SELAMAT DATANG DI BLOG PONDOK PESANTREN MULYA ABADI, JL. MAGELANG KM 8.5 SLEMAN YOGYAKARTA, SEMOGA BLOG INI BISA MENJADI SILATURAHMI KITA UNTUK SALING BERBAGI

2013/05/11

Laa Ilaaha illaa Allah



Usdul-Ghobah kitab sejarah lengkap mengenai para sahabat Nabi Muhammad SAW. Di sana dijelaskan tentang saat Khalid bin Al-Walid yang mashur akan wafat: أسد الغابة (2/ 140)
ولما حضرت خَالِد بْن الْوَلِيد الوفاة، قال: لقد شهدت مائة زحف أو زهاءها، وما في بدني مَوْضِعُ شِبْرٍ إِلَّا وَفِيهِ ضَرْبَةٌ أَوْ طَعْنَةٌ ، أو رمية، وها أنا أموت عَلَى فراشي كما يموت العير، فلا نامت أعين الجبناء، وما من عمل أرجى منه لا إله إلا اللَّه، وأنا متترس بها.

Artinya:
Ketika wafat datang menghapiri, Khalid bin Al-Walid berkata, “Niscaya sungguh saya telah berperang sebanyak seribu kali, atau kira-kira sekian itu. Tidak ada tempat sejengkal pun di badan saya, kecuali ada bekas pukulan (pedang), atau tusukan (pedang / tombak), atau bekas panah. Namun saya ini justru akan meninggal di atas pembaringan seperti matinya unta. Maka mata orang-orang penakut tidak tidur. [1] Tidak ada amalan yang lebih saya andalkan daripada kalimat ‘laa Ilaaha illaa Allah’. [2] Dengan (‘laa Ilaaha illaa Allah’) itulah saya bertekat menangkis serangan.

Di dalam Mukjamul-Kabir, Thobaroni meriwayatkan sedikit berbeda: المعجم الكبير للطبراني (4/ 106)
3812 - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ حَاتِمٍ الْمَرْوَزِيُّ، ثنا سُوَيْدُ بْنُ نَصْرٍ، وَحِبَّانُ بْنُ مُوسَى، قَالَا: ثنا عَبْدُ اللهِ بْنُ الْمُبَارَكِ، عَنْ حَمَّادِ بْنِ زَيْدٍ، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ الْمُخْتَارِ، عَنْ عَاصِمِ ابْنِ بَهْدَلَةَ، عَنْ أَبِي وَائِلٍ، قَالَ: لَمَّا حَضَرَتْ خَالِدَ بْنَ الْوَلِيدِ الْوَفَاةُ، قَالَ: «لَقَدْ طَلَبْتُ الْقَتْلَ فَلَمْ يُقَدَّرْ لِي إِلَّا أَنْ أَمُوتَ عَلَى فِرَاشِي، وَمَا مِنْ عَمِلٍ أَرْجَى مِنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَا مُتَتَرِّسٌ بِهَا» ، ثُمَّ قَالَ: «إِذَا أَنَا مُتُّ فَانْظُرُوا سِلَاحِي، وفَرَسِي فَاجْعَلُوهُ عِدَّةً فِي سَبِيلِ اللهِ».

Arti selain isnad(nya):
Ketika wafat datang melanda, Khalid bin Al-Walid berkata, “Niscaya sungguh saya telah mengejar ‘matisyahid’. Namun mutlak tidak dikodar untukku, kecuali hanya akan mati di atas pembaringanku. Tiada satu pun amalan yang lebih saya andalkan, daripada ‘laa Ilaaha illaa Allah’. Dengan (‘laa Ilaaha illaa Allah’) itulah saya bertekat menangkis serangan.” Lalu berkata, “Jika saya telah meninggal, carilah pedang dan kudaku! Gunakan sebagai persiapan perang di Jalan Allah.”


[1] Ibnu Katsir menjelaskan: تفسير ابن كثير (1/ 662)
يَعْنِي: أَنَّهُ يَتَأَلَّمُ لِكَوْنِهِ مَا مَاتَ قَتِيلًا فِي الْحَرْبِ وَيَتَأَسَّفُ عَلَى ذَلِكَ وَيَتَأَلَّمُ أَنْ يَمُوتَ عَلَى فِرَاشِهِ.
Artinya: Maksudnya, sungguh dia berusaha agas kesakitan, karena tidak meninggal di dalam perang. Dia juga sedih atas keadaan yang demikian. Dia berusaha agar sakit, namun kenyataannya dia hanya meninggal di atas pembaringannya.
[2] Penulis yakin bahwa tulisan (منه) dari Maktabatu-Ssyamilah di atas salah. Dan meyakini bahwa (مِنْ) yang dari Thobaroni ‘yang benar’.

0 komentar:

Posting Komentar