SELAMAT DATANG DI BLOG PONDOK PESANTREN MULYA ABADI, JL. MAGELANG KM 8.5 SLEMAN YOGYAKARTA, SEMOGA BLOG INI BISA MENJADI SILATURAHMI KITA UNTUK SALING BERBAGI

2012/01/07

KW 173: Dakwah ke Negri Anthakiyah

 (Bagian ke-173 dari seri tulisan Khalid bin Walid)

Maisarah bin Masruq veteran Perang Futuchussyam, berkisah:
“Kami tertegun oleh pemandangan negeri Anthakiyah yang subur lagi indah. Berudara sejuk dan berair melimpah. Kaum Muslimiin sangat berbahagia, ketika dianugrahi negeri itu oleh Allah Taala. Kami sangat ingin beristirahat di negri itu selama sebulan, tetapi Abu Ubaidah RA hanya tinggal di situ selama tiga hari. 

Abu Ubaidah mengirimkan surat pada Umar RA: ‘Salamun alaik. Sungguh saya memuji Allah satu-satunya Tuhan yang harus disembah. Saya berdoa semoga shalawat tercurah pada nabi SAW. Saya sangat bersyukur atas Anugrah Allah berupa kemenangan besar dan rampasan perang yang melimpah. 
Ya Ammiral Mu’miniin, sungguh tahta Nashrani berbentuk negeri Anthakiyah, telah direbut oleh pasukan Muslimiin. Allah telah membuat mereka kalah, dan menolong pasukan kita, Hiraqla lari kelaut. Saya tidak mau bermukim di kota ini justru karena udaranya nyaman. Dan mengkhawatirkan kaum Muslimiin akan senang dunia dan melupakan ketaatan pada Allah. 
Saya akan pergi ke negeri Chalab (Aleppo), namun menunggu perintah Anda: Kalau Anda perintah agar saya tinggal di sini, ya saya taat. Kalau Anda memberi ijin saya pergi ke Chalab, ya saya akan pergi kesana. Saya juga melaporkan bahwa kaum Arab telah menyaksikan wanita-wanita Romawi, sehingga sama tertarik untuk menikahi mereka. Tetapi saya telah melarang. Saya khawatir jika mereka tidak dilindungi oleh Allah, akan terkena fitnah. Saya minta jawabannya segera dikirimkan kemari. Wassallamu alaika wa alaa jamii’il muslimiin.” 

Surat dilipat dan dicap. Abu Ubaidah berkata, “Ya golongan Muslimiin! Siapa yang sanggup mengantarkan surat saya pada Amirul Mu’miniin?.” 
Zaid bin Mauhib segera menjawab, “Saya! In syaa Allah, akan segera saya sampaikan pada beliau.”
Abu Ubaidah menolak, “Jangan kau! Karena kau hamba sahaya! Mintalah ijin dulu pada majikanmu mengenai tugas ini!.” 

Zaid bergegas untuk mencium dua tangan majikanya bernama Umair bin Said, yang sangat zuhud di dunia dan mementingkan akhirat. 
Umair dengan sengaja hanya memiliki harta berbentuk pedang, tombak, kuda, unta, gereba besar, piring dan kitab Al-Qur’an. Rampasan perang yang banyak yang dia dapatkan, dishodaqahkan semuanya, pada kerabat dan kaumnya. Jika masih sisa, dikirimkan pada Umar agar diberikan pada kaum Muhajiriin dan Anshar yang sama faqir.
Umair menolak keras, ketika tangannya akan dicium oleh Zaid, dan bertanya: “Apa yang kau inginkan?.” 
Zaid menjawab, “Yang mulia, saya ingin menjadi utusan kaum Muslimiin dan memberi khabar gembira pada Umar bin Al-Khatthab RA.”
Umair menjawab, “Kalau tujuanmu memberi khabar gembira pada kaum Muslimiin, buat apa saya melarang? Kalau saya melarang justru berdosa. Silahkan! Dan kau saya merdekakan demi Perhatian Allah Taala. Saya berharap Allah akan memerdekakan saya dari neraka.” 
Zaid sangat berbahagia, dan menghadap pada Abu Ubaidah, untuk mengkhabarkan bahwa dirinya telah merdeka, berkat kesanggupannya mengantarkan surat pada Umar RA.


Zaid mengendarai untanya dan memilih jalan pintas menuju Madinah. 
Sesampainya dia ke Madinah, terkejut oleh gema suara kaum Muslimiin berjumlah banyak sekali. Arak-arakan orang yang panjang sekali itu berjalan menuju Baqi dan Quba. Zaid mendekati mereka yang semula dikira akan berperang. 
Ternyata dari mereka ada pria yang dia kenal. Pria itu dipanggil dan menjawab, “Kau Zaid?.” 
Zaid menjawab, “Betul!.” 
Dia bertakbir lalu bertanya, “Kenapa kau memacu untamu agar lari kencang? Apa ada yang mengejar?.” 
Zaid menjawab, “Saya datang untuk melaporkan kemenangan. Dan kami mendapatkan jarahan berjumlah banyak sekali. Bagaimana khabar Amirul Mu’miniin Umar RA?.” 
Dia menjawab, “Beliau akan haji bersama para istri Rasulillah SAW dan kaum Muslimiin.”  

Zaid menambatkan unta lalu datang dengan bergegas, pada Umar yang sedang berjalan, diiringi hamba sahayanya yang menuntun unta. Umar diapit dua pembesar bernama Ali bin Abi Thalib di sebelah kanannya; Abbas bin Abdil-Muthallib RA di sebelah kirinya. 
Yang di belakangnya juga orang-orang besar yakni kaum Muhajiriin dan Anshar.  
Zaid mendekati Umar seraya berkata, “Assalaamu alaika ya Amiral Mu’miniin. Saya Zaid bin Waheb mantan hamba sahaya Umair. Saya menyampaikan khabar gembira.” 
Jawaban Umar RA membuat Zaid berbahagia: “Semoga Allah juga memberi kau kebaikan. Apa khabar gembiranya?.” 
Zaid memberikan surat sambil berkata, “Ini surat dari wakil baginda yakni Abu Ubaidah. Isinya berita mengenai Allah telah menganugrahkan negeri Anthakiyah pada kita, berkat perjuangan Abu Ubaidah yang mulia.”

Umar berbahagia dan bersujud sebagai pernyaan syukur pada Allah. Sejumlah tanah menempel pada kening, pipi dan jenggot Umar RA yang terlalu bahagia. Beliau mengangkat wajah seraya berkata, “Segala puji syukur bagi Allah yang telah menganugrahkan kenikmatan yang sempurna. Mana suratnya? Semoga Allah menyayang kau.”
Zaid memberikan surat pada Umar RA yang segera membuka dan membaca. 

Umar RA menangis lagi karena terharu. 
Ali RA bertanya, “Kenapa menangis?.” 
Umar menjawab, “Saya terharu karena Abu Ubaidah telah melakukan yang dilakukan oleh para muwachhidiin (kaum yang bertauhid). Sungguh hawa nafsu suka perintah pada kejelekan.” 
Lalu menyerahkan surat itu pada Ali RA, agar dibacakan pada kaum Muslimiin.

Kaum Muslimiin berkumpul untuk mendengarkan pembacaan surat dari Abu Ubaidah yang menarik.

Ketika tangisan telah reda dan wajahnya telah cerah, Umar berkata pada Zaid, “Jika kau telah kembali kesana bersyukurlah pada Allah sebesar-besarnya.” 
Lalu duduk di atas tanah, dan minta pena dan lembaran, untuk ditulisi:
بسم الله الرحمن الرحيم
Dari hamba Allah bernama Umar, untuk wakilnya bernama Abu Ubaidah Amir bin Al-Jarrach di Syam
سلام عليك
Saya memuji pada Allah satu-satunya Tuhan yang harus disembah. Dan saya berdoa semoga Allah selalu memberi shalawat pada NabiNya SAW. Rasa syukur saya panjatkan pada Allah yang telah menganugrahi kemenangan untuk kaum Muslimiin. Yang selalu memperhatikan kepada kita.
Mengenai ucapanmu, “Kami tidak bermukim di Anthakiyah karena udaranya nyaman" Sesungguhnya Allah azza wajalla tidak mengharamkan kebaikan untuk kaum Muslimiin yang beramal shalih. Allah berfirman ‘ya para rasul! Makanlah sebagain yang baik-baik dan beramal shalihlah. Sungguh Aku Maha Tahu tentang yang kalian amalkan’. Allah juga berfirman ‘ya orang-orang yang beriman, makanlah sebagaian dari yang baik-baik, yang telah Kami rizqikan pada kalian! Dan bersyukurlah pada Allah, jika kalian telah nyata hanya menyembah padaNya!’.  Kau berkewajiban memberi kesempatan istirahat, pada kaum Muslimiin, untuk menghilangkan rasa capek selama mereka memerangi kaum Kafir.
Mengenai ucapanmu ‘saya menunggu perintahmu’ maka saya perintah agar kau mengejar musuh ke negeri Addurub (الدُّرُوب). Kau yang lebih tahu tentang mereka, karena kau yang terjun ke lapangan. Ceklah kekuatan mereka melalui mata-matamu! Untuk menentukan pengejaran ini, harus dilakukan atau tidak!. Masukilah negeri mereka untuk mempersempit ruang gerak mereka. Kalau mereka mengajukan permohonan damai maka kabulkanlah!. Mengenai laporanmu 'kaum Arab ingin menikahi para wanita Romiawi', kalau memang dia tidak punya istri di negri Chijaz, biarlah. Yang ingin membeli hamba sahaya juga silahkan, karena untuk menjaga farji mereka agar tidak berzina. Mengenai saya harus 'nasehat pada Filanthanus raja Romawi' yang akan bershodaqah, biarkan saja. Karena dia memang telah sengaja meninggalkan keluarga dan kerajaannya. والسلام عليك وعلى جميع المسلمين.

Umar melipat surat lalu memberikan pada Zaid bin Wahb, dengan pesan: “Cepat sampaikan surat ini! Semoga Allah merahmati kau! Berniatlah agar Umar bergabung dalam pahala perjuangan kalian!.”

0 komentar:

Posting Komentar