SELAMAT DATANG DI BLOG PONDOK PESANTREN MULYA ABADI, JL. MAGELANG KM 8.5 SLEMAN YOGYAKARTA, SEMOGA BLOG INI BISA MENJADI SILATURAHMI KITA UNTUK SALING BERBAGI

Doa Meluluhkan Hati Seseorang

Ya Allah sungguh Engkau Maha Mulia Maha Besar. Sedangkan saya HambaMu yang sangat hina dina. Tiada upaya dan kekuatan kecuali karena Kau. Ya Allah, tundukkanlah

Doa Agar di Beri kerjaan Bisnis

Ya Allah, Raja segala Kerajaan, Tuhan memberikan Kerajaan pada yang Tuhan kehendaki, melepas Kerajaan dari yang Tuhan kehendaki, menjayakan orang yang Tuhan kehendaki, dan merendahkan orang yang Tuhan kehendaki

Sapaan Nabi Membuat Khowat Sungkan

Rasulullah SAW keluar dari tenda dan bersabda pada saya ‘hai Ayah Abdillah, apa yang mendorong kau duduk bersama mereka ?’

Hibah Menurut Bukhori

Hibah Menurut Bukhari Ibrahim Annakhai tergolong Tabiin yang sangar alim. Beliau murid Ibrhaim Attaimi, murid Amer bin Maimun, murid Abu Abdillah Al-Jadali, murid Khuzaimah sahabat Nabi SAW.

Masuk Surga Paling Awal

Rasulullah SAW bersabda, “Jibril AS telah datang untuk memegang tanganku untuk menunjukkan saya Pintu Gerbang Surga, yang akan dimasuki oleh umatku.”

Tampilkan postingan dengan label Ponpes Mulya Abadi Mulungan Mlati Sleman Yogyakarta Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ponpes Mulya Abadi Mulungan Mlati Sleman Yogyakarta Indonesia. Tampilkan semua postingan

2015/06/04

PS 131: Pembebasan Syam







Khalid bersama pasukan Ishabatu Chamra (عصابة حمراء), berjumlah sekitar 40 orang, mengamukIshabatu Chamra (عصابة حمراء) artinya rombongan merah. Dia berteriak. “Sayalah Khalid bin Al-Walid.

Dia terkejut oleh datangnya seorang bathriq bernama Nasthur (النسطور) berbusana sutra dibaj. Dia yang sedang sibuk berperang, tidak memahami teriakan bathriq dengan bahasa Romawi. Beruntung sekali dia tahu bahwa bathriq itu meloncatkan kuda untuk menyerang. Dia menghindar cepat hingga pecinya jatuh dari kepalanya. Pasukan Muslimiin terkejut dan membaca, “Laa chaula walaa quwwata illaa bi Allah Al-Aliyyil Azhiiim.

Khalid berteriak, “Ee! Ee!.”
Bathriq menyerang dari belakang hingga Khalid sempoyongan hampir jatuh. Namun berusaha menghindar dan berusaha menyaut pecinya yang lepas dari kepala. Dan berteriak, “Ambilkan peciku! Semoga kalian disayang oleh Allah!.”
Seorang Muslim memberikan peci itu pada Khalid, agar dikenakan lagi. Ada yang bertanya dengan heran, “Ya Ayah Sulaiman! Dalam keadaan sangat berbahaya seperti ini, kau masih juga mencari peci?.”
Dia berperang sambil menjawab, “Sungguh ketika Rasulullah SAW menggundul rambutnya, di dalam Haji Waddak, saya mengambil beberapa jambulnya. Baginda bertanya ‘akan kau pergunakan untuk apa ini semua, ya Khalid?’ Saya menjawab ‘agar mendapat Barokah (Allah) ya Rasulullah, agar jika berperang menang’. Baginda bersabda ‘(bi Idznillah), kau akan menang terus jika berperang, selama rambut-rambut ini menyertai kau’. Lalu rambut-rambut saya sisipkan pada depan peciku ini. Ternyata musuh sebanyak apapun ‘yang saya serang’, lari tunggang-langgang. Berkat rambut  itu.”

Khalid mengajak pasukan Ishabatu Chamra untuk ‘mengamuk’. Dalam waktu cepat sekali, pedang Khalid menusuk dan merobohkan Bathriq Nasthur. Dan amukan pasukan Ishabatu Chamra, membuat pasukan Romawi tewas, dan berhamburan kabur.
Khalid maju untuk menantang perang satu lawan satu, tetapi tidak ada yang sanggup melayani. Khalid mengayun-ayunkan pedang untuk mengamuk, hingga musuh yang tewas banyak sekali. Amukan yang menggila dalam waktu lama itu, membuat Khalid capek.

Al-Charits bin Hisyam Al-Makhzumi (الحارث بن هشام) merasa kasihan, saat melihat Khalid kecapekan. Dia berkata pada Abu Ubaidah, “Yang mulia! Khalid telah menyelesaikan kewajibannya. Perjuangannya telah membuat dia capek. Perintahlah agar beristirhat.”

Abu Ubaidah mendekati untuk menganjurkan pada Khalid RA, “Istirahatlah.”
Khalid menjawab, “Yang mulia! Demi Allah, saya memang sedang berusaha meraih pahala Syahid, dengan ‘berperang’ yang sempurna. Jika saya tak berhasil; Allah tahu bahwa niat saya tulus.”
Khalid mengamuk lagi dengan menggila, hingga musuhnya berhamburan kabur. Tak seorang pun membantu Khalid, karena semua sibuk menghadapi musuh berjumlah banyak. Saat itu pasukan Muslimiin tahu bahwa Khalid telah mendapat barokah dari nabi, hingga jika ‘perang’ pasti menang. [1]

Pasukan Romawi yang tewas berserakan, makin banyak. Mereka yang disatukan dengan rantai, juga telah tewas terinjak-injak kuda. Semakin sore peperangan semakin melemah. Ketika dua kubu menarik pasukan masing-masing; medan perang bersimbah darah mayat-mayat yang berserakan.

Malam itu medan perang telah sepi, tetapi mayat-mayat yang berserakan sangat banyak. Lautan pasukan yang siangnya bertempur, telah kembali ke kubu mereka masing-masing. Mengobati luka dan istirahat.

Yang tampak sibuk para Muslimaat, ada yang:
1.     Mempersiapkan makan malam.
2.     Mengobati luka.

Malam itu, Abu Ubaidah tidak menunjuk orang banyak ‘untuk jaga’ malam, karena semua sangat capek. Yang jaga malam ketika itu hanya Abu Ubaidah dan beberapa pasukan. Ketika Abu Ubaidah sedang keliling ronda malam, tiba-tiba datang dua orang berkuda. Abu Ubaidah membaca, “Laa Ilaaha illaa Allah.
Mereka berdua menjawab, “Muhammadun Rasulullah.
Setelah mendekat dan diamatiAbu Ubaidah tahu bahwa mereka Zubair dan AsmaDia mengucapkan salam dan bertanya, “Ya putra bibi Rasulillah SAW, kenapa keluar?.”
Zubair menjawab, “Untuk berjaga. Asma berkata pada saya ‘pasukan Muslimiin sedang capek sekali ‘karena seharian’ berperang. Temani saya, berjaga malam’. Saya menuruti permintaannya.”

Abu Ubaidah mengucapkan syukur pada mereka berdua, lalu perintah agar mereka istirahat saja. Namun mereka berdua bersikeras ‘jaga malam’ hingga subuh.  


Al-Waqidi sejarawan Islam masyhur meriwayatkan ‘Kisah Keajaiban Kemenangan Muslimiin’ dalam Perang Yarmuk yang akbar:  [2]

Sesungguhnya Abul-Juaid termasuk tokoh Nashrani negeri Chimsh (Homs). Pasukan Romawi berjumlah sangat banyak, memerangi pasukan Muslimiin di Yarmuk, istirahat di negeri Chimsh, tepatnya di kota Azzarraah (الزراعة). Abul-Juaid memiliki tempat tinggal mewah yang dilengakapi dengan kolam renang, untuk beristirahat di kota itu. Ketika Abul-Juaid dan keluarganya berpindah dari Chimsh ke kota itu, pasukan Romawi bermalam di kota itu. Abul-Juaid sibuk menjamu mereka (karena sungkan pada Raja Hiraqla). Semula Abul-Juaid akan berbulan madu dengan istri mudanya di rumah mewah itu. Malam itu istri tuanya menyingkir agar tidak mengganggu dia ‘berbulan madu’. Dia menjamu mereka dengan hidangan meriah dan arak istimewa. Setelah selesai makan-makan dan minum-minum, mereka perintah, “Bawa kemari istri mudamu!.”

Abul-Juaid tersinggung dan mencaci-maki; tetapi mereka bersikeras ‘minta’ agar wanita itu didatangkan. Wanita menggiurkan itu didatangkan dengan paksa oleh mereka. Bahkan wanita itu dinikmati ramai-ramai oleh mereka hingga pagi. Abul-Juaid menangis sedih atas peristiwa yang menghina harga dirinya. Ketika Abul-Juaid mendoakan jelek, mereka justru membunuh dan memotong kepala anak-anak Abul-Juaid. Seorang istri dari Abul-Juaid mengambil dan membungkus potongan kepala anaknya, untuk dibawa menghadap dan laporan pada komandan pasukan Romawi. Dia meletakkan bungkusan kepala, dan melaporkan kejahatan itu, pada sang komandan. “Periksalah kejahatan pasukan tuan, atas anakku ini. Balaskan penganiayaan ini untukku.”
Namun sang komandan hanya diam. Wanita itu bersumpah, “Demi Allah! Pasukan Arab akan menaklukkan kalian.” Wanita itu pergi, sambil berdoa ‘agar sang komandan’ juga celaka. Tak lama setelah itu, mereka dilanda musibah besar, hingga sama tewas oleh pasukan Muslimiin.

Abul-Juaid membawa dendam dan mendatangi pasukan Muslimiin, untuk berkata pada Khalid, “Ketahuilah bahwa ada pasukan Romawi berjumlah banyak sekali di kota Azzarraah. Kalau kalian memerangi mati-matian, pasti memerlukan waktu yang lama, karena jumlah mereka terlalu banyak. Saya bisa menipu agar mereka sama tewas, tapi kalian akan memberi imbalan apa pada saya?.”
Pasukan Muslimiin menjawab bermacam-macam, yang pasti dia dan seluruh keluarganya akan dibebaskan membayar pajak. Bahkan dia hingga anak turunnya nanti, akan diperlakukan secara khusus oleh Muslimiin.






[1] Bukhari juga membenarkan anggapan rambut atau ludah nabi SAW, barakah. Tentang rambut, beliau meriwayatkan: صحيح البخاري - (ج 1 / ص 296)

165 - حَدَّثَنَا مَالِكُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ قَالَ حَدَّثَنَا إِسْرَائِيلُ عَنْ عَاصِمٍ عَنْ ابْنِ سِيرِينَ قَالَ قُلْتُ
لِعَبِيدَةَ عِنْدَنَا مِنْ شَعَرِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَصَبْنَاهُ مِنْ قِبَلِ أَنَسٍ أَوْ مِنْ قِبَلِ أَهْلِ أَنَسٍ
فَقَالَ لَأَنْ تَكُونَ عِنْدِي شَعَرَةٌ مِنْهُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا

Arti (selain isnad)nya: Pada Abidah, Ibnu Sirin berkata, “Kami menyanding rambut-rambut nabi SAW, yang dulunya kami dapatkan dari Anas (atau dari keluarganya RA).”
Abidah mengandai-andai, “Niscaya jika saya menyanding sehelai rambut dari nabi SAW, lebih menyenangkan bagi saya, daripada dunia dan yang di atasnya.”
Ibnu Chajar menulis, “فِيهِ التَّبَرُّك بِشَعْرِهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.” Artinya: Dalam uraian Hadits ini tersimpul pengertian ‘menganggap barakah’ pada rambut-rambut nabi SAW (boleh). Walau begitu, saya yakin maksud mereka rambut nabi SAW yang dibarokahi oleh Allah. Kalimatnya diringkas menjadi "Rambut Nabi SAW yang dibarokahi." Mengenai ludah Nabi SAW dan lainnya, maksudnya juga seperti itu.

[2] Al-Waqidi menulis tentang itu: فتوح الشام - (ج 1 / ص 172)
قال الواقدي: حدثني أبو عبيدة عن صفوان بن عمرو بن عبد الرحمن بن جبير أن أبا الجعيد كان رئيساً من رؤساء أهل حمص، فلما اجتمعت الروم على المسلمين في اليرموك دخلوا على حمص ونزلوا في بلدة تسمى الزراعة، وكان أبو الجعيد هذا قد جعلها مسكنه لطيب هوائها ومائها وانتقل من حمص إليها فنزل عسكر الروم على الزراعة عنده وكان فيها عرس لأبي الجعيد وزوجته تزف عليه في تلك الليلة. قال فتكلف أبو الجعيد بضيافة الروم وأكرمهم وأطعمهم وسقاهم الخمر، فلما فرغوا من أمورهم قال: هات امرأتك إلينا فأبى ذلك وسبهم فأبوا إلا أخذ العروس، فلما شنع عليهم بذلك عمدوا إلى العروس وأخذوها كرهاً منه وعبثوا بها بقية ليلتهم فبكى أبو الجعيد من حزنه ودعا عليهم فقتلوا أولاده، وكان له ولد من زوجة غيرها قال: فأقبلت أم الفتى فأخذت رأس ولدها في خمارها وأقبلت به إلى مقدم ذلك الجيش ورمت الرأس إليه وشكت حالها، وقالت له: انظر ما صنع أصحابك بولدي فخذ بحقي فلم يعبأ بكلامها. فقالت له أم الفتى: والله لتنصرن العرب عليكم ورجعت وهي تدعو عليه فما كان إلا يسير حتى هلكوا في أيدي المسلمين.

PS 130: Pembebasan Syam




Pasukan Muslimiin terperangah, saat menyaksikan kaum Muslimaat mengamuk mati-matian dengan senjata. Pada kawannya, seorang Muslim berkata, “Kita lah yang lebih berkewajiban memerangi lawan.”
Khaulah bintil Azwar melawan lelaki yang menyerang seorang Muslim. Kepala Khaulah ditebas dengan pedang, namun hanya sanggulnya yang putus. Kepalanya tergores karena menghindar cepat. Darahnya bercucuran.
Dia sempoyongan dan rebah ke tanah.
Afirah binti Affan menebaskan pedangnya pada lelaki yang melukai Khaulah. Dan berteriak, “Demi Allah lelaki ini telah membuat marah Dhirar! Karena melukai saudara perempuannya!.” 
Lelaki itu roboh dan tewas bersimbah darah.

Dengan pahanya, Afirah membantali kepala Khaulah yang berdarah, dan bertanya, “Bagaimana kau?.”
Khaulah menjawab, “In syaa Allah nggak apa-apa. Hanya karena lukanya berat. Tolong panggilkan Dhirar.”
Afirah menjawab, “Saya tidak tahu orangnya di mana.”

Saat itu, perang sedang berkobar-kobar mengerikan. Khaulah berdoa, “Ya Allah! Jadikan saya sebagai pengganti saudara lelaki saya! Jangan Kau matikan dia, agar Islam tidak kehilangan dia.” Lalu berusaha berdiri, namun tidak mampu. Karena lukanya parah. Beberapa wanita menggendong dia menuju tempat yang aman.

Ketika malam tiba, Khaulah telah lincah lagi, bahkan bisa mengeluarkan minuman untuk sejumlah Muslimiin. Dhirar, saudaranya, memandangi kepalanya yang telah membaik, dengan takjub. “Kepalamu terkena apa?,” tanyanya.
Khaulah menjawab, “Dipedang oleh orang, tapi dia telah dibunuh oleh Afirah.”
Dhirar menghibur, “Saudariku! Berbahagialah dengan surga! Lukamu telah saya balaskan berkali-kali! Banyak sekali musuh yang telah saya bunuh.”

Perang yang berkecamuk sejak pagi itu, makin lama makin berat, karena musuh melaut dan ‘ganas’ sekali. Semua pasukan berperang, sibuk sekali. Bahkan Abu Ubaidah dan para pimpinan lainnya, sama sibuk berperang dengan garang, hingga petang. Perang dihentikan setelah pasukan Romawi yang tewas berserakan berjumlah 40.000 lebih.

Karena pedang pasukan Romawi banyak yang kuat, 9 pedang Khalid patah oleh benturan keras, berkali-kali. Khalid memilih 100 lelaki pemberani dari Jaisuz-Zachf  (pasukan pengobrak-abrik), untuk mendampingi menyerang. 

Busana pasukan Romawi bagian tengah, sutra Dibaj dan Charir, berkuda putih, dan kelabu. Di tengah mereka, ada Salib dari jauhari gemerlapan, dibawa lari cepat ‘untuk menyerang’. Diikuti oleh arak-arakan pasukan. Hingga pasukan Muslimiin mundur ke belakang.
Pasukan sayap kanan Romawi, melancarkan serangan, hingga pasukan sayap kiri Muslimiin ‘terdesak mundur’.
Pasukan sayap kiri Romawi meningkatkan serangan lebih ganas, hingga pasukan sayap kanan Muslimiin, ‘mundur’ terdesak jauh. 
Para Muslimaat menampar pipi dan berteriak, “Takutlah Allah! Jangan mundur! Takutlah Tuhan kalian!.”
Penghibur sekaligus pemberi semangat pasukan Muslimiin adalah Najmu bin Mufrich (نجم بن مفرح). Dia pandai menyusun kalimat indah, dan sangat pemberani. Di tengah peperangan, dia melantunkan syair dengan nada tinggi:

Hai semuanya
Ini hari kemenangan yang tak ada bandingan setelahnya
Kalian telah makin mendekatinya
Surga takkan teraih kecuali dengan
Kegigihan dan perjuangan yang memberatkan
Demi Allah surga takkan diraih oleh orang yang benci perjuangan
Ada surga di atas beberapa langit
Yang tak mungkin dimiliki oleh yang berjuangnya pelit
Di atasnya surga-surga tempat para syuhada
Oleh itu buatlah ridha
Yang Maha Tahu barang ghoib dan shahada
Kini jihad telah berkobar
Kemunafikan akan segera bubar
Kita pengikut nabi akhir zaman
Jangan jauhi pertolongan
Gembirakanlah ruh Al-Mushthafa
Dengan cara tabah di medan laga
Kokohkan tekat
Sucikan niat
Jangan lari ke belakang
Karena berakibat masuk neraka yang garang
Dan dimurkai oleh yang Maha Menang
Demi yang telah menulis segala Qodar
Dan membuat Falak berputar
Segala sesuatu di SisiNya telah ditentukan
Para bidadari bermata indah telah besolek untuk menyambut kalian
Membawa teko dan gelas berisi air
Dari mata air
Yang serius mencari perumahan abadi
Takkan peduli pada yang terjadi
Serbulah mereka dengan sungguhan
Agar berhasil menggapai harapan
Tusuklah dada agar
Diganjar bidadari yang bergebyar
Tusukkanlah senjata
Sebagai syarat masuk surga
Berbusanalah kesemangatan
Agar mendapat ganjaran
Beramallah untuk menggembirakan kaum iman
Jangan justru tersesat
Agar tak masuk Jahannam yang dahsyat
Bersama kaum kafir yang bejat
Selisihi keyakina mereka! Ikuti orang-orang yang telah lewat
Dan dengarkanlah ayat yang hebat
وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
Ayo menyerbu jangan ragu
Berjihadlah agar beruntung seperti para Mujahidiin
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ


Berkat syair Najmu, pasukan Muslimiin maju ke depan, untuk menyerang dengan garang. [1]


In syaa Allah bersambung.



[1] Perang Yarmuk Bulan Rajab tahun 15 Hijriah.  


Ponpes Mulya Abadi Mulungan Mlati Sleman Yogyakarta Indonesia 

2015/04/03

PS 99: Pembebasan Syam





Lelaki itu telah menghadap sang Bathriq dengan menunduk-nunduk, dan memberikan surat. Dan terkejut ketika ditanya, “Apa kamu telah murtad, untuk mengikuti agama kaum Arab itu?!.”
Dia menjawab, “Tidak. Tetapi memang saya telah menjadi tanggungan (Dzimi/Dzimah) mereka. Bahkan anak, keluarga, dan harta saya, mereka lindungi. Tetapi setahu kami, mereka itu orang-orang baik. Menurut saya sebaiknya mereka jangan dilawan, mereka sangat kuat sekali, mereka tidak takut mati. Dalam perang yang sangat mengerikan, mereka justru lebih ingin menyambut kematian daripada agama mereka rusak. Saya yakin sepenuhnya bahwa, akhirnya mereka akan berhasil menguasai kota ini. Dan kalian akan menyerahkan kota ini pada mereka. Bahkan mungkin Allah akan menaklukkan kota ini melalui tangan mereka. Demi agamaku, kalian lebih saya cintai daripada mereka. Saya juga ingin mendukung kalian sepenuhnya. Tetapi terus terang 'saya sangat takut' serangan mereka yang sangat ganas. Sebaiknya tuan ‘menyerah’ pada mereka daripada nantinya menyesal.”
Dengan benci dan murka, penguasa kota Himsh (Homs) mendengar penuturan pembawa surat, mengenai ‘kehebatan kaum Arab’. Ketika kebencian dan kemurkaannya telah memuncak, dia menggertak, “Demi kebenaran Al-Masih dan Injil! Kalau kamu bukan utusan mereka! Pasti saya telah perintah ‘agar lidahmu dipotong!’ Kamu berani-beraninya berbicara begitu di hadapanku!.”
Lelaki itu bergetar ketakutan. Raja Chimsh membaca surat dari Abu Ubaidah dengan seksama. Raja bawahan Hiraqla itu perintah pada juru tulisnya, agar menuliskan jawaban.

Jawaban dimulai dengan kalimat kafir. Lalu:
“Hai kaum Arab! Surat kalian telah kami terima dan telah kami pahami maksudnya, berupa ‘ancaman’. Kami tidak seperti kaum Syam yang telah kalian taklukkan. Ketahuilah bahwa Hiraqla Raja atasanku, pasti akan menolong kami. Kami akan melawan kalian! Beteng kami kokoh berpintu dari besi, dan serangan kami sangat dahsyat.”

Raja Harbis melipat dan menyerahkan surat itu, pada lelaki di hadapannya, agar segera diantarkan pada Abu Ubaidah.
Sejumlah pegawai Raja Harbis menurunkan lelaki pembawa surat, dengan tali, dari atas beteng.

Lelaki itu bergegas menghadap Abu Ubaidah, untuk menyampaikan surat Raja Harbis penguasa Chimsh (Homs).

Surat dibaca di pertengahan kaum Muslimiin.
Pasukan Muslimiin mempersiapkan perang akbar. Abu Ubaidah membagi pasukan menjadi 4 golongan:
1.     Golongan pertama dipimpin oleh Al-Musayab bin Najiyah Al-Fazari (المسيب بن نجية الفزاري), menempati posisi depan Pintu Gerbang Jabal. Bersebelahan dengan Pintu Gerbang Shoghir.
2.     Golongan kedua dipimpin oleh Al-Marqal bin Hisyam  Uqbah bin Abi Waqqash (المرقال بن هشام بن عقبة بن أبي وقاص), menempati posisi depan Pintu Gerbang Rostaq (الرَّسْتقُ).
3.     Golongan ketiga dipimpin oleh Yazid bin Abi Sufyan, menempati posisi di depan Pintu Gerbang Syam.
4.     Abu Ubaidah dan Khalid bin Al-Walid memimpin golongan terakhir, di depan Pintu Gerbang Shoghir.

Semua golongan mendobrak dan mendorong pintu gerbang yang di depan mereka. Mereka tak peduli meskipun batu-batu dan anak panah dari atas beteng, bertubi-tubi menghantam dan menghajar. Mereka berkali-kali membalas serangan dengan sengit, dengan anak panah mematikan.

Ketika hari mulai gelap, dua kubu menarik pasukan mereka masing-masing.

Di pagi yang cerah itu, Khalid bin Al-Walid mengumpulkan semua hamba-sahaya milik pasukannya, untuk diperintah agar membawa pedang, dan mendorong semua pintu gerbang yang ada. Mereka pun bergerak serempak, mendobrak dan mendorong pintu-pintu gerbang. Batu-batu dan anak panah dari atas beteng, 'mereka tangkis' dengan perisai. Pertempuran yang seru berlangsung cukup lama, menimbukan suara gaduh membisingkan.

Khalid menjawab, “Tenang! Jangan marah dulu. Tenaga kita, kita persiapkan untuk menyerang, jika mereka telah keluar dari pintu gerbang.”
Abu Ubaidah berkata, “Kalau begitu silahkan, semoga Allah memberi kau petunjuk.”

Khalid mendekati 4.000 hamba-sahaya untuk perintah, “Doronglah pintu gerbang itu!.”
Dan perintah pada 1.000 orang Arab, agar membantu mereka.

Serangan pasukan Chimsh dari atas, dan perlawanan kaum hamba-sahaya dari bawah, terus berlangsung dengan sengit. Banyak juga pasukan Chimsh di atas beteng yang tertembus anak panah lalu jatuh ke bawah dan tewas. Hiruk-pikuk, teriakan, dan pukulan pada pintu gerbang, ribut, membisingkan. 

Di depan rumah mewahnya, Harbis muncul, dikelilingi para bathriq (tokoh setingkat jendral). Dia berkata, “Hai semuanya! Demi kebenaran Al-Masih, saya tidak menyangka bahwa ternyata orang-orang Arab, berkulit hitam seperti ini.”
Beberapa orang menjawab, “Itu tidak benar yang mulia! Mereka hamba-sahaya. Dan ini siasat mereka di dalam perang.”
Harbis bersumpah, “Demi kebenaran Al-Masih! Sesungguhnya serangan mereka ini justru lebih dahsyat daripada kaum Arab. Ketahuilah bahwa kaum yang mendekati beteng kita, pasti jatuh mental, walau sebetulnya ini ‘justru sebagai pertanda’ akan menaklukkan kita.”   

Kebanyakan kaum Chimsh ketakutan, karena pintu gerbang kota mereka, sejak pagi hingga petang, suaranya bising, memekakkan telinga. Karena dorongan dan pukulan ribuan hamba-sahaya berkulit hitam, yang digerakkan oleh Khalid.

Serangan sengit kaum Chimsh dari atas beteng dilawan dengan garang dengan anak panah, yang berkali-kali menembus dan menewaskan sebagian mereka.

Saat malam telah datang, semua hamba-sahaya kembali pada tuan mereka masing-masing, untuk istirahat.
Di malam yang dingin itu, Harbis mengirim surat untuk Abu Ubaidah. Pembawa surat hampir ditangkap pasukan Muslimiin, namun dia berkata dengan ketakutan, “Saya utusan tuan Harbis raja Chimsh. Saya diperintah mengantar dan minta jawaban dari surat ini,” sambil menyerahkan surat.

Surat diserahkan dan dibaca oleh Abu Ubaidah:

Hai kaum Arab! Tadinya saya menyangka kalian pandai bersiasat perang, ternyata justru sebaliknya. Kemarin kalian membagi-bagi pasukan untuk menyerang, melalui seluruh pintu gerbang, hingga kami berkata, “Ini pengepungan yang membuat kita kesulitan. Namun paginya kalian justru mundur teratur. Yang kalian suruh maju selanjutnya orang-orang miskin yang pedang mereka mudah patah, dan senjata mereka bermutu rendah. Apa kalian berpikir akan mampu memasuki pintu gerbang kami? Sedangkan kalian sangat bodoh? Sekarang berdamai saja dengan kami! Yakni pergilah untuk menyerang Raja Hiraqla sambil menaklukkan sejumlah negeri yang akan kalian lewati; sebagaimana yang telah kalian lakukan. Jangan melampaui batas! Karena melampaui batas akan menjebak pelakunya! Kalau kalian membangkang, kami akan menyerang kalian besok pagi, untuk menentukan mana di antara kita yang benar, yang akan ditolong oleh Tuhan!.”

Seusai membaca surat Harbis, Abu Ubaidah RA mengajak pasukan Muslimiin untuk bermusyawarah mengenai langkah yang harus segera dilakukan. Musyawarah itu dihadiri oleh lelaki tua berasal dari kota Khats’am (خثعم). Orang bernama Atha bin Amer Al-Khats’ami (عطاء بن عمرو الخثعمي) itu, namanya masyhur. Karena merupakan tokoh masyarakat yang telah mengikuti hijrah awal. Dia yang telah berpengalaman memimpin berperang ini, memiki pandangan cemerlang.
Dia berdiri tegak, karena telah menyimak pembacaan surat dari Harbis pada Abu Ubaidah. Dia berkata, “Yang mulia! Saya bersumpah demi Rasulillah SAW. [1] Dengarkanlah ucapanku yang akan bermanfaat untuk kebaikan kaum Muslimiin. Semoga Allah memberi saya petunjuk dalam berbicara ini.”
Abu Ubaidah berkata, “Hai Aba Amer! Berkatalah! Kau orang yang dibutuhkan.”
Atha bin Amer yang panggilan kehormatanya ‘Aba Amer’ maju kedepan, untuk berkata, “Semoga Allah memberi kebaikan pada yang mulia. Sebetulnya mereka tahu bahwa tuan dan pasukan tuan 'jauh lebih berbahaya' daripada ribuan hamba-sahaya itu. Harbis juga sudah tahu bahwa anda telah berhasil menaklukkan penduduk Balbek. Bahkan dia juga tahu bahwa tuan akan mengepung kota ini. Untuk itulah dia telah mengumpulkan bahan makan dan pakan binatang, maupun segala yang diperlukan. Bahkan kampung-kampung di sana, sudah mempersiapkan persediaan bahan makan untuk bertahun-tahun. Maksudnya jika kita mengepung mereka ‘akan memakan waktu’ yang sangat panjang, sebagaimana ketika kita memerangi kaum Damaskus. Menurut saya, sebaiknya tuan bersiasat atas mereka, untuk mempercepat penaklukan kota ini, in syaa Allah.”
Abu Ubidah bertanya, “Bersiasat bagaimana? Hai Aba Amer?.”
Atha berkata, “Sebaiknya tuan minta bantuan ‘perbekalan dan pakan binatang’ pada mereka. Katakan ‘kami akan meninggalkan’ kota ini, untuk memerangi kaum. Kami akan kembali memerangi kota ini, jika telah merampungkan urusan. Jika mereka telah sibuk dengan urusan mereka, dan perbekalan mereka telah berkurang banyak, ‘kita serbu’.”
Abu Ubaidah berkata, “Kau benar! Saya akan melakukan dengan berharap Allah memberi Petunjuk dan Pertolongan.”
Abu Ubaidah minta tinta dan lembaran berwarna putih, untuk ditulisi jawaban:

بسم الله الرحمن الرحيم
Adapun selanjutnya: Saya memandang tawaranmu akan membuahkan ‘perdamaian’ kita semua. Memang sejak dulu kami tidak senang menganiaya Hamba Allah. Kau sendiri tahu bahwa jumlah pasukan kami yang sangat banyak, membutuhkan bantuan ‘bahan makan’ untuk lima hari. Kau juga tahu bahwa jalan yang akan kami lewati sangat jauh sekali. Dan semua kota yang akan kami serang ‘dikelilingi beteng’ tebal dan tinggi, berpintu besi. Kami akan pergi dari sini untuk menyerang wilayah lain. Jika telah selesai, kami akan kembali lagi ke sini. Untuk sementara kita berdamai.”

Surat dilipat lalu diberikan pada utusan Harbis, agar segera diberikan pada tujuan. Utusan segera pergi meninggalkan tempat, menuju istana Raja Harbis, di dalam beteng yang menjulang tinggi tebal sekali.  

Dia diangakat dengan tali, agar bisa naik ke atas beteng menjulang. Lalu turun dan masuk, untuk menemui Raja Harbis, di istananya. Harbis membaca surat dengan berbahagia. Lalu mengumpulkan pejabat-pejabat tinggi dan tokoh-tokoh agama.
Pada mereka, dia berbicara, “Ketahuilah bahwa kaum Arab ‘minta sumbangan bekal dan bahan makan’ pada kalian, untuk selanjutnya meninggalkan tempat. Mereka seperti binatang buas; jika telah mendapatkan makanan, pergi dengan puas. Mereka telah kelaparan di negeri kalian, jika telah kenyang pasti segera pergi meninggalkan kita.”
Mereka menjawab, “Yang mulia! Kami khawatir jika kita telah menyumbang; mereka bersikeras tak mau pergi!.”
Raja Harbis berkata, “Kita akan minta mereka berjanji, jika telah diberi ‘agar segera pergi’.”
Mereka memohon, “Sumpahlah mereka, untuk itu.”   
Harbis perintah pada para rahib dan ulama Nashrani, agar keluar dari beteng, untuk mendatangi dan menyumpah Abu Ubaidah: ‘jika telah diberi bahan makan dan pakan binatang, agar segera pergi’.

Di hari indah itu, pintu gerbang Rostan (الرستن) dibuka lebar. Sejumlah utusan Raja Harbis keluar, untuk menjumpai dan menyumpah Abu Ubaidah: Jika bantuan telah diterima, agar segera pergi meninggalkan tempat. Jika telah menaklukkan kota-kota lainnya, baru boleh kembali lagi ke Chims.
Abu Ubaidah menjawab, “Janji ini akan kami lakukan dengan senang hati.”

Penduduk Chims berbondong-bondong keluar untuk menyerahkan berbekalan, bahan makan, dan pakan binatang, dalam jumlah banyak sekali. Diperkirakan akan mencukupi kebutuhan makan pasukan, hamba-sahaya, dan binatang kendaraan.

Abu Ubaidah berkata, “Hai penduduk Chims! Bantuan kalian telah kami terima! Siapa saja yang ingin ‘menjual’ bahan makan dan pakan binatang, kami masih mau membeli!.”
Mereka berpikir, lalu menjawab, “Ya,” setelah tahu maksudnya. Karena bahasa mereka berbeda.
Pada pasukannya, Abu Ubaidah berteriak, “Belilah perbekalan dari mereka! Karena perjalanan yang akan kita tempuh terlalu jauh!”
Mereka menjawab, “Yang mulia! Dengan apa kita membeli? Dan bagaimana nanti kita membawa?.”
Abu Ubaidah berkata, “Jarahan perang kalian dari Romawi, berikan pada mereka!.”
Chasan bin Adi Al-Ghothofani (حسان بن عدي الغطفاني) berdoa, “Semoga Allah meringankan hisab-an amal Abu Ubaidah RA, sebagaimana dia telah meringankan beban yang telah memberatkan kami, berupa permadani-permadani mewah, Al-Busuth (البسط) dan Thonafis (الطنافس).”

Barang-barang mewah yang harganya saangat mahal itu, ditukarkan dengan perbekalan dan pakan binatang. Kaum Chimsh berbahagia sekali karena selama tiga hari, kaum Arab menjual barang-barang mewah dengan harga sangat murah. Banyak barang berharga 20 dinar, hanya dijual 2 dinar. Setelah kaum Muslimiin meninggalkan tempat, kebahagiaan mereka sempurna.




In syaa Allah bersambung.



[1] Mungkin dia tidak tahu bahwa ‘bersumpah dengan selain Nama Allah’ larangan.  



Ponpes Mulya Abadi Mulungan Mlati Sleman Yogyakarta Indonesia