SELAMAT DATANG DI BLOG PONDOK PESANTREN MULYA ABADI, JL. MAGELANG KM 8.5 SLEMAN YOGYAKARTA, SEMOGA BLOG INI BISA MENJADI SILATURAHMI KITA UNTUK SALING BERBAGI

Doa Meluluhkan Hati Seseorang

Ya Allah sungguh Engkau Maha Mulia Maha Besar. Sedangkan saya HambaMu yang sangat hina dina. Tiada upaya dan kekuatan kecuali karena Kau. Ya Allah, tundukkanlah

Doa Agar di Beri kerjaan Bisnis

Ya Allah, Raja segala Kerajaan, Tuhan memberikan Kerajaan pada yang Tuhan kehendaki, melepas Kerajaan dari yang Tuhan kehendaki, menjayakan orang yang Tuhan kehendaki, dan merendahkan orang yang Tuhan kehendaki

Sapaan Nabi Membuat Khowat Sungkan

Rasulullah SAW keluar dari tenda dan bersabda pada saya ‘hai Ayah Abdillah, apa yang mendorong kau duduk bersama mereka ?’

Hibah Menurut Bukhori

Hibah Menurut Bukhari Ibrahim Annakhai tergolong Tabiin yang sangar alim. Beliau murid Ibrhaim Attaimi, murid Amer bin Maimun, murid Abu Abdillah Al-Jadali, murid Khuzaimah sahabat Nabi SAW.

Masuk Surga Paling Awal

Rasulullah SAW bersabda, “Jibril AS telah datang untuk memegang tanganku untuk menunjukkan saya Pintu Gerbang Surga, yang akan dimasuki oleh umatku.”

2012/04/25

BI 5: Bedah Ibnu Katsir


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Al-Qur’an diturunkan pada waktu Ilmu Sastra Bangsa Arab matang atau sempurna. Bangsa Arab senang dengan kalimat indah berbentuk syair pendek maupun panjang. Di antara para penyair kondang saat itu bernama Umayah bin Abisshalt, Labid, dan lainnya.[1]
Bangsa Arab sangat terkejut pada Al-Qur’an yang dibaca oleh nabi SAW pada mereka, karena ternyata jauh lebih indah dan lebih berbobot daripada syair yang mereka susun. Ayah Khalid bin Al-Walid, bernama Walid bin Al-Mughirah (الوليد بن المغيرة), juga tergolong tokoh Arab yang sangat pandai mengeni Syair.

Ibnu Katsir menukil Hadits Ibnu Jarir tentang Keindahan Al-Qur’an menurut pernyataan Al-Walid Musuh Allah dan musuh Islam: تفسير ابن كثير - (ج 8 / ص 267)
قال ابن جرير: حدثنا ابن عبد الأعلى، أخبرنا محمد بن ثور، عن مَعْمَر، عن عَبَّاد بن منصور، عن عكرمة: أن الوليد بن المغيرة جاء إلى النبي صلى الله عليه وسلم فقرأ عليه القرآن، فكأنه رق له. فبلغ ذلك أبا جهل بن هشام، فأتاه فقال: أي عم، إن قومك يريدون أن يجمعوا لك مالا. قال: لم؟ قال: يعطونكه، فإنك أتيت محمدًا تَتَعَرض لما قبله. قال: قد علمت قريش أني أكثرها مالا. قال: فقل فيه قولا يعلم قومك أنك منكر لما قال، وأنك كاره له. قال: فماذا أقول فيه؟ فوالله ما منكم رجل أعلم بالأشعار مني، ولا أعلم برجزه ولا بقصيده ولا بأشعار الجن، والله ما يشبه الذي يقوله شيئًا من ذلك. والله إن لقوله الذي يقول لحلاوة، وإنه ليحطم ما تحته، وإنه ليعلو وما يعلى. وقال: والله لا يرضى قومك حتى تقول فيه. قال: فدعني حتى أفكر فيه. فلما فكر قال: إن هذا سحر يأثره عن غيره. فنزلت: { ذَرْنِي وَمَنْ خَلَقْتُ وَحِيدًا } [قال قتادة: خرج من بطن أمه وحيدا] حتى بلغ: { تِسْعَةَ عَشَرَ }
وقد ذكر محمد بن إسحاق وغير واحد نحوا من هذا. وقد زعم السدي أنهم لما اجتمعوا في دار الندوة ليجمعوا رأيهم على قول يقولونه فيه، قبل أن يقدم عليهم وفودُ العرب للحج ليصدّوهُم عنه، فقال قائلون: شاعر. وقال آخرون: ساحر. وقال آخرون: كاهن. وقال آخرون: مجنون. كما قال تعالى: { انْظُرْ كَيْفَ ضَرَبُوا لَكَ الأمْثَالَ فَضَلُّوا فَلا يَسْتَطِيعُونَ سَبِيلا } [ الإسراء: 48] كل هذا والوليد يفكر فيما يقوله فيه، ففكر وقدر، ونظر وعبس وبسر، فقال: { إِنْ هَذَا إِلا سِحْرٌ يُؤْثَرُ إِنْ هَذَا إِلا قَوْلُ الْبَشَرِ قال الله عز وجل: { سَأُصْلِيهِ سَقَرَ } أي: سأغمره فيها من جميع جهاته }.

Arti (selain isnad)nya:
Ikrimah berkata, “Sesungguhnya Al-Walid bin Al-Mughirah telah datang pada nabi SAW, untuk mendengarkan pembacaan Al-Qur’an. Sungguh saat itu, Al-Walid mirip seperti sangat sopan pada baginda SAW.
Setelah mendengar berita tersebut, Abu Jahl bin Hisyam segera mendatangi untuk berkata ‘Hai paman! Sungguh kaummu akan mengumpulkan harta untukmu’ pada Al-Walid.
Al-Walid menjawab ‘untuk apa?’.
Abu Jahl berkata ‘untuk diberikan padamu. Agar kau pergunakan mempengaruhi Muhammad’.
Al-Walid menjawab ‘sungguh kaum Quraisy telah tahu bahwa; sayalah yang paling banyak hartanya’.
Abu Jahl berkata ‘kalau begitu! Ucapkanlah kalimat! Agar kaummu tahu bahwa kau benci yang diucapkan oleh Muhammad! Dan benci Muhammad!’.
Al-Walid bertanya ‘saya disuruh berkata bagaimana, mengenai dia? Demi Allah tak seorangpun lelaki dari kalian, kecuali pasti telah tahu bahwa tidak ada yang lebih tahu mengenai syair-syair daripada saya! Baik mengenai syair rajaz, qasidah, maupun syair-syair jin! Demi Allah, yang dia ucapkan tidak menyerupai itu semuanya! Demi Allah untaian perkataannya niscaya manis sekali! Demi Allah yang dia baca akan menghancurkan keyakinan yang nilainya di bawahnya! Sungguh yang dia baca menjulang tinggi, takkan tertandingi!’.
Abu Jahl berkata ‘demi Allah! Kaummu takkan ridho sebelum kau mengatakan Jelek tentang dia!’.
Al-Walid berkata ‘tinggalkan saya! Akan saya pikirkan susunan kalimat tentang itu untuk dia’. Setelah berpikir serius, dia berkata ‘yang diucapkan oleh dia, sihir pilihan yang mengalahkan lainnya’.
Maka turun Firman, 'Biarkan Aku dan orang yang telah Kucipta dengan sendirian!'.”

Qatadah menjelaskan, “Maksudnya ‘dia keluar dari perut ibunya sendirian’.”
Muhammad bin Ischaq dan ulama berjumlah lebih dari seorang, juga telah menjelaskan sepadan ini. Bahasan ini sampai kalimat Ayat: تِسْعَةَ عَشَرَ.
Sungguh Assuddi (السُّدِّيّ) telah meyakini bahwa ketika mereka berkumpul di Darunnadwah (دار الندوة), untuk bermufakat mengenai tuduhan yang akan dilontarkan atas nabi SAW. Sebelum tamu-tamu utusan datang untuk berhaji. Tuduhan kejam itu akan disampaikan pada mereka, sebagai upaya agar mereka tidak menjadi pengikutnya SAW.
Mereka berkata, “Dia penyair.”
Selain mereka sama berkata, “Dia penyihir.”
Ada lagi yang sama berkata, “Dia paranormal.”
Ada lagi yang sama berkata, “Dia orang gila.”
Kenyataan ini mirip seperti yang difirmankan oleh Allah, “Perhatikan! Bagaimana mereka membuat gambaran? Maka mereka tak mampu (berjalan) pada jalan.”
Semua tuduhan ini telah direncanakan oleh Al-Walid. Tentang hal ini, Allah berfirman, “Maka dia berpikir dan mempertimbangkan. Berpikir cermat, bermuka masam dan cemberut. Lalu berkata ‘ini tiada lain kecuali sihir yang diunggulkan! Ini tiada lain kecuali ucapan manusia’.”
Allah azza wajalla berfirman, “Dia akan Kumasukkan ke dalam neraka Saqar.”
Maksudnya: Dia akan Kumasukkan di dalamnya dari seluruh bagiannya.

Kesimpulan: Al-Walid dan orang pandai lainnya banyak yang bersaksi bahwa Keindahan Al-Qur’an, sangat sempurna. Bahkan isinya sangat berbobot, karena Ilmu Allah.
Ada yang bertanya, “Sayangnya dalam bahasa Arab, terlalu banyak mempergunakan huruf ‘wa (وَ)’ yang artinya ‘dan?’.”
Ada yang menjawab, “Bahasa Arab jangan disamakan dengan bahasa Indonesia atau bahasa lainnya! ‘Wa (وَ)’ dalam bahasa Arab, artinya bermacam-macam: dan, namun, bersama, tanda titik, tanda koma, tanda persepadanan, ketika dia dalam keadaan, padahal, sementara, demi, dan ada lagi.”


Ponpes Mulya Abadi Mulungan

[1] Menurut Ibnu Chajar di dalam Fatchul-Bari (فتح الباري لابن حجر - (ج 11 / ص 158)): “Labid adalah penyair terkenal yang syairnya pernah dibantah oleh Utsman bin Madzun (عُثْمَان بْن مَظْعُون), yang saat itu sudah beriman.”

2012/04/18

Seni Menegur


Bedah Ayat Al-Qur’an


Dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits, terdapat banyak contoh cara menegur orang salah atau mendidik, dengan cara indah. Di antaranya Teguran Allah yang dilontarkan pada pertengahan bulan Syawal tahun tiga Hijriyah, yaitu setelah Perang Uhud yang bersejarah. Teguran indah ini di alamatkan secara khusus pada Jabir bin Abdillah dan keluargnya yang terdiri dari dua golongan, yang keberanian mereka kurang:
إِذْ هَمَّتْ طَائِفَتَانِ مِنْكُمْ أَنْ تَفْشَلَا وَاللَّهُ وَلِيُّهُمَا وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ وَلَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ بِبَدْرٍ وَأَنْتُمْ أَذِلَّةٌ فَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ [آل عمران/122، 123].
Artinya:
Ketika itu dua golongan dari kalian telah sengaja mengecut, padahal Allah kekasih dua golongan tersebut. [1] Dan hendaklah orang-orang iman ‘bertawakkal’ pada Allah! Padahal niscaya sungguh Allah telah menolong kalian di dalam Perang Badar, ketika kalian dalam keadaan hina! [2] Maka takutlah Allah! Agar kalian bersyukur!.”
Kiranya tidak ada teguran yang lebih indah daripada teguran melalui dua ayat di atas. Bagi Jabir bin Abdillah dan keluarganya ‘teguran tersebut’ pasti terukir di dinding hati mereka, dan takkan dilupakan sepanjang hidup. Bahkan teguran tersebut menjadi hiburan yang selalu diingat-ingat setiap saat.

Bukhari meriwayatkan pernyataan Jabir berkenaan ayat tersebut: صحيح البخاري - (ج 12 / ص 446)
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يُوسُفَ عَنْ ابْنِ عُيَيْنَةَ عَنْ عَمْرٍو عَنْ جَابِرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ نَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ فِينَا { إِذْ هَمَّتْ طَائِفَتَانِ مِنْكُمْ أَنْ تَفْشَلَا } بَنِي سَلِمَةَ وَبَنِي حَارِثَةَ وَمَا أُحِبُّ أَنَّهَا لَمْ تَنْزِلْ وَاللَّهُ يَقُولُ { وَاللَّهُ وَلِيُّهُمَا }.
Arti (selain isnad)nya:
Dari Jabir RA, “Ayat ini (إِذْ هَمَّتْ طَائِفَتَانِ مِنْكُمْ أَنْ تَفْشَلَا / Ketika itu dua golongan dari kalian telah sengaja mengecut (dan seterusnya)), turun mengenai kami keluarga Bani Salimah dan Bani Charitsah. Namun saya justru tidak senang jika ayat tersebut tidak diturunkan. Allah (saat itu) berfirman padahal Allah kekasih dua golongan tersebut (وَاللَّهُ وَلِيُّهُمَا)’.”

Kesimpulan:
1.      Pastikan orang yang ditegur atau dididik tahu kita berniat baik, cinta atau perhatian padanya.
2.      Berilah penghargaan pada orang yang ditegur atau dididik tersebut. Pernyataan, “Saya senang berteman dengan kau. Saya merasa beruntung bisa bersalaman dengan kau,” termasuk penghargaan.
3.      Sampaikan pesan dengan bahasa indah dan singkat. Kecuali jika dia ingin penjelasan yang lebih panjang.
4.      Pesan indah terkadang tidak diterima, karena waktu dan keadaan, kurang tepat.



[1] Wa (وَ) dalam lafal wallohu (وَاللَّهُ) diartikan padahal karena haliyah.
[2] Wa (وَ) dalam huruf walaqad (وَلَقَدْ) diartikan 'padahal' karena haliyah. Wa (وَ) dalam lafal waantum (وَأَنْتُمْ) diartikan 'ketika kalian dalam keadaan', karena untuk menjelaskan keadaan saat itu (haliyah).  

2012/04/17

Tatakerama Allah


Mungkin istilah, "Tata" dari bahasa Sansekerta; ‘kerama’ dari bahasa Arab (Al-Karma/الْكَرْمَ). Hujah bahwa lafal ‘kerama’ berasal dari bahasa Arab adalah dalam Hadits yang disampaikan oleh Al-Qurthubi.[1]

Tatakerama atau Kesopanan Allah pada HambaNya, Maha Sempurna
Ketika kaum Kafir mengatakan, “Yang mengarang Al-Qur’an adalah Muhammad SAW." 
Bagi Allah pernyataan itu merupakan dosa sangat besar. Karena sama dengan berkata, “Kepandaian dan kesaktian Allah, bisa dibandingi oleh selain Allah. Karena ada Tuhan selain Allah.”

Mestinya kaum yang mengatakan demikian itu, diadzab hingga hancur lebur, karena telah menghina Allah dan meremehkan FirmanNya yang sarat dengan Ilmu. Namun ternyata Allah tetap juga memberi Ajaran, yang disampaikan dengan sangat sopan, dan penuh kasih sayang:
أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ قُلْ فَأْتُوا بِعَشْرِ سُوَرٍ مِثْلِهِ مُفْتَرَيَاتٍ وَادْعُوا مَنِ اسْتَطَعْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ فَإِنْ لَمْ يَسْتَجِيبُوا لَكُمْ فَاعْلَمُوا أَنَّمَا أُنْزِلَ بِعِلْمِ اللَّهِ وَأَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ فَهَلْ أَنْتُمْ مُسْلِمُونَ [هود/13، 14].

Artinya:
Justru mereka berkata, “Dia (Muhammad) yang telah mengarang Al-Qur’an. Katakan ‘datangkanlah sepuluh surat semisalnya yang dikarang! Dan ajaklah yang kalian mampu mengajak selain Allah! Jika kalian telah benar (pernyataannya)!’.”
Jika mereka mutlak tidak bisa mengabulkan tantangan ini pada kalian, maka ketahuilah bahwa: 
1), Sungguh Al-Qur’an diturunkan dengan memuat Ilmu Allah. 
2), Tiada Tuhan yang wajib disembah kecuali Allah. Bukankah kalian mau masuk Islam?.[2]
 
Yang perlu dicatat
1). Am (أَمْ) yang tidak diletakkan setelah a (أَ) artinya bal (بَلْ) atau justru. 
2). Kalimat, “Sungguh Al-Qur’an diturunkan dengan memuat Ilmu Allah,” sama dengan, “Sungguh Al-Qur’an bukan karangan Muhammad.” 
3). Kalimat, “Jika kalian telah benar pernyataannya,” adalah pelajaran bahwa ‘teori bisa dikatakan benar jika telah teruji kebenarannya’. 
4). Hal (هَلْ) dalam fahal (فَهَلْ) diartikan, “Bukankah mau,” karena pertanyaan rayuan agar dijawab ‘ya’. 
5). Muslimuun (مُسْلِمُونَ) diartikan, “Masuk Islam, karena (isim fail jamak). Berasal dari ‘aslama (أَسْلَمَ) yang artinya masuk Islam. 
6). Ketika Manusia mengkufuri Kitab Allah; Allah justru menunjukkan pada mereka dengan sopan, cara membuktikan secara ilmiah yang paling dahsyat sepanjang sejarah, bahwa Al-Qur’an bukan karangan Muhammad, tetapi diturunkan dari Allah dan memuat Ilmu Allah. 
7). Petunjuk Allah mengenai 'pembuktian secara ilmiah' yang paling dahsyat sepanjang sejarah kehidupan insan itu, membuahkan hasil berupa ilmu, bahwa Al-Qur’an bukan karangan Muhammad. Tetapi diturunkan dari Allah dan memuat Ilmu Allah, juga membuktikan bahwa Allah hanya satu.


[1] تفسير القرطبي - (ج 9 / ص 206)
قال صلى الله عليه وسلم: " لقد عجبت من يوسف وصبره وكرمه والله يغفر له حين سئل عن البقرات لو كنت مكانه لما أخبرتهم حتى اشترط أن يخرجوني ولقد عجبت منه حين آتاه الرسول ولو كنت مكانه لبادرتهم الباب
Artinya:
Nabi SAW bersabda, “Niscaya saya benar-benar telah takjub pada kesabaran dan kesopanan Yusuf AS. Semoga Allah mengampuni 'ketika dia ditanya' tentang mimpi raja melihat tujuh sapi. Kalau saya yang menjadi dia, niscaya mereka tidak saya beri tahu arti mimpi itu, sehingga saya mengajukan syarat 'mereka mengeluarkan saya dari penjara'. Saya juga telah takjub pada saat beliau didatangi utusan (raja), agar menghadap raja. Kalau saya yang menjadi dia, niscaya telah mendahului mereka menuju pintu keluar (untuk datang pada raja).”
Nabi SAW menyatakan ‘kesopanan Yusuf’ dalam Hadits tersebut, dengan lafal karamihi (كرمه), yang asalnya karam yang kata dasarnya Al-Karm (الْكَرْمَ).

[2] Am (أَمْ) di sini diartikan justru karena sebelumnya tidak ada a (أَ). Merujuk: تفسير الجلالين - (ج 3 / ص 485)
{ أَمْ } بل أ { يَقُولُونَ افتراه } أي القرآن؟ .