatangan kaum musyikiin dengan pedang yang diayun-ayunkan. Tak seorang pun dari kaum musyrikiin yang disisakan hidup oleh Abu Ubaidah dan pasukannya.
Damaskus banjir darah merah; manusia berguguran; banyak sekali yang menangis histeris, banyak orang ketakutan; langit seakan-akan gelap-gulita.

Dhirar bin Al-Azwar muncul dalam keadaan berlumuran darah. Khalid bertanya, “Ada apa denganmu?.”
Dhirar menjawab, “Berbahagialah, malam ini saya telah membunuh 150 tentara. Jumlah keseluruhan tentara mereka yang dibunuh oleh pasukanku lebih banyak lagi. Saking banyaknya saya tidak bisa menghitung jumlahnya. Kini pintu gerbang kecil itu kuserahkan  agar dijaga Yazid bin Abi Sufyan. Selanjutnya saya berkeliling menuju beberapa pintu gerbang untuk membunuh musuh yang jumlahnya tak terhitung lagi.”
Khalid tersenyum bahagia, lalu mengajak berjalan menuju Syurachbil bin Chasanah. Di malam yang diterangi oleh bulan itu Syurachbil telah memenangkan peperangan. Beribu-ribu pasukan Romawi tewas oleh keganasan pedang kaum Muslimiin.

Di waktu bahagia tapi tegang bagi kaum Muslimiin itu; tokoh-tokoh Damaskus berkumpul di hadirat Tuma. Mereka berkata, “Tuan yang mulia, kami telah memohon agar tuan berdamai dengan mereka, namu tuan tidak memperdulikan, padahal kebanyakan pasukan kita telah gugur. Dan pimpinan tertinggi mereka tidak mungkin bisa kita tangkap. Kalau tuan mau berdamai kami kira lebih baik bagi tuan sendiri dan bagi kami semuanya. Kalau tuan bersikeras tidak mau berdamai, terpaksa kami berdamai dengan mereka, sedangkan tuan terserah tuan sendiri.”
Tuma berkata, “Sebentar !, jangan tergesa-gesa!. Saya mau kirim surat dulu pada Raja Hiraqla, untuk menjelaskan keadaan sebenarnya.” 
Dia segera menulis surat:
Kepada Raja yang bijaksana; dari Tuma menantu tuan, amma ba’d:
Kaum Arab telah mengepung kami seperti putihnya mata mengelilingi hitamnya mata. Mereka lah yang telah menaklukkan kita di dalam perang Najdin secara besar-besaran. Kini mereka datang untuk mengepung kami. Jumlah pasukan kami yang gugur dalam peperangan yang baru saja selesai banyak sekali. Saya telah berjuang mati-matian namun justru mata saya luka berat. Kini saya akan berdamai dengan mereka dengan resiko memberi pajak pada kaum Arab. Kalau tuan tidak setuju sebaiknya tuan datang kemari atau mengirmkan bala-bantuan untuk menyerang mereka. Namun jika tuan menyetujui rencana damai kami, memang kami sedang kesulitan.”
Surat ditekuk lalu dicap, lalu diberikan seorang agar dikirimkan pada raja. Saat itu hampir pagi.

[1] Bagi bangsa Arab: Abu, Aba, dan Abi, adalah sama.
[2] لا حول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم.

0 komentar:

Posting Komentar