SELAMAT DATANG DI BLOG PONDOK PESANTREN MULYA ABADI, JL. MAGELANG KM 8.5 SLEMAN YOGYAKARTA, SEMOGA BLOG INI BISA MENJADI SILATURAHMI KITA UNTUK SALING BERBAGI

2015/01/29

PS 21: Pembebasan Syam




Di kubu kaum kafir, sebelum perang mati-matian, sebuah ‘Upacara Sacral’ dilaksanakan. Di dalam istana megah itu, sang raja memberikan mahkota dan Salib emas pada Wardan. Empat sisi Salib gemerlapan, oleh empat mutiara yaqut  yang sangat mahal. Kedudukan Salib itu begitu agung buat mereka.

Raja berpesan, “Jika kaum Arab menyerangmu! Letakkanlah Salib ini di depanmu. Dia akan menolongmu!." 
Pesan itu didengar dengan seksama oleh Wardan dan seluruh hadirin. 

Wardan segera masuk gereja dengan mengenakan mahkota dan membawa Salib. Di dalam gereja, dia menceburkan diri ke dalam air Al-Amudiyyah. Setelah selesai, tubuhnya diolesi minyak Bakhur (بخور)
, dari gereja. Sejumlah Rahib memberkati dia.

Wardan keluar dari gereja menuju tenda besar di luar kota
, yang telah dipersiapkan.  Sementara, di tanah lapang semakin ramai oleh penduduk yang melaut, ingin menyaksikan pasukan Wardan diberangkatkan.

Raja didampingi pasukan pengawal, berkuda, masuk ke tanah lapang. Ia mengantar Wardan dan pasukannya hingga Jisri Al-
Hadid (Jembatan Besi). 

Arak-arakan pasukan Wardan melanjutkan perjalanan, sampai di kota Chamah. Melalui utusan, Wardan mengirimkan surat-raja, pada pasukan Romawi yang berada di Ajnadin.
Surat itu berisi perintah agar pasukan berpencar untuk menghalangi pasukan Khalid. Agar tidak bergabung dengan bala bantuan Arab yang datang di bawah pimpinan Amr bin Al-Ash.
Sejumlah bathriq, dikumpulkan oleh Wardan, untuk dinasehati, “Saya akan berjalan ke Ajnadin melalui jalan Mars (طريق مارس), di waktu orang-orang sedang lengah. Semua pasukan Arab akan saya bunuh.”
Namun, ketika malam telah kelam, Wardan justru berjalan membawa pasukannya
, melewati jurang Chayah. Yaitu jalan yang juga menuju Ajnadin. Perpindahan jalur ini siasat Wardan.


Futuhus-Syam (sebuah kitab kuning) mencatat laporan Syadad bin Aus, yang saat itu ikut berperang:

“Setelah melewati beberapa kota dan membunuh dua bathriq, Khalid memerintahkan kami, agar merayap dengan membawa perisai untuk menangkis batu dan anak panah yang menyerang. Dalam berjuang menembus benteng kota Damaskus. 
Begitu tahu bahwa kami telah mengepung, penduduk Damaskus melempari kami dengan batu dan anak panah dari atas benteng. Namun, jumlah kami yang semakin banyak membuat mereka gentar.
Kami mengepung mereka selama 20 hari. Di hari ke-20, kami dikejutkan oleh Nawi bin Murrah yang memberitakan bahwa ‘bala bantuan (untuk musuh) dari Romawi, berjumlah banyak sekali, telah berdatangan ke kota Ajnadin’.

Khalid bergerak cepat menuju pintu gerbang Jabiyyah, untuk minta petunjuk Abu Ubaidah. 
Khalid berkata, Wahai Kepercayaan Umat ini! Saya berpendapat sebaiknya kau giring pasukan ini menuju Ajnadin. Kita perangi kaum Romawi di sana. Jika Allah memberi kemenangan, kita kembali lagi ke sini untuk memerangi orang-orang di sini’.
Abu Ubaidah menjawab, Itu bukan pendapat yang tepat’.
Kenapa?’.
Jika kita pergi, mereka akan menempati posisi kita ini. Saya kenal lelaki yang tak takut mati dan pandai berperang. Ayah dan kakeknya telah wafat dalam Perang Sabil. Bagaimana kalau kita utus dia menuju Ajnadin?’.
Siapa dia?’.
Dhirar bin Al-Azwar bin Thariq (ضرار بن الأزور بن طارق).
Idemu tepat sekali. Dia lelaki yang sanggup berjuang mati-matian. Utuslah dia!’.

Khalid bergerak cepat untuk perintah, agar Dhirar datang menghadap. Tak lama kemudian Dhirar datang.
Khalid berkata, Hai putra Azwar (Dhirar)! Kau saya tugaskan memimpin 5.000 pasukan, untuk melawan musuh yang datang ke mari. Kalau kau merasa mampu melawan mereka! Lawanlah! Namun, jika kau merasa tak mampu, maka panggillah kami!’.
Dhirar berkata, Oh, saya sangat bahagia dengan tugas ini. Kalau perlu saya sendiri yang akan melawan mereka’.
Jangan! Itu namanya bunuh diri! Berangkatlah bersama orang-orang yang akan mendampingimu! kata Khalid.

Dhirar bergegas hendak meninggalkan tempat.
Khalid menahan,
Sebentar! Tunggulah sampai orang-orang yang mendampingimu berkumpul!’.
Dhirar berkata, Saya akan segera berangkat! Kalau yang ditugaskan mendampingi saya, orang-orang baik! Pasti segera menyusul saya!’.  

Dhirar tidak main-main, dia benar-benar berangkat bergegas dengan kudanya, hingga akhirnya sampai ke rumah peribadatan bernama Baitu Lahya (بيت لهيا), yang di dalamnya terdapat berhala-berhala yang disembah. Di situlah dia berhenti menunggu teman-temannya.

Semakin lama, teman-t
emannya yang datang semakin banyak. Ketika semua telah datang, Dhirar melihat dari jauh. Banyak sekali pasukan Romawi berbaju perang merayap turun. Terlihat dari kejauhan; mereka berjumlah ribuan, seperti kawanan belalang.

Sinar mentari pagi itu menerangi perisai-perisai dan jalan yang mereka lalui.
Para sahabat nabi SAW berkata pada Dhirar, Jumlah bala bantuan musuh banyak sekali! Sebaiknya kita kembali pada pasukan induk!’.
Dhirar menjawab dengan lantang, Saya tak akan berhenti mengayunkan pedang di Jalan Allah! Semoga Allah menyaksikan saya tidak lari dari perang! Karena Allah berfirman: Jangan kalian hadapkan dubur-dubur pada mereka (lari dari musuh). Barang siapa di hari itu menghadapkan duburnya pada musuh, berarti telah kembali membawa murka dari Allah. Kecuali untuk menghindar atau bergabung pada pasukan (untuk menyusun siasat) (Al-Anfal: 16)’.

Rafi’ bin Umairah At-Thoi (رافع بن عميرة الطائي), yang saat itu ikut dalam perang tersebut, berkata, ‘Kenapa kalian takut pada jumlah musuh yang banyak?  Bukankah Allah telah menolong kalian berkali-kali di beberapa tempat? Pertolongan selalu datang setelah berjuang. Kita harus sadar bahwa kita telah berkali-kali menghadapi pasukan musuh berjumlah banyak maupun sedikit. Ikutilah jalan orang-orang iman! Dan memohonlah pada Tuhan! Ucapkan doa kaum Tholut (Syaul)!’ Di saat bertemu Raja Jalut (Goliath):
‘Wahai Tuhan kami! Tuangkanlah kegigihan pada kami, dan tetapkanlah tumit-tumit kami (agar tidak lari dari musuh)! Dan tolonglah kami mengalahkan kaum kafir’.

Setelah mendengarkan pasukan mengucapkan doa, Dhirar segera mengajak mereka bersembunyi di balik Baitu Lahya. Dia tidak menjelaskan siasat yang akan dilakukan atas pasukan lawan. Ia malah duduk di atas kuda, tak berbaju dan tak berpedang. Membawa tombak sangat panjang dan berkhutbah pada teman-temannya…”

0 komentar:

Posting Komentar