SELAMAT DATANG DI BLOG PONDOK PESANTREN MULYA ABADI, JL. MAGELANG KM 8.5 SLEMAN YOGYAKARTA, SEMOGA BLOG INI BISA MENJADI SILATURAHMI KITA UNTUK SALING BERBAGI

2012/01/15

Pengajian Cepatan

Beberapa orang bertanya, “Kenapa pengajian Hadits di Pondok Mulungan sangat cepat? Apa mereka bisa menangkap?.” Bahkan ada yang melontarkan pertanyaan demikian di dalam musyawarah para tokoh yang menurut saya kurang pas, karena kami dan orang-orang yang mengikuti pengajian kami tidak dihadirkan agar bisa menjawab.
Pengajian cepatan yang kami sampaikan justru disenangi oleh mereka yang ingin segera khatam kitab-kitab besar. Kalau pengajian disampaikan dengan pelan mereka justru akan lari, karena membosankan, karena Hadits dalam kitab-kitab besar hanya diulang-ulang, dan mereka sudah banyak menghafal arti dari tiap kalimat Arab.
Pengartian lughat kami paskan sesuai dengan nahwu, sharraf, dan lughat, karena dulu KH Nurhasan juga begitu. Bedanya hanya: beliau dengan bahasa Jawa, dan lebih mumpuni. Pengartian lafal yang pas sangat membantu dalam memahami isi dari Hadits yang dikaji, karena bahasa adalah alat berkomunikasi. Sesulit apapun dalam mengkaji Al-Qur’an dan Al-Hadits, sebetulnya keterangannya ada di dalam huruf-huruf atau bentuk dari kata yang ada. Contoh: فَلَا اقْتَحَمَ الْعَقَبَةَ [البلد/11]. Artinya: Namun dia tidak melakukan Aqabah. Bagi yang mengartikan ayat itu: “Maka dia tidak melakukan Aqabah,” pasti ada pengertian yang belum dia pahami. Dia pasti tidak tahu bahwa kalimat ayat itu menunjukkan yang dibahas sebelumnya belum selesai, dan kalimat itu sebagai terusannya. Tetapi jika, “Fa,” nya diartikan ‘namun’, pasti jadi PLONG,  maksudnya langsung bisa memahami maksud dari ayat itu.
Memang kami menyampaikan kajian dengan cepat, tetapi kami menyampaikan arti lafal dan huruf dengan pas sehingga jika telah dideres akan tahu maksudnya.
KH Anshar pernah menjawab, “Dia orang mati di dalam kubur itu,” pada pertanyaan saya ‘yang membaca surat Tabarak itu orang hidup yang berada di kubur atau yang berada di dalam kubur?’. Beliau mengatakan, “Yang saya terima dari KH Nurhasan ya begitu itu.”
Saya telah mati-matian mencari rujukan dari keterangan itu. Ternyata di dalam syarah Tirmidzi dijelaskan dengan sangat ringkas, hanya dijelaskan rahasia arti dari huruf ‘idza’ dalam Hadits itu: تحفة الأحوذي - (ج 7 / ص 208)
فَاِذَا لِلْمُفَاجَأَةِ
Artinya: Faidzaa ini untuk menyatakan terkejut (di luar dugaan).
Keterangan ini PLONG jadinya, kenapa KH Nurhasan menjelaskan, “Amalan orang yang telah lama dikubur itu masih bisa didengar, berupa bacaan surat Tabarak.” Jika Ibnu Katsir dikaji maka lebih plong lagi. Di sana dijelaskan: “Memang sebelum nabi SAW diutus, surat Tabarak pernah diturunkan pada seorang nabi AS.” Makanya dia tidak tahu kalau di bawah tendanya adalah kuburan insan yang dulu suka membaca surat Tabarak, karena kuburan itu sudah terlalu lama. Allah menunjukkan pada umat Muhammad SAW mengenai kefadhalan surat Tabarak melaui kenyataan yang unik itu dan melalui sabda nabi SAW:
هِيَ الْمَانِعَةُ هِيَ الْمُنْجِيَةُ تُنْجِيهِ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ

Itulah yang kami lakukan di dalam menyampaikan kajian kitab-kitab besar.


Tulisan ini bisa dicari di: http://www.mulungan.org/index.php/component/content/article/39-kajian-hadits/403-pengajian-cepatan

0 komentar:

Posting Komentar