SELAMAT DATANG DI BLOG PONDOK PESANTREN MULYA ABADI, JL. MAGELANG KM 8.5 SLEMAN YOGYAKARTA, SEMOGA BLOG INI BISA MENJADI SILATURAHMI KITA UNTUK SALING BERBAGI

2015/01/19

Aisyah dan Ali RA





Ibnu Batthal (penyarah Hadits Bukhari) mendapat kemanqulan dari Al-Muhallab, “Sungguh zhahirnya Hadits ini, Abi Bakrah ‘menyalahkan pendapat Aisyah RA’ yang telah melakukan Perang Jamal. Padahal sebetulnya tidak demikian. Sungguh pandangan Abi Bakrah yang diketahui ‘samadengan pandangan Aisyah RA’. Karena tujuan pasukan Jamal, menegakkan perdamaian antar Muslimiin. Tujuan mereka ‘bukan berperang’. Hanya ketika peperangan berkobar, masing-masing kubu melancarkan serangan. Abi Bakrah tidak menarik pandangannya yang seperti pandangan Aisya RA. Hanya sungguh saat itu, akhirnya dia berfirasat ‘pasukan Jamal’ akan kalah, karena dibawah pimpinan Aisyah. Karena Abi Bakrah pernah mendengar Hadits tentang raja Persia.
Tak seorang pun mendapatkan kemanqulan bahwa, Aisyah RA dan pasukannya ‘mencabut baiat’ dari Khalifah Ali RA. Dan tak ada yang mengatakan bahwa, ada orang ‘yang akan diangkat’ sebagai Khalifah pengganti Ali RA. Sebetulnya yang dibenci oleh Aisyah dan pasukannya ‘Ali RA tidak segera membunuh para pembunuh Utsman RA. Dia tidak segera menegakkan kisos. Walau sebetulnya Ali menunggu laporan dan tuntutan keluarga Utsman. Jika telah dipastikan siapa ‘pembunuhnya’, dipastikan segera dikisos.” [1]



[1] فتح الباري لابن حجر (13/ 56)
وَنقل بن بَطَّالٍ عَنِ الْمُهَلَّبِ أَنَّ ظَاهِرَ حَدِيثِ أَبِي بَكْرَةَ يُوهِمُ تَوْهِينَ رَأْيِ عَائِشَةَ فِيمَا فَعَلَتْ وَلَيْسَ كَذَلِكَ لِأَنَّ الْمَعْرُوفَ مِنْ مَذْهَبِ أَبِي بَكْرَةَ أَنَّهُ كَانَ عَلَى رَأْيِ عَائِشَةَ فِي طَلَبِ الْإِصْلَاحِ بَيْنَ النَّاسِ وَلَمْ يَكُنْ قَصْدُهُمُ الْقِتَالَ لَكِنْ لَمَّا انْتَشَبَتِ الْحَرْبُ لَمْ يَكُنْ لِمَنْ مَعَهَا بُدٌّ مِنَ الْمُقَاتَلَةِ وَلَمْ يَرْجِعْ أَبُو بَكْرَةَ عَنْ رَأْيِ عَائِشَةَ وَإِنَّمَا تَفَرَّسَ بِأَنَّهُمْ يُغْلَبُونَ لَمَّا رَأَى الَّذِينَ مَعَ عَائِشَةَ تَحْتَ أَمْرِهَا لِمَا سَمِعَ فِي أَمْرِ فَارِسٍ قَالَ وَيَدُلُّ لِذَلِكَ أَنَّ أَحَدًا لَمْ يَنْقُلْ أَنَّ عَائِشَةَ وَمَنْ مَعَهَا نَازَعُوا عَلِيًّا فِي الْخِلَافَةِ وَلَا دَعَوْا إِلَى أَحَدٍ مِنْهُمْ لِيُوَلُّوهُ الْخِلَافَةَ وَإِنَّمَا أَنْكَرَتْ هِيَ وَمَنْ مَعَهَا عَلَى عَلِيٍّ مَنْعَهُ مِنْ قَتْلِ قَتَلَةِ عُثْمَانَ وَتَرْكِ الِاقْتِصَاصِ مِنْهُمْ وَكَانَ عَلِيٌّ يَنْتَظِرُ مِنْ أَوْلِيَاءِ عُثْمَانَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَيْهِ فَإِذَا ثَبَتَ عَلَى أَحَدٍ بِعَيْنِهِ أَنَّهُ مِمَّنْ قَتَلَ عُثْمَانَ اقْتَصَّ مِنْهُ.

0 komentar:

Posting Komentar