SELAMAT DATANG DI BLOG PONDOK PESANTREN MULYA ABADI, JL. MAGELANG KM 8.5 SLEMAN YOGYAKARTA, SEMOGA BLOG INI BISA MENJADI SILATURAHMI KITA UNTUK SALING BERBAGI

2014/12/06

Sholat Timbangan




Rasulullah SAW bersabda, “Sholat adalah timbangan. Barangsiapa mengamalkan dengan tepat, maka mendapat pahala sempurna.” [1]
Bahasa Arabnya, “Assholaatu miizaanun man aufaa istaufaa (الصَّلاةُ مِيزَانٌ مَنْ أَوْفَى اسْتَوْفَى ).”

Menurut Al-Bani, kedudukan Hadits ini, dhoif. Tapi karena memperjelas maksud Hadits lainnya, maka boleh dijadikan rujukan. Hadits ini juga ditulis di dalam kitab Assayuthi, yaitu tokoh ulama Hadits yang kalau dirunut, sebagai gurunya gurunya KH Nurhasan.
Mengenai maksud Hadits tersebut, Al-Munawi menjelaskan:
“Maksud ‘timbangan’ di sini, timbangan iman. ‘Barangsiapa mengamalkan dengan tepat’, maksunya kewajiban-kewajiban dan anjuran-anjuran yang berhubungan dengan sholat tersebut, diamalkan dengan tepat. Maka maka mendapat pahala sempurna, berbentuk kebahagiaan. Yang pertama berupa kampung pahala, yang kedua berupa selamat dari beratnya siksaan.

Sholat timbangan iman insan, karena merupakan 'bisik-bisik' pada Rohman, yang tanpa tabir penghalang. Dengan sholat, diketahui cinta dia pada Rohman. Karena bagi orang yang mencintai kekasih, maka tidak ada yang lebih nikmat daripada berduaan dengan kekasih. Karena harapannya terwujud.

Assahrudi berkata, “Musstaq (Lahirnya istilah) sholat, dari Assholyu (الصلى) yang artinya api dan kayu bengkok. Jika mereka ingin meluruskan, maka kayu tersebut didekatkan pada api. Di sini, hamba diibaratkan sebagai kayu bengkok, karena cenderung melakukan kejelekan. Sedangkan Tabir Sinar Wajah Allah yang Maha Mulia 'jika dibuka', membakar semua yang terkena SinarNya. Yakni sebagian Cahaya Tuhan yang Maha Dahsat 'mengenai orang' yang sholat. Hamba selamanya cenderung bengkok. Maka yang melakukan sholat, seperti orang yang meluruskan kayu dengan panasnya api sholat. Barangsiapa meluruskan dirinya dengan api sholat, maka takkan masuk neraka, kecuali sekedar sebagai Pelaksanaan Sumpah Tuhan.” [2]



[1] (حديث مرفوع) أَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الْحَافِظُ ، حَدَّثَنِي أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي الْحَسَنِ ، ثنا مَكِّيُّ بْنُ عَبْدَانَ ، ثنا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَخْلَدٍ ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ الْحَارِثِ مَوْلَى بَنِي هَاشِمٍ ، ثنا يَحْيَى بْنُ مُنَبِّهٍ ، عَنْ مُوسَى بْنِ عُقْبَةَ ، عَنْ كُرَيْبٍ ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ ، قال : قال رسول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : " الصَّلاةُ مِيزَانٌ مَنْ أَوْفَى اسْتَوْفَى " .
[2] فيض القدير (4/ 249)
[ص:249] 5188 - (الصلاة ميزان) أي هي ميزان الإيمان (فمن أوفى) بأن حافظ عليها بواجباتها ومندوباتها (استوفى) ما وعد به من الفوز بدار الثواب والنجاة من أليم العقاب وبالصلاة يوزن إيمان الإنسان لأنها محل مناجاة الرحمن لا واسطة فيها بين المصلي وربه وبها تظهر أثر المحبة لأنه لا شيء ألذ عند المحب من الخلوة بمحبوبه ليفوز بمطلوبه <تنبيه> قال السهروردي: اشتقاق الصلاة من الصلى وهو النار والخشبة المعوجة إذا أرادوا تقويمها تعرض على النار وفي العبد اعوجاج لوجود نفسه الأمارة بالسوء وسبحات وجه الله الكريم لو كشف حجابها أحرقت من أدركته يصيب بها المصلي من وهج السطوة الإلهية والعظمة الربانية ما يزول به اعوجاجه بل يتحقق معراجه فالمصلي كالمصلي بالنار ومن اصطلى بنار الصلاة وزال بها اعوجاجه لا يعرض على النار إلا تحلة القسم.

0 komentar:

Posting Komentar