SELAMAT DATANG DI BLOG PONDOK PESANTREN MULYA ABADI, JL. MAGELANG KM 8.5 SLEMAN YOGYAKARTA, SEMOGA BLOG INI BISA MENJADI SILATURAHMI KITA UNTUK SALING BERBAGI

Doa Meluluhkan Hati Seseorang

Ya Allah sungguh Engkau Maha Mulia Maha Besar. Sedangkan saya HambaMu yang sangat hina dina. Tiada upaya dan kekuatan kecuali karena Kau. Ya Allah, tundukkanlah

Doa Agar di Beri kerjaan Bisnis

Ya Allah, Raja segala Kerajaan, Tuhan memberikan Kerajaan pada yang Tuhan kehendaki, melepas Kerajaan dari yang Tuhan kehendaki, menjayakan orang yang Tuhan kehendaki, dan merendahkan orang yang Tuhan kehendaki

Sapaan Nabi Membuat Khowat Sungkan

Rasulullah SAW keluar dari tenda dan bersabda pada saya ‘hai Ayah Abdillah, apa yang mendorong kau duduk bersama mereka ?’

Hibah Menurut Bukhori

Hibah Menurut Bukhari Ibrahim Annakhai tergolong Tabiin yang sangar alim. Beliau murid Ibrhaim Attaimi, murid Amer bin Maimun, murid Abu Abdillah Al-Jadali, murid Khuzaimah sahabat Nabi SAW.

Masuk Surga Paling Awal

Rasulullah SAW bersabda, “Jibril AS telah datang untuk memegang tanganku untuk menunjukkan saya Pintu Gerbang Surga, yang akan dimasuki oleh umatku.”

2011/05/29

KW 69: Membayar Pajak

(Bagian ke-69 dari seri tulisan Khalid bin Walid)

Abu Ubaidah mendekati para tawanan perang yang sama menangis. Mereka diikat, dan menangis karena keluarga mereka sama terbunuh, harta kekayaan mereka dirampas, dan kampung mereka dirusak.
Abu Ubaidah perintah pada penerjemah, “Katakan pada mereka ‘kenapa kalian menangis dan tidak segera masuk Islam untuk mendapatkan keamanan dan jaminan selamat. Dengan itulah kalian dan harta kalian aman.”
Setelah penerjemah menjelaskan maksud Abu Ubaidah, mereka berkata dengan bahasa Roma, “Wahai pimpinan! Tempat kami jauh dari kalian. Kami telah mendengar khabar tentang kalian, namun kami tak yakin bahwa kalian akan sampai ke tempat kami. Tahu-tahu pasukan tuan telah memasuki kota untuk memerangi dan merampas harta kami. Menangkap anak-anak kami, dan mengumpulkan kami di gunung, hingga akhirnya dibawa kemari.”
Kaum tawanan berjumlah 400 orang itu terkesima menyaksikan dan mendengarkan tutur kata panglima perang Muslimiin. Walau mereka tak paham dengan bahasanya, namun ada penerjemah yang menjelaskan maksudnya pada mereka. Penerjemah mengatakan, “Maksud beliau ‘kalau mereka membebaskan kalian dan mengembalikan keluarga dan harta kekayaan kalian. Apakah kalian sanggup melaksanakan perintahnya? Membayar pajak dan menyerahkan hasil bumi?’.”
Kini mereka ricuh karena saling bertanya sebaiknya ditanggapi bagaimana. Beberapa orang berkata, “Lepaslah kami! Kami akan melaksanakan semua permintaan kalian.”
Abu Ubidah berkata di pertengahan pasukan Muslimiin, “Saya berpandangan sebaiknya mereka dibebaskan dan harta kekayaan mereka dikembalikan agar mereka menjadi bawahan kita yang bertugas mengurusi sawah ladang dan pekarangan, dan memberi kita hasil bumi dan pajak. Menurut kalian bagaimana? Terus terang saya tidak akan memutuskan rencana ini sebelum kalian semua setuju.”
Pasukan Muslimiin menjawab, “Itu akan lebih baik jika tujuannya untuk kemashlahatan kaum Muslimiin! Yang mulia.”  
Abu Ubaidah mewajibkan tiap tawanan agar membayar 4 dinar. Setelah mereka sanggup, nama mereka dicatat, dilepas. Dan harta mereka dikembalikan.
Para tawanan pulang dengan bergembira. Setelah sampai rumah, mereka memberi tahu pada orang-orang yang dijumpai bahwa ternyata orang-orang Arab sopan-sopan, dan memperlakukan tawanan dengan baik. Mereka berkata, “Tadinya kami menyangka bahwa kami akan dibunuh dan anak kami akan diperbudak. Kami diperbolehkan pulang kerumah dengan syarat membayar pajak dan menyetorkan hasil bumi.”

Beberapa saat setelah itu kaum Romawi berdatangan banyak sekali untuk menememui Abu Ubaidah. Tujuan mereka mengajukan permohonan damai dengan imbalan sanggup membayar pajak dan menyerahkan sebagian hasil bumi.

2011/05/28

KW 68: Di Sungai Maqlub

(Bagian ke-68 dari seri tulisan Khalid bin Walid)

Yang menjadi pusat perhatian bagi kaum Muslimiin adalah Panglima Perang mereka bernama Abu Ubaidah yang saat itu berbicara dengan Khalid bin Al-Walid. Saat itu, Abu Ubaidah menyerahkan 4.000 pasukan berkuda yang terdiri dari kaum Judzam, Thay, Nabhan, Kahlan, dan Khaulan, pada Khalid.
Abu Ubaidah berpesan, “Hai ayah Sulaiman! Ajaklah pasukanmu ini ke Ma’arroh (المَعَرَّةِ) untuk mempersiapkan serangan ke kota Awashim! Sebarlah mata-matamu untuk mengamati barangkali ada bala-bantuan yang datang untuk mereka.”
Khalid mempersiapkan pasukannya untuk melaksanakan perintah Abu Ubaidah. Khalid mengambil panji dan bergerak ke depan pasukan lalu melantunkan syair yang memukau:
Panji telah kubawa; sementara sang raja....
Saya yang bertanggung jawab karena panji telah kubawa
Karena saya juga pimpinan dari Bani Makhzuma
Saya juga sahabat Ahmad yang sangat mulia
Saya akan bergerak bagai singa jantan yang tak peduli pada siapa saja
Ya Tuhan! Anugrahilah kami pahala memerangi Roma

Empatribu pasukan berkuda berarak-arakan panjang sekali menyusuri jalan panjang. Cukup lama mereka berjalan hingga akhirnya sampai ke sungai Maqlub (النهر المقلوب).[1] Khalid memanggil untuk menyerahkan 500 pasukan berkuda pada Mush’ab bin Mucharib Al-Yasykuri (مصعب بن محارب اليشكري). Khalid perintah pada Mush’ab agar penyerangan atas penduduk Awashim dan Qinasrin segera dimulai. 
Mucharib dan 500 pasukan berkudanya melumpuhkan penduduk-penduduk kota yang diserang dengan garang. Dia menawanan dan merampas harta kekayaan penduduk yang takluk.

Abu Ubaidah sangat berbahagia saat menyaksikan harta rampasan yang disetorkan oleh Khalid banyak sekali.
Abu Ubaidah, Khalid, dan pasukan Muslimiin terkejut oleh suara derap kaki kuda, hiruk pikuk, dan ricuh menggemuruh. Makin lama suara itu semakin keras dan jelas membisingkan. Arak-arakan panjang 500 pasukan berkuda di bawah pimpinan Mush’ab bin Mucharib Al-Yasykuri (مصعب بن محارب اليشكري) berdatangan. Beberapa kali tahlil, takbir, dan sholawat untuk nabi meledak dari bibir mereka. Abu Ubaidah bertanya pada Khalid, “Siapa mereka ini?.”
Khalid menjawab, “Mereka pasukan yang dipimpin Mush’ab bin Mucharib yang telah saya perintah membawa panji untuk memimpin 500 pasukan berkuda yang terdiri dari kaumnya dan dari Yaman. Mereka telah berhasil melumpuhkan penduduk Awashim dan Qinasrin, menawan dan merampas harta kekayaan.”  
Pasukan Mush’ab yang berdatangan mengalir semakin banyak. Rampasan perang yang dibawa tidak hanya emas dan perak. Kawanan sapi, kambing, kuda jantan, berjumlah banyak sekali melengkapi rampasan perang. Tawanan yang terdiri dari para wanita, pria, dan anak-anak, berjumlah sangat banyak juga. Di celah suara bising dan ricuh itu ada juga suara tangisan dan jeritan. 
Pantesan pasukan yang baru saja datang dibawa oleh Mush’ab itu banyak sekali karena membawa tawanan berjumlah 400 orang, dan kawan sapi, kambing, dan kuda jantan berjumlah banyak sekali. Ada sejumlah orang yang menangis pilu, membuat Abu Ubaidah iba.


[1] Sungai itu berkelok.

2011/05/26

PK 5: Menggeledah Harta Kekayaan

(Bagian ke-5 dari seri tulisan Perang Khaibar menurut Al-Waqidi)
Kinanah bin Abil-Chuqaiq (كِنَانَةَ بْنَ أَبِي الْحُقَيْقِ) tokoh Yahudi paling berpengaruh, menantu raja, mengutus seorang agar menyampaikan pesan pada nabi, “Berhentilah, saya akan berbicara penting.”
Nabi menjawab, “Ya.”
Mereka berdua membuat kesepakatan perjanjian damai dengan syarat seluruh pasukan Yahudi dibunuh. Yang dibiarkan hidup anak yang belum dewasa dan penduduk sipil. Mereka diharuskan meninggalkan Khaibar. Harta, pekarangan, pakaian, emas, perak, menjadi milik kaum Muslimiin, keculi yang mereka kenakan, atau yang bisa mereka bawa.
Rasulullah SAW bersabda, “Kalau harta kekayaan ada yang kalian sembunyikan, perjanjian damai ini batal lho.”
Nabi perintah agar pasukan Muslimiin menggeledah harta kekayaan mereka. Setelah semua dikumpulkan, ada 100 baju perang, 400 pedang, 1.000 tombak, 500 busur dan anak panah yang panjang-panjang. Rasulullah bertanya pada Kinanah bin Abil-Chuqaiq tentang simpanan kekayaan keluarga besar ayah Kinanah yang berisi perhiasan banyak yang disimpan di Maskul-Jamal. Harta kekayaan yang mahal sekali itu mashur dikalangan masyarakat luas. Harta itu diwaris turun-temurun oleh tokoh-tokoh besar keluarga Kinanah.
Kinanah bin Abil-Chuqaiq menjawab, “Hai ayah Qasim, harta itu telah kami habiskan untuk biaya perang. Tidak ada sisanya sama sekali.” Kinanah bin Abil-Chuqaiq bersumpah bahwa harta kekayaan itu benar-benar sudah habis. 
Rasulullah bersabda, “Jika harta yang kami cari ternyata ada, tanggungan (ذِمّةُ) Allah dan Rasul-Nya batal.”
Dia menjawab, “Okay.”
Nabi bersabda, “Berarti kau saya bunuh?.”
Dia menjawab, “Ya.”
Nabi menyuruh Abu Bakr, Umar, Ali, Az-Zubair, dan sepuluh orang Yahudi agar menyaksikan pernyataan Kinanah. Seorang Yahudi datang untuk berbicara pada Kinanah, “Jika yang dicari oleh Muhammad ternyata kau sembunyikan, katakan saja padanya agar kau selamat, kalau nggak mau pasti Muhammad akan segera tahu di mana letaknya.”
Kinanah membentak hingga dia ketakutan dan menyingkir untuk duduk. 
Nabi bertanya pada lelaki lemah bernama Tsa’labah bin Sallam bin Abil-Chuqaiq (ثَعْلَبَةَ بْنَ سَلّامِ بْن أَبِي الْحُقَيْقِ) tentang harta kekayaan itu. Dia menjawab, “Saya tidak tahu. Hanya saja telah saya saksikan setiap pagi Kinanah mengelilingi reruntuhan bangunan ini. Mungkin dia menyembunyikan di tempat itu.”
Sebetulnya ketika nabi telah menaklukkan penghuni kastil Nathah (النّطَاةِ); Kinanah yakin bahwa hidupnya akan segera berakhir; saat itu seluruh penghuni kastil ketakutan. Kinanah membawa Maskul-Jamal yang di dalamnya ada harta kekayaan itu untuk dikubur dengan tanah. Tak ada seorang pun yang melihatnya. 

Nabi perintah agat Tsa’labah mengantar Az-Zubair bin Al-Awwam dan kaum Muslimiin untuk menggalinya. Ternyata di dalam tanah itu benar-benar ada Maskul-Jamal (مَسْك الْجَمْلِ) yang di dalamnya adalah harta kekayan yang sangat mahal.

Nabi perintah agar Az-Zubair menghajar Kinanah bin Abil-Chuqaiq agar menunjukkan lagi harta yang lain. Kinanah bin Abil-Chuqaiq yang kesakitan mengeluarkan simpanan yang disembunyikan. Kinanah diserahkan agar dibunuh oleh Maslamah, karena dialah yang telah membunuh sudara laki-laki Maslamah.
Kinanah roboh dan tewas oleh tebasan pedang Maslamah. Nabi perintah saudara laki-laki Kinanah lainnya agar dibunuh. Kerabat Bisyr bin Al-Barra’ (بِشْرِ بْنِ الْبَرَاءِ) membabatkan pedang ke lehernya. Harta kekayaan Kinanah dan saudaranya disita dan anak-cucu mereka berdua ditawan. Kebanyakan yang di dalam Maskul-Jamal itu adalah gelang dari emas, Damalij (دَمَالِجُ)[1] emas, gelang-gelang kaki, anting-anting emas, untaian mutiara dan zamrud, cincin-cincin emas, kalung-kalung model Jaz’i dlofar (جَزْعِ ظَفَارِ) dari emas. Nabi mengamati lalu memberikan untian mutiara pada sebagian istri atau putrinya.
Untaian mutiara itu dilepas untuk diberikan pada orang-orang yang membutuhkan dan janda-janda. Di antara mutiara itu ada yang dibeli oleh Abus-Syachm (أَبُو الشّحْمِ). Suatu malam nabi gelisah kesulitan tidur. Paginya dia datang pada A’isyah atau putrinya untuk bersabda, “Kembalikan untaian kalung itu!. Dia bukan hakku!, juga bukan hakmu.”
Wanita itu menjawab, “Sudah saya lepas untuk dibagi-bagi pada orang-orang yang membutuhkan dan para janda.”
Shofiyyah bintu Chuyyay (صَفِيّةُ بِنْتُ حُيَيّ) janda beumur 16 tahun mantan istri Kinanah bin Abil-Chuqaiq itu berkata, “Kalung indah itu tadinya milik putri Kinanah.”
Shofiyyah bintu Chuyyay (صَفِيّةُ بِنْتُ حُيَيّ) ditawan sebelum nabi sampai beteng Al-Katibah (الْكَتِيبَة). Rasulullah menyuruh agar Bilal membawa Shofiyyah dan anak perempuan paman Shofiyyah ke tenda. Di dalam perjalanan itu mereka bertiga melewati orang-orang Yahudi yang terkapar tewas berjumlah banyak. Anak perempuan paman Shofiyyah berteriak keras karena takut melihat mayat berjumlah banyak itu. Nabi benci pada kecerobohan Bilal, dan menegur, “Apakah rahmat telah kabur darimu?. Perempuan remaja kok dibawa lewat dekat mayat-mayat?.”
Bilal menjawab, “Ya Rasulallah, saya kira tuan takkan menegurku. Saya sekedar ingin menunjukkan kaumnya yang berguguran tewas.”  
Nabi bersabda pada wanita yang berteriak keras itu, “Teriakan ini berasal dari syaitan.” Dichyah Al-Kalbi (دِحْيَةُ الْكَلْبِيّ) telah mengamati kecantikan Shofiyyah yang gemerlapan sehingga memberanikan diri memohon pada Rasulallah SAW. Rasulallah memberikan Shofiyyah lalu mengganti anak perempuan paman Shofiyyah untuk Dichyah.

[1] Jenis-jenis  gelang yang sangat indah.

PK 4: Raja Huyay Bin Akhthab

(Bagian ke-4 dari seri tulisan Perang Khaibar)

Hadits yang membahas setelah Khaibar ditaklukkan:

عَنْ نَافِعٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَاتَلَ أَهْلَ خَيْبَرَ فَغَلَبَ عَلَى النَّخْلِ وَالأَرْضِ وَأَلْجَأَهُمْ إِلَى قَصْرِهِمْ فَصَالَحُوهُ عَلَى أَنَّ لِرَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الصَّفْرَاءَ وَالْبَيْضَاءَ وَالْحَلْقَةَ وَلَهُمْ مَا حَمَلَتْ رِكَابُهُمْ عَلَى أَنْ لاَ يَكْتُمُوا وَلاَ يُغَيِّبُوا شَيْئًا فَإِنْ فَعَلُوا فَلاَ ذِمَّةَ لَهُمْ وَلاَ عَهْدَ فَغَيَّبُوا مَسْكًا لِحُيَىِّ بْنِ أَخْطَبَ وَقَدْ كَانَ قُتِلَ قَبْلَ خَيْبَرَ كَانَ احْتَمَلَهُ مَعَهُ يَوْمَ بَنِى النَّضِيرِ حِينَ أُجْلِيَتِ النَّضِيرُ فِيهِ حُلِيُّهُمْ قَالَ فَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- لِسَعْيَةَ « أَيْنَ مَسْكُ حُيَىِّ بْنِ أَخْطَبَ ». قَالَ أَذْهَبَتْهُ الْحُرُوبُ وَالنَّفَقَاتُ. فَوَجَدُوا الْمَسْكَ فَقَتَلَ ابْنَ أَبِى الْحُقَيْقِ وَسَبَى نِسَاءَهُمْ وَذَرَارِيَّهُمْ وَأَرَادَ أَنْ يُجْلِيَهُمْ فَقَالُوا يَا مُحَمَّدُ دَعْنَا نَعْمَلْ فِى هَذِهِ الأَرْضِ وَلَنَا الشَّطْرُ مَا بَدَا لَكَ وَلَكُمُ الشَّطْرُ. وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُعْطِى كُلَّ امْرَأَةٍ مِنْ نِسَائِهِ ثَمَانِينَ وَسْقًا مِنْ تَمْرٍ وَعِشْرِينَ وَسْقًا مِنْ شَعِيرٍ.
Artinya: Dari Nafi’ dari Ibnu Umar, “Sesungguhnya nabi SAW telah memerangi penduduk Khaibar hingga berhasil merebut kebun kurma dan tanah mereka, bahkan memaksa mereka memasuki beteng mereka. Penduduk Khaibar mengajukan permohonan damai dengan syarat:
1.      Menyerahkan emas, perak, anting pada Rasulillah SAW.
2.      Yang diambil penduduk Khaibar hanya yang  bisa dibawa dengan kendaraan mereka.
3.      Penduduk Khaibar tidak boleh menyembunyikan kekayaan yang dimiliki, jika dilanggar maka perjanjian damai dibatalkan.
Mereka menyembunyikan wadah kekayaan milik Huyay bin Akhthab bernama Mask. Huyay bin Akhthab raja Yahudi yang telah dibunuh sebelum Perang Khaibar. Mask itu dibawa oleh Huyay bin Akhthab ketika Bani Nadhir diusir menuju Khaibar. Di dalamnya terdapat harta kekayaan berbentuk perhiasan mereka. Nabi bertanya pada Sa’yah ‘mana Mask-nya Huyay bin Akhthab?’.
Sa’yah menjawab ‘telah habis untuk biaya perang dan biaya hidup’.
Kaum Muslimiin menemukan Mask itu, sehingga nabi membunuh Ibnu Abil-Chuqaiq (ابْنَ أَبِى الْحُقَيْقِ) tokoh tertinggi Yahudi. Perempuan-perempuan dan anak-anak mereka ditawan, yang lain diusir. Mereka memohon ‘hai Muhammad, biarkan kami di sini untuk mengolah tanah. Hasilnya nanti dibagi dua, yang setengah untuk kami; yang setengan untukmu’.
Nabi SAW memberi belanja 80 Wasaq kurma dan 20 Wasaq gandum untuk tiap istrinya.”
(سنن أبي داود ـ محقق وبتعليق الألباني - (3 / 117)).

KW 67: Kaum Muslimiin Banyak Mengalah

(Bagian ke-67 dari seri tulisan Khalid bin Walid)

Setelah selesai membaca surat, Abu Ubaidah segera mengajak pasukan Muslimiin untuk pergi ke Chims (Homs). Khalid telah pergi ke sana membawa 1/3 dari seluruh pasukan.
Abu Ubaidah sampai tujuan pada hari Jumat tanggal 14 Syawal tahun 14 Hijriyyah. Penduduk Chims sedang berduka cita karena gubernur mereka bernama Bathriq Laqith wafat sebelum Khalid dan pasukannya datang ke kota itu.
Beribu-ribu kaum Nashrani berkumpul di gereja besar; pembesar mereka berkata, “Kaumku semuanya! Wakil raja yang di sini baru saja wafat. Sementara kebijakan raja mengeni kaum Arab yang telah datang kemari, tidak kita ketahui. Tadinya kami berpikir kaum Arab takkan datang kemari sebelum menaklukkan penduduk Ba’labak (Balbek/بعلبك). Jika kalian memerangi mereka dan mengirimkan surat permohonan bantuan pasukan pada raja, itu tidak mungkin. Karena pasti kaum Arab menghalang-halangi pasukan raja yang akan kemari. Selain itu persediaan makan kita juga tidak mencukupi, jika kita telah dikepung oleh mereka.”
Beberapa orang berkata, “Sebaiknya bagaimana tuan?.”
Dia menjawab, “Sebaiknya kita mengajukan permintaan damai dengan imbalan memberi permintaan mereka. Kita katakan pada mereka ‘jika kalian mampu menaklukkan penduduk Chalab dan Qinasrin, dan pasukan raja, kami akan menjadi pendukung kalian’. Jika kaum Muslimiin telah meninggalkan kita, kita memohon bala bantuan yang banyak sekali pada raja. Kita juga memohon agar diberi gubernur pengganti untuk memimpin kita, dan bahan makan yang cukup. Saat itulah kita perangi kaum Arab itu.”
Beberapa orang mengangguk-anggukkan kepala; beberapa yang lain berkata, “Tepat sekali! Kami akan mengikuti tuan.”

Tokoh besar berpangkat Bathriq itu mengutus seorang jatsaliq (جَاثَلِيقِ) agar menghadap Abu Ubaidah RA, untuk mengajukan permohonan damai. [1] Sang jatsaliq menghadap untuk menyampaikan pesan Bathriq Laqith pada Abu Ubaidah, dengan harapan agar pasukan Muslimiin segera pergi ke Chalab, Qinasrin, Awashim, dan Anthokiyah (Antioch).
Abu Ubidah mengabulkan permohonan damai kaum Chims (Homs) dengan syarat mereka menyerahkan 10.000 dinar dan 200 pakaian sutra Dibaj. Perdamaian akan berlangsung selama setahun penuh, mulai dari awal bulan Dzul-Qa’dah tahun 14 hijriyah hingga akhir bulan Syawal tahun 15 Hijriyah.
Karena perjanjian damai itulah maka rakyat Chims bergaul dengan baik pada kaum Muslimiin. Dalam hal jual beli, kaum Chims menilai kaum Muslimiin banyak mengalah dan bermurah hati. Hal itu membuat mereka senang karena mendapat laba yang banyak sekali.   


[1] Dalam Qamusul-Muchith dijelaskan: الجاثَليقُ بفتح الثاءِ المُثَلَّثَةِ : رَئيسٌ للنَّصَارَى في بِلادِ الا سْلامِ بِمدينةِ السلامِ ويكونُ تحتَ يَدِ بِطْرِيقِ أنْطاكيَةَ ثم المَطْرانُ تحتَ يدِهِ ثم الأُسْقُفُّ يكونُ في كلِّ بَلَدٍ من تحتِ المَطْرانِ ثم القِسِّيسُ ثم الشَّمَّاسُ.
Artinya: Al-Jatsaliq difathah huruf Tsa’nya, yaitu tokoh kaum Nashrani yang berada di wilayah Islam yang tidak menyerang. Kedudukannya di di bawah bathriq Anthakiyah. Yang di bawah dia adalah mithron yang membawahi uskup-uskup yang berada di tiap negri. Di bawahnya lagi namanya qissis, lalu syamas.