SELAMAT DATANG DI BLOG PONDOK PESANTREN MULYA ABADI, JL. MAGELANG KM 8.5 SLEMAN YOGYAKARTA, SEMOGA BLOG INI BISA MENJADI SILATURAHMI KITA UNTUK SALING BERBAGI

2012/07/05

Meyakini Persangkaan (Fitnah)



Persangkaan sering-kali tidak benar. Oleh karena itu, orang pintar selalu berbicara berdasarkan bukti. Saya pernah marah besar pada anak yang saya yakini telah bohong. “Kalau betul goresan di pipimu karena jatuh ! Mestinya goresannya lurus ! Tidak bengkok seperti ini!.”
Aswid membela ayahnya, “Kamu jangan bohong ! Abah telah pengalaman ! Tidak bisa dibohongi !.”
Chafidz yang datang, ditunjuk oleh anak yang menangis, “Ini yang melihat saya jatuh !.”
Chafidz membela, “Betul ! Dia jatuh disini !.”
Saya dan Aswid ingah-ingih dan malu.

Kejadian selain di atas banyak kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan zaman nabi SAW juga pernah terjadi :
Ketika Perang Banil-Mushthaliq usai, para sahabat Rasulillah SAW dilanda rasa capek yang berlebihan. Mereka yang ditugaskan membawa tandu (sekedup) Aisyah RA, yakin bahwa Aisyah telah berada di dalam tandu yang akan diangkat untuk diletakkan di atas punggung unta, untuk segera dibawa pulang. Mereka tidak tahu bahwa sebetulnya Aisyah keluar dari tandu tersebut, untuk mencari kalungnya yang lepas dan hilang.
Aisyah terkejut, karena dikira semua rombongan telah pulang semuanya. Beruntung sekali Shafwan datang dan mendekamkan untanya agar dinaiki oleh Aisyah RA. Shafwan menuntun unta yang dikendarai oleh Aisyah menuju pasukan induk yang telah berjalan jauh di depan. Ketika pasukan induk beristirahat; Shafwan dan Aisyah datang dan bergabung pada mereka.
Kesempatan itu digunakan oleh Abdullah bin Ubai bin Salul dan kawan-kawannya, untuk memfitnah Shafwan dan Aisyah RA. Fitnah mereka, “Mereka berdua telah melakukan kemaksiatan,” disebar-lusakan di mana-mana.
Ketika tahu bahwa fitnah mengenai dirinya telah disebarkan di mana-mana, maka Aisyah menangis hingga dua hari atau lebih. Karena telah sebulan tidak ada Wahyu yang turun pada nabi, yang membicarakan mengenai fitnah tersebut. Maka fitnah tersebut semakin dibicarakan di mana-mana oleh orang banyak. Banyak orang yang meyakini bahwa fitnah itu, benar.
Aisyah RA surprise setelah Rasulullah SAW yang keringatnya bercucuran membacakan Firman Allah yang termasuk intinya, menjelaskan ‘Fitnah Tersebut Bohong’:  

إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوا بِالْإِفْكِ عُصْبَةٌ مِنْكُمْ لَا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَكُمْ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَكُمْ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ مَا اكْتَسَبَ مِنَ الْإِثْمِ وَالَّذِي تَوَلَّى كِبْرَهُ مِنْهُمْ لَهُ عَذَابٌ عَظِيمٌ (11) لَوْلَا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ ظَنَّ الْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بِأَنْفُسِهِمْ خَيْرًا وَقَالُوا هَذَا إِفْكٌ مُبِينٌ (12) لَوْلَا جَاءُوا عَلَيْهِ بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاءَ فَإِذْ لَمْ يَأْتُوا بِالشُّهَدَاءِ فَأُولَئِكَ عِنْدَ اللَّهِ هُمُ الْكَاذِبُونَ (13) وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةِ لَمَسَّكُمْ فِي مَا أَفَضْتُمْ فِيهِ عَذَابٌ عَظِيمٌ (14) إِذْ تَلَقَّوْنَهُ بِأَلْسِنَتِكُمْ وَتَقُولُونَ بِأَفْوَاهِكُمْ مَا لَيْسَ لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا وَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمٌ (15) وَلَوْلَا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ قُلْتُمْ مَا يَكُونُ لَنَا أَنْ نَتَكَلَّمَ بِهَذَا سُبْحَانَكَ هَذَا بُهْتَانٌ عَظِيمٌ (16) يَعِظُكُمَ اللَّهُ أَنْ تَعُودُوا لِمِثْلِهِ أَبَدًا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ (17) وَيُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآَيَاتِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ (18) إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آَمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ (19) وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ وَأَنَّ اللَّهَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ (20)  [النور/11].

Artinya:
Sungguh orang-orang yang mendatangkan kebohongan (fitnah) itu, sekelompok dari kalian. Jangan kalian sangka fitnah itu jelek untuk kalian ! Bahkan dia baik untuk kalian ! Tiap seorang dari mereka mendapatkan dosa yang dilakukan. Dari mereka yang mengatur besarnya fitnah, mendapatkan siksa sangat besar. Hendaklah ketika kalian mendengar fitnah; orang-orang Iman pria dan wanita, menyangka baik diri mereka ! Dan berkata, “Ini fitnah nyata !” Hendaklah mereka mendatangkan empat saksi untuk fitnah tersebut ! Ketika mutlak tidak mendatangkan saksi-saksi tersebut; mereka orang-orang Bohong disisi Allah. Kalau tiada Kefadholan dan Rahmat Allah atas kalian di dunia dan akhirat, niscaya siksaan besar karena yang telah kalian bicarakan, telah menyentuh kalian. Ketika itu; kalian berbohong dengan lisan kalian, dan mengucapkan yang kalian tidak memiliki ilmunya dengan lisan kalian. Kalian menyanga dosa memfitnah itu remeh; padahal dia di sisi Allah Maha Besar. Hendaklah ketika kalian mendengarkan fitnah tersebut, kalian berkata, “Demikian ini tidak pantas untuk kami! SubhanaKa (Maha Suci Engkau Allah) ! Ini fitnah besar!” Allah nasehat agar kalian tidak mengulangi semisal itu, untuk selamanya; jika kalian orang-orang Iman. Allah menjelaskan Ayat-Ayat pada kalian. Allah Maha Alim Maha memiliki hikmah. Sungguh orang-orang yang senang jika berita keji tersiar di kalangan orang-orang iman, akan mendapatkan siksaan sangat pedih di dunia dan akhirat. Allah tahu; kalian tidak tahu. Kalau tiada Kefadholan dan Rahmat Allah atas kalian, dan sungguh Allah Maha pengasih Maha penyayang, (niscaya kalian telah rusak).

Tanggapan Majlis Taklim:
Beberapa orang berkata, “Berarti memfitnah adalah dosa besar!.”
Difa, Tika, dan Dila, berkata, “Makanya jangan tergesa-gesa menuduh dulu!.”
Mbah Man, Kang Sastro, Joko Bodo dan beberapa orang, berkata ricuh bersaut-sautan. Inti pembicaraan mereka, “Ada fitnah yang dibukukan dan diterbitkan berkali-kali lalu disebarkan ke seluruh pelosok Indonesia. Isinya bermacam-macam. Tujuannya agar kita ini dibenci oleh semua orang.”
Mbok Berek, Mbok Sabar, dan Yu Sane dan teman-temanya menjawab, dengan kalimat yang berbeda-beda. Intinya mereka berkata, “Sepertinya tujuannya lebih jahat daripada itu. Karena buku tebal itu, mulai halaman pertama hingga terakhir isinya hanya menjelek-jelekkan kita. Kalau penyusunnya adil; mestinya ada kebaikan yang diungkapkan.”
Perkataan Liti yang duduk di samping Letu, didengarkan oleh semua Majlis:
“Kajian ini kelihatannya sederhana, padahal sebetulnya sangat berbobot. Kalau orang bisa mengendalikan lisan ketika mendengar fitnah. Niscaya Kefadholan dan Rahmat Allah, menenggelamkan kita semuanya, hingga kita mendapatkan lebih daripada yang kita harapkan.”  


Ponpes Mulya Abadi Mulungan

0 komentar:

Posting Komentar