SELAMAT DATANG DI BLOG PONDOK PESANTREN MULYA ABADI, JL. MAGELANG KM 8.5 SLEMAN YOGYAKARTA, SEMOGA BLOG INI BISA MENJADI SILATURAHMI KITA UNTUK SALING BERBAGI

Doa Meluluhkan Hati Seseorang

Ya Allah sungguh Engkau Maha Mulia Maha Besar. Sedangkan saya HambaMu yang sangat hina dina. Tiada upaya dan kekuatan kecuali karena Kau. Ya Allah, tundukkanlah

Doa Agar di Beri kerjaan Bisnis

Ya Allah, Raja segala Kerajaan, Tuhan memberikan Kerajaan pada yang Tuhan kehendaki, melepas Kerajaan dari yang Tuhan kehendaki, menjayakan orang yang Tuhan kehendaki, dan merendahkan orang yang Tuhan kehendaki

Sapaan Nabi Membuat Khowat Sungkan

Rasulullah SAW keluar dari tenda dan bersabda pada saya ‘hai Ayah Abdillah, apa yang mendorong kau duduk bersama mereka ?’

Hibah Menurut Bukhori

Hibah Menurut Bukhari Ibrahim Annakhai tergolong Tabiin yang sangar alim. Beliau murid Ibrhaim Attaimi, murid Amer bin Maimun, murid Abu Abdillah Al-Jadali, murid Khuzaimah sahabat Nabi SAW.

Masuk Surga Paling Awal

Rasulullah SAW bersabda, “Jibril AS telah datang untuk memegang tanganku untuk menunjukkan saya Pintu Gerbang Surga, yang akan dimasuki oleh umatku.”

2013/05/10

Kajian Al-Baqarah 77 – 81


{أَوَلَا يَعْلَمُونَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا يُسِرُّونَ وَمَا يُعْلِنُونَ (77) وَمِنْهُمْ أُمِّيُّونَ لَا يَعْلَمُونَ الْكِتَابَ إِلَّا أَمَانِيَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّونَ (78) فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ يَقُولُونَ هَذَا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ لِيَشْتَرُوا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا فَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيهِمْ وَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا يَكْسِبُونَ (79) وَقَالُوا لَنْ تَمَسَّنَا النَّارُ إِلَّا أَيَّامًا مَعْدُودَةً قُلْ أَتَّخَذْتُمْ عِنْدَ اللَّهِ عَهْدًا فَلَنْ يُخْلِفَ اللَّهُ عَهْدَهُ أَمْ تَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ (80) بَلَى مَنْ كَسَبَ سَيِّئَةً وَأَحَاطَتْ بِهِ خَطِيئَتُهُ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (81)} [البقرة: 77 - 81].


Artinya:
Apakah mereka tidak tahu bahwa ‘sungguh Allah tahu yang mereka samarkan dan yang mereka terangkan?’. (77)

Sebagian dari mereka; kaum Ummi, yang tidak tahu kitab, kecuali angan-angan. Tiada mereka kecuali menyangka. (78)

Maka celaka bagi orang-orang yang menulis kitab dengan tangan-tangan mereka, lalu berkata, “Ini dari sisi Allah” Untuk menukarkan dengan materi yang sedikit. Maka celaka bagi mereka karena tulisan tangan-tangan mereka. Celaka bagi mereka karena yang mereka lakukan. (79)

Dan mereka berkata, “Neraka takkan menyentuh pada kami, kecuali beberapa hari yang dihitung.” Katakan! “Apakah kalian telah mengambil janji di sisi Allah? Memang Allah takkan menyelisihi JanjiNya. Ataukah kalian berkata atas Allah yang tidak kalian ketahui?.” (80)

Iya saja! Siapapun yang telah melakukan kejelekan hingga kejelekannya meliputi padanya, maka mereka penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya. (81)

يَقُولُ تَعَالَى: لَيْسَ الْأَمْرُ كَمَا تَمَنَّيْتُمْ، وَلَا كَمَا تَشْتَهُونَ، بَلِ الْأَمْرُ: أَنَّهُ مَنْ عَمِلَ سَيِّئَةً وَأَحَاطَتْ بِهِ خَطِيئَتُهُ، وَهُوَ مَنْ وَافَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَيْسَ لَهُ حَسَنَةٌ، بَلْ جَمِيعُ عَمَلِهِ سَيِّئَاتٌ، فَهَذَا مِنْ أَهْلِ النَّارِ، وَالَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَعَمِلُوا الصَالِحَاتِ -مِنَ الْعَمَلِ الْمُوَافِقِ لِلشَّرِيعَةِ-فَهُمْ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ. وَهَذَا الْمَقَامُ شَبِيهٌ بِقَوْلِهِ تَعَالَى: {لَيْسَ بِأَمَانِيِّكُمْ وَلا أَمَانِيِّ أَهْلِ الْكِتَابِ مَنْ يَعْمَلْ سُوءًا يُجْزَ بِهِ وَلا يَجِدْ لَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلِيًّا وَلا نَصِيرًا* وَمَنْ يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ وَلا يُظْلَمُونَ نَقِيرًا} [النِّسَاءِ: 123، 124] .
قَالَ مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَاقَ: حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي مُحَمَّدٍ، عَنْ سَعِيدٍ -أَوْ عِكْرِمَةَ-عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ: {بَلَى مَنْ كَسَبَ سَيِّئَةً} أَيْ: عَمِلَ مِثْلَ أَعْمَالِكُمْ، وَكَفَرَ بِمِثْلِ مَا كَفَرْتُمْ بِهِ، حَتَّى يُحِيطَ بِهِ كُفْرُهُ فَمَا لَهُ مِنْ حَسَنَةٍ.

Artinya:
(Pada kaum Yahudi), yang Maha Tinggi berfirman, “Perkara ini tidak seperti yang kalian angan-angan, dan tidak seperti yang kalian inginkan. Bahkan perkara ini; ‘sungguh barangsiapa mengamalkan kesalahan, dan kesalahan tersebut telah meliputi dirinya. Dan dia di hari Kiamat nanti, orang yang menetapi kesalahan; tidak memiki amalan baik, bahkan seluruh amalanya jelek, maka dia ini, tergolong penghuni neraka’. Sedangkan orang-orang yang telah beriman pada Allah dan RasulNya, dan telah beramal shalih (amalan yang mencocoki syariat), maka mereka tergolong penghuni surga."
Maqam (penjelasan) ini menyerupai Firman Dia yang Maha Tinggi, “Bukan angan-angan kalian, dan bukan angan-angan Ahli Kitab; barangsiapa melakukan kejelekan maka dibalas berdasarkan kejelekan tersebut. Dan dia takkan menjumpai kekasih maupun penolong untuknya, selain Allah. Dan barangsiapa melakukan sebagian dari kebaikan, laki-laki atau perempuan; namun dia beriman, mereka akan masuk surga. Dan takkan dianiaya sedikitpun.”

Bersambung 

Ponpes Mulya Abadi Mulungan

2013/05/02

Kajian Al-Baqarah 74 – 76



Kajian Al-Baqarah 74 – 76


{ ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُمْ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً وَإِنَّ مِنَ الْحِجَارَةِ لَمَا يَتَفَجَّرُ مِنْهُ الْأَنْهَارُ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَشَّقَّقُ فَيَخْرُجُ مِنْهُ الْمَاءُ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَهْبِطُ مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ (74) أَفَتَطْمَعُونَ أَنْ يُؤْمِنُوا لَكُمْ وَقَدْ كَانَ فَرِيقٌ مِنْهُمْ يَسْمَعُونَ كَلَامَ اللَّهِ ثُمَّ يُحَرِّفُونَهُ مِنْ بَعْدِ مَا عَقَلُوهُ وَهُمْ يَعْلَمُونَ (75) وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ آمَنُوا قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَا بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ قَالُوا أَتُحَدِّثُونَهُمْ بِمَا فَتَحَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ لِيُحَاجُّوكُمْ بِهِ عِنْدَ رَبِّكُمْ أَفَلَا تَعْقِلُونَ (76) } [البقرة: 74 - 76].

Lalu mulai dari setelah itu, hati kalian keras. Dia seperti bebatuan, atau lebih keras. Sungguh sebagian dari bebatuan, niscaya menyemburkan sungai-sungai. Sungguh sebagian darinya, niscaya terbelah untuk keluar air darinya. Sungguh sebagaian darinya, niscaya turun karena takut Allah. Dan Allah tidak lupa mengenai yang kalian amalkan. (74)
Masyak kalian berangan-angan ‘mereka akan beriman pada kalian?’ Padahal sungguh sebagian mereka telah mendengar Kalam Allah, lalu merubahnya, mulai dari sejak mereka mengangan-angan padanya. Padahal mereka tahu. (75)
Lagian ketika bertemu orang-orang beriman, mereka berkata, “Kami telah beriman.” Namun ketika menyendiri, sebagian mereka berkata, “Masyak kalian menceritakan pada mereka mengenai yang telah Allah bukakan atas kalian? Agar bisa membantah kalian di sisi Tuhan kalian? Apa kalian tidak mempergunakan akal?” pada sebagian. (76).

قَالَ مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَاقَ: حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي مُحَمَّدٍ، عَنْ عِكْرِمَةَ أَوْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ قَالَ: ثُمَّ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى لِنَبِيِّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَلِمَنْ مَعَهُ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ يُؤَيِّسُهُمْ مِنْهُمْ: {أَفَتَطْمَعُونَ أَنْ يُؤْمِنُوا لَكُمْ وَقَدْ كَانَ فَرِيقٌ مِنْهُمْ يَسْمَعُونَ كَلامَ اللَّهِ} وَلَيْسَ قَوْلُهُ: {يَسْمَعُونَ كَلامَ اللَّهِ} يَسْمَعُونَ التَّوْرَاةَ. كُلُّهُمْ قَدْ سَمِعَهَا. وَلَكِنِ الَّذِينَ سَأَلُوا مُوسَى رُؤْيَةَ رَبِّهِمْ فَأَخَذَتْهُمُ الصَّاعِقَةُ فِيهَا.
قَالَ مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَاقَ: فِيمَا حَدَّثَنِي بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ أَنَّهُمْ قَالُوا لِمُوسَى: يَا مُوسَى، قَدْ حِيلَ بَيْنَنَا وَبَيْنَ رُؤْيَةِ اللَّهِ تَعَالَى، فَأَسْمِعْنَا كَلَامَهُ حِينَ يُكَلِّمُكَ. فَطَلَبَ ذَلِكَ مُوسَى إِلَى رَبِّهِ تَعَالَى فَقَالَ: نَعَمْ، مُرْهم فَلْيَتَطَهَّرُوا، وَلْيُطَهِّرُوا ثِيَابَهُمْ وَيَصُومُوا فَفَعَلُوا، ثُمَّ خَرَجَ بِهِمْ حَتَّى أَتَوُا الطَّوْرَ، فَلَمَّا غَشِيَهُمُ الْغَمَامُ أَمَرَهُمْ مُوسَى أَنْ يَسْجُدُوا، فَوَقَعُوا سُجُودًا، وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ تَعَالَى، فَسَمِعُوا (5) كَلَامَهُ يَأْمُرُهُمْ وَيَنْهَاهُمْ، حَتَّى عَقَلُوا عَنْهُ مَا سَمِعُوا. ثُمَّ انْصَرَفَ بِهِمْ إِلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ، فَلَمَّا جَاءُوهُمْ حَرَّف فَرِيقٌ مِنْهُمْ مَا أَمَرَهُمْ بِهِ، وَقَالُوا حِينَ قَالَ مُوسَى لِبَنِي إِسْرَائِيلَ: إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَمَرَكُمْ بِكَذَا وَكَذَا. قَالَ ذَلِكَ الْفَرِيقُ الَّذِينَ ذَكَرَهُمُ اللَّهُ: إِنَّمَا قَالَ كَذَا وَكَذَا خِلَافًا لِمَا قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُمْ، فَهُمُ الَّذِينَ عَنَى اللَّهُ لِرَسُولِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

Arti (selain isnad)nya:
Dari Ibnu Abbas RA, sungguh dia telah berkata, “Lalu Allah berfirman pada NabiNya SAW dan orang-orang iman yang bersamanya, agar tidak berharap pada kaum Yahudi ‘Masyak kalian berangan-angan ‘mereka akan beriman pada kalian?’; padahal sungguh sebagian mereka telah mendengar Kalam Allah?.”
Namun Firman Allah, “Mendengar Kalam Allah,” bukannya ‘mereka mendengar Taurat’; mereka semua telah mendengar Taurat. Tetapi yang dimaksud, orang-orang yang telah minta 'melihat Tuhan' pada Musa; sontak mereka disambar petir, karenanya.
Sebagian ahli ilmu telah berkata padaku, “Sungguh mereka pernah berkata ‘ya Musa! Sungguh kita telah dihalang-halangi melihat Allah Taala. Maka buatlah kami bisa mendengarkan FirmanNya! Ketika Dia berdialog padamu!’.
Musa SAW memohon agar Tuhannya mengabulkan permintaan tersebut. Allah berfirman, “Ya! Perintahlah agar mereka bersuci! Mereka juga agar mensucikan pakaian! Dan berpuasa!.”
Merekapun melakukan perintah.
Musa keluar besama mereka hingga sampai Thur. Ketika mendung telah menaungi; Musa perintah agar mereka bersujud. Sontak mereka meroboh bersujud. Allah berdialog dengan Musa; mereka mendengarkan Allah perintah dan melarang mereka. Hingga mereka mengingat yang mereka dengar.
Lalu Musa perpaling bersama mereka menuju Bani Israil. Ketika telah datang, sebagian mereka merubah yang diperintahkan pada mereka. Ketika Musa perintah pada Bani Israil, “Sungguh Allah telah perintah agar kalian melakukan demikian dan demikian,”; golongan kaum yang disebutkan oleh Allah tersebut berkata, “Yang benar sungguh Allah telah berfirman demikian dan demikian.” Menyelisihi Perintah Allah azza wajalla pada mereka. Merekalah yang dijelaskan oleh Allah, pada RasulNya SAW.  

Bersambung


Mulungan Sleman Jogjakarta Indonesia Ponpes Kutubussittah Mulya Abadi

2013/04/17

Kajian Al-Baqarah 70 – 73


{قَالُوا ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّنْ لَنَا مَا هِيَ إِنَّ الْبَقَرَ تَشَابَهَ عَلَيْنَا وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ لَمُهْتَدُونَ (70) قَالَ إِنَّهُ يَقُولُ إِنَّهَا بَقَرَةٌ لَا ذَلُولٌ تُثِيرُ الْأَرْضَ وَلَا تَسْقِي الْحَرْثَ مُسَلَّمَةٌ لَا شِيَةَ فِيهَا قَالُوا الْآنَ جِئْتَ بِالْحَقِّ فَذَبَحُوهَا وَمَا كَادُوا يَفْعَلُونَ (71) وَإِذْ قَتَلْتُمْ نَفْسًا فَادَّارَأْتُمْ فِيهَا وَاللَّهُ مُخْرِجٌ مَا كُنْتُمْ تَكْتُمُونَ (72) فَقُلْنَا اضْرِبُوهُ بِبَعْضِهَا كَذَلِكَ يُحْيِ اللَّهُ الْمَوْتَى وَيُرِيكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ (73)} [البقرة: 70 - 73].

Artinya:
Musa berkata, “Sesungguhnya Dia berfirman ‘sungguh sapi itu yang tidak hina; membajak bumi, tidak mengairi tanaman; diselamatkan, tiada cacat di dalamnya.”
Mereka berkata, “Sekarang kau telah mendatangkan kebenaran.”
Mereka (berhasil) menyembelihnya. Namun hampir tidak bisa melaksanakan. (71)
Dan (ingatlah) ketika kalian membunuh jiwa, lalu kalian saling mengingkari. Padahal Allah (akan) mengeluarkan (rahasia) yang kalian sembunyikan. (72)
Maka Kami berfirman, “Pukullah dia dengan sebagian (anggota) sapi!” Seperti itulah, Allah menghidupkan orang-orang mati, dan memperlihatkan Ayat-AyatNya, agar kalian mempergunakan akal. (73).

Ibnu Katsir menjelaskan: تفسير ابن كثير (1 / 300):
وقوله: {إِنَّ الْبَقَرَ تَشَابَهَ عَلَيْنَا} أَيْ: لِكَثْرَتِهَا، فَمَيِّزْ لَنَا هَذِهِ الْبَقَرَةَ وَصِفْهَا وحِلَّها لَنَا {وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ} إِذَا بَيَّنْتَهَا لَنَا {لَمُهْتَدُونَ} إِلَيْهَا.
وَقَالَ ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ: حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ يَحْيَى الْأَوْدِيُّ الصُّوفِيُّ، حَدَّثَنَا أَبُو سَعِيدٍ أَحْمَدُ بْنُ دَاوُدَ الْحَدَّادُ، حَدَّثَنَا سُرُورُ بْنُ الْمُغِيرَةِ الْوَاسِطِيُّ، ابْنُ أَخِي مَنْصُورِ بْنِ زَاذَانَ، عَنْ عَبَّادِ بْنِ مَنْصُورٍ، عَنِ الْحَسَنِ، عَنْ أَبِي رَافِعٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "لَوْلَا أَنَّ بَنِي إِسْرَائِيلَ قَالُوا: {وَإِنَّا إِن شَاءَ اللَّهُ لَمُهْتَدُونَ} لَمَا أُعْطُوا، وَلَكِنِ اسْتَثْنَوْا".
Artinya:
FirmanNya, “Sungguh sapi-sapi kurang jelas atas kami.” Maksudnya ‘karena banyak macam sapi’, maka jelaskan pada kami ‘sapi ini’ yang bagaimana? Dan pastikan untuk kami. Sungguh kami in syaa Allah jika telah kau jelaskan, tergolong kaum yang akan melaksanakan petunjuk untuk perintah ini.
Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Abi Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, “Kalau kaum Bani Israil dulu tidak berkata ‘dan kami in syaa Allah akan melaksanakan petunjuk (وَإِنَّا إِن شَاءَ اللَّهُ لَمُهْتَدُونَ)’, niscaya mereka tidak diberi sapi tersebut, oleh Allah. Tetapi mereka telah istatsnau (bekata in syaa Allah).  

Bersambung
Mulungan Sleman Jogjakarta Indonesia Ponpes Kutubussittah Mulya Abadi

2013/04/11

Kajian Al-Baqarah 65 – 69


{ وَلَقَدْ عَلِمْتُمُ الَّذِينَ اعْتَدَوْا مِنْكُمْ فِي السَّبْتِ فَقُلْنَا لَهُمْ كُونُوا قِرَدَةً خَاسِئِينَ (65) فَجَعَلْنَاهَا نَكَالًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهَا وَمَا خَلْفَهَا وَمَوْعِظَةً لِلْمُتَّقِينَ (66) وَإِذْ قَالَ مُوسَى لِقَوْمِهِ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تَذْبَحُوا بَقَرَةً قَالُوا أَتَتَّخِذُنَا هُزُوًا قَالَ أَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ (67) قَالُوا ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّنْ لَنَا مَا هِيَ قَالَ إِنَّهُ يَقُولُ إِنَّهَا بَقَرَةٌ لَا فَارِضٌ وَلَا بِكْرٌ عَوَانٌ بَيْنَ ذَلِكَ فَافْعَلُوا مَا تُؤْمَرُونَ (68) قَالُوا ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّنْ لَنَا مَا لَوْنُهَا قَالَ إِنَّهُ يَقُولُ إِنَّهَا بَقَرَةٌ صَفْرَاءُ فَاقِعٌ لَوْنُهَا تَسُرُّ النَّاظِرِينَ (69) } [البقرة: 65 - 69].

Artinya:
Dan niscaya kalian telah tahu kaum yang melanggar di hari Sabtu. Maka pada mereka, Kami berfirman, Jadilah kera-kera hina!.” (65)


Dan (ingatlah) ketika Musa berkata, “Sungguh Allah perintah agar kalian menyembelih seekor sapi!” Pada kaumnya.
Dia berkata, “Sungguh Dia berfirman ‘sungguh dia sapi tidak muda, tidak tua; petengahan dari itu. Maka lakukan yang kalian diperintah!.” (68).

Mereka berkata, "Berdoalah untuk kami pada Tuhanmu, Dia akan menjelaskan pada kami 'apa warnanya?'."
Musa berkata, "Sungguh Dia berfirman 'sunguh dia sapi, berwarna kuning mulus; menyenangkan kaum yang melihat'." (69)

قَالَ ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ-:
حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ الصَّبَّاحِ، حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ، أَنْبَأَنَا هِشَامُ بْنُ حَسَّانَ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سِيرِينَ، عَنْ عُبَيْدَةَ السَّلْمَانِيِّ، قَالَ: كَانَ رَجُلٌ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَقِيمًا لَا يُولَدُ لَهُ، وَكَانَ لَهُ مَالٌ كَثِيرٌ، وَكَانَ ابْنُ أَخِيهِ وَارِثَهُ، فَقَتَلَهُ ثُمَّ احْتَمَلَهُ لَيْلًا فَوَضَعَهُ عَلَى بَابِ رَجُلٍ مِنْهُمْ، ثُمَّ أَصْبَحَ يَدَّعِيهِ عَلَيْهِمْ حَتَّى تَسَلَّحُوا، وَرَكِبَ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ، فَقَالَ ذَوُو الرَّأْيِ مِنْهُمْ وَالنُّهَى: عَلَامَ يَقْتُلُ بَعْضُكُمْ بَعْضًا وَهَذَا رَسُولُ اللَّهِ فِيكُمْ؟ فَأَتَوْا مُوسَى، عَلَيْهِ السَّلَامُ، فَذَكَرُوا ذَلِكَ لَهُ، فَقَالَ: {إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تَذْبَحُوا بَقَرَةً قَالُوا أَتَتَّخِذُنَا هُزُوًا قَالَ أَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ} قَالَ: فَلَوْ لَمْ يَعْتَرِضُوا [الْبَقَرَ] لَأَجْزَأَتْ عَنْهُمْ أَدْنَى بَقَرَةٍ، وَلَكِنَّهُمْ شَدَّدُوا فَشُدِّدْ عَلَيْهِمْ، حَتَّى انْتَهَوْا إِلَى الْبَقَرَةِ الَّتِي أُمِرُوا بِذَبْحِهَا فَوَجَدُوهَا عِنْدَ رَجُلٍ لَيْسَ لَهُ بَقَرَةٌ غَيْرُهَا، فَقَالَ: وَاللَّهِ لَا أَنْقُصُهَا مِنْ مِلْءِ جِلْدِهَا ذَهَبًا، فَأَخَذُوهَا بِمِلْءِ جِلْدِهَا ذَهَبًا فَذَبَحُوهَا، فَضَرَبُوهُ بِبَعْضِهَا فَقَامَ فَقَالُوا: مَنْ قَتَلَكَ؟ فَقَالَ: هَذَا، لِابْنِ أَخِيهِ. ثُمَّ مَالَ مَيِّتًا، فَلَمْ يُعْطَ مِنْ مَالِهِ شَيْئًا، فَلَمْ يُوَرَّثْ قَاتِلٌ بَعْدُ وَرَوَاهُ ابْنُ جَرِيرٍ مِنْ حَدِيثِ أَيُّوبَ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سِيرِينَ، عَنْ عُبَيْدَةَ بِنَحْوٍ مِنْ ذَلِكَ وَاللَّهُ أَعْلَمُ.

Arti (selain isnad)nya:
Dari Ubaidah Assalmani; “Dulu ada lelaki mandul dari Bani Israil yang tak berputra. Namun dia memiliki harta banyak. Anak saudara lelakinya pewaris satu-satunya. Di malam hari, anak tersebut membunuh dan membawa dia, untuk diletakan di depan pintu rumah seorang lelaki. 
Di pagi harinya, si anak menuduh pada lelaki pemilik rumah.
Tuduhan berdampak penduduk kampung gempar dan menghunus senjata tajam. Sebagaian mereka telah menyerang pada sebagian.

Orang-orang bijak mereka berkata, “Kenapa sebagian kalian menyerang pada sebagian? Padahal Rasulullah ini ada di kalangan kalian?.”
Mereka datang pada Nabi Musa AS, untuk melaporkan kejadian tersebut. 
Musa bersabda, “Sesungguhnya Allah perintah agar kalian menyembelih sapi!.”
Mereka berkata, “Masyak kau menganggap kami sebagai bahan ejekan?.”
Musa berkata, “Saya berlindung pada Allah; jika saya tergolong kaum bodoh.”

Ubaidah berkata, “Kalau dulu mereka tidak menyangkal mengenai sapi tersebut, niscaya lebih remehnya sapi, cukup buat mereka sembelih. Tetapi mereka telah memperberat, maka diperberat. Hingga mereka disuruh menyembelih sapi (mahal) tersebut
Mereka menjumpai sapi istimewa tersebut, di sisi lelaki yang hanya memiliki satu sapi. Dia berkata, “Demi Allah! Saya takkan menurunkan harga; uang emas memenuhi kulit sapi ini!.”

Mereka membeli sapi tersebut dengan uang emas sepenuh kulit, (setelah sapi disembelih). Sebagaian mereka memukul mayat tersebut dengan sebagaian anggota sapi. 
Mayat hidup dan berdiri.
Mereka bertanya, “Siapa yang telah membunuh kau?.”
Dia berkata pada pembunuh, “Ini!.”
Lalu roboh dan meninggal. Namun si pembunuh, mutlak tidak diberi warisan (harta) mayat. Pembunuh ahli waris setelah itu, mutlak tidak diberi warisan.

Ibnu Jarir juga meriwayatkan sepadan ini, bersumber dari Hadits Ayub dari Muhammad bin Sirin dari Ubaidah. Namun Allah yang lebih tahu.  



Mulungan Sleman Jogjakarta Indonesia Ponpes Kutubussittah Mulya Abadi

2013/03/30

Kajian Al-Baqarah 62 - 64


{إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالنَّصَارَى وَالصَّابِئِينَ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (62) وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَكُمْ وَرَفَعْنَا فَوْقَكُمُ الطُّورَ خُذُوا مَا آتَيْنَاكُمْ بِقُوَّةٍ وَاذْكُرُوا مَا فِيهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (63) ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ فَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَكُنْتُمْ مِنَ الْخَاسِرِينَ (64)} [البقرة: 62 - 64].

Di atas ada beberapa huruf ‘waw (وَ)’ yang tidak diartikan ‘dan’, karena sebagai koma (athof).
Kaum Yahudi, Shabiin, dan Nashrani, yang dimaksud dalam Ayat di atas, yang telah berlalu dan benar-benar mengikuti Nabi mereka. 
Ibnu Kastir menyitir penjelasan Assuddi: تفسير ابن كثير (1 / 284):
وَقَالَ السُّدِّيُّ: {إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالنَّصَارَى وَالصَّابِئِينَ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا} الْآيَةَ: نَزَلَتْ فِي أَصْحَابِ سَلْمَانَ الْفَارِسِيِّ، بَيْنَا هُوَ يُحَدِّثُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إذْ ذَكَرَ أَصْحَابَهُ، فَأَخْبَرَهُ خَبَرَهُمْ، فَقَالَ: كَانُوا يَصُومُونَ وَيُصَلُّونَ وَيُؤْمِنُونَ بِكَ، وَيَشْهَدُونَ أَنَّكَ سَتُبْعَثُ نَبِيًّا، فَلَّمَا فَرَغَ سَلْمَانُ مِنْ ثَنَائِهِ عَلَيْهِمْ، قَالَ لَهُ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "يَا سَلْمَانُ، هُمْ مِنْ أَهْلِ النَّارِ". فَاشْتَدَّ ذَلِكَ عَلَى سَلْمَانَ، فَأَنْزَلَ اللَّهُ هَذِهِ الْآيَةَ، فَكَانَ إِيمَانُ الْيَهُودِ: أَنَّهُ مَنْ تَمَسَّكَ بِالتَّوْرَاةِ وَسُنَّةِ مُوسَى، عَلَيْهِ السَّلَامُ؛ حَتَّى جَاءَ عِيسَى. فَلَمَّا جَاءَ عِيسَى كَانَ مَنْ تَمَسَّكَ بِالتَّوْرَاةِ وَأَخَذَ بِسُنَّةِ مُوسَى، فَلَمْ يَدَعْهَا وَلَمْ يَتْبَعْ عِيسَى، كَانَ هَالِكًا. وَإِيمَانُ النَّصَارَى أَنَّ مَنْ تَمَسَّكَ بِالْإِنْجِيلِ مِنْهُمْ وَشَرَائِعِ عِيسَى كَانَ مُؤْمِنًا مَقْبُولًا مِنْهُ حَتَّى جَاءَ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَمَنْ لَمْ يتبعْ مُحَمَّدًا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْهُمْ ويَدَعْ مَا كَانَ عَلَيْهِ مِنْ سُنَّةِ عِيسَى وَالْإِنْجِيلِ -كَانَ هَالِكًا.

Artinya:
Assuddi berkata (Firman), “Sesungguhnya orang-orang yang telah beriman dan telah (beragama) Yahudi, kaum Nashrani, dan kaum Shabiin; barangsiapa telah beriman pada Allah dan hari akhir, dan telah beramal shalih, maka berhak mendapatkan pahala mereka di sisi Tuhan mereka. Tiada khawatir atas mereka, dan mereka takkan susah.” Turun mengenai sahabat-sahabat Salman Al-Farisi. Suatu ketika dia bercerita pada Nabi SAW; saat itu dia ingat para sahabatnya. Pada Nabi SAW, dia melaporkan, “Dulu mereka berpuasa dan shalat, beriman dan bersaksi bahwa Kau akan diutus sebagai Nabi SAW.”
Ketika Salman telah selesai menyanjung mereka; Nabi SAW bersabda, “Ya Salman! Mereka tergolong ahli neraka.”  
Sabda itu membuat Salman syok. Lalu Allah menurunkan ini Ayat (untuk membenarkan Sabda Nabi SAW). Itu berarti iman kaum Yahudi yang dimaksud; mereka yang berpegangan kitab Taurat dan Sunnah Nabi Musa AS, hingga datang Nabi Isa AS. Ketika Isa AS telah datang; orang yang berpegangan kitab Taurat dan Sunnah Nabi Musa AS, namun tidak mau mengikuti Nabi Isa AS, maka rusak. Iman kaum Nashrani yang diterima, yang mau berpegangan pada Injil dan Syariat-Syariat Nabi Isa AS, hingga Muhammad SAW datang. (Sekarang) barangsiapa tidak mau mengikuti Muhammad SAW, dan meninggalkan Sunnah-sunnah yang telah dilakukan oleh Isa AS, maupun Injil; maka rusak.

Ibnu Katsir juga menjelaskan: تفسير ابن كثير (1 / 284):
وَقَالَ ابْنُ أَبِي حاتم: وروي عن سعيد بن جبير نحو هَذَا قُلْتُ: وَهَذَا لَا يُنَافِي مَا رَوَى عَليّ بْنُ أَبِي طَلْحَةَ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ: {إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالنَّصَارَى وَالصَّابِئِينَ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ} الْآيَةَ فَأَنْزَلَ اللَّهُ بَعْدَ ذَلِكَ: {وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإسْلامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ} [آل عمران: 85].
فَإِنَّ هَذَا الَّذِي قَالَهُ [ابْنُ عَبَّاسٍ] إِخْبَارٌ عَنْ أَنَّهُ لَا يَقْبَلُ مِنْ أَحَدٍ طَرِيقَةً وَلَا عَمَلًا إِلَّا مَا كَانَ مُوَافِقًا لِشَرِيعَةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدَ أَنْ بَعَثَهُ [اللَّهُ] بِمَا بَعَثَهُ بِهِ، فَأَمَّا قَبْلَ ذَلِكَ فَكُلُّ مَنِ اتَّبَعَ الرَّسُولَ فِي زَمَانِهِ فَهُوَ عَلَى هُدًى وَسَبِيلٍ وَنَجَاةٍ، فَالْيَهُودُ أَتْبَاعُ مُوسَى، عَلَيْهِ السَّلَامُ، الَّذِينَ كَانُوا يَتَحَاكَمُونَ إِلَى التَّوْرَاةِ فِي زَمَانِهِمْ.
وَالْيَهُودُ مِنَ الْهَوَادَةِ وَهِيَ الْمَوَدَّةُ أَوِ التَّهَوُّدُ وَهِيَ التَّوْبَةُ؛ كَقَوْلِ مُوسَى، عَلَيْهِ السَّلَامُ: {إِنَّا هُدْنَا إِلَيْكَ} [الْأَعْرَافِ: 156] أَيْ: تُبْنَا، فَكَأَنَّهُمْ سُمُّوا بِذَلِكَ فِي الْأَصْلِ لِتَوْبَتِهِمْ وَمَوَدَّتِهِمْ فِي بَعْضِهِمْ لِبَعْضٍ.
[وَقِيلَ: لِنِسْبَتِهِمْ إِلَى يَهُوذَا أَكْبَرِ أَوْلَادِ يَعْقُوبَ عَلَيْهِ السَّلَامُ، وَقَالَ أَبُو عَمْرِو بْنُ الْعَلَاءِ: لِأَنَّهُمْ يَتَهَوَّدُونَ، أَيْ: يَتَحَرَّكُونَ عِنْدَ قِرَاءَةِ التَّوْرَاةِ] .
فَلَمَّا بُعِثَ عِيسَى صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَجَبَ عَلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ اتِّبَاعُهُ وَالِانْقِيَادُ لَهُ، فَأَصْحَابُهُ وَأَهْلُ دِينِهِ هُمُ النَّصَارَى، وَسُمُّوا بِذَلِكَ لِتَنَاصُرِهِمْ فِيمَا بَيْنَهُمْ، وَقَدْ يُقَالُ لَهُمْ: أَنْصَارٌ أَيْضًا، كَمَا قَالَ عِيسَى، عَلَيْهِ السَّلَامُ: {مَنْ أَنْصَارِي إِلَى اللَّهِ قَالَ الْحَوَارِيُّونَ نَحْنُ أَنْصَارُ اللَّهِ} [آلِ عِمْرَانَ: 52] وَقِيلَ: إِنَّهُمْ إِنَّمَا سُمّوا بِذَلِكَ مِنْ أَجْلِ أَنَّهُمْ نَزَلُوا أَرْضًا يُقَالُ لَهَا نَاصِرَةٌ، قَالَهُ قَتَادَةُ وَابْنُ جُرَيج، وَرُوِيَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَيْضًا، وَاللَّهُ أَعْلَمُ. وَالنَّصَارَى: جَمْعُ نَصْرَانَ  كَنَشَاوَى جَمْعُ نَشْوَانَ، وَسُكَارَى جَمْعُ سَكْرَانَ

Artinya:
Ibnu Abi Hatim berkata, “Ada Hadits sepadan ini, diriwayatkan dari Said bin Jubair.
Saya berkata '(Riwayat) ini' bukan me-nafi (niada)kan yang diriwayatkan oleh Ali bin Abi Thalhah, dari Ibnu Abbas RASesungguhnya 1), kaum yang telah beriman dan telah (beragama) Yahudi, 2), kaum Nashrani, 3), dan kaum Shabiin; Barangsiapa telah beriman pada Allah dan hari akhir, dan telah beramal shalih, maka berhak mendapatkan pahala mereka di sisi Tuhan mereka. Tiada khawatir atas mereka, dan mereka takkan susah’. Lalu setelah itu Allah menurunkan Firman ‘Barang siapa mencari selain Islam, sebagai agama, maka takkan diterima darinya. Dan di akhirat dia tergolong kaum Rugi. [Qs Ali Imron 85].

Sungguh ucapan Ibnu Abbas RA ini, pemberitaan bahwa ‘sungguh Allah setelah mengutus dia SAW untuk membawa yang dibawa; Allah takkan menerima jalan atau amalan, kecuali yang sesuai dengan Syariat Muhammad SAW.
Adapun sebelum itu; semua orang yang mengikuti Rasul di zamannya, berarti telah berpegangan pada Petunjuk, Jalan Benar, dan Keselamatan. 

Kaum Yahudi, pengikut Nabi Musa AS, yang merujuk hukum Taurat pada zaman mereka. Lafal ‘yahud’ berasal dari ‘hawadah’ yaitu cinta-kasih, atau berasal dari ‘tahawwud’ yang berarti tobat. Seperti ucapan Musa AS, “Sungguh kami  hudnaa (هُدْنَا) padaMu.” [Al-Araf 156]. Maksudnya ‘bertobat’.
Ada yang berkilah, “Mereka diberi nama Yahudi, karena putra tertua Nabi Yaqub AS adalah Yahudza.”
Abu Amer bin Ala berkata, “Mereka diberi nama Yahudi, karena ‘yatahawwaduun (يَتَهَوَّدُونَ)’ artinya bergerak-gerak ketika membaca kitab Taurat.”
Ketika Isa telah diutus sebagai Rasul; Bani Israil diwajibkan mengikuti dan mentaati. Para sahabat Isa AS dan kaum pemeluk agamanya disebut Nashara. Mereka diberi nama demikian karena saling menolong. Mereka juga diberi nama kaum Anshar; sebagaimana Isa AS pernah berkata, “Siapa penolong-penolongku untuk Allah?”
Kaum Hawari berkata, “Kami Penolong-Penolong Allah.” [Ali Imron 52].
Ada yang berkilah, “Sungguh diberinama Nashara, karena mereka bertempat di desa Nasaret,” terang Qatadah dan Ibnu Juraij. Yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA juga demikian. Wallohu alam.
Nashara jamak dari Nashran, seperti ‘Nasyawa’ jamak dari ‘Nasywan’; sukara jamak dari ‘sukran’. Sungguh sepertinya mereka diberi nama ‘Yahudi’, yang artinya bertobat dan saling menyayang sesama mereka. 



Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil Sumpah kalian, dan Kami angkat Gunung atas kalian. “Ambil dengan kuat, yang telah Kami berikan pada kalian! Dan ingatlah yang di dalamnya! Agar kalian bertaqwa!.” (63)
Lalu (mulai) dari (sejak) itu, kalian berpaling. Kalau tiada Kefadholan dan Rahmat Allah atas kalian, niscaya kalian telah tegolong orang-orang Rugi. (64)

Bersambung


Mulungan Sleman Jogjakarta Indonesia Ponpes Kutubussittah Mulya Abadi