SELAMAT DATANG DI BLOG PONDOK PESANTREN MULYA ABADI, JL. MAGELANG KM 8.5 SLEMAN YOGYAKARTA, SEMOGA BLOG INI BISA MENJADI SILATURAHMI KITA UNTUK SALING BERBAGI

2012/07/31

BI 14 : Bedah Ibnu Katsir


BI 14 : Bedah Ibnu Katsir


وَاسْأَلْهُمْ عَنِ الْقَرْيَةِ الَّتِي كَانَتْ حَاضِرَةَ الْبَحْرِ إِذْ يَعْدُونَ فِي السَّبْتِ إِذْ تَأْتِيهِمْ حِيتَانُهُمْ يَوْمَ سَبْتِهِمْ شُرَّعًا وَيَوْمَ لَا يَسْبِتُونَ لَا تَأْتِيهِمْ كَذَلِكَ نَبْلُوهُمْ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ وَإِذْ قَالَتْ أُمَّةٌ مِنْهُمْ لِمَ تَعِظُونَ قَوْمًا اللَّهُ مُهْلِكُهُمْ أَوْ مُعَذِّبُهُمْ عَذَابًا شَدِيدًا قَالُوا مَعْذِرَةً إِلَى رَبِّكُمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ أَنْجَيْنَا الَّذِينَ يَنْهَوْنَ عَنِ السُّوءِ وَأَخَذْنَا الَّذِينَ ظَلَمُوا بِعَذَابٍ بَئِيسٍ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ فَلَمَّا عَتَوْا عَنْ مَا نُهُوا عَنْهُ قُلْنَا لَهُمْ كُونُوا قِرَدَةً خَاسِئِينَ].

Dan tanyakan pada mereka! Tentang (penduduk) desa yang konon berada di sisi lautan! Ketika itu mereka melakukan pelanggaran di hari Sabtu. Ketika itu ikan-ikan mereka datang pada mereka di hari Sabtuan mereka, dengan mengapung. Namun di hari mereka tidak bersabtuan; (ikan-ikan tersebut) tidak datang pada mereka. Seperti itulah Kami memberi Cobaan pada mereka, karena mereka telah fasiq. Ketika itu umat dari mereka berkata, “Kenapa kalian menasehati kaum yang akan dirusak atau akan diadzab dengan Adzab Berat oleh Allah?!.” 
Mereka menjawab, “Sebagai alasan pada Tuhan kalian, dan agar mereka (yang tidak bersabtuan) bertaqwa.” 
Maka ketika mereka telah melupakan yang diperingatkan pada mereka; orang-orang yang menahan dari kejelekan, Kami selamatkan; siksa yang jelek menimpa orang-orang yang telah lalim, karena mereka telah fasiq. Ketika mereka telah melanggar dari yang telah dilarang; Kami berfirman pada mereka, “Jadilah kera-kera hina!.”

Kaum Yahudi yang disiksa oleh Allah, hingga menjadi kera tersebut, hidup pada zaman Nabi Dawud AS. Tentang kisah tersebut, Ibnu Katsir meriwayatkan: تفسير ابن كثير - (ج 3 / ص 495)

وقال ابن جرير: حدثنا يونس، أخبرنا أشهب بن عبد العزيز، عن مالك، قال: زعم ابن رومان أن قوله تعالى: { تَأْتِيهِمْ حِيتَانُهُمْ يَوْمَ سَبْتِهِمْ شُرَّعًا وَيَوْمَ لا يَسْبِتُونَ لا تَأْتِيهِمْ } قال: كانت تأتيهم يوم السبت، فإذا كان المساء ذهبت، فلا يرى منها شيء إلى يوم السبت الآخر، فاتخذ -لذلك -رجل خيطًا ووتدًا، فربط حوتا منها في الماء يوم السبت، حتى إذا أمسوا ليلة الأحد، أخذه فاشتواه، فوجد الناس ريحه، فأتوه فسألوه عن ذلك، فجحدهم، فلم يزالوا به حتى قال لهم: "فإنه جلد حوت وجدناه". فلما كان السبت الآخر فعل مثل ذلك -ولا أدري لعله قال: ربط حوتين -فلما أمسى من ليلة الأحد أخذه فاشتواه، فوجدوا رائحة، فجاءوا فسألوه فقال لهم: لو شئتم صنعتم كما أصنع. فقالوا له: وما صنعت؟ فأخبرهم، ففعلوا مثل ما فعل، حتى كثر ذلك. وكانت لهم مدينة لها ربض يغلقونها عليهم، فأصابهم من المسخ ما أصابهم. فغدوا عليهم جيرانهم مما كانوا حولهم، يطلبون منهم ما يطلب الناس، فوجدوا المدينة مغلقة عليهم، فنادوا فلم يجيبوهم، فتسوروا عليهم، فإذا هم قردة، فجعل القرد يدنو يتمسح بمن كان يعرف قبل ذلك، ويدنو منه ويتمسح به وقد قدمنا في سورة "البقرة"  من الآثار في خبر هذه القرية ما فيه مقنع وكفاية، ولله الحمد والمنة.

Arti (selain isnad)nya:
Ibnu Ruman meyakini sungguh Firman Allah Taala (yang artinya), “Ikan-ikan mereka datang dengan mengapung untuk mereka, di hari Sabtuan mereka. Di hari mereka tidak Sabtuan, (ikan-ikan) tidak datang pada mereka.” Ikan-ikan datang pada mereka, hanya pada hari Sabtu. Jika hari telah sore, ikan-ikan sama pergi. Sampai hari Sabtu depan ikan-ikan tidak tampak. Karena itulah, seorang lelaki memasang tali-temali dan pasak. 
Di hari Sabtu, seekor ikan dikait dengan tali di dalam air. Hingga ketika hari telah sore, ikan itu diambil untuk dibakar.
Orang-orang yang mencium aroma ikan bakar, bertanya pada lelaki yang membakar ‘kenapa membakar ikan?’. 
Lelaki itu berbohong ‘saya tidak membakar!’. 
Tetapi mereka memaksa agar lelaki itu mengakui perbuatannya. 
Lelaki itu menipu mereka ‘saya hanya menemukan dan membakar kulit ikan’.
Di hari Sabtu berikutnya, lelaki itu menangkap ikan lagi.”

Malik tidak tahu, barangkali Ibnu Ruman dulu berkata, “Lelaki itu mengait dua ikan dengan tali. Ketika telah memasuki malam Ahad, lelaki itu mengambil untuk membakar ikan yang dikait dengan talinya. Mereka yang mencium aroma ikan bakar, datang untuk bertanya ‘kamu membakar ikan?!’ 
Dia menjawab ‘kalau kalian mau, lakukan seperti yang telah saya lakukan!’. 
Mereka bertanya ‘kau telah melakukan apa?’. 
Dia menjelaskan pada mereka mengenai yang telah dilakukan.

Mereka menirukan perbuatan dia, hingga akhirnya banyak orang yang menirukan perbuatan tersebut. Kota yang dihuni kaum yang melakukan pelanggaran tersebut, dikelilingi dinding berpintu gerbang. 
Pintu gerbang ditutup oleh mereka. 
Ternyata di dalam benteng tersebut, mereka berubah menjadi kera.
Para tetangga yang berada di sekeliling mereka, berdatangan untuk mencari kebutuhan hidup sebagaimana biasanya. Ternyata pintu gerbang sulit dibuka. Beberapa orang berteriak memanggil-manggil, namun tiada jawaban. Beberapa orang memanjat dinding; ternyata kaum yang di dalam benteng telah menjadi kera.
Kera datang mendekat dan mengusap orang datang yang dikenali. Dan mendekat untuk mengusap orang lain yang dikenali.”

Sungguh Atsar (Riwayat) mengenai desa ini, telah kami datangkan dengan penjelasan yang cukup gamblang. Segala Puji dan Anugerah hak Allah semata.   

Bersambung
Ponpes Mulya Abadi Mulungan.

0 komentar:

Posting Komentar